(Terinspirasi dari kisah nyata TKW korban TPPO)
“Bekerja di negeri orang seharusnya menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan. Bukan jalan menuju penderitaan,”
Tahun 2001 itu terpatri begitu terang dalam ingatanku saat usiaku baru saja menyentuh angka tujuh belas.
Dengan hanya berbekal selembar ijazah SMP, mencari pekrjaan di Wonosobo rasanya seperti mengejar bayangan.
Hingga kemudian, cerita-cerita tentang kemasyhuran Taiwan dari orang-orang terdekat sampai ke telingaku.
Saat itu, Taiwan terdengar seperti sebuah pintu menuju kehidupan yang lebih baik. Aku mendapat tawaran bekerja di sana melalui sebuah agen penyalur tenaga kerja. Katanya, aku akan bekerja merawat seorang lanjut usia di sebuah rumah.
AKU PERCAYA!
Meski untuk bisa berangkat, aku harus membayar puluhan juta rupiah kepada agen tersebut. Setelah uang diserahkan, aku ditempatkan di sebuah penampungan. Selama tiga bulan, aku mengikuti pelatihan dan belajar bahasa.
Aku pikir, setelah semua itu, hidupku akan berubah.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa justru sejak saat itulah masalah panjang akan dimulai.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Aku bersama belasan perempuan lain diterbangkan menuju Taiwan. Namun sebelum perjalanan benar-benar dimulai, pihak agen membongkar tas kami.
Barang-barang tertentu dirampas.
Mukenah tidak boleh dibawa. Ponsel dan nomornya juga tidak boleh. Pakaian yang dianggap terlalu terbuka dilarang. Bahkan Al-Qur’an dan kosmetik pun tidak diperbolehkan.
Aku hanya bisa diam.
Aku belum tahu bahwa perlahan-lahan, kami sedang dijauhkan dari banyak hal yang mungkin bisa menjadi pegangan ketika berada jauh dari tanah air.
Sesampainya di Taiwan, aku baru menyadari bahwa pekerjaan yang harus aku jalani tidak sesuai yang dijanjikan.
Tidak ada nenek jompo.
Aku justru ditempatkan di sebuah restoran.
Setiap hari aku bekerja di dapur sejak pukul empat pagi hingga pukul satu dini hari. Tubuhku hampir tidak punya kesempatan untuk beristirahat.
Makan pun seadanya. Sering kali aku hanya diberi makanan sisa hari sebelumnya.
Aku berusaha bertahan.
Namun majikan kerap mencari-cari kesalahanku. Sampai akhirnya, setelah beberapa bulan, aku dipecat dengan berbagai alasan yang tidak pernah kuperbuat.
Gajiku ditahan perusahaan agensi. Perusahaan penyalur TKW akhirnya memberikan kesempatanku kembali bekerja.
Aku diberi pekerjaan baru sebagai pengurus orang tua lanjut usia.
Kali ini berbeda.
Majikanku memperlakukanku dengan cukup baik. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Taiwan, aku mulai merasa mungkin masih ada harapan.
Aku mulai betah.
Tetapi harapan itu kembali runtuh.
Baru tiga bulan bekerja, agen datang dan mengatakan aku harus dipulangkan ke Indonesia. Alasannya, majikan sebelumnya masih memiliki kontrak tiga tahun denganku. Sehingga majikan baru tidak dapat mempertahankanku.
Aku tidak punya pilihan.
Aku mengikuti agen tersebut.
Dan di dalam perjalanan itulah aku mengalami sesuatu yang sampai sekarang sulit kulupakan.
Di dalam mobil, agen itu mulai melakukan pelecehan terhadapku. Ia mengajakku melakukan hubungan badan.
Aku menolak.
Penolakanku membuat situasi semakin buruk. Ia berusaha memaksaku.
Aku berusaha mempertahankan diri.
Tiba-tiba telepon genggam yang diberikan majikan keduaku berdering.
Agen itu mencoba merebutnya.
Kami sempat tarik-menarik. Tanganku terluka dan telepon itu dibanting hingga hancur.
Aku pikir, semuanya berakhir.
Namun ternyata telepon itu masih bisa digunakan.
Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku menghubungi teman-temanku.
Aku melarikan diri.
Sejak saat itu, hidupku berubah menjadi perjalanan tanpa kepastian.
Aku memilih bertahan sebagai pekerja migran ilegal.
Kupikir, setidaknya dengan begitu aku bisa mencari pekerjaan sendiri.
Ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
Aku berpindah-pindah pekerjaan. Ada kalanya aku bekerja tetapi tidak menerima gaji. Ada pula saat aku hanya bisa menunggu tanpa tahu kapan kehidupan akan kembali normal.
Utang kepada teman-temanku semakin menumpuk.
Aku sempat mendapat pekerjaan di sebuah pabrik besi. Namun baru dua belas hari bekerja, pabrik itu tutup.
Aku kembali menjadi tidak punya apa-apa.
Lagi.
Dan lagi.
Sampai akhirnya aku benar-benar luntang-lantung di Taiwan.
Aku tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.
Saat berangkat dulu, aku tidak pernah dibekali nomor telepon atau alamat lembaga yang bisa kuhubungi saat mengalami masalah.
Aku merasa sendirian di negeri orang.
Aku berada dalam kondisi yang sangat rentan. Aku berpindah-pindah tempat tinggal.
Aku harus menumpang di tempat tinggal pekerja migran lainnya. Bahkan harus tinggal di tempat penampungan TKI pria.
Untuk sekadar mendapatkan tempat tidur dan makanan, aku terpaksa menerima perlakuan yang tidak seharusnya dialami oleh siapapun.
Aku ditiduri bergiliran oleh pria yang tidak aku kenal. Aku menangis.
Bukan hanya karena lapar atau tidak punya tempat tinggal.
Aku menangis karena merasa hidupku seperti tidak lagi berada di tanganku sendiri.
Aku hanya ingin bertahan hidup.
Dan masa itu berlangsung berulang kali sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.
Lima tahun berlalu sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Taiwan.
Pada 2006, aku akhirnya tertangkap pihak Imigrasi dan dideportasi ke Indonesia.
Aku pulang membawa sesuatu yang tidak terlihat dari luar.
Bukan hanya pengalaman bekerja di negeri orang, tetapi juga luka, ketakutan, kekecewaan, dan pelajaran yang sangat mahal.
Kini, setiap kali mengingat perjalanan itu, aku selalu berpikir tentang satu hal.
Aku dulu berangkat dengan membawa mimpi.
Tetapi aku tidak memiliki cukup pengetahuan untuk melindungi diriku sendiri.
Karena itulah sekarang aku memilih berbicara.
Aku memberikan bekal pengetahuan kepada calon pekerja migran di Wonosobo. Aku ingin mereka memahami risiko sebelum berangkat. Aku ingin mereka tahu hak-haknya. Aku ingin mereka memiliki informasi tentang siapa yang harus dihubungi ketika menghadapi masalah.
Aku tidak ingin ada perempuan lain yang mengalami apa yang pernah kualami.
Sebab bekerja di negeri orang seharusnya menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan.
Bukan jalan menuju penderitaan.
Dan kalau kisahku bisa membuat satu orang saja lebih berhati-hati sebelum mempercayai sebuah janji pekerjaan, mungkin semua luka yang pernah kubawa pulang tidak sepenuhnya sia-sia.







