Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

DEMIKIAN secuil bait puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro. Puisi tersebut menggema di ruang Balai Agung, Balai Kota Jakarta pada Kamis, 3 September 2026, pagi.

Alfataro Serhan Khairrazaky, membacakannya dengan penuh deklamasi di depan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Isi Balai Agung terdiam.

Terhanyut dengan bait demi bait puisi yang dibacakan Alfataro.

Pantas saja jika bocah kelas lima sekolah dasar SDIT Nurul Iman Pondok Bambu, Jakarta Timur, tersebut menjadi pemenang Lomba Baca Puisi Tingkat Provinsi DKI Jakarta pada Lomba Literasi Hanjaba dan Lomba Menulis Tahun 2026.

Alfataro pun diganjar hadiah uang tunai sebesar  Rp3 juta.

Kepada cerpenkita.id, Alfaro mengaku jika kegemarannya membaca puisi karena terinspirasi oleh gurunya.

Sejak kelas satu sekolah dasar, dirinya sudah mulai belajar membaca puisi. Sejak saat itu, ia terus berlatih gerak, mimik wajah, serta intonasi dalam membaca puisi.

“Kalau tidak salah, dari kelas 1 SD ya. Waktu itu, saya dulu tinggal di Medan. Nah, di Medan itu ada sanggar. Saya belajar dari guru saya yang memang udah berpengalaman,” kata Alfataro.

Kegigihannya itu, membawanya menjadi pemenang lomba baca puisi tingkat provinsi tahun ini.

Meski gemar membaca puisi, Alfataro mengaku sempat vakum beberapa tahun seiring dengan kepindahannya ke Jakarta.

Sehingga Alfataro mengaku sebelumnya tidak pernah sekalipun mengikuti lomba baca puisi.

Berkat dukungan dari sekolah, Alfataro pun akhirnya memberanikan diri ikut Lomba Hanjaba yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta.

Alfataro berhasil menyingkirkan puluhan pesaingnya di tingkat sekolah dasar.

Oleh dewan juri yang sudah berpengalaman, ia dinyatakan sebagai pemenang Lomba Literasi Hanjaba pada kategori Lomba Baca Puisi 2026.

“Ini pertama kali. Ya dulu sebenarnya saya sudah jarang baca puisi, sudah berapa tahun nggak baca puisi,” pungkasnya.

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: