(Terinspirasi dari kisah nyata)

Aku masih ingat suara istriku ketika mengatakan, “Aku sudah nggak tahu harus bertahan sampai kapan.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagiku, kalimat itu seperti palu yang menghantam sisa-sisa harga diri yang masih kupunya.

Namanya Nina (bukan nama sebenarnya). Perempuan yang sudah menemaniku sekitar lima tahun, melewati hari-hari sulit, mengurus dua anak, dan tetap bertahan meski berkali-kali kubuat kecewa.

Sementara aku?

Aku justru menghancurkan semuanya perlahan-lahan.

Awalnya aku mengenal judi online hanya dari teman-teman. Mereka mengatakan permainan itu mudah. Tinggal memasang uang, menunggu hasil, lalu berharap keberuntungan datang.

Aku ikut mencoba.

Sekali.

Kemudian dua kali.

Lalu semakin sering.

Yang paling berbahaya bukan ketika aku kalah.

Yang paling berbahaya adalah ketika aku mulai percaya bahwa kekalahan bisa kubalas dengan kemenangan berikutnya.

Sejak saat itu, pikiranku berubah.

Setiap menerima uang, yang kupikirkan bukan lagi kebutuhan rumah. Bukan uang sekolah anak. Bukan belanja dapur. Bukan tagihan listrik.

Yang muncul di kepalaku hanya satu:

Bagaimana kalau uang ini bisa kembali berlipat?

Aku terus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kumiliki.

Sementara itu, istriku mulai kehilangan satu demi satu barang di rumah.

Televisi hilang.

Ponsel berganti tangan.

Barang-barang yang dulu kami beli sedikit demi sedikit lenyap.

Ketika uangku sendiri habis, aku mulai meminjam.

Bukan hanya atas namaku.

Bahkan nama istriku pun ikut terseret.

Bank keliling datang menagih. Telepon masuk berkali-kali. Istriku yang harus menghadapi semuanya.

Aku tahu dia malu.

Aku tahu tetangga mulai membicarakan keluarga kami.

Tetapi saat itu aku terlalu tenggelam untuk peduli.

Sampai suatu hari semuanya benar-benar berhenti.

Aku ditangkap polisi karena perkara judi online.

Tiga hari aku berada di balik tahanan.

Di sana, untuk pertama kalinya aku benar-benar memikirkan keluargaku.

Aku membayangkan istriku.

Aku membayangkan anak-anak.

Aku membayangkan rumah kecil kami yang mungkin sebentar lagi tidak lagi terasa seperti rumah.

Tiga hari kemudian, istriku datang.

Dia mengusahakan uang ke sana kemari untuk menebusku.

Aku bahkan tidak pantas menerima pengorbanan sebesar itu.

Ketika keluar, aku berjanji akan berhenti.

Dan untuk beberapa waktu, aku benar-benar berhenti.

Namun hidup setelah kehilangan pekerjaan ternyata tidak mudah.

Aku kehilangan pekerjaan karena masalah yang kubuat sendiri. Untuk mendapatkan penghasilan, aku akhirnya bekerja sebagai kuli panggul di gudang Bulog.

Tubuhku lelah setiap hari.

Tanganku kasar.

Punggungku sering sakit.

Tetapi anehnya, rasa lelah itu tidak membuatku semakin dewasa.

Aku kembali berkumpul dengan teman-teman.

Dari obrolan kecil, kebiasaan lama kembali muncul.

Aku tergoda lagi.

Kemudian semuanya berulang.

Aku kembali mengejar sesuatu yang sudah jelas-jelas pernah menghancurkanku.

Bedanya, kali ini istriku tidak lagi marah.

Dia justru diam.

Dan diamnya jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.

Suatu malam, aku melihatnya duduk sendirian.

Wajahnya terlihat lelah.

“Aku sudah nggak kuat,” katanya pelan.

Aku tidak menjawab.

“Kalau kamu mau menghancurkan hidupmu, jangan bawa anak-anak.”

Dadaku sesak.

Aku tahu dia mulai menjauhkan anak-anak dariku.

Bukan karena dia membenci aku.

Justru karena dia takut anak-anak melihatku sebagai contoh yang salah.

Aku ingin membela diri.

Aku ingin mengatakan bahwa aku bukan ayah yang buruk.

Aku ingin mengatakan bahwa aku hanya sedang kesulitan.

Tetapi semua alasan itu terdengar konyol.

Karena pada kenyataannya, akulah yang membuat keluargaku berada dalam kesulitan.

Hari demi hari, rumah kami semakin sunyi.

Tidak ada lagi percakapan panjang seperti dulu.

Tidak ada lagi tawa ketika kami makan bersama.

Tidak ada lagi rencana membeli sesuatu untuk rumah.

Bahkan foto pernikahan kami yang dulu terpajang di ruang tamu sudah lama diturunkan.

Suatu pagi aku membuka lemari.

Hampir semua pakaian yang bagus sudah tidak ada.

Sebagian dijual untuk membayar utang.

Yang tersisa hanya beberapa pakaian sederhana.

Dan sepasang celana kolor.

Aku menatap celana itu lama.

Entah kenapa, benda sederhana itu membuatku tertawa getir.

Dulu aku pernah bermimpi memberikan rumah yang nyaman untuk istriku.

Sekarang, aku bahkan hampir tidak memiliki apa-apa selain celana kolor.

Saat itulah aku sadar.

Aku tidak sedang kehilangan uang.

Aku sedang kehilangan keluargaku.

Aku tidak sedang kalah dalam permainan.

Aku sedang kalah sebagai seorang suami.

Beberapa waktu kemudian, istriku datang ke sebuah acara edukasi tentang bahaya judi online di Cilincing.

Di hadapan banyak orang, dia menceritakan semuanya:

Tentang barang-barang yang habis.

Tentang utang.

Tentang bank keliling yang mengejarnya.

Tentang rasa malu.

Tentang anak-anak.

Dan tentang aku.

Aku tidak berada di sampingnya saat itu.

Tetapi ketika ceritanya sampai kepadaku, rasanya seperti mendengar seluruh kesalahanku dibacakan satu per satu.

Dia bahkan pernah berpikir untuk berpisah.

Namun anak-anak membuatnya bertahan.

“Aku tunggu mungkin suatu saat dia akan insaf,” begitu kira-kira harapannya.

Aku menangis ketika mendengarnya.

Bukan karena merasa menjadi korban.

Justru karena akhirnya aku memahami bahwa selama bertahun-tahun istriku telah menjadi korban dari pilihan-pilihanku.

Malam itu aku pulang.

Istriku sedang duduk di ruang tengah.

Aku berdiri beberapa langkah darinya.

“Maaf,” kataku.

Dia tidak menjawab.

“Aku tahu maafku mungkin sudah terlambat.”

Dia tetap diam.

“Aku nggak bisa mengembalikan barang-barang yang sudah aku jual. Aku nggak bisa menghapus utang yang sudah kubuat. Aku juga nggak bisa mengembalikan waktu yang sudah terbuang.”

Aku menarik napas panjang.

“Tapi aku ingin berhenti menghancurkan semuanya.”

Istriku menatapku.

Matanya berkaca-kaca.

“Yang kami butuhkan bukan janji,” katanya.

Aku tertunduk.

Aku tahu dia benar.

Janji sudah terlalu sering kuucapkan.

Yang harus kulakukan sekarang bukan meminta dia percaya.

Aku harus membuktikannya.

Aku harus bekerja.

Aku harus menghadapi utang.

Aku harus menjauh dari lingkungan yang menyeretku kembali.

Dan yang paling penting, aku harus belajar menjadi suami dan ayah lagi.

Malam semakin larut.

Aku masuk ke kamar dan melihat celana kolor yang tadi kulihat masih tergeletak di kursi.

Aku mengambilnya.

Tersenyum pahit.

Dulu aku mengejar kemenangan besar.

Sekarang aku hanya ingin mendapatkan kembali hal-hal sederhana yang hampir hilang: makan bersama keluarga, mendengar anak-anak tertawa, dan melihat istriku tersenyum tanpa rasa takut.

Ternyata judi online tidak hanya menghabiskan uang.

Ia bisa menghabiskan kepercayaan.

Menghabiskan waktu.

Menghabiskan harga diri.

Bahkan menghabiskan cinta.

Dan ketika semuanya sudah habis, yang tersisa mungkin hanya sebuah rumah yang sunyi… dan sepasang celana kolor.

Aku tidak tahu apakah istriku akan tetap bersamaku.

Aku juga tidak tahu apakah kepercayaan yang telah kuhancurkan bisa kembali.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak ingin mengejar keberuntungan.

Aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku.

Sebab kini aku mengerti:

Tidak ada kemenangan dalam judi yang sebanding dengan kehilangan orang-orang yang kita cintai.

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: