“Mungkin kita sampai, mungkin saja tidak. Nikmati saja kesia-siaan ini”.
HUJAN baru saja berhenti ketika Arga sampai di halte TransJakarta. Bukan hujan yang deras.
Hanya cukup untuk membuat jalanan Jakarta mengilap, trotoar berbau tanah basah, dan rambut Arga sedikit lebih lepek daripada harga dirinya malam itu.
Ia berdiri di ujung halte sambil memandangi layar ponsel. Satu pesan terakhir masih terbuka.
“Kita istirahat dulu, ya. Aku butuh waktu.
Sudah tiga hari.”
Tidak ada pesan lanjutan.
Arga menghela napas.
“Hebat,” gumamnya. “Hubungan bisa selesai tanpa rapat pleno.”
“Masalahnya bukan hubungan.”
Arga menoleh. Seorang perempuan berdiri di sebelahnya. Rambut sebahu, jaket cokelat muda, dan payung yang masih meneteskan air.
“Apanya?” tanya Arga.
“Yang selesai itu biasanya kesabaran.”
Arga mengernyit. Perempuan itu tersenyum tipis.
“Maaf. Saya tadi dengar.”.
“Dengar apa?”
“Keluhan Anda.”
“Saya nggak mengeluh.”
“Berarti ngomong sendiri?”
Arga diam.
“Lebih parah,” kata perempuan itu.
Arga hampir tertawa.
“Nama saya Arga.”
“Kenapa tiba-tiba kenalan?”
“Daripada ngobrol sama tiang halte.”
Perempuan itu menatap tiang di belakang Arga.
“Tiangnya kelihatannya lebih sabar.”
Arga tertawa.
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Perempuan itu bernama Nara. Mereka tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba mengobrol.
Mungkin karena hujan.
Mungkin karena halte sedang sepi.
Atau mungkin karena dua orang yang sedang patah hati memang gampang mengenali sesamanya.
Nara duduk di bangku halte.
“Putus?” tanyanya.
Arga ikut duduk.
“Belum.”
“Berarti lebih parah.”
“Kenapa?”
“Kalau putus, jelas. Kalau belum, setiap bunyi notifikasi masih bikin jantung copot.”
Arga mengangguk.
“Betul.”
“Dia?”
“Pergi.”
“Karena?”
“Katanya saya terlalu sibuk.”
Nara tersenyum miring.
“Klise.”
“Kalau kamu?”
“Dia juga pergi.”
“Karena kamu sibuk?”
“Enggak.”
“Terus?”
Nara menatap jalan.
“Katanya saya terlalu banyak berpikir.”
Arga tertawa kecil.
“erarti kita cocok.”
Nara menoleh.
“Karena?”
“Dia meninggalkan kita karena alasan yang mirip.”
“Bukan berarti kita cocok.”
“Setidaknya sama-sama korban.”
“Wah, malah kayak perkumpulan.”
Bus TransJakarta melintas tanpa berhenti. Keduanya melihat bus itu pergi.
“Padahal itu bus saya,” kata Nara.
“Kenapa nggak naik?”
“Lupa.”
“Lupa naik bus?”
“Lagi mikirin hidup.”
Arga mengangguk serius.
“Wajar. Hidup memang sering mengalahkan transportasi umum.”
Mereka kembali tertawa. Malam semakin larut. Obrolan yang awalnya hanya tentang patah hati berubah menjadi hal-hal kecil: makanan favorit, pekerjaan, film yang mereka sukai, kebiasaan buruk, sampai alasan kenapa manusia selalu bilang ”ku baik-baik saja’ ketika sebenarnya tidak.
Arga baru sadar, sudah hampir satu jam mereka duduk bersama.
“Nara.”
“Hm?”
“Kalau boleh jujur…”
“Apa?”
“Gue baru kenal kamu satu jam, tapi rasanya lebih nyaman daripada tiga tahun pacaran.”
Nara menatapnya.
“Jngan gampang nyaman sama orang.”
“Kenapa?”
“Karena orang bisa pergi.”
Arga terdiam. Nara tersenyum.
“Tapi mungkin ada juga yang datang untuk tinggal.”
Sebuah bus berhenti. Pintu terbuka, Nara pun berdiri.
“Itu bus saya.”
Arga ikut berdiri.
“Pulang?”
“Iya.”
Mereka saling memandang. Ada jeda yang aneh. Jeda yang biasanya terjadi sebelum seseorang mengatakan sesuatu yang penting. Namun Arga malah berkata, “Nomor WhatsApp?”
Nara tertawa.
“Romantis sekali.”
“Daripada saya kasih nomor rekening.”
“Memang ada yang mau transfer?”
“Kalau kamu mau, saya siap menerima.”
Nara mengambil ponselnya. Mereka bertukar nomor. Sebelum naik, Nara berkata, “Arga.”
“ya?”
“Jangan terlalu berharap.”
Arga tersenyum.
“Tenang. Saya cuma berharap besok hujan lagi.”
Nara tersenyum lalu naik–bus berjalan meninggalkan halte. Arga berdiri sendirian.
Anehnya, malam itu ia tidak lagi merasa sesedih tadi. Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor baru.
Nara: Hati-hati pulang.
Arga tersenyum. Ia membalas.
Arga: Kamu juga.
Lalu ia berjalan menuju halte berikutnya.
