Tak ada yang menyangka musik bisa mempertemukan dua hati. Sang drummer dan aku, saat ini, di depan 2 mangkuk laksa Bogor.

And if you only die once, I wanna die with
You got something I need
In this world full of people, there’s one killing me
And if we only die once (hey), I wanna die with you

“Enak nih lagunya,” ujarku sambil mengangguk kecil di dalam Brio Putih berstiker Real Madrid itu.

Di sampingku, pria manis yang jago menabuh drum dan kini tengah menabuh hatiku. Takut, takut getaran di dalam diri malah terdengar sampai telinganya.

“Iya, One Republic,” katanya sambil menyetir sesekali menoleh ke arahku dengan senyum ramah.

“Ah iya ya, jujur aku sering dengar tapi gak tahu judulnya apa. Ini Mustang ya?” ungkapku seraya melihat gelombang radionya.

“Iyaa. Eh kamu harus sampai Zoologi jam berapa?” kata dia lagi.

“Ini jam 9 harus sampai sih,” jawabku melihat jam.

“Setelah itu mau ke mana?” tanya dia tiba-tiba.

“Hemm, gak ke mana-mana sih, paling pulang,” jawabku tersenyum tipis.

“Gak ke sekolah lagi?” tanya dia.

“Gak deh, paling anak-anak udah diantar sama mobil jemputan sekolah. Aku ya pulang naik kereta. Kenapa mas?” ucapku.

“Jangan panggil Mas dong, Sunda nih. Hehehe,” ungkapnya tersenyum.

“Ahhh … apa ya. Kang aja? Kang Waway,” ujarku dengan nada sedikit genit.

“Ah boleh lah. Hahahaha! Ya udah aku tungguin,” kata dia tersenyum.

“Tungguin?” sahutku heran.

“Iya, aku tungguin di Zoologi sampai kamu selesai. Nanti aku bisa cari coffeeshop atau warung kopi dekat situ. Nanti aku antar sampai Depok,” kata dia lagi.

DEG!

Tawaran macam apa ini? Sebuah perjalanan yang tak direncanakan, malah jadi kencan dadakan pertama dengan sang drummer.

“Kok diem, gak boleh ya,” katanya menggoda.

“Ohh … boleh boleh. Tapi aku takutnya, kamu kelamaan nunggu,” ungkapku lagi.

“Ahhh seberapa lama sih paling. Anak-anak juga pasti kan gak mungkin betah kelamaan,” ungkapnya santai.

“Tapi emangnya kamu santai? Maksudnya, gak ada agenda lagi? Katanya mau pulang,” ungkapku mencoba memastikan.

“Udah, santai aja. Aku free hari ini,” katanya.

Senyumanku langsung melebar, kubuang ke arah jendela agar tak nampak bahwa hati ini tengah melompat kegirangan. Mungkin begini rasanya jalan dengan seniman, begitu bisa memacu adrenalin di hati.

Sesampainya di Zoologi, aku langsung berbaur dengan para siswa dan guru lainnya. Melambaikan tangan kepada Waway yang tengah menunggu di parkiran, aku merasakan perasaan yang justru tak sabar kunjungan studi ini segera selesai, agar aku bisa pulang bersamanya.

Tentu, sudah tak fokus sambil melihat anatomi hewan. Sesekali aku mengecek jam, ingin melihat berapa lama lagi kunjungan ini selesai.

“Oke anak-anak, setelah mencatat, ambil makan siangnya, lalu kita bisa makan di mobil jemputan ya,” ungkap wakil kepala sekolah yang juga ikut dalam rombongan.

Para guru berkumpul untuk diberikan arahan.

Drrrt! Drrrt!

“Ini nomorku ya. Kalau kamu cari aku, aku tetap parkir di tempat tadi. Tapi lagi minum jus dulu gak jauh dari situ,” kata Waway mengirim chat tiba-tiba.

Nomor 0878XXXXXXX itu langsung aku simpan sambil senyum senyum simpul. Akhirnya setelah 2 minggu pertemuan itu, dia menghubungiku di hari kami pertama bertemu secara tak sengaja ini.

“BUNCISSS!”

Foto bareng dengan para siswa di depan Zoology menjadi rundown terakhir. Menoleh ke arah parkiran, aku justru melihat Waway sedang melambaikan tangan. Semilir angin seolah mendukung perasaanku yang begitu semangat melangkah ke arahnya.

“Maaf ya nunggu lama,” tuturku lembut.

“Ah santai. Seru kok malah tadi sambil gmeet dulu sama teman-teman guru musik, sambil minum jus di belakang, ada warung,” kata dia seraya membuka pintu mobilnya.

Berusaha untuk menyembunyikan senyum dan bersikap biasa, tapi susah juga. Karena tak hanya aku, tapi Waway juga tersenyum terus sejak tadi.

“Laper nih,” katanya sambil menyetir.

“Oh … aduh tahu gitu tadi aku ambil ya nasi kotak buat kamu. Gak kepikiran lagi,” ucapku merasa bersalah.

“Hahaha! Gak usah. Itu kode biar kita mampir dulu buat lunch. Kamu gak buru-buru kan? Atau kamu udah makan?” tanya dia sambil menyusuri Jalan Padjajaran.

“Ahhh belum … tadi gak sempat makan sih. Aku takut kamu nunggu lama, jadi langsung pamit. Niatnya mau makan di rumah aja,” sahutku agak terkejut mendengar tawarannya.

“Nah, sama-sama belum makan berarti. Hehehe. Mampir dulu ya, aku laper,” kata dia membelokkan mobilnya ke arah Taman Kencana.

Aku hanya mengangguk kecil dan tersenyum, menutupi rasa bahagia di hati. Semakin lama pergi bersamanya, tentu semakin happy dalam hatiku.

Aduh, perasaan macam apa ini.

Apple Pie, Kedai Kita, menjadi pilihan untuk kami berdua.

“Yang ini bungkus aja, buat keluarga di rumah. Atau kamu mau cemil sendiri,” kata Waway setelah membayar seloyang apple pie.

“Tuh kan, aku ngerepotin lagi,” ungkapku semringah.

“Ah enggak dong. Yuk nyebrang, makan di situ aja,” kata dia seraya menunjuk Kedai Kita.

Kami berdua kompak memesan laksa Bogor. Dengan posisi duduk berhadapan, Waway dan aku sesekali melempar obrolan soal musik dan saling bertatapan.

“Jadi … bu guru bisa nyanyi juga gak? Soalnya, biasanya kalau wali kelas, ada pelajaran seni musik, bisa nyanyi biasanya,” katanya bercanda.

Tak lama dua mangkuk laksa Bogor akhirnya datang ke meja kami.

Aku dan Waway menuangkan sambal dan juga lada.

“Yaa, sedikit-sedikit bisa nyanyi sih. Hehehe. Lumayan, kadang memang suka ada materi seni musik di kelas. Tapi malu ah, soalnya sama musisi nih ngomongnya,” ungkapku tersenyum seraya menyeruput kuah laksa.

“Hahaha! Gak lah. Kalau perempuan cantik dan manis sih, nyanyi apa juga suaranya merdu merdu aja. Enak didengar,” kata dia memandangku sambil tersenyum.

“Duhhh apa cobaaa,” jawabku malu-malu tersenyum seraya menggigit ketupat laksa.

Rasa laksa ini menjadi semakin legit dan gurih mendengar rayuan maut ini.

Tak hanya sekadar rayuan, kata-kata, bahkan dia menunjukan lewat sikap yang begitu manis hari ini, spontan tanpa direncanakan atau settingan.

“Hahaha! Beneran, serius! Kalau cewek cantik itu, mau nyanyi apa aja juga enak didengar,” katanya mengulangi rayuannya.

“Ihhh …. udah ah makan dulu,” tuturku malu-malu.

“Hahaha! Ya udah. Eh tapi enak ya laksanya. Biasanya kalau beli di resto, kurang enak. Lebih enak di abang-abang. Nanti deh kita makan di Laksa Gang Aut Suryakencana. Kamu kapan ada waktu? Liburnya cuma weekend ya,” tanya Waway lagi sambil menatapku.

Wow! Kencan pertama belum juga selesai, dia sudah melempar wacana kencan kedua. Ini namanya sikap! Ternyata, begini rasanya dijadikan ‘ratu’ oleh seniman, membuat hati terus melompat seiring ketukan drum yang ditabuhnya.

Godaan Drummer Penabuh Hati: BAB II – Brio Putih dan Cintamu Membawaku ke Kota Hujan – Cerpenkita.id

Godaan Drummer Penabuh Hati: BAB I – Lagi Cari Calon Istri – Cerpenkita.id

Miss Vee

Sosok penulis yang tertantang menuangkan ide dan pikiran lewat karya literasi. Cerita fiksi itu berujung novel adult romance sebagai andalannya

Bagikan:

Tags: