“Tuhan, jika Widya jodohku, mudahkanlah semuanya. Tapi jika dia bukan jodohku, cabutlah nyawanya buru-buru. Aku tidak rela dia dimiliki selain oleh Mu.”

SAAT aku sedang mengantarkan orderan makan pelanggan, ponsel di kantongku berdering. Suaranya terdengar samar di tengah bising jalanan. Namun aku tak sempat mengangkatnya. Aku sedang terburu-buru mengantarkan pesanan.

Aku yakin panggilan itu dari Widya.

Benar saja. Setelah aku beres mengantarkan pesanan, aku telpon balik Widya. Melalui telepon itu Widya mengatakan jika ayahnya sudah tiba dari Surabaya. Lusa mereka berangkat ke Kota Pahlawan usai mengambil ijazah.

Dadaku seketika terasa sesak.

Lusa.

Hanya tinggal lusa.

Kata itu berputar-putar di kepalaku seperti suara yang tak mau pergi.

Hatiku kalut. Waktu terasa begitu cepat berjalan. Tak terasa sudah sepekan sejak Widya menceritakan akan pindah ke Surabaya.

Sepekan yang terasa terlalu singkat untuk menerima kenyataan bahwa seseorang yang selama ini begitu dekat denganku sebentar lagi akan berada begitu jauh.

Aku lemas! Aku merasa sudah tak berguna lagi semua yang aku kerjakan jika tanpanya. Aku yang awalnya tegar mendengar rencana kepindahan Widya, kini ketegaran itu pupus.

Ternyata benar, manusia bisa saja terlihat kuat ketika mendengar kabar buruk. Namun ketika hari perpisahan semakin dekat, benteng pertahanan itu perlahan runtuh dengan sendirinya.

Widya memintaku nanti sore datang ke rumahnya, untuk berkenalan dengan ayahnya.

Walau terasa belum siap, aku hanya mampu berkata, “Siap!”

Satu kata sederhana yang terasa begitu berat untuk kuucapkan.

Semangat menarik ojol seketika hilang. Aku memutuskan untuk pulang meski hari masih siang.

Aku ingin menenangkan diri.

Namun sepanjang perjalanan pulang, pikiranku justru semakin dipenuhi bayangan tentang Widya.

Tentang tawanya.

Tentang cara dia memandangku.

Tentang teras rumahnya yang selama ini menjadi tempat kami berbincang.

Dan sekarang, semuanya terasa seperti sesuatu yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan.

Selepas azan maghrib aku pergi ke rumah Widya. Di sana aku dibukakan pintu oleh ayahnya.

Dia terlihat dingin.

Tanpa ekspresi dia bertanya keperluanku datang ke rumah.

“Mau ketemu siapa, dek?”

Aku gugup mendengar pertanyaan itu. Nada bicaranya berat seperti suara Batman.

Dia terlihat seperti pemburu berdarah dingin yang tak segan menembak mati hewan buruannya.

“A… aku Candra, om. Temennya Widya,” jawabku sambil mengulurkan tangan untuk menyalaminya.

“Widya, ini ada Candra temen kamu.”

“Iya bentar, Yah,” sahut Widya dari dalam kamar.

Kreeek….

Suara pintu kamar Widya begitu jelas terdengar di telingaku yang seketika memecah kekakuan ini.

Widya tampak ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Apa mungkin hanya aku saja yang merasa merana akan ditinggal olehnya.

Sementara Widya merasa biasa saja mau meninggalkan aku?

Ah, aku mulai negative thinking!

“Yah, ini Candra temen aku.”

“Iya, tadi sudah kenalan.”

Ayah Widya mempersilahkan aku duduk. Kami bertiga duduk di ruang tamu.

Aku gugup.

Sangat gugup.

Terlalu gugup.

Aku hanya bisa menuduk.

Rasanya ada sesuatu yang menekan dadaku. Bukan karena pertanyaan ayah Widya semata, melainkan karena aku sadar bahwa setiap detik yang kulewati di rumah itu membawa kami semakin dekat pada perpisahan.