Langit mulai terang. Bukan karena matahari. Cahaya lampu jalan memantul di aspal yang basah.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Arga merasa mungkin hidup tidak sedang menghukumnya.
Mungkin hidup hanya sedang memindahkan arah. Seminggu kemudian, Arga kembali ke halte yang sama.
Ia menunggu Nara. Mereka sudah bertemu beberapa kali sejak malam itu.
Kopi. Makan malam. Jalan kaki tanpa tujuan. Bahkan sekali mereka sengaja naik TransJakarta sampai ujung rute hanya karena tidak tahu mau ke mana.
Hubungan mereka tumbuh pelan-pelan.
Tidak terburu-buru. Tidak diberi nama.
Sampai malam itu. Nara datang membawa dua gelas kopi.
“Buat kamu.”
Arga menerimanya.
“Terima kasih.”
Mereka duduk berdampingan.
“Nara.”
“Hm?”
“Aku mau ngomong sesuatu.”
Nara tersenyum.
“Jangan bilang kamu mau pindah kota.”
“Bukan.”
“Menikah?”
“Lho, kok langsung jauh?”
“Ya siapa tahu.”
Arga tertawa.
“Aku suka kamu.”
Nara diam lalu tersenyum.
“Aku juga.”
Sederhana. Tidak ada musik. Tidak ada kembang api. Hanya suara bus yang mengerem dan pengumuman halte yang terdengar putus-putus. Arga merasa
dadanya hangat.
“Nara.”
“Yya?”
“Berarti kita pacaran?”
Nara tidak menjawab. Ia justru membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah ponsel.
Lalu menunjukkan sesuatu kepada Arga.
Sebuah foto. Arga membeku.
Foto itu memperlihatkan dirinya sendiri.
Sedang duduk di halte. Persis seperti malam pertama mereka bertemu.
“Nara…”
Perempuan itu menatapnya.
“Namamu bukan Arga, kan?”
Darah Arga seperti berhenti mengalir. Nara tersenyum kecil.
“Namamu Raka.”
Arga tidak bisa berkata apa-apa. Nara kemudian mengusap layar ponselnya. Di sana ada foto seorang pria lain.
Wajahnya mirip Arga. Sangat mirip.
Hanya saja pria dalam foto itu memakai seragam rumah sakit.
“ia kakakku,” kata Nara.
Arga menatap foto itu.
“Namanya Arga.”
(Hening)
“Dia meninggal dua bulan lalu.”
Arga merasa seluruh suara di halte menghilang. Nara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Makanya waktu pertama kali ketemu kamu…”
Ia tersenyum getir.
“Aku pikir kamu cuma bercanda ketika memperkenalkan diri sebagai Arga.”
Arga menelan ludah.
“Terus kenapa kamu tetap datang?”
Nara menatap bus yang baru saja berhenti.
“Karena setelah kakakku pergi, aku sering datang ke halte ini.”
“Kenapa?”
“Tempat terakhir dia pernah menungguku.”
Arga diam. Nara berdiri.
“Dan malam itu, setelah hujan berhenti, kamu duduk di tempat yang sama.”
Arga menatap bangku halte. Baru sekarang ia sadar: Di sudut bangku itu terdapat goresan kecil. A + N. Ia kemudian menatap Nara.
“Jadi… siapa sebenarnya kamu?”
Nara tersenyum.
“Nara.”
“Adiknya?”
Nara mengangguk.
“Adik Arga.”
Arga terdiam lama. Lalu tiba-tiba tertawa, Nara pun bingung. (
“Kenapa?”
“Karena dari semua kemungkinan plot twist…”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“ternyata saya cuma mirip orang mati.”
Nara ikut tertawa sambil menghapus air mata.
“Setidaknya miripnya lumayan.”
“Lumayan?”
“Ya.”
“Terus selama ini kamu suka aku karena mirip kakakmu?”
Nara menggeleng.
“Awalnya.”
“Terus?”
Nara menatapnya.
“Setelah itu, aku suka kamu karena kamu bukan dia.”
Arga tersenyum. Di atas mereka, awan mulai membuka diri. Cahaya bulan jatuh ke aspal yang masih basah.
Untuk pertama kalinya, Arga mengerti:
Tidak semua orang yang datang setelah hujan adalah seseorang yang akan menghapus luka.
Kadang, mereka hanya datang untuk menunjukkan bahwa setelah hujan, jalan masih bisa terlihat indah.
Dan malam itu, dua orang yang sama-sama galau akhirnya menemukan sesuatu yang tidak mereka cari.
Bukan cinta yang sempurna.
Bukan juga pengganti seseorang yang telah pergi. Melainkan alasan untuk kembali percaya bahwa hidup masih punya kejutan.
Sayangnya, kejutan berikutnya datang dari pengeras suara halte.
“Mohon perhatian. Kartu e-money Anda tertinggal.”
Arga menepuk dahinya.
“Ya Allahhhh”
Nara tertawa.
“Romantis banget.”
“Cinta boleh tumbuh. Tapi saldo jangan hilang.” -Mat Lila
Mereka pun tertawa bersama. Di bawah cahaya sehabis hujan. Dan kali ini, tak satu pun dari mereka terburu-buru pulang.
https://cerpenkita.id/surat-cinta-di-ompreng-mbg-bagian-1-terpesona-pada-hantaran-pertama/







