“Wanginya seperti aroma kebahagiaan yang telah lama kudambakan, akhirnya datang, kala kubakar cintanya,” – Sisitipsi

RUANG itu kurang lebih hanya berukuran tiga kali empat meter. Sebuah ranjang terletak di tengah. Di sampingnya ada meja kecil dengan sebotol air mineral, telepon rumah, tisu dan lampu temaram yang sengaja dibuat tak terlalu terang.

Pendingin ruangan berdengung pelan, melawan panas Jakarta yang sejak siang seperti enggan pergi. Tak luput kamar mandi eksotis juga menghiasi ruang tiga kali empat itu.

Sebelum memasuki ruangan 3×4, kita harus memilih ‘katalog’ yang disediakan oleh pegawai. Ia berpenampilan rapi: memakai blazzer, sepatu heels hitam hingga jam tangan mewah berwarna silver.

Siang itu, aku memutuskan memilih Zila. Sementara seorang kawan masih sibuk mendeskripsikan kebutuhan. Mulai dari tinggi badan, umur hingga paras ayu yang menawan.

Tetapi, aku mantap memilih Zila. Entah mengapa, retina ini langsung mengarah kepada Zila–tanpa pegawai mendeskripsikan lebih jauh tentang wanita tersebut.

Setelah mantap memilih sesuai kebutuhan, aku dan kawanku diarahkan pegawai itu untuk menaiki tangga. Kami pun berpisah di persimpangan tangga. Aku ke kanan dan kawanku ke kiri.

Di ruangan itu, ternyata Zila sudah menunggu. Perempuan 25 tahun duduk sambil memainkan ujung rambutnya. Sesekali ia melihat layar ponsel, lalu menguncinya kembali. Aku memperhatikan, ia hanya berkaca pada kamera depan ponselnya–hanya sekadar memastikan lipstiknya telah rapi.

Tubuhnya mungil. Tingginya tak lebih dari 159 centimeter. Wajahnya masih menyimpan kesan gadis belasan tahun. Apalagi ketika ia tersenyum. Anggun.

Satu hal yang sulit luput dari perhatian adalah aromanya. Khas. Melambangkan aroma-aroma kebahagiaan yang sudah lama kudambakan.

Parfum yang ia kenakan menyerupai bunga yang baru mekar. Segar. Sedikit tajam, lalu meninggalkan jejak manis vanila ketika wanginya mulai memudar.

“Harumnya enak, ya?” katanya suatu ketika sambil tertawa kecil.

Tidak ada yang menyangka, di balik aroma parfum itu, ada cerita yang ia sembunyikan rapat-rapat. Bahkan dari keluarganya sendiri.

“Aku bilangnya kerja jadi kasir gerai toko retail,” ujar Zila.

Ia tersenyum. Namun, senyum itu hanya bertahan sebentar. Zila tahu betul pekerjaan yang sedang dijalaninya tidak mudah diceritakan kepada siapapun. Bahkan kepada tetangga. Bukan kepada saudara. Bahkan kepada orang-orang yang paling dekat dengannya.

Ia memilih menyimpan semuanya sendiri. Sebab, ada satu alasan yang membuatnya bertahan: Anaknya!

Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun. Setiap bulan, Zila harus membawa buah hatinya menjalani kontrol. Sejak lahir–putranya telah berjuang melawan penyakit epilepsi.

“Kontrol hampir setiap bulan,” kata Zila.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada ongkos perjalanan, biaya pengobatan, makanan, kebutuhan rumah, dan segala sesuatu yang harus dipenuhi seorang ibu yang membesarkan anak sendirian.

Zila pernah mempunyai suami. Ia menikah ketika usianya baru menginjak 19 tahun. Dua tahun berumah tangga–anak mereka lahir. Tetapi pernikahan itu hanya seumur jagung, alias tidak bertahan lama.

“Pisah karena dia terlibat judol dan selingkuh”.

Zila mengucapkannya tanpa nada marah. Seolah semua luka sudah terlalu lama disimpan hingga tidak lagi membutuhkan suara. Entah nada yang parau atau menggelitik: semuanya tidak ada!

Sejak perceraian itu, dunia seperti memaksanya tumbuh lebih cepat. Ia tidak hanya memikirkan diri sendiri. Ada seorang anak yang harus makan; ada obat yang harus dibeli; ada jadwal kontrol yang tidak boleh dilewatkan.

Dan ada penyakit yang tidak bisa ditawar hanya karena ibunya sedang tidak punya uang. Semua ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan. 

Sebelum bekerja di tempat itu, Zila pernah menjadi karyawan gerai retail di kawasan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Banten.

Pekerjaannya biasa saja. Gajinya pun biasa. Masalahnya: kebutuhan hidup tidak pernah mau menjadi biasa. Terlebih ketika seseorang harus menjadi ibu sekaliguus ayah bagi seorang anak.

Empat bulan yang lalu, Zila mengambil keputusan. Ia datang ke Kelapa Gading. Belajar soal  terapi: ketegangan otot, teknik manipulasi dengan menekan titik-titik atau area pada telapak kaki, tangan, hingga telinga–lalu setelah mahir ia mulai bekerja sebagai terapis.

Tempatnya tidak terlihat seperti ruangan yang selama ini dibayangkan orang ketika mendengar istilah ‘dunia gelap’. Dari luar: tempat itu bahkan tampak cukup mewah.

Tidak ada suara musik keras. Tidak ada lampu warna-warni. Tidak ada keributan. Semuanya dibuat senyaman mungkin. Termasuk aroma ruangan. Tujuannya sederhana: agar para pengunjung terkesima dan balik lagi.

Saat ditanya, Zila pun selalu datang dengan parfum yang sama. wangi bunga dengan sedikit sentuhan vanila. Mungkin karena ia ingin tetap merasa seperti dirinya sendiri.

Atau mungkin, tanpa disadarinya, ia sedang berusaha mengingat bahwa dirinya bukan sekadar “bekerja”. Sebab; ada kenyamanan, kebahagiaan dan berbagi keintiman yang ditawarkan. 

Ia tetap seorang perempuan. Tetap seorang anak bagi keluarganya. Dan terutama, tetap menjadi seorang ibu.

Siang menuju sore, obrolan semakin larut. Zila kembali memeriksa ponselnya. Ada satu pesan dari rumah. Tentang anaknya. Ia membacanya lama. Kemudian tersenyum.

Senyum kali ini terlihat berbeda. Sambil berbaring, aku mengamatinya perlahan. Zila tampak lebih hangat, lebih jujur, lebih kuat cengkramannya.

“Kalau buat anak, apa pun aku jalani,” kata Zila sambil matanya menyeringai.

Kalimat itu melayang sebentar di antara dinding ruangan. Tidak ada pembelaan. Tidak ada permintaan untuk dimengerti–bahkan seperti mengenalku sejak lama.

Sambil terkesiap, ia cuma bilang pengakuan dari seorang ibu–sambil tangannya berusaha bertahan menggeremet bantal berwarna putih.

Di luar sana, mungkin orang-orang akan memberikan banyak nama untuk pekerjaannya. Sebagian mungkin mencibir. Sebagian mungkin menghakimi. Sebagian lainyya  mungkin tidak akan pernah mau tahu alasan dibaliknya.

Zila tidak terlalu memikirkan itu. Sebab, setiap kali rasa malu datang–ia selalu teringat satu hal: wajah anaknya. Bocah kecil yang setiap bulan harus kembali ke rumah sakit.

Bocah yang belum mengerti mengapa tubuhnya sesekali harus berhadapan dengan penyakit. Bocah yang mungkin suatu hari nanti akan bertanya kepada ibunya:

“Ibu kerja apa?”

Zila belum tahu jawaban apa yang akan diberikannya nanti. Untuk sekarang, ia hanya tahu satu hal: ingin anaknya sembuh. Itu saja.

Senja pun mengintip dari balik ruangan, lembayung mulai memancarkan binarnya–menghunus di atas awan. Di saat itu, Zila mulai meninggalkan tempat yang berukuran 3×4 meter tersebut.

Aroma parfum, lipstiknya, masih membekas di mukaku. Wangi bunga. Sedikit manis vanila. Wangi yang mungkin bagi orang lain hanyalah parfum. Tetapi–bagiku, wanginya seperti pengingat.

Bahwa di balik setiap langkah yang Zila ambil, ada seorang anak kecil yang sedang menunggunya pulang. Dan mungkin, disitulah letak arti sebenarnya dari sebuah pengorbanan.

Bukan tentang seberapa bersih jalan yang dipilih. Melainkan tentang seberapa jauh seseorang bersedia berjalan ketika orang yang dicintainya sedahg membutuhkan pertolongan.

“Aku mungkin tersesat di jalan yang gelap, tapi aku tahu ke mana harus pulang: kepada senyum anakku”. -Zila

https://cerpenkita.id/godaan-drummer-penabuh-hati-bab-i-lagi-cari-calon-istri/

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: