“Tapi rasanya, sundel bolong itu tak seseram istriku yang sedang menunggu uang belanja di rumah.”
AKU sudah jengah mendengar keluhan istriku. Setiap hari aku dikeramasi.
Uang belanja kurang lah.
Harga-harga pada naik lah.
Lama-lama harga diriku turun.
Aku hanya seorang tukang ojek pangkalan yang tak tentu penghasilannya. Kadang pulang bawa uang cukup. Sering pulang cuma bawa harapan.
Hari ini aku pergi ngojek agak sorean. Istirahat sejenak, setelah kemarin pulang sampai larut malam.
Uang belanja hari ini terpenuhi dari hasil ngojek semalam. Istriku agak jinak hari ini. Aku tidur hingga siang bolong pun tak ada sepatah kata omelan pun yang terdengar. Cuma tadi jam sebelas siang dia membangunkanku untuk makan.
Setelah makan aku tidur lagi.
Suara azan ashar terdengar begitu keras. Maklum toa masjid di gang sebelah tepat mengarah ke rumahku.
Aku bergegas bangun untuk mandi dan lanjut makan sore. Pukul empat lewat sepuluh menit aku pergi mengendarai motor tuaku ke pangkalan ojek dekat pasar untuk mencari uang buat makan besok.
Hingga maghrib aku belum mendapat penumpang. Sabar saja, rezeki nggak lari kemana.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Aku masih saja cekikan bersama teman seprofesiku di pangkalan ojek.
Sial! Belum ada satupun penumpang hari ini.
Bisa-bisa tidur di luar kalau pulang nggak bawa uang.
Teman-temanku satu persatu pamit pulang. Hanya tersisa aku dan satu temanku. Kami berdua main catur sambil menunggu penumpang.
Mungkin menjelang larut malam, ada rezeki datang.
Benar saja, lewat jam sepuluh penumpang datang. Seorang karyawan yang habis kerja lembur minta diantarkan ke rumahnya di kampung sebelah.
“Bang anter ke Lembur Sumur ya. Berapa ongkosnya?”
“Udah lima puluh aja.”
Pria itu tak menawar tarif yang aku berikan. Mungkin karena sudah terlalu malam, tidak ada angkutan lagi.
Perjalanan cukup lumayan, jaraknya lebih dari dua puluh kilometer, melewati persawahan, lahan kosong, hingga kuburan. Jalur yang minim penerangan menambah berat perjalanan.
Di beberapa bagian jalan, hanya sorot lampu motorku yang menjadi satu-satunya penerang. Angin malam berembus dingin, membawa suara dedaunan yang bergesekan. Sesekali terdengar suara burung malam dari kejauhan, lalu kembali sunyi.
Semakin jauh dari permukiman, suara mesin motor terdengar semakin jelas di tengah kesunyian. Sesekali ban melewati kerikil dan membuat setang bergetar, sementara dari arah persawahan tercium bau lumpur yang basah dan dingin.
“Tiap hari pulang malam, Bang?” tanyaku.
“Enggak juga Bang, biasanya sore. Ini lagi lembur buat laporan keuangan.”
“Oh…”
Sekitar tiga puluh menit perjalanan kami sampai tujuan. Suasana desanya sudah sepi. Maklum sudah pukul sebelas malam.
Rumah-rumah penduduk sudah tertutup rapat. Hanya beberapa lampu teras yang masih menyala. Di antara rumah-rumah itu, bayangan pepohonan tampak memanjang diterpa cahaya lampu, seperti sosok-sosok yang berdiri diam mengawasi dari kejauhan.
Ketika motor berhenti, suara mesin yang mati terasa seperti membuka pintu menuju kesunyian yang lebih dalam. Dari kejauhan terdengar suara anjing menggonggong sekali, lalu mendadak berhenti.
Setelah diberi ongkos, akupun bergegas pulang. Lumayan dapat lima puluh ribu, cukup lah buat beli beras, tempe, dan sayuran buat makan esok hari.
Aku melewati jalur pulang yang sama saat mengantar penumpang. Perjalanan terasa sangat panjang. Jalan gelap, berkerikil, melewati pesawahan, kuburan, hingga lahan kosong yang rimbun pohon bambu dan pisang.
Lampu motorku beberapa kali meredup ketika melewati jalan berlubang. Setiap kali cahaya itu melemah, pepohonan di kiri kanan jalan tampak seperti bergerak mendekat, lalu kembali menjauh saat lampu terang lagi.
Angin yang semula biasa saja tiba-tiba terasa semakin dingin.
Dingin itu merayap dari tengkuk hingga ke punggung, meski jaketku sudah tertutup rapat. Bau tanah basah mulai tercium, padahal jalan yang kulewati kering.
Bambu-bambu di pinggir jalan bergoyang pelan meski aku tak merasakan hembusan angin. Suara gemerisiknya terdengar panjang, seperti bisikan yang saling bersahutan.
Aku berusaha tak memedulikannya.
Namun setiap kali suara gemerisik itu berhenti, terdengar bunyi lain dari arah lahan kosong, seperti ranting patah atau langkah kaki yang mengikuti dari balik semak.
Dari jarak sekitar lima belas meter, lampu motorku menyorot sosok perempuan muda di pinggir jalan tepat sebelah lahan kosong. Rambutnya terurai sepinggang, dan mengenakan pakaian gaun malam, seperti daster berwarna putih agak kusam.
Ia berdiri membelakangiku.
Kain putihnya tampak kusam dan sedikit basah di bagian bawah, seolah baru saja menyentuh tanah berlumpur. Rambutnya tidak bergerak, meski daun bambu di belakangnya terus bergoyang.
Sesaat aku mengira dia hanya warga yang sedang menunggu kendaraan. Namun ketika cahaya lampu motorku menyinari tubuhnya, perempuan itu perlahan menoleh.
Gerakannya lambat dan kaku, seperti lehernya baru saja dipaksa berputar setelah lama membeku.
Wajahnya pucat.
Terlalu pucat untuk seseorang yang berdiri sendirian di tengah malam.
Bibirnya tampak kebiruan, sementara matanya memantulkan cahaya lampu motor tanpa berkedip.
Ia melambaikan tangan memberhentikan motorku. Dia meminta diantarkan ke rumahnya yang jaraknya tak begitu jauh.
“Bang numpang ke depan boleh?”
“Boleh, kebetulan searah.”
Ia segera membonceng ke motorku. Kedua tangannya diletakan ke atas pundaku. Wangi melati tercium jelas kehidungku.
Wangi itu begitu kuat hingga membuat bulu kudukku berdiri.
Aroma melati itu terasa terlalu pekat, seperti berasal dari bunga yang baru ditaburkan di atas tanah basah. Di baliknya ada bau lain yang samar amis, lembap, dan dingin seperti air yang lama tergenang.
Motor kulaju perlahan.
Anehnya, aku tak mendengar suara langkah kakinya ketika tadi naik ke motor. Bahkan jok belakang terasa begitu dingin, seperti baru saja disiram air dari sumur.
Kedua tangannya di pundakku juga terasa ringan, hampir tanpa berat. Namun tekanan jarinya terasa jelas, dingin dan kaku, seperti jari yang lama terendam air.
Aku mencoba mengusir pikiran aneh itu.
“Malam-malam habis ngapain neng, sendirian aja?”
“Tadi habis main ke rumah sodara. Tungguin jemputan tapi nggak datang-datang. Yaudah aku cari tumpangan.”
Suaranya terdengar datar. Pelan sekali.
Suaranya seperti datang dari dekat telingaku, tetapi setiap kata terdengar menggema jauh di belakang kepala. Aku menoleh sedikit, namun wajahnya kembali menghadap lurus ke depan.
Tak lama kami sampai ke tujuan. Perempuan misterius itu memberikan uang sepuluh ribu buat ongkos.
Uang itu terasa lembap ketika menyentuh telapak tanganku, dan berbau tanah basah. Aku segera mengembalikannya tanpa memeriksa lebih lama.
Aku menolaknya.
“Bang mampir nggak? Makan atau ngopi sebentar. Aku di rumah sendirian juga.”
Aku menatap rumahnya yang terlihat sangat sepi. Pencahayaan remang terlihat dari jendela kaca depan. Rumah bergaya joglo klasik itu hanya berdiri sendiri tanpa ada tetangga.
Di halaman depannya tumbuh pohon melati yang terlalu rimbun, menjalar sampai ke tiang teras. Bunganya putih, tetapi beberapa tampak menghitam seperti membusuk. Tak ada suara serangga di sekitarnya.
Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Rumah itu seperti bukan bagian dari desa. Tua, sunyi, dan dikelilingi halaman yang dipenuhi rerumputan liar. Tak ada suara televisi, tak ada suara orang berbicara, bahkan tak ada suara binatang peliharaan.
Di belakang rumah, samar-samar terlihat lingkaran gelap di antara rumpun bambu, seperti bibir sumur tua yang tertutup bayangan. Dari arah sana, udara terasa lebih dingin dan aroma melati kembali menusuk hidungku.
Namun entah mengapa, pintu rumah itu terbuka seperti sudah menungguku sejak tadi.
Akupun menuruti ajakannya. Lumayan bisa ngopi dan mungkin ada cemilan buat ganjel perut.
Pikirku nakal jika perempuan itu seorang janda yang sedang membutuhkan teman. Rezeki nomplok memang nggak pernah ketukar.