Ayah Widya terus menanyaiku. Tentang keseharianku, bagaimana aku bisa kenal Widya, asal-usulku, pekerjaanku, pendidikanku.

Aku serasa sedang diinterogasi oleh penyidik kepolisian karena kasus pencurian. Mencuri hati anaknya.

Sesekali Widya membantu menjawab apa yang ditanyakan ayahnya ke aku.

Setelah puas mengulitiku, ayah Widya masuk ke dalam kamar.

Lega hati ini.

Aku ada kesempatan berduaan dengan Widya, untuk bicara dari hati ke hati.

Entah kenapa, kesempatan itu terasa seperti kesempatan terakhir.

Kami pindah ke teras rumah. Widya masih terlihat biasa saja. Sementara aku makin terlihat payah.

Teras itu masih sama seperti biasanya. Tempat kami menghabiskan waktu, bercanda, bercerita, dan saling melempar senyum.

Namun malam itu semuanya terasa berbeda.

Untuk pertama kalinya, teras yang selama ini terasa hangat justru terasa begitu sunyi.

“Lusa, kamu berangkat pagi apa siang?” tanyaku sambil sesekali melirik Widya.

Widya terus menatapku. Sepertinya dia tahu tentang kegalauanku.

“Aku siang berangkat. Paginya kamu datang ya?”

Aku mengangguk.

“Sebelum berangkat kuliah, lusa aku datang.”

“Yang kuat ya. Lusa jangan nangis,” kelakar Widya sambil tertawa menggodaku.

Aku berusaha ikut tersenyum.

Namun di dalam hati, ada sesuatu yang retak.

Bagaimana mungkin aku tidak menangis ketika orang yang begitu berarti dalam hidupku akan pergi?

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Aku pamit pulang ke ayah dan ibu Widya.

Langkahku terasa berat ketika meninggalkan rumah itu.

Aku sempat menoleh sekali.

Rumah itu masih berdiri seperti biasa.

Lampunya masih menyala.

Namun aku tahu, setelah lusa, rumah itu mungkin tak akan pernah terasa sama lagi.

Setelah semalaman tak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi, aku memutuskan untuk berpuasa aktivitas hari ini.

Layaknya orang yang kalah, aku malas makan dan mandi. Biarlah aku berantakan hari ini. Kegalauanku sudah tingkat dewa.

Ponsel kubiarkan mati. Aku tidak akan menghubungi Widya hari ini karena akan menambah beban derita saja.

Waktu berjalan cepat, rasanya baru saja aku bangun tidur, azan ashar sudah berkumandang.

Aku nyalakan ponselku. Ada lima panggilan telepon, dan sepuluh pesan WhatsApp dari Widya.

Aku membacanya, tapi enggan membalasnya. Ponsel kembali bergetar. Pesan masuk dari Widya.

“Kamu kenapa seharian nggak aktif. Kamu baik-baik saja kan?”

“Aku gpp kok,” balasku singkat.

“Nanti sore kamu datang ke rumah ya?”

Aku hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Aku sudah berniat tidak akan datang kerumahnya nanti sore. Biar besok pagi saja aku datang sebelum keberangkatan Widya.

Ponsel kembali aku matikan.

Aku tahu aku sedang menghindar.

Bukan dari Widya.

Melainkan dari kenyataan bahwa aku akan kehilangan seseorang yang diam-diam sudah menjadi bagian penting dalam hidupku.

Seperti malam sebelumnya, aku gelisah tak siap untuk esok pagi. Aku begadang saja, biar malam terasa lama. Aku tidak siap melihat pagi cepat-cepat.

Aku ingin malam berhenti.

Aku ingin waktu berhenti.

Karena aku tahu, ketika pagi datang, jarak antara aku dan Widya akan mulai terbentang.

Inilah kegalauanku yang baru pertama merasakan cinta seberat ini.

Aku menatap langit-langit kamar indekosku. Dalam hati aku berdoa nakal kepada Tuhan:

“Tuhan jika Widya jodohku, mudahkanlah semuanya. Tapi jika dia bukan jodohku, cabutlah nyawanya buru-buru. Aku tidak rela dia dimiliki selain oleh Mu.”

Doa itu terdengar kejam.

Namun mungkin begitulah hati orang yang sedang takut kehilangan. Ia bisa meminta sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak sanggup menjelaskan.

Suara azan subuh terdengar ketika aku baru memejamkan mata. Aku meneguk air mineral yang tersisa setengah botol.

Aku kembali meringkuk di atas kasur lantai yang spreinya berantakan. Pikiran kembali mengawang tak karuan.

Widya.

Namanya memenuhi kepalaku.

Aku harus tegar melihat keberangkatan Widya. Setidaknya pura-pura tegar!

Setelah mandi, aku memanakai pakaian terbaiku. Aku ingin tampil menarik di depan Widya pagi ini agar dia terus terbayang sepanjang perjalanan.

Aku ingin, setidaknya, ada satu kenangan tentang diriku yang ikut bersamanya.

Setengah tujuh aku tiba di rumahnya. Widya sedang duduk kursi teras, tempat biasa kami mengobrol. Dia memangku tas ransel yang mengkin berisi barang pribadinya. Di sampingnya berdiri tiga koper dua besar dan satu ukuran sedang.

Koper-koper itu seperti sedang berteriak kepadaku bahwa semuanya benar-benar akan terjadi.

Widya benar-benar akan pergi.

“Kamu kemana aja kemaren?” tanya Widya ketus.

“Aku gak enak bada seharian. Aku tiduran aja,” jawabku sambil tersenyum meski hati menangis.

“Aku mau berangkat sebentar lagi.”

Aku menganggukan kepala berpura-pura tegar.

“Kamu hati-hati ya. Nanti kita tetap berkabar.”

Widya membuang muka tampak masih sebal denganku yang seharian kemarin tak ada kabar. Aku duduk sebelahnya.

Widya masih tak mau menatapku.

Aku ingin sekali memandang wajahnya lebih lama. Menghafal senyumnya. Mengingat matanya. Menyimpan semuanya dalam ingatan sebelum jarak memisahkan kami.

Ingin sekali kugenggam tanganya dan mengatakan cinta. Tapi bibir ini sulit terbuka seperti ada gembok besar yang menguncinya.

Ada begitu banyak kata yang ingin kusampaikan.

Namun semuanya hanya berhenti di tenggorokan.

Tiba-tiba air mataku menetes.

Aku buru-buru menghapusnya. Aku tidak ingin Widya melihat betapa rapuhnya diriku.

Sambil kuhapus air mata, aku berjanji sebisa mungkin aku akan datang ke Surabaya saat lubur semester tiba.

Janji itu terasa seperti satu-satunya pegangan yang kumiliki.

Widya menoleh ke arahku. Dia tersenyum sambil menyodorkan jari kelingkin ke arah tanganku.

“Janji ya?”

Aku hanya mengangguk.

Jari kelingking kami bertaut.

Sederhana.

Namun entah mengapa, saat itu aku merasa seperti sedang berusaha mengikat sesuatu yang sebentar lagi akan terlepas dari genggamanku.

Pagi itu menjadi pengalamanku sebagai seorang lelaki yang takut ditinggalkan.

Takut kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat benar-benar kumiliki.

Biarlah waktu yang menjawab cintaku untuk Widya.

Karena terkadang, cinta bukan hanya tentang memiliki.

Cinta juga tentang menunggu, bertahan, dan berusaha tersenyum ketika seseorang yang kita sayangi harus pergi.

Dan pagi itu, aku hanya bisa berdiri di antara harapan dan kehilangan.

Menunggu waktu membuktikan apakah jarak benar-benar mampu memisahkan dua hati yang saling mendekat.

(Bersambung…)

BACA JUGA: Ojek Cinta: Bagian V — Berpisah untuk Bersatu

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: