“Jamas lima cahaya asa langit yang tak terhingga. Mewasiat segala warna, swarna kasihnya,” -Farid Stevy.
MALAM adalah tempat paling mudah untuk mengingat seseorang. Barangkali karena gelap membuat segala sesuatu yang kita ingin sembunyikan justru tampak lebih jelas.
Wajah yang sudah lama tidak ditemui. Suara yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar. Bahkan kalimat pendek yang pernah diucapkan seseorang di ruang tamu–pada sore yang biasa saja, dapat kembali dengan ketajaman yang hampir sama.
Malam itu aku kembali menjamas diriku dengan cahaya.
Aku berdiri di depan jendela kamar. Lampu kota berpendar di kejauhan. Sebagian berkedip-kedip seperti kunang-kunang yang tersesat, sebagian lagi diam– menggantung di atas gedung-gedung yang tak pernah tidur.
Aku memejamkan mata.
Cahaya pertama: Namanya Amanda. Cahaya kedua: Namanya Syakiyah. Cahaya ketiga: Ibunya. Cahaya keempat: Sebuah kalimat. Cahaya kelima: Aku.
Begitulah aku menyebutnya: Jamas Lima Cahaya!
Aku tidak tahu Sirin Farid Stevy menemukan istilah itu dari mana. Mungkin dari doa-doa yang pernah didengarnya ketika kecil?
Mungkin dari seseorang yang pernah bercerita tentang membersihkan diri dengan cahaya yang turun dari langit?
Atau mungkin aku sendiri yang mengarangnya karena manusia memang pandai memberi nama kepada sesuatu yang tidak mampu dijelaskannya.
Bagiku, Jamas Lima Cahaya adalah cara paling masuk akal untuk menyebut usaha seorang laki-laki yang ingin membersihkan hatinya dari seseorang.
Sayangnya, usaha itu selalu gagal. Karena setiap kali cahaya datang–yang terlihat justru wajah Amanda.
–Ruang Perkenalan–
“Mati suri di taman,” -Sore.
Aku pertama kali mengenal Amanda Syakiyah pada sebuah sore yang terlalu biasa untuk menjadi awal sebuah cerita.
Tidak ada hujan. Tidak ada senja yang ditemani lembayung. Tidak ada bunga yang tiba-tiba jatuh dari langit seperti adegan film.
Ia datang dari sebuah ruangan yang melintang luas–terbagi pada beberapa blok. Ya, di salah satu tempat pameran yang berlokasi di Timur Jawa Dwipa.
Amanda datang, duduk, kemudian tertawa. ku bahkan tidak ingat apa yang amembuatnya tertawa. Tetapi aku ingat tawanya.
Barangkali memang begitu cara ingatan bekerja. Ia tidak menyimpan seluruh kejadian. Ia hanya memilih serpihan-serpihan kecil yang menurutnya layak diselamatkan.
Amanda adalah salah satu dari serpihan itu!
Ia punya kebiasaan menundukkan kepala ketika tertawa. Kemudian mengangkat wajahnya lagi seperti baru sadar bahwa ada orang lain yang sedang memperhatikannya.
“Kenapa lihat-lihat?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Enggak apa-apa.”
“Boong.”
Aku tertawa. Ia ikut tertawa. Sesederhana itu.
Dari percakapan-percakapan yang tidak penting, kami kemudian mulai berbicara tentang hal-hal yang lebih penting.
Dari sekadar saling bertanya sudah makan atau belum, menjadi saling bertanya bagaimana hari masing-masing berjalan.
Aku mulai tahu makanan yang tidak disukainya. Ia mulai tahu kebiasaanku ketika sedang banyak pikiran. Aku tahu kapan ia sedang sedih meski ia mengatakan baik-baik saja.
Ia tahu kapan aku sedang berusaha terlihat baik-baik saja meski sebenarnya tidak. Kami tumbuh di antara percakapan-percakapan kecil.
Tidak pernah ada pengumuman bahwa kami sedang menuju sesuatu. Tetapi kami sama-sama tahu. Setidaknya aku tahu.
Aku mengira Amanda juga begitu.
Sampai suatu hari aku bertemu ibunya.
–Senyum Membawa Pesan–
“Tersenyumlah manisku, sampaikan salam pada orang tua mu. Tersenyumlah manisku, ku siap menyambut sapa,” -Soenji.
Rumah Amanda sore itu tidak banyak berubah dari mahligai lain.
Ada sandal di depan pintu. Ada suara televisi dari ruang tengah. Ada aroma masakan dari dapur.
Ibunya menyambutku dengan senyum yang menurutku terlalu hangat untuk seseorang yang kelak akan menjadi alasan mengapa aku dan anaknya tidak pernah benar-benar menjadi apa-apa.
Aku duduk.
Kami tidak terlalu banyak membicarakan hal. Paling tidak, hanya 3 pertanyaan yang dilontarkan Ibu Amanda kepadaku. Selebihnya? Hanya saling tatap dan mesam-mesem selama 1 jam lebih.
Isinya tentang: Pekerjaan. Keluarga. Amanda. Sesekali ibunya tertawa. Aku pun tertawa. Tidak ada yang aneh.
Sampai pembicaraan itu berhenti pada sebuah titik yang tidak pernah bisa kulupakan.
Ibunya memandangku cukup lama. Kemudian berkata pelan.
“Kalau boleh jujur, Ibu tidak bisa merestui hubungan kalian.”
Hanya itu. Tidak ada meja yang dibanting.
Tidak ada suara meninggi. Tidak ada aku yang berdiri lalu pergi. Aku bahkan masih duduk di tempat yang sama.
Di depanku ada gelas teh yang belum habis. Aku melihat permukaan tehnya bergetar sedikit karena tanganku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Mungkin karena ada kalimat yang, seberapa pun keras kita berusaha membalasnya–tidak akan pernah menjadi lebih ringan.
Aku akhirnya hanya mengangguk.
“Baik, Bu.”
Dua kata. “Baik, Bu”. Aku membawa dua kata itu pulang. Aku kira malam akan membuatnya hilang. Ternyata tidak.
IA MALAH TUMBUH MEKAR DAN MEWANGI
“Bila kau kembali menginjak syaraf khayalku, janji hati’tuk tetap harum kembali,” -Soenji.
–Dialektika–
Setelah hari itu, Amanda berubah. Atau mungkin aku yang berubah. Kami masih berbicara. Masih saling bertanya kabar. Masih sesekali tertawa.
Tetapi ada sesuatu yang tidak lagi sama.
Sebuah jarak tiba-tiba tumbuh di antara kami. Jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa setiap kali kami mencoba mendekat.
Aku pernah bertanya kepada Amanda.
“Kalau menurut kamu gimana?”
Ia diam.
Lama.
Kemudian menjawab: “Maaf.”
Hanya itu. Pahadal, aku ingin bertanya lebih banyak. Tentang ibunya. Tentang kami. Tentang apakah ia benar-benar ingin berhenti. Tentang apakah ia akan memperjuangkanku.
Tetapi aku tidak jadi. Sebab terkadang kita tidak takut mendengar jawaban. Kita takut mendengar jawaban dari orang yang kita harapkan akan memilih kita.
Maka aku diam. Amanda juga diam. Dan hubungan kami selesai tanpa pernah benar-benar memiliki hari terakhir.
Tidak ada tanggal putus. Tidak ada pertengkaran terakhir. Tidak ada pintu yang dibanting. Kami hanya perlahan-lahan berhenti menjadi sesuatu.
–Metafora Waktu–
Bertahun-tahun kemudian, aku masih mengingat ibunya. Aneh, memang. Seharusnya yang paling sulit kulupakan adalah Amanda.
Tetapi ternyata tidak. Yang paling sulit kulupakan justru suara ibunya.
Kalimat itu.
“Ibu tidak bisa merestui hubungan kalian.”
Aku pernah mencoba mengganti kalimat itu dengan banyak kemungkinan. Mungkin waktu itu ibunya sedang khawatir. Mungkin ia punya alasan yang tidak kuketahui.
Mungkin aku memang bukan lelaki yang diinginkannya untuk Amanda. Mungkin Amanda tidak cukup berani melawan.
Mungkin aku yang terlalu cepat menyerah.
Mungkin kami memang tidak ditakdirkan.
Mungkin. Mungkin. Mungkin.
Manusia ternyata bisa menghabiskan bertahun-tahun hanya untuk mencari penjelasan atas sesuatu yang sebenarnya sederhana: Seseorang tidak memilih kita.
Tetapi masalahku adalah Amanda tidak pernah benar-benar mengatakan itu. Yang mengatakannya adalah ibunya.
Karena itu aku tidak pernah tahu kepada siapa aku harus marah. Kepada Amanda?
Kepada ibunya? Kepada diriku sendiri Atau kepada Tuhan?
Aku menyebut Amanda dan ibunya dengan satu nama. Asanada. Bukan nama sebenarnya. Bukan pula nama yang pernah mereka dengar.
Asanada adalah nama yang kubuat sendiri untuk dua perempuan yang, dengan cara berbeda, pernah tinggal di kepalaku.
“Di bawah langit jelita, tersenyum rekah bagai juar bunga. Ku rapalkan pujian Oh Asanada,” Antakara Wening.
Amanda adalah bagian yang ingin kutinggali. Ibunya adalah pintu yang membuatku harus pergi. Asanada adalah keduanya. Satu nama untuk dua perempuan.
Satu kenangan untuk dua suara. Aku pernah membayangkan, seandainya aku bertemu mereka lagi, aku akan mengatakan: “Bu, saya tidak pernah membenci Ibu.”
Lalu kepada Amanda: “Aku juga tidak pernah benar-benar berhenti menunggumu.”
Tetapi hidup tidak pernah memberi kita kesempatan untuk mengatakan semua yang kita simpan.
Barangkali karena sebagian perasaan memang diciptakan untuk tinggal sebagai kalimat yang tidak pernah selesai.
–Membilas Saujana–
“Kenangan menjelma dupa, harummya merasuk ke mana-mana. Membelai, helai rindu yang selalu muda,” -Payung Teduh.
Suatu malam aku pergi ke tempat yang menghadap laut. Aku duduk sendirian. Langit sangat bersih.
Bulan menggantung seperti lampu yang sengaja dinyalakan Tuhan agar manusia tidak sepenuhnya takut kepada gelap.
Aku teringat Amanda.
Tentu saja. Aku selalu teringat Amanda ketika melihat bulan. Padahal Amanda mungkin tidak pernah tahu bahwa selama bertahun-tahun aku selalu menghubungkan wajahnya dengan cahaya.
Aku menutup mata.
Jamas Lima Cahaya.
Aku mulai menghitung. Cahaya pertama adalah wajahnya. Aku biarkan wajah itu muncul. Cahaya kedua adalah suaranya. Aku biarkan suaranya terdengar.
Cahaya ketiga adalah rumahnya. Aku biarkan ruang tamu itu kembali. Cahaya keempat adalah ibunya. Aku biarkan kalimat itu datang lagi.
“Ibu tidak bisa merestui hubungan kalian.”
Dan cahaya kelima adalah diriku sendiri.
Seorang lelaki yang bertahun-tahun mengira bahwa melupakan seseorang berarti menghapusnya dari ingatan. Padahal tidak.
Mungkin manusia tidak pernah benar-benar lupa. Kita hanya belajar mengingat dengan cara yang berbeda.
Aku membuka mata: Laut masih di sana.
Bulan masih di sana. Dan Amanda tetap tidak ada. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kehilangan.
Aku hanya merasa selesai. Bukan selesai karena Amanda kembali. Bukan pula karena aku akhirnya menemukan seseorang yang baru.
Tetapi karena aku sadar, ada beberapa orang yang memang datang ke hidup kita bukan untuk menetap.
Mereka datang untuk meninggalkan cahaya. Lalu pergi.
Kita yang kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba memahami mengapa cahaya itu begitu indah, padahal sejak awal ia memang tidak pernah bisa kita genggam.
Aku tersenyum.
“Sudah, Mand.”
Tidak ada siapa-siapa. Hanya laut.
“Sudah.”
Aku mengatakannya sekali lagi. Bukan kepada ibunya. Kali ini kepada diriku sendiri.
–Larung–
Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi melakukan Jamas Lima Cahaya untuk melupakan Amanda.
Aku melakukannya untuk mengingat tanpa ingin memiliki. Aku mulai memahami bahwa membersihkan hati bukan berarti membuatnya kosong.
Barangkali membersihkan hati berarti membuang dendam dari dalamnya. Menyisakan kenangan tanpa luka. Menyisakan nama tanpa keinginan untuk kembali.
Menyisakan seseorang sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tujuan.
Amanda tetap Amanda. Ibunya tetap ibunya. Dan Asanada tetap menjadi nama yang hanya kukenal sendiri.
Dua perempuan yang pernah membuatku bahagia. Dua perempuan yang pernah membuatku patah.
Dua perempuan yang sampai sekarang tidak pernah benar-benar bisa kulupakan.
Tetapi aku tidak lagi ingin melupakan mereka.
Sebab kalau suatu hari nanti Tuhan bertanya kepadaku tentang apa yang pernah membuatku belajar kehilangan, aku ingin menjawab dengan jujur: Amanda.
Dan kalau Tuhan bertanya apa yang membuatku akhirnya belajar mengikhlaskan, aku mungkin akan menjawab: Ibunya.
Lalu jika Tuhan bertanya apa yang tersisa setelah semuanya selesai, aku akan menatap cahaya yang turun dari langit dan berkata: Aku.
Aku yang akhirnya pulang kepada diriku sendiri.
Malam semakin tua. Cahaya bulan jatuh di permukaan laut. Aku berdiri. Sebelum pulang, aku menengadah sekali lagi ke langit yang pemurah.
Dulu, setiap kali melihat cahaya, aku selalu meminta satu hal: Tuhan, hilangkan Amanda dari kepalaku.
Malam itu kidungku berubah.
Tuhan, kalau memang dia bukan jalan pulangku, jangan hapuskan kenangan tentangnya. Cukup hilangkan keinginanku untuk kembali.
Aku tersenyum. Barangkali begitulah Jamas Lima Cahaya bekerja. Ia tidak membuat kita lupa. Ia hanya mengajarkan bagaimana caranya mengingat seseorang tanpa lagi meminta ia kembali.
Dan sejak malam itu, aku tahu satu hal: Asanada tak bisa lupa. Tetapi aku akhirnya bisa pulang.
Tidak ada lagi Surabaya Pasar Turi dari Bilal Indrajaya atau pun ‘Good Morning Everyone – Tunggu Aku’. Aku benar-benar pulang bersama Float dan Fstvlst!
“Dan lalu, rasa itu tak mungkin lagi kini tersimpan di hati. Bawa aku pulang, rindu segera,” -Float.
“Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah. Segera mulailah syukurmu yang past indah, berbahagialah,” -Fstvlst.