Aku memarkirkan motorku di depan rumahnya. Aku berjalan di belakangnya ketika masuk ke dalam rumah. Bau apek tercium, seperti rumah yang sudah ditinggal lama oleh penghuninya.
Lantai kayunya berderit setiap kali diinjak, meski langkah perempuan itu nyaris tak menimbulkan suara. Dari bagian dalam rumah terdengar tetesan air yang teratur, jatuh satu per satu ke tempat yang tak terlihat.
Namun di balik bau apek itu, aroma melati justru semakin kuat.
Aku duduk di kursi tamu ruang depan. Di atas mejanya ada lampu ceplik minyak tanah.
Nyala apinya kecil dan bergoyang-goyang, meski jendela tertutup rapat.
“Apa PLN belum masuk kampung ini ya?” pikirku.
Bayangan perempuan itu memanjang di dinding, tetapi bentuknya tampak tidak sesuai dengan tubuhnya. Rambut dalam bayangan itu menjuntai jauh lebih panjang, hampir menyentuh lantai.
“Aku bikin kopi dulu ya, Bang.”
“Nggak usah repot-repot, Neng.”
“Nggak kok.”
Tak lama dia keluar dari dapur dengan membawa segelas kopi hitam, dan singkong goreng.
Aku menatap gelas itu.
Permukaan kopi bergetar pelan, padahal meja tidak bergerak. Uapnya naik lurus, lalu berbelok ke arahku seperti ditarik oleh sesuatu.
Kopi hitamnya pekat seperti malam di luar sana. Uapnya mengepul tipis, membawa aroma yang aneh, bukan sekadar kopi, tetapi bercampur dengan wangi melati yang sejak tadi memenuhi ruangan.
“Nikmatnya,” kataku dalam hati.
“Diminum kopinya Bang, nanti keburu dingin,” kata prempuan itu sambil menyeringai.
Entah kenapa, senyumnya kali ini terasa berbeda.
Terlalu lebar.
Giginya tampak putih dalam cahaya lampu yang redup, sementara matanya tetap menatapku tanpa berkedip. Dari arah dapur, terdengar suara tetesan air lagi, lebih dekat dan lebih jelas.
Aku menyeruput kopi hitam pekat yang ia sajikan du gelas seng dengan motif lurik hijau.
Slurrrppp… ah…
Rasa pahit kopi itu langsung memenuhi mulutku.
Sesaat setelah kutelan, tenggorokanku terasa dingin seperti dialiri air sumur. Rasa pahitnya menetap di lidah, disusul aroma tanah basah yang semakin kuat.
Kemudian perempuan yang bahkan belum aku kenal namanya duduk di sampingku. Sepertinya dia mulai menggodaku.
Tangannya meraba pahaku, dan kepalanya menyender di pundakku. Wangi melati terasa menusuk hidung.
Kulit tangannya dingin dan basah. Dari ujung rambutnya, setetes air jatuh ke lenganku, meski aku tidak melihat rambutnya basah ketika kami masih di luar.
Namun di sela-sela aroma melati itu, aku seperti mencium bau tanah basah.
Bau tanah kuburan.
Bau itu semakin pekat, seolah datang dari bawah lantai rumah. Kursi yang kududuki bergetar halus, dan dari kejauhan terdengar suara air beriak di tempat yang tidak mungkin terlihat dari ruang tamu.
Belum juga mengeluarkan jurus buaya daratku, mataku terasa berat. Mulutku menguap karena ngantuk.
Suara perempuan itu terdengar semakin jauh, meski kepalanya masih bersandar di pundakku. Sebelum kesadaranku hilang, aku sempat mendengar bunyi ember diseret dari arah belakang rumah.
Aku terlelap di atas kursi panjang.
Tiba-tiba ada ember jatuh tepat di kepalaku.
Brukk…!!!
Aku tersentak dari tidurku. Setengah sadar aku merasa badanku basah kuyup. Aku seperti berada di kubangan air. Sekitarku gelap sekali.
Dingin.
Gelap.
Dan sunyi.
Kesunyian itu begitu pekat sampai suara napasku sendiri terdengar seperti milik orang lain. Air menetes dari atas secara teratur, jatuh ke permukaan genangan dan menimbulkan riak kecil di sekeliling kakiku.
Aku bahkan tak bisa melihat ujung tanganku sendiri.
Air dingin menggenang sampai sebatas betis. Dinding di sekelilingku terasa kasar dan lembap. Ketika tanganku meraba permukaannya, jari-jariku menyentuh lumut yang licin.
Di sela lumut itu, ada sesuatu yang terasa seperti helaian rambut panjang. Aku segera menarik tanganku dan menahan napas.
Aku berteriak, “Ada orang?”
