Aku jatuh cinta melebihi yang dirasakan orang-orang.

PANAS terik seperti membakar Jakarta siang itu. Matahari seolah tak memberikan diskon untukku. Surya bersinar begitu kejam.

Aku baru saja selesai mengantarkan sebuah orderan antar barang ke bilangan SCBD.

Tubuh terasa lelah. Keringat masih membasahi pelipis ketika aku memilih berteduh di bawah pohon rindang. Sambil mengistirahatkan tubuh, kuseruput perlahan kopi Rindumu yang masih tersisa.

Ku buka resleting jaketku. Kaos di balik jaket  terasa lembab dibasahi keringat.

Di tengah suasana itu, ponselku tiba-tiba berdering.

Sebuah pesan WhatsApp muncul di layar. Nomornya tak kukenal.

Aku membuka pesan itu.

“Bang, nanti jam dua jemput ya. Bisa kan?”

Ternyata itu dari Widya.

Seketika rasa lelah yang sejak tadi menggantung di tubuhku seperti menguap begitu saja.

“Bisa dong,” balasku.

Tak lama kemudian, Widya membalas dengan stiker jempol.

Aku tersenyum.

Entah kenapa, hanya sebuah pesan sederhana darinya mampu membuat siang yang panas terasa begitu sejuk.

Angin sepoi-sepoi seketika meniup ragaku yang tengah kelelahan.

Rasa lelah seketika hilang.

Suara bising lalu-lalang kendaraan di jalanan kembali terdengar seperti alunan orkestra yang memainkan lagu cinta.

Aku mendongakkan kepala, menatap langit.

Langit Jakarta yang semula berwarna abu-abu diselimuti polusi, mendadak terasa biru.

Terima kasih Tuhan.

Secercah harapan cinta telah kau berikan.

Kulihat jam di layar ponselku. Waktu baru menunjukkan pukul dua belas tiga puluh.

Masih satu setengah jam lagi untuk menjemput Widya pulang.

Aku memutuskan untuk beristirahat saja terlebih dahulu. Aku ingin terlihat segar ketika bertemu dengannya nanti. Entah mengapa, untuk Widya aku ingin memberikan kesan terbaik yang bisa kuberikan.

Aku membakar rokokku. Kemudian kembali memesan kopi susu gula aren.

Tubuhku kusandarkan pada batang pohon tebubaya. Angin siang berembus pelan, membawa sedikit kesejukan di tengah teriknya Jakarta.

Aku menarik napas panjang.

“Oh… indahnya hidup.”

Tanpa kusadari, mataku terpejam.

Aku terbangun pukul satu lima belas.

Aku tersentak.

“Astaga!”

Waktu berjalan begitu cepat.

Segera kupacu motor Suzuki Smash pabrikan 2004 yang bahkan umurnya lebih tua dariku. Motor yang selama ini menjadi teman setiaku mencari nafkah dan kuliah, kini kembali melaju membelah jalanan Jakarta.

Widya, aku datang.

Kalimat itu terus terngiang di dalam hati.

Pukul dua kurang lima menit aku sampai di sekolahnya.

Aku menunggunya tak jauh dari gerbang sekolah. Beberapa siswa sudah mulai meninggalkan halaman sekolah, sebagian berjalan berkelompok, sebagian lainnya sibuk dengan ponsel masing-masing.

Aku mengambil ponsel lalu mengirim pesan WhatsApp kepada Widya.

“Aku sudah di depan.”

Tak ada balasan.

Namun beberapa saat kemudian, Widya muncul seorang diri dari balik gerbang sekolah.

Entah mengapa, melihatnya saja sudah cukup membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Kok keluar sendiri?” tanyaku sambil memberikan helm kepada Widya.

“Iya, temen-temen udah pada pulang duluan.”

Aku kembali memasangkan tali helmnya.

Gerakan sederhana itu terasa begitu berarti. Aku hanya ingin memastikan dia aman dan nyaman sebelum perjalanan dimulai.

Setelah memastikan Widya sudah duduk nyaman di belakangku, kupacu motor secara perlahan.

Kecepatan tidak lebih dari empat puluh kilometer per jam.

Sengaja.

Bukan karena motorku tak mampu melaju lebih cepat, tetapi karena diam-diam aku ingin perjalanan ini berlangsung lebih lama.

Aku ingin lebih lama bersama Widya.

Di atas motor tua ini, di antara riuh jalanan Jakarta, aku menemukan kebahagiaan yang sederhana.

“Widya sudah makan?”

“Belum Bang, pagi aja sarapan.”

“Mau makan dulu? Di dekat sini ada tukang mi ayam yang enak lho.”

“Nggak apa-apa nih? Abang emang nggak sibuk?”

“Enggak kok.”

Seketika dadaku berdebar.

Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.

Dan kemudian sesuatu yang membuat seluruh tubuhku seolah kehilangan kata-kata terjadi.

Kedua tangan Widya melingkar ke pinggangku.

Aku terdiam.

Untuk sesaat, suara kendaraan di jalan raya seolah menjauh. Panas matahari seperti tak lagi terasa. Yang kurasakan hanya hangatnya kedua tangan Widya yang memeluk pinggangku dari belakang.

Alamak, indahnya hidup.

Aku baru merasakan cinta yang tak biasa.

Aku jatuh cinta melebihi yang dirasakan orang-orang.

Widya.

Nama itu kembali berputar-putar di dalam pikiranku.

Sebuah nama yang perlahan-lahan mulai menempati ruang khusus di dalam hati.

Kunyalakan sen kiri. Aku berbelok dan berhenti tepat di depan kedai Mie Ayam Marieska.

Kupesan dua mangkok mi ayam spesial dan dua botol Teh Pucuk plus es batu.

Kami banyak mengobrol.

Dari mulai soal sekolah, kehidupan, hingga cita-cita dari masing-masing kami.

Obrolan sederhana itu terasa begitu hangat. Aku menikmati setiap detik ketika Widya bercerita. Bahkan hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain tidak berarti, bagiku terasa istimewa.

Selesai makan semangkuk mi ayam, kami pun melanjutkan perjalanan.

Motor kembali melaju membelah jalan.

Kali ini, perjalanan terasa jauh lebih singkat.

Mungkin karena aku terlalu menikmati kebersamaan kami.

Aku berhasil mengantar Widya sampai rumah dengan selamat dan penuh kebahagiaan.

Kali ini Widya sudah bisa membuka tali helm sendiri.

Aku tersenyum.

Widya tersenyum.

Kami berdua sama-sama tersenyum sambil berbalas kata terima kasih.

Senyum itu sederhana.

Namun entah mengapa, rasanya seperti sebuah isyarat kecil bahwa sesuatu di antara kami mulai tumbuh.

Sesuatu yang belum berani kusebut sebagai cinta.

Namun terasa semakin nyata.

Perjalanan ojek cinta aku rasa baru saja dimulai.

(Bersambung…)

BACA JUGA: Ojek Cinta: Bagian II – Pipinya Terasa Lembut dan Hangat

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: