Oh Tuhan, aku berharap dia lah orang yang Kau siapkan untuk jodohku. Usia kami memang masih muda. Tapi apa salahnya jika Kau jodohkan kami dari sekarang?
ALARM ponselku berdering cukup keras.
Kring… kring!
Seketika aku tersentak dari tempat tidur. Dengan mata yang masih berat, kuraih ponsel yang terletak di sebelah kasur lantai tempatku tidur. Layar ponsel menunjukkan pukul lima tiga puluh.
Hari ini aku memang tidak menarik ojek. Jadwal kuliah cukup padat dari pagi hingga sore.
Namun, belum sempat aku benar-benar beranjak dari tempat tidur, ponselku kembali berdering.
Bip-bip… bip-bip!
Kali ini bukan alarm.
Sebuah pesan WhatsApp dari Widya.
Perempuan yang selama beberapa minggu terakhir semakin sering berlari-lari di dalam pikiranku.
Pesannya singkat. Hanya empat kata.
“Bs anter aku gak?” tulisnya, disertai emoticon senyum.
Aku tersenyum sendiri membaca pesan itu.
Jari-jariku segera mengetik balasan.
“Bisa, enam tiga puluh aku sampai rumahmu.”
Sekalian berangkat kuliah, pikirku.
Entah kenapa, meski sebenarnya sedikit merepotkan, aku justru sangat menantikan perjalanan pagi itu. Ada kebahagiaan sederhana setiap kali membayangkan duduk di atas motor, sementara Widya berada tepat di belakangku.
Mendengar suaranya dari jarak sedekat itu.
Mengetahui dia ada di sana.
Dan mungkin, merasakan kehadirannya meski hanya selama perjalanan menuju sekolah.
Selesai mandi dan menyiapkan keperluan kuliah, aku bergegas menuju rumahnya.
Jarak rumah Widya tidak terlalu jauh. Kalau ditarik garis lurus, mungkin sekitar sepuluh kilometer. Hanya terpisah jalan raya.
Aku tiba tepat pukul enam tiga puluh.
Widya sudah berdiri di depan rumah, menungguku.
Entah kenapa, melihatnya pagi itu membuat jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Namun, rasa gugupku semakin menjadi ketika tiba-tiba ibunya keluar dari rumah.
Ia masih terlihat muda. Mungkin baru berusia sekitar empat puluh lima tahun.
Memang, Widya adalah anak pertama sekaligus satu-satunya.
“Kok, nggak naik ojek?” tanyanya kepada Widya.
Hari ini aku memang tidak mengenakan jaket ojol seperti biasanya. Aku hanya memakai kaos hitam bersablon band metal Metallica, dibalut kemeja flanel bercorak kotak-kotak merah maroon, serta celana blujins.
“Engak bu, dianter temen.” jawab Widya dengan nada lembut sambil tersipu malu.
“Temen, apa temen?” goda ibunya.
Aku hanya tersenyum kecil. Kemudian menyapa Ibu Widya sambil menganggukkan kepala.
“Bu.”
“Hati-hati ya bawa motornya. Jangan ngebut.”
“Ya, Bu.”
Begitulah perkenalan singkatku dengan ibunya.
Setelah memastikan Widya sudah duduk dengan nyaman di jok belakang, aku menyalakan motor dan perlahan melaju menuju sekolah.
Seperti biasa, sepanjang perjalanan kami mengobrol, meski suara kami sesekali harus bersaing dengan bising kendaraan lain.
“Kamu nggak narik ojol hari ini?”
“Nggak, padat banget jam kuliah dari pagi sampe sore.”
“Ini kamu gak telat masuk kuliah anter aku?”
“Nggak kok. Kan mulai jam delapan.”
“Nanti siang nggak bisa jemput aku pulang dong.”
“Emang Widya pulang jam berapa?”
“Sorean hari ini. Ada kegiatan sekolah. Paling jam empatan.”
“Nanti siang berkabar ya.”
Aku tersenyum tipis.
Mungkin Widya sudah mulai merasa nyaman diantar dan dijemput olehku.
Setidaknya, begitulah yang ingin kupercaya.
Dan mungkin, ini adalah langkah kecil untuk membina hubungan yang lebih dekat dengannya.
Perjalanan yang sederhana, tetapi diam-diam membuat hatiku berharap terlalu jauh.
Tak lama kemudian, motorku berhenti di depan gerbang sekolah.
Beberapa teman Widya yang melihatnya turun dari motor langsung mulai menggoda.
“Cieee… siapa tuh?”
Widya hanya tersenyum menanggapi ledekan teman-temannya.
Ia kemudian melambaikan tangan kepadaku sebelum berlalu memasuki gerbang sekolah.
Aku masih terdiam di atas motor.
Ada sesuatu yang aneh.
Wangi tubuh Widya seolah masih tertinggal di jok belakang motorku.
Aku menarik napas perlahan.
Entah benar-benar ada wanginya atau hanya perasaanku saja, aku tidak tahu.
Yang jelas, aku merasa seperti masih bisa merasakan kehadirannya.
Mataku terus mengikuti langkahnya hingga ia benar-benar masuk ke dalam sekolah.
Namun, sebelum melewati gerbang, Widya tiba-tiba menengok.
Senyum kecil mengembang di wajahnya.
Senyum yang sederhana.
Tetapi entah mengapa, terasa begitu berarti bagiku.
Aku membalas senyum itu.
Dan untuk beberapa detik, rasanya dunia seperti berhenti bergerak.
Aku sungguh kesengsem dengan Widya.
Oh Tuhan, aku berharap dialah orang yang Kau siapkan untuk menjadi jodohku.
Usia kami memang masih muda. Tapi apa salahnya jika Kau jodohkan kami dari sekarang?
Aku ingin kami berkembang bersama.
Belajar memahami satu sama lain.
Melewati hari-hari yang panjang, dengan segala suka dan dukanya.
Aku ingin tetap berada di sisinya, selama Tuhan masih mengizinkanku.
Aku akan menjaganya, hingga hari pernikahan tiba.
Pikiranku mulai terbang ke mana-mana. Kuliah saja belum beres sudah memikirkan pernikahan.
“Ya Tuhan, aku harus berangkat kuliah!”
(Bersambung…)
BACA JUGA: Ojek Cinta: Bagian III — Cinta Berbalas dari Belakang