Suara teriakanku menggema.
“Ada orang… rang… rang… rang.”
Gema itu berputar-putar di dalam kegelapan sebelum akhirnya menghilang.
Namun setelah gema terakhir lenyap, terdengar suara lain dari bawah air seperti bisikan yang menjawab dari dekat kakiku.
Aku mendengar suara jawaban dari atas sekitar sepuluh meter di atasku.
“Siapa di dalam sumur?”
Loh! Di dalam sumur?
Jantungku berdegup kencang.
Aku mendongak.
Di atas sana hanya terlihat lingkaran kecil cahaya bulan. Jauh sekali.
Di sekeliling lingkaran itu, bibir sumur tampak dipenuhi rumput liar dan akar-akar yang menjuntai. Sesuatu yang putih bergerak sebentar di tepi atas, lalu menghilang dari pandangan.
Pria di atas ku langsung berteriak meminta pertolongan.
“Tolong Pak, ada orang kejebur sumur!”
Aku masih bingung. Aku hanya merasakan aku saat ini sedang berada di kubangan air yang tidak terlalu dalam.
Namun semakin lama aku berdiri di sana, semakin jelas aku mencium sesuatu.
Wangi melati.
Wangi yang sama seperti yang tercium dari perempuan tadi.
Aroma itu kini bercampur dengan bau tanah basah dan air tua. Setiap kali aku menarik napas, rasanya seperti ada sesuatu yang ikut masuk ke dalam dada.
Aku menahan napas.
Jangan-jangan…
Dari permukaan air di dekat kakiku terdengar suara cipratan kecil. Aku menunduk, tetapi kegelapan menelan semuanya. Ketika air kembali tenang, ada sesuatu yang menyentuh betisku dari bawah.
Tak lama senter menyorot ke arahku. Suara azan subuh pun terdengar sayup.
Cahaya senter menyapu dinding sumur, memperlihatkan lumut, akar, dan bekas goresan panjang di antara batu bata tua. Sesaat, di belakang bahuku, tampak bayangan rambut menjuntai di permukaan air.
Aneh.
Aku tak tahu sudah berapa lama berada di sana.
“Siapa di dalam sumur?”
“Saya, Pak. Ramlan.”
Kemudian orang di atasku mengulurkan tali tambang ke arahku. Aku meraih tali itu, dan naik perlahan ke permukaan.
Tali itu kasar dan basah, membuat telapak tanganku perih. Setiap kali aku menarik tubuh, air di bawah kembali beriak, seolah ada sesuatu yang bergerak mengikuti dari dasar sumur.
Tanganku gemetar. Kakiku terasa lemas.
Ketika hampir mencapai bibir sumur, aku sempat menoleh ke bawah.
Dalam gelap, permukaan air di dasar sumur tampak beriak sendiri.
Padahal aku sudah diam.
Di tengah riak itu, samar-samar terlihat pantulan wajah pucat dengan rambut panjang menutupi sebagian mukanya. Pantulan itu tersenyum, lalu pecah ketika tetesan air jatuh dari atas.
Aku mempercepat gerakanku.
Setelah hampir sampai, pria itu mengulurkan tangannya dan menarikku.
Begitu tubuhku melewati bibir sumur, hawa dingin yang menempel di kulitku perlahan menghilang. Namun aroma melati masih melekat di bajuku, bahkan lebih kuat daripada sebelumnya.
Aku masih bingung. Setahuku aku tidur di rumah perempuan cantik nan demplon tadi malam.
Mengapa aku terbangun di dasar perigi?
Apa perempuan itu membuangku ke sumur saat aku tertidur?
Entahlah!
Aku bergegas mencari motorku. Dibantu senter pria yang menolongku akhirnya aku menemukan motorku berada di selah-selah pohon bambu.
Motor itu terparkir agak jauh dari rumah joglo tadi, di dekat bibir sumur tua yang tertutup semak. Joknya dibasahi embun pagi.
Aku masih syok.
Apa yang terjadi semalam?
Setelah aku tenang, aku menjawab pertanyaan dari pria yang menolongku. Aku ceritakan semuanya.
Pria itu hanya diam ketika mendengar ceritaku. Wajahnya berubah pucat saat kusebut rumah joglo dan perempuan bergaun putih. Ia kemudian menunjuk ke arah sumur tua itu, tanpa berani mendekat.
Dari kesimpulan yang aku dapat, aku diganggu oleh sundel bolong penghuni sumur tua itu.
Sungguh sial malam ini.
Penumpang seret, dijailin sundel bolong pula.
Tapi rasanya, sundel bolong itu tak seseram istriku yang sedang menunggu uang belanja di rumah.
BACA JUGA: Diculik Wewe Gombel







