Tanganku menyentuh pipi Widya. Sesaat aku seperti kehilangan kata-kata. Pipinya terasa lembut dan hangat.
HARI ini tidak ada jadwal kuliah. Kesempatan seperti ini tentu tidak boleh kusia-siakan. Aku bisa menarik ojol seharian, mengumpulkan rupiah demi rupiah. Semoga hasilnya cukup untuk membeli buku-buku perkuliahan yang beberapa hari terakhir terus terbayang di kepala.
Pukul enam tepat, aku sudah keluar dari indekos.
Mesin motor kunyalakan. Suaranya terdengar kasar di udara pagi yang masih menyisakan dingin. Namun, ada satu hal lain yang membuatku bersemangat.
Widya.
Entah kenapa, siswi SMA yang beberapa hari terakhir hanya kukenal sebagai penumpang itu kini mulai sering bergelayut di pikiranku.
Aku bahkan sengaja memilih tempat untuk ngetem yang tidak jauh dari rumahnya. Sekitar dua puluh meter dari kediamannya, aku menghentikan motor.
Tak lama kemudian, pintu rumahnya terbuka.
Widya terlihat keluar dengan langkah tergesa.
Hari itu ia mengenakan seragam Pramuka. Rambutnya tertata rapi, sementara kedua tangannya sibuk memainkan gawai. Dari gerak-geriknya, ia tampak gelisah.
Aku menatapnya beberapa saat.
“Alamak… cantiknya.”
Ada dorongan dalam diri untuk mendekatinya. Aku pun mengendarai motor perlahan hingga berada tak jauh darinya.
“Belum berangkat, Widya?”
Widya menoleh. Wajahnya tampak sedikit lega melihatku.
“Iya, belum dapat ojol. Tadi udah dapat tapi dicancel sama abangnya. Ini lagi coba pesen nggak dapet-dapet, takut kesiangan nih.”
Aku mengernyit.
Aneh.
Aku berada begitu dekat dengannya, tetapi tak satu pun orderan masuk ke aplikasiku. Padahal biasanya pagi seperti ini orderan cukup ramai.
Aku segera memeriksa ponsel.
Sial!
Baru kusadari paket internetku sudah habis.
Pantas saja sejak tadi layar aplikasi begitu sepi.
Aku kembali menatap Widya.
“Kalo gitu, aku anter aja mau nggak? Daripada kesiangan,” kataku menawarkan.
Widya tampak berpikir sejenak.
“Nggak lewat aplikasi nggak apa-apa emangnya Bang?”
“Nggak apa-apa. Internetku habis, pantesan Hp sepi gak masuk orderan.”
Aku tersenyum kecil.
Kemudian kusodorkan helm kepadanya.
Widya menerimanya, lalu mencoba memasang tali pengaman di bawah dagu. Namun beberapa kali tangannya gagal mengunci tali tersebut.
Melihat itu, aku berinisiatif membantu.
Aku mendekat.
Terlalu dekat.
Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Tanganku bahkan ikut gemetar ketika berusaha mengaitkan tali helm di bawah dagunya.
Aku berusaha terlihat tenang. Sayangnya, tubuhku rupanya tidak bisa diajak bekerja sama.
“Jangan gemeter gitu dong, Bang,” kata Widya menggodaku.
“Ach, enggak kok,” jawabku sambil tersipu.
Aku pura-pura sibuk memperbaiki posisi helmnya, padahal sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan kegugupan.
Setelah semuanya beres, kami pun berangkat.
Motor melaju membelah jalan pagi.
Di sepanjang perjalanan, kami mengobrol. Sesekali aku mendengar suara Widya dari belakang.
Namun sebagian besar percakapan kami harus berulang kali ditebak karena suara kendaraan yang berlalu-lalang jauh lebih keras.
Meski begitu, aku menikmatinya.
Ada sesuatu yang berbeda pagi itu.
Aku tidak sedang sekadar mengantar seorang penumpang.
Aku sedang duduk di atas motor bersama seseorang yang entah bagaimana mulai membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.
Widya kemudian menanyakan keseharianku.
“Aku masih kuliah semester enam. Untuk ngisi waktu luang aku ngojek, lumayan buat tambah-tambah uang kuliah.”
Aku kemudian mendengarkan ceritanya.
Widya mengaku bahwa setelah lulus SMA nanti, ia ingin melanjutkan kuliah di jurusan komunikasi di Universitas Maju Jaya.
Aku terdiam sejenak.
Universitas Maju Jaya.
Itu kampusku.
Dalam hati aku berdoa, semoga setelah lulus nanti, ia tak berubah pikiran.
“Lho, itu kampusku.”
“Oh iya? Gimana, enakan Bang kuliah di sana?”
“Enak kok, buktinya aku betah… hehehe.”
Aku tertawa kecil.
Dalam hati, aku berharap suatu hari nanti kami benar-benar bertemu lagi di kampus yang sama.
Bukan sebagai pengemudi ojol dan penumpang.
Tapi sebagai dua mahasiswa yang sama-sama sedang mengejar masa depan.
Hampir dua puluh menit perjalanan berlalu tanpa terasa. Kami akhirnya sampai di sekolah Widya.
Ia turun dari motor dan menyodorkan uang untuk ongkos ojek.
Namun aku menolaknya.
“Nggak usah. Kan gak pesen lewat aplikasi.”
Widya menatapku, seolah memastikan aku benar-benar serius.
“Bener nih nggak usah?”
“Iya. Simpan aja buat jajan kamu.”
Widya tersenyum.
Kemudian ia kembali mencoba membuka tali helm yang dikenakannya. Lagi-lagi ia terlihat kesulitan.
Aku membantunya.
Namun entah kenapa, tanganku kembali gemetar.
Dan kali ini aku benar-benar tidak sengaja.
Tanganku menyentuh pipi Widya.
Sesaat aku seperti kehilangan kata-kata.
Pipinya terasa lembut dan hangat.
Aku segera menarik tangan.
“Eh, maaf nggak sengaja.”
Widya hanya tersenyum sambil menyerahkan helm itu kepadaku.
Senyumnya justru membuat wajahku semakin panas.
Aku merasa seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan di depan orang yang disukainya.
Dengan rasa gerogi, aku kemudian memberanikan diri menawarkan sesuatu yang sejak tadi berputar-putar di kepala.
“Nanti aku jemput anter pulang mau nggak? Hari ini nggak ada jam kuliah, jadi banyak waktu luang.”
Widya menatapku.
“Emang nggak ngerepotin?”
“Nggak kok.”
Jawaban itu meluncur begitu saja.
Aku memberikan nomor WhatsApp-ku ke Widya.
“Kalau mau dijempur nanti WA aku aja.”
“Ok… nanti dikabarin deh.” jawabnya sambil berlalu menuju gerbang sekolah.
Aku terus menatapkan sampai dia benar- benar hilang ditelan gerbang sekolah.
Pagi itu aku merasa menjadi lelaki paling bahagia di dunia.
Aku kembali mengendarai sepeda motor, meninggalkan sekolahnya. Namun rasanya bukan lagi sekadar mengendarai motor.
Sepeda motor yang kutunggangi seperti terbang di atas awan.
Jalanan yang biasanya terasa panas dan melelahkan mendadak menjadi begitu indah. Suara klakson, deru mesin, dan hiruk-pikuk kendaraan seakan berubah menjadi irama yang mengiringiku mengais rezeki hari ini.
(Bersambung…)
Baca Juga: Ojek Cinta: Bagian I — Penumpang Itu Bernama Widya







