“Kita ini belum pacaran. Tapi kamu seolah-olah sudah memiliki aku.”

HAMPIR tiga bulan sudah aku dan Widya terpisah jarak.

Surabaya dan Jakarta tempatku menjalani kuliah terasa seperti dua dunia yang semakin lama semakin sulit dijembatani.

Awalnya, aku mengira rasa rindu akan membuat hubungan kami semakin dekat.

Ternyata aku salah.

Semakin lama berjauhan, semakin sering pikiranku membuat cerita sendiri.

Ketika pesan Widya terlambat dibalas, aku mulai bertanya-tanya.

Ketika dia tidak mengangkat telepon, pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.

Bahkan ketika dia mengunggah foto bersama teman-temannya di kampus, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memperhatikan siapa saja yang ada di dalam foto itu.

Ada laki-laki di sana.

Lalu pikiranku mulai bekerja lagi.

Siapa dia?

Temannya?

Seniornya?

Atau jangan-jangan seseorang yang mulai dekat dengannya?

Aku tahu semua itu konyol.

Tapi semakin aku mencoba menghentikannya, semakin liar prasangka itu tumbuh.

Tanpa kusadari, aku mulai sering bertanya kepada Widya.

Sedang apa?

Dengan siapa?

Sudah makan?

Pulang jam berapa?

Kenapa tidak membalas pesanku?

Pertanyaan-pertanyaan yang awalnya hanya bentuk perhatian, perlahan berubah menjadi sesuatu yang membuat Widya merasa diawasi.

Aku baru menyadarinya ketika semuanya terlambat.

Suatu malam, teleponku dengan Widya terasa berbeda.

Tidak ada canda.

Tidak ada tawa.

Suara Widya terdengar berat.

“Candra…”

“Iya?”

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

Widya menarik napas panjang.

“Selama ini aku sebenarnya merasa nggak nyaman.”

Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat.

“Nggak nyaman kenapa?”

“Dengan sikap kamu.”

Aku diam.

“Kamu terlalu posesif, Candra.”

Aku seperti kehilangan kata-kata.

“Aku tahu kamu perhatian. Aku tahu kamu peduli sama aku. Tapi…”

Suaranya mulai bergetar.

“Kita ini belum pacaran.”

Aku menunduk meski Widya tidak bisa melihatku.

“Tapi kamu seolah-olah sudah memiliki aku.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

Aku masih diam.

“Setiap aku pergi, kamu tanya sama siapa. Setiap aku lama membalas pesan, kamu curiga. Kalau aku foto sama teman laki-laki, kamu berubah.”

Widya terdiam sebentar.

“Aku jadi nggak nyaman.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Aku nggak pernah bermaksud—”

“Justru itu, Candra.”

Widya memotong ucapanku.

“Kamu mungkin nggak bermaksud menguasai aku. Tapi yang aku rasakan seperti itu.”

Aku tidak mampu menjawab.

“Aku ingin kita tetap berteman. Tapi kalau sebagai teman saja kamu seperti ini, aku takut nanti malah semakin jauh.”

Aku memejamkan mata.

Setiap kata-katanya masuk satu per satu.

Tidak ada yang bisa kubantah.

Karena semuanya benar.

“Candra…”

“Iya.”

“Aku minta kamu berhenti posesif.”

Aku tetap diam.

“Kalau memang kamu menganggap aku teman, perlakukan aku sebagai teman.”

Hening.

“Jangan merasa punya hak atas hidupku.”

Aku menelan ludah.

Lagi-lagi aku tidak menjawab.

Sampai akhirnya terdengar suara Widya.

“Kalau kamu nggak mau ngomong, ya sudah.”

Lalu sambungan telepon terputus.

Aku masih memegang ponsel.

Layar sudah gelap.

Namun kata-kata Widya terus berputar di kepalaku.

Kita belum pacaran.

Aku menatap langit-langit kamar kontrakan.

Benar.

Aku siapa?

Aku bahkan belum pernah mengatakan cinta kepadanya.

Belum pernah menyatakan perasaan.

Belum pernah meminta Widya menjadi kekasihku.

Tapi aku sudah bersikap seperti seorang kekasih yang memiliki hak untuk mengatur hidupnya.

Betapa bodohnya aku.

Selama ini aku takut kehilangan Widya.

Padahal justru sikapku sendirilah yang bisa membuatnya pergi.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku duduk sendirian di tepi kasur.

Untuk pertama kalinya, aku mencoba melihat semuanya dari sudut pandang Widya.

Bagaimana rasanya setiap hari ditanya?

Bagaimana rasanya ketika teman sendiri selalu curiga?

Bagaimana rasanya ketika seseorang yang bahkan belum menjadi kekasih merasa berhak mengetahui semua kegiatan kita?

Aku mengusap wajah.

“Maaf, Widya.”

Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

Semalaman aku merenung.

Hingga esok paginya, jari-jariku mulai mengetik.

Aku sempat menghapusnya beberapa kali.

Sampai akhirnya sebuah pesan terkirim.

“Widya, maaf.”

Aku berhenti sebentar.

Lalu melanjutkan.

“Aku sadar selama ini aku sudah keterlaluan. Aku terlalu takut kehilangan kamu sampai lupa kalau kamu punya kehidupan sendiri.”

Aku menarik napas.

“Mulai sekarang aku nggak akan mengganggu dan menghubungi kamu untuk sementara waktu.”

Dadaku terasa sesak ketika mengetik kalimat berikutnya.

“Jaga diri baik-baik di sana. Dan kalau boleh, jaga juga hati kamu sampai saatnya tiba.”

Aku tersenyum pahit.

“Aku nggak tahu kapan saat itu datang. Tapi aku janji, suatu hari nanti aku akan datang ke Surabaya. Bukan sebagai teman yang posesif. Aku akan datang sebagai laki-laki yang sudah siap dan berani mengatakan perasaanku secara resmi.”

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu menekan tombol kirim.

Tidak ada balasan.

Aku kembali mengirim pesan. “Kamu fokus kuliah, akupun demikian. Maaf sementara waktu aku blokir kamu.”

Akupun memblokir nomornya, dan semua media sosialnya.

Aku meletakkan ponsel di atas meja.

Malam itu aku membuat keputusan.

Aku harus berubah.

Bukan supaya Widya takut kehilangan aku.

Bukan supaya dia merasa bersalah.

Tapi karena aku memang harus menjadi laki-laki yang lebih dewasa.

Mulai besok, aku akan fokus kuliah.

Aku harus lulus.

Aku harus mencari pekerjaan yang layak.

Aku teringat pesan ibunya Widya.

“Kalau memang serius sama Widya, selesaikan dulu kuliahmu. Cari pekerjaan yang baik. Setelah itu baru bicara soal hubungan.”

Dulu kalimat itu terasa seperti beban.

Sekarang justru menjadi tujuan.

Aku kembali menarik napas panjang.

“Baiklah.”

Aku menatap meja belajar yang penuh buku.

“Kalau begitu, aku akan buktikan.”

Sejak hari itu, hidupku berubah.

Pagi kuliah.

Siang mengerjakan tugas.

Sore sampai malam kembali menarik ojek online.

Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak bisa kukendalikan.

Setiap kali tanganku ingin membuka percakapan dengan Widya, aku menahannya.

Setiap kali rasa rindu datang, aku mengalihkannya dengan belajar.

Kadang aku masih membuka foto-fotonya.

Kadang aku masih ingin mendengar suaranya.

Tapi aku belajar satu hal.

Mencintai seseorang tidak selalu berarti harus terus berada di dekatnya.

Kadang mencintai berarti memberi ruang.

Memberi kepercayaan.

Dan yang paling sulit…

Belajar menunggu.

Bulan demi bulan berlalu.

Nilai-nilaiku mulai membaik.

Aku semakin serius menyelesaikan skripsi.

Penghasilan dari ojek online juga kusisihkan sedikit demi sedikit.

Aku tidak lagi memikirkan bagaimana caranya mendapatkan perhatian Widya.

Aku mulai memikirkan bagaimana caranya menjadi seseorang yang pantas berdiri di sampingnya.

Sampai akhirnya hari yang selama ini kutunggu tiba.

Aku berdiri di atas panggung wisuda dengan toga yang terasa begitu berat sekaligus membahagiakan.

Namaku dipanggil.

Aku melangkah maju.

Ijazah itu akhirnya berada di tanganku.

Aku berhasil.

Aku lulus.

Dengan nilai yang membuat kedua orang tuaku tersenyum bangga.

Aku menatap lembar ijazah itu lama.

Tiba-tiba pikiranku melayang kepada seseorang yang berada jauh di Surabaya.

Widya.

Aku tersenyum kecil.

“Dulu aku pernah berjanji.”

Aku menggenggam ijazah itu.

“Aku akan datang.”

Setelah wisuda, aku mulai mencari pekerjaan.

Tidak mudah.

Ada penolakan.

Ada panggilan kerja yang tidak berlanjut.

Ada hari-hari ketika aku hampir putus asa.

Tapi aku terus mencoba.

Sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang layak.

Pekerjaan yang membuatku bisa berdiri dengan kakiku sendiri.

Hari itu aku pulang dengan senyum lebar.

Aku duduk sendirian di kamar sambil menatap jaket ojol yang selama ini menemani dan membiayaiku kuliah.

Aku mengambil ponselku yang kuletakan di atas kasur. Aku membuka daftar blokir di WhatsApp.

Aku membuka blokir Widya.

Jari telunjukku berhenti di atas tombol panggilan.

Aku tersenyum.

Belum.

Aku belum akan menelepon.

Aku punya satu janji yang harus kutepati.

Aku tidak ingin kembali menjadi Candra yang dulu.

Candra yang hanya pandai mencintai dengan rasa takut.

Aku ingin menjadi Candra yang datang dengan keberanian.

Datang dengan pekerjaan.

Datang dengan masa depan.

Dan datang untuk mengatakan satu kalimat yang selama ini kusimpan terlalu lama.

“Widya, maukah kamu menjadi kekasihku?”

Aku meletakkan ponsel.

Hari itu aku tahu…

Jarak ternyata tidak hanya memisahkan aku dan Widya.

Jarak juga telah mengajariku bagaimana mencintai tanpa memiliki.

Dan mungkin…

justru karena itulah aku akhirnya siap untuk benar-benar memilikinya.

Bukan dengan paksaan.

Bukan dengan kecemasan.

Tetapi dengan sebuah janji yang akan kuucapkan langsung di hadapannya.

Di Surabaya.

(Bersambung)

Ojek Cinta: Bagian VII – Prasangka Ini Bikin Aku Gila!

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: