Malam Minggu, sang drummer mengajakku nonton FOCUS. Film yang dibintangi Will Smith itu akan menjadi saksi bisu berdebarnya hati ini duduk di samping sang musisi di dalam ruang cinema.

Dari mulai musik hingga politik, menjadi bahan pembicaraan kami di tengah kota hujan. Tertawa, tersenyum, menatapnya di balik kacamatanya, membuat hati ini deg-degan. Ini namanya kencan dadakan.

“Berarti, rumah kamu gak jauh dari sini Kang?” tanyaku kepada pria 35 tahunan itu.

“Iya di Dramaga, dekat IPB. Yaa, lumayan macet aja sih. Kenapa? Mau mampir?” katanya tersenyum menggoda.

Etttt!

Kok tiba-tiba mampir? Kaget banget sih!

Aku hanya tersenyum simpul dan menggeleng pelan. Sesekali kulihat lagi jam di HP, tak terasa sudah 2 jam kami ngobrol di sini.

“Kayaknya nanti aku antar kamu di Stasiun Bogor aja gak apa-apa kali ya? Ini tiba-tiba teman-teman band ajak ketemuan buat latihan,” kata Waway membalas sambil membalas chat.

“Oh iyaaa gak apa-apa banget. Aku malah ngerepotin, udah diantar, ditungguin, sampai diajak makan, dibeliin oleh-oleh lagi,” ungkapku tertawa ramah.

“Gak lah, ini kan tanda hormat saya buat guru sebaik Miss Ika,” kata dia tersenyum cukup lama menatapku sampai aku kikuk, canggung tak tahu harus menatap ke mana.

“Ahh tahu dari mana aku baik, hayooo! Baru juga ketemu sekali,” ungkapku agak genit.

“Hahaha! Ya pasti baik lah, murid-muridnya aja sayang, dekat sama Miss Ika. Pasti orangnya sabar, humble, manis juga. Jadi mau diajarin juga. Hehehe,” kata dia genit.

Pria ini pintar juga ya membuat hati ini bermain-main, sejak tadi seandainya dia bisa mendengar suara simbal di dalam hatiku, sudah akrobatik sejak tadi.

“Lho terus … tempat les musik kamu di Bogor juga?” tanyaku heran.

“Ah enggak, di Pondok Aren,” katanya.

“Pondok Aren? Kok jauh amat,” ujarku heran.

“Iya, jadi aku tuh kos di Pondok Aren. Ke Bogor ya hanya weekend. Kadang kalau gak ada kelas di Jumat, ya pulang juga,” ucapnya lagi.

“Jauh amat kerja di Pondok Aren rumah di Bogor, sampai harus ngekos segala. Emangnya gak ada les musik di Bogor biar gak harus kost?” tanyaku lagi.

“Oh itu, jadi sebetulnya aku ada kerjaan sampingan juga di kafe di Pondok Aren. Jadi home band kafe juga di sana. Di sana ada program Rabu-Kamis Manis gitu. Lumayan lah, kalau musisi gini harus nyamping-nyamping kan? Latihan tiap weekend sama teman-teman, weekdays ngajar siswa, Rabu-Kamis ngamen yang dibayar. Hehehe. Buat bertahan hidup. Sama bayar si putih tuh,” katanya menunjuk Brio putihnya berstiker Real Madrid itu.

Decak kagum dalam hati ini membuatku semakin memberikan nilai plus untuknya. Pria pekerja keras, sekalipun seorang seniman yang banyak membuat orang menganggap sebelah mata. Tapi, ia punya etos kerja yang tak main-main.

“Berarti orang tua di Bogor? Masih lengkap Kang?” tanyaku sopan.

“Iya masih, orang tua di Bogor. Kamu? Masih lengkap?” tanya dia lagi.

“Ah enggak. Orangtua aku udah pisah sejak kecil, sekarang tinggal sama Mama dan adik aja di Depok,” jawabku pelan.

“Oh gitu. Sorry ya,” kata dia.

“It’s Okay, aman,” ucapku lagi.

“Berarti Miss Ika usia berapa ya sekarang,” tanya dia lagi.

“Hemm kurang lebih 25 Kang, tahun ini 26,” jawabku lembut.

“PAS!” katanya tertawa renyah.

“Hahaha! Kok pas?” jawabku manja.

“Ya Pas! Usia menikah,” kata dia lagi.

“Hehehe, Kang Waway, kenapa? Kok sudah …”

“Sudah seusia segini belum nikah gitu? Hahahaha. Arahnya ke situ kan? Ya, udah 35 jalan nih, belum ketemu yang cocok aja,” kata dia melirik ke arahku yang membuatku salah tingkah.

Ya ampun, apakah kita bisa lebih dekat lagi? Apakah aku siap menjalin cinta dengan musisi dan guru musik? Lamunanku terlampau jauh.

“Mbak! Bill!” teriak Waway meminta tagihan.

Kami melanjutkan perjalanan naik mobil Brio-nya. Tiba-tiba, ada lagu Afgan-Jodoh Pasti Bertemu diputar di Mustang 88 FM itu.

Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku ‘kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu

“Coba-coba, nyanyi. Kayaknya kalau gak salah dengar, tadi suara kamu bagus deh pas bersenandung,” kata dia mengecilkan volume radio mobilnya.

“Aduh! Kok jadi dites guru musik sih nih? Kan aku gak mau registrasi jadi muridmu! Hehehe,” ucapku malu-malu dengan pipi memerah pasti.

“Hahaha! Ya mau dengar aja. Coba nyanyi,” kata dia.

Kebetulan lampu merah. Mendadak Waway menjadi Mas Anang Indonesian Idol yang melakukan audisi terhadapku.

Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku ‘kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu

Kembali aku menyanyikan lagu itu sambil melihat ke arah depan. Waway sesekali menoleh dan mendengarkan dengan baik.

“Bagussss … okelah,” kata dia mengangguk kecil.

“Cuma okelah?” jawabku menggoda, dengan jemari gemetar karena grogi.

“Hahaha! Ya okee! You can sing,” katanya melanjutkan menyetir dan memperbesar lagi volume radionya.

Hingga sepanjang jalan menuju Stasiun Bogor dari Taman Kencana, tak banyak bicara yang berat-berat, yang ringan-ringan saja. Taman Topi sudah terlihat dari kejauhan.

“Daaggg! Bye Kang! Makasih ya buat hari ini udah anterin dari pagi, repot-repot nungguin dan ajak makan segala,” ucapku sebelum turun, mengulang ucapanku di resto tadi.

“Ahhh! Santai aja Miss. Hati-hati ya. Maaf gak bisa antar sampai Depok,” kata dia manis.

“Ya kasihan juga dong kamunya, kalau ke Depok lagi, bolak-balik. Selamat latihan yaa,” ujarku manis sambil melambaikan tangan.

Mobil Brio putih itu melaju dari hadapanku, sedangkan jejak langkahnya dan senyumnya masih ada di hati ini. Tarik napas dalam-dalam, aku membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Tak menyangka ini menjadi pertemuan kedua dan kencan dadakan dengannya.

Hingga malam hari, menonton TV atau makan malam sampai memeriksa soal-soal siswa, membuat pikiranku tak fokus. Selalu ingat kenangan seharian hari ini.

“Duh! Kenapa jadi kepikiran dia sih! Besok Sabtu … aku kontak temen-temen deh, biar cari kesibukan, gak galau melulu,” tuturku bergumam sendiri, pukul 20 Jumat malam.

Drrrt Drrrt!

Chat WA masuk ke notifikasi.

WAWAY!

“What?!”

“Heiii … lagi ngapain? Tadi pulangnya aman kan?” kata dia tiba-tiba.

YA AMPUN! BOLEHKAH AKU MELAYANG MALAM INI?

Dia yang mengirim chat lebih dulu! Kata orang, kencan pertama seperti dua sisi mata uang. Jika orang itu tidak tertarik, bisa saja dia ghosting atau memilih mundur. Namun Waway justru melakukan pergerakan lebih dahulu.

“Halooo Kang. Aman dong, diantar sama Mas Mas-inis. Alias Masinis. Hehehe. Jadi pasti aman! Ini lagi koreksi tugas siswa,” ucapku santai dengan emoji senyum.

“Hahaha! Mas-Inis! Kalau Sabtu, masih ngajar gak sih?” tanya dia lagi.

“Oh Sabtu, ngajar sih. Tapi setengah hari, dan itu lebih banyak games aja sih,” jawabku singkat.

“Artinya Sabtu malam free? Setelah ngajar free?” tanya dia lagi.

DEG!

Pertanyaannya mengarah ke mana ini?

“Hemm … Sabtu malam gak ada agenda apa-apa sih Kang,” jawabku penasaran.

“Ahhh … ada film bagus, FOCUS. Will Smith pemerannya. Suka gak?” kata dia tiba-tiba bahas film.

“Ohhh Will Smith. Suka, suka juga. Kenapa emangnya Kang?” tanyaku penasaran, meski rasanya, aku tahu arahnya.

“Ya kalau suka, kali aja, Sabtu malam free bisa aku jemput. Kita nonton FOCUS,” kata dia tiba-tiba.

ASTAGA!

Apakah ini saatnya? Ini kencan kedua? Aduh, jantungku berdebar. Belum sempat kujawab iya, aku sudah melompat kegirangan di ranjang kamarku. YUP, AKU JATUH CINTA!

Godaan Drummer Penabuh Hati: BAB I – Lagi Cari Calon Istri – Cerpenkita.id

Godaan Drummer Penabuh Hati: BAB II – Brio Putih dan Cintamu Membawaku ke Kota Hujan – Cerpenkita.id

Godaan Drummer Penabuh Hati: BAB III – Legitnya Laksa ketika Kau Merayuku – Cerpenkita.id

Miss Vee

Sosok penulis yang tertantang menuangkan ide dan pikiran lewat karya literasi. Cerita fiksi itu berujung novel adult romance sebagai andalannya

Bagikan:

Tags: