Gadis itu turun dari motor. Saat aku membuka helm, tanpa sengaja pandanganku tertuju kepadanya.

PAGI buta aku sudah memanaskan mesin motor di depan rumah indekos. Suara knalpotnya terdengar sember, seperti sedang menggerutu kepada pemiliknya.

Seolah-olah motor tua itu sedang berteriak, meminta segera diservis dan diganti oli.

Sudah tiga tahun motor ini menemaniku mengaspal di Jakarta. Motor yang kubawa dari kampung itu kini bukan sekadar alat transportasi untuk berangkat atau pulang kuliah.

Sekarang sudah menjadi tumpuan hidupku sebagai pengemudi ojek online.

Namaku Candra. Aku mahasiswa semester enam di salah satu universitas swasta di Jakarta. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku terpaksa menarik ojek daring di sela-sela jadwal kuliah.

Transferan uang dari orangtua di Tegal belakangan ini semakin seret. Uang itu hanya cukup untuk membayar biaya kuliah. Maklum, musim paceklik membuat penghasilan orangtuaku di kampung ikut tergerus.

Karena itu, kebutuhan sehari-hari harus kupenuhi sendiri dari hasil menarik ojek.

Pagi itu, tepat pukul enam, sebuah orderan masuk ke ponselku. Lokasi penjemputannya tidak terlalu jauh dari indekosku.

Tanpa banyak pertimbangan, langsung kuterima orderan tersebut.

Lumayan, pikirku. Setidaknya bisa untuk membeli sarapan.

Tak lama kemudian, pesan masuk melalui aplikasi ojol.

“Jemput sesuai maps ya kak.”

“Siap, kak.” balasku.

Aku kembali melihat detail pesanan.

Tertulis nama pengorder: Widya.

Aku pun melaju menuju titik penjemputan.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan sebuah rumah sederhana yang berdiri tepat di jalan utama permukiman. Aku mematikan mesin motor dan menunggu penumpang keluar.

Tak lama, seorang gadis mengenakan seragam SMA keluar dari dalam rumah.

Ia berjalan mendekat sambil membawa tas sekolah.

“Widya ya?” tanyaku.

“Bener, kak.”

“Tujuan ke SMA Siswa Unggul, bener kan?”

“Bener, kak.”

Aku pun mengantarnya dengan hati-hati. Jalanan pagi mulai dipenuhi kendaraan, tetapi lalu lintas belum terlalu padat.

Kurang dari lima belas menit, kami sampai ke tujuan.

Gadis itu turun dari motor. Saat aku membuka helm, tanpa sengaja pandanganku tertuju kepadanya.

Rambutnya terurai.

Wajahnya terlihat begitu cantik dengan makeup tipis.

Entah kenapa, pagi itu tiba-tiba terasa berbeda.

“Kak, sudah dibayar lewat aplikasi ya.” ucapnya lembut sambil menyerahkan helm yang ia pakai ke tanganku.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

Sesederhana itu pertemuan kami.

Namun, entah mengapa, wajahnya justru terus tinggal di kepalaku.

Sejak pertemuan itu, aku selalu terbayang wajahnya.

Rambutnya yang terurai.

Suaranya yang lembut.

Cantik sekali dia.

Menjelang siang, setelah menyelesaikan tiga tarikan, aku bergegas menuju kampus. Jam kuliah hari ini memang agak siang.

Beberapa jam kemudian, setelah mengikuti perkuliahan, tepat pukul dua siang aku kembali menarik ojek.

Namun, kali ini aku sengaja ngetem tak jauh dari sekolah Widya.

Ada harapan kecil yang bahkan terasa konyol.

Semoga Widya kembali mengorder jasa ojekku untuk pulang sekolah.

Aku menunggu sambil sesekali memperhatikan layar ponsel.

Tak lama kemudian, orderan penumpang masuk ke aplikasi ojekku.

Aku segera melihat nama pengorder.

Ternyata bukan Widya.

Sedikit kecewa, tetapi tetap kuterima orderan itu.

Tak lama kemudian, seorang siswi keluar dari gerbang sekolah.

Aku memperhatikannya.

Dan betapa kagetnya aku ketika melihat dia berjalan berdua dengan Widya.

Mereka berjalan mendekat ke arahku.

Sungguh, aku tak menyangka akan bertemu Widya lagi hari itu.

Begitu sampai di hadapanku, Widya langsung mengenaliku.

“Eh, abang yang tadi pagi,” kata Widya menyapaku.

Aku tersenyum.

“Hati-hati ya Bang sama Santi. Dia agak genit,” sambung Widya sambil terkekeh.

Aku kembali tersenyum mendegar perkataan Widya.

“Kamu pulang naik apa,” tanyaku ke Widya.

“Aku sudah order ojol kok Bang,” jawabnya.

Aku pun pamit mengantarkan Santi, teman sekolah Widya.

Motor kembali melaju meninggalkan sekolah.

Di perjalanan, aku dan Santi sedikit mengobrol.

Mumpung ada narasumber yang kompeten, aku pun mencari tahu tentang Widya.

“Iya aku temen sekelasnya, Kak. Kami kelas dua belas.”

Jawaban singkat itu justru membuatku semakin penasaran.

Kurang dari setengah jam, kami sampai di titik tujuan.

Aku menghentikan motor.

“Ongkosnya sembilan ribu.”

Santi pun mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari saku bajunya.

“Kembaliannya ambil aja, Kak.”

Aku menerima uang itu sambil tersenyum.

Namun, pikiranku masih tertinggal di satu tempat.

Di depan gerbang sekolah tadi.

Pada seorang gadis bernama Widya.

(Bersambung…)

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: