Ini hanya harapan, karena mungkin aku sudah terbawa perasaan alias baper di pertemuan pertama dengan sang drummer.

Lambaian tangan para siswa menjadi simbol perished dari pertemuan singkat antara aku dan para musisi Yesmaha. Tentu, sebagai wali kelas, aku mendorong para siswa untuk mendaftar jika memang mereka memiliki bakat.

“Sebentar Miss Ika,” kata Waway saat aku hendak kembali ke kelas.

Lorong kelas-kelas itu menjadi saksi di antara kami berdua.

Temannya, sudah lebih dulu pamit ke mobil.

Kulihat dari kejauhan, mobil Brio putih dengan stiker Real Madrid di belakang mobilnya parkir di lapangan sekolah. Brio dengan plat F Bogor itu menjadi kendaraan Waway dan Denny.

“Iya … kenapa Mas?” tanyaku ramah.

“Ah ini … hemm, boleh saya minta nomor kontak Miss Ika? Ahh … maksudnya …”

“Ohh iya …”

“Ah itu, ya maksudnya kalau memang nanti para siswa mau daftar tapi mungkin gak nyaman atau bingung ke mana, bisa langsung lewat saya. Jadi nanti Miss Ika bisa langsung kontak saya,” kata dia.

“Oh gitu … tapi mungkin bisa ke kepala sekolah ya kalau pendaftaran? Atau …”

“Oh ya sudah kalau Miss Ika keberatan,” kata dia garuk-garuk kepala.

“Oh bukan bukan. Maksud saya, ah kalau pendaftaran mungkin bisa langsung kepala sekolah, saya takut salah,” ucapku tersenyum.

“Oh begitu. Kalau pendaftaran ke kepala sekolah, kalau perkenalan? Boleh langsung chat?”

DEG!

Kaget dong!

Kenapa dia bicara seperti itu? Bikin hati ini makin berdebar.

“Ohh … ya … 08128XXXXXXXX” ucapku grogi seraya menatap ke arah ponsel.

“Ah noted,” katanya sambil menyimpan nomorku.

Aku mengangguk dengan pipi memerah. Lalu Waway meminta izin pamit dengan senyuman manisnya.

Dengan senyuman merekah, aku kembali ke kenyataan, mengajar di kelas di depan para siswa. Ini hanya perkenalan biasa.

Sehari, dua hari, tiga hari berselang, jujur sempat berharap dia mengirim chat. Ini hanya harapan, karena mungkin aku sudah terbawa perasaan alias baper di pertemuan pertama.

Hari-hari ini hanya berjalan seperti rutinitas biasa hingga lima hari berlalu pasca pertemuan itu.

Hingga akhirnya aku hadir di rapat mingguan para guru seperti biasa.

“Minggu depan, kita akan ada study tour kecil-kecilan. Kita akan pergi ke museum zoologi ya. Ini sifatnya tidak wajib, hanya sukarela saja. Masing-masing guru bisa memilih kalau memang mau ada siswa yang bisa dipilih. Jadi nanti bisa dibuat per kelompok. Kita dapat jadwal sekitar jam 09 pagi ya,” kata kepala sekolah.

“Oh begitu bu, nanti naik bus atau bagaimana ya,” tanyaku lagi.

“Karena kita ada jemputan sekolah, jadi nanti mobil jemputan sekolah langsung jemput siswa ke rumah kemudian langsung ke venue. Orang tua yang memang mau ikut, boleh ikut tapi pakai mobil pribadi, jadi bisa konvoi,” kata kepala sekolah.

“Lalu para guru bagaimana bu,” tanya guru yang lain.

“Karena itu di Bogor, bisa naik KRL ya. Atau bisa naik mobil sekolah kumpul di sekolah jam 7 pagi,” kata kepala sekolah.

Aku memilih untuk berangkat langsung dari rumahku di Depok dengan KRL. Pergi mendampingi para siswa sudah menjadi kewajiban dan tugasku sebagai wali kelas.

Hingga dua minggu berselang pun, Waway belum juga menghubungiku sampai aku lupa dia pernah hadir di kelasku.

Tak pernah lagi aku mengharapkan atau memikirkannya.

Pagi itu, Bogor, pukul 08 pagi. Kereta gangguan di depan Stasiun Bojonggede.

“Mohon maaf, KRL ke Bogor gangguan ke arah Bogor. Penumpang diminta mencari moda transportasi lain,” ujar petugas KRL.

Tentu saja, hal ini membuatku kesal. Waktu tinggal 1 jam lagi menuju pertemuan dengan para siswa.

“Duh … apa naik ojol langsung aja ya? Keburu gak ya,” ujarku kesal.

Clingak clinguk di pinggir jalan depan Stasiun Bojonggede, dengan celana bahan warna cokelat dan kemeja putih, aku menunggu dengan kondisi berkeringat yang mulai menetes.

BEEP BEEP!

Sebuah mobil Brio tiba-tiba menepi.

Aku pikir, hanya orang iseng, maka aku abaikan sambil menatap ponselku, tak ada driver ojol yang mau pickup karena macet.

“MISS IKA! MISS IKA!”

Seseorang berteriak ke arahku, dari radius 30 meter.

Aku menoleh dari kejauhan lalu menegaskan pandanganku saat menatap pria itu.

“MISS IKA! HAI! APA KABAR? WAWAY,” tutur pria itu semakin mendekat ke arahku.

Semilir angin siang itu di tengah teriknya sinar matahari membuat pandanganku ke arahnya seperti mimpi.

Kupastikan lagi stiker Real Madrid di belakang mobil Brio putih itu membuatku memastikan bahwa sang drummer memang kembali hadir di pandanganku.

“Mas Waway? Ya ampun! Kok bisa ketemu di sini?” ujarku semringah.

“Hehehe! Iya ya, kita ketemu lagi. Saya bahkan belum sempat chat Miss Ika. Mau ke mana?” kata dia tersenyum manis.

“Ah … ini. KRL gangguan. Aku mau ke Zoologi Bogor. Karena para siswa akan ada acara di sana sejam lagi. Terlambat nih. Ojol belum ada yang pickup. Mas, kok Bogornya di sini?” tanyaku ramah namun masih panik.

“Ah ini kebetulan memang tadi habis dari bengkel teman di daerah Bojonggede. Ini mau balik ke Bogor. Ya udah, sekalian aja! Zoologi kan? Ayo saya antar,” kata dia menawarkan.

“Ah gak usah mas … nanti ngerepotin,” ucapku malu-malu.

“Aduh! It’s okay! Ayo Miss, gak usah takut. Saya gak gigit kok, hehe,” katanya tersenyum.

Ya ampun! Pertemuan macam apa ini! Di pinggir Bojonggede ini, aku bertemu lagi kali kedua dengannya.

Langsung saja lagu One Republic – Something I Need menyambut kami dengan aroma interior mobilnya yang membuatku semakin berdebar.

Miss Vee

Sosok penulis yang tertantang menuangkan ide dan pikiran lewat karya literasi. Cerita fiksi itu berujung novel adult romance sebagai andalannya

Bagikan:

Tags: