“Kamu tidak perlu ke Jakarta, biar aku yang datang ke Jogja,”
Sabtu pagi, aku meminta izin kepada Ibu untuk pergi liburan semester ke Jogja bersama Ryo, teman sekelasku.
Rencananya, selama seminggu aku akan tinggal di rumah nenek Ryo di Sleman. Aku dan Ryo berangkat naik kereta dari Stasiun Gambir dan tiba di Jogja sekitar pukul enam petang.
“Nenek lu udah tahu kan kalau lu ajak temen?”.
“Udah dong, tenang aja,”.
“Nggak ngerepotin nenek lu kan?”
“Apaan sih Ren, malah nenek aku seneng, gue ngajak temen. Udah tenang aja,”.
Sesampainya di Stasiun Yogyakarta, kami dijemput oleh nenek Ryo dan sopirnya menggunakan mobil Toyota Alphard.
“Wah nenek Ryo ternyata orang kaya. Jangan-jangan keluarga keraton Jogja?”
Sesampainya di rumah, aku baru benar-benar percaya.
Rumah nenek Ryo ternyata begitu besar, bergaya kolonial dengan halaman luas dan bangunan yang terlihat masih sangat terawat.
Di depan rumah terdapat pendopo luas untuk menerima tamu. Suasananya tenang dan teduh, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk Jakarta yang biasa kuhadapi setiap hari.
Nenek Ryo tinggal sendiri. Sementara kakeknya sudah meninggal lima tahun lalu. Di rumah besar itu, nenek Ryo ditemani seorang sopir dan dua orang pembantu.
Ketiga anaknya, yang salah satunya ibunya Ryo, sudah berkeluarga dan memilih hidup masing-masing.
“Kalian sami siram rumiyin ya, lajeng sasampunipun menika sami dhahar dalu. (Kalian mandi dulu ya, habis itu makan malam)” ujar Nenek Ryo.
“Nggih, yang,” jawab Ryo dengan nada lembut.
“Lu manggil nenek lu, sayang?” timpalku.
“Hush! Yaang itu Eyang,” jawab Ryo.
Aku tertawa kecil.
Ryo hanya menggelengkan kepala.
Setelah mandi, kami makan bersama dengan hidangan khas Jawa. Ada sayur, lauk, sambal, dan berbagai makanan rumahan yang disajikan dengan hangat.
Semuanya terasa manis!
Malam itu, kami membuat rencana. Esok pagi, Minggu, kami akan sarapan di Pasar Ngasem, kemudian menikmati suasana pagi di Alun-Alun Kidul.
Siang harinya, kami berencana makan gudeg di kawasan Malioboro.
“Eyang, besok aku sama Rendi mau ke Pasar Ngasem, terus siangnya ke Malioboro mau makan gudeg,”
“Yauwis sesuk diterke sopir ya? (Yaudah besok dianter sopir ya?”
“Nggak usah yang, besok naik motor aja. Minjem motor punya sopir aja,”.
Semuanya berjalan sesuai rencana.
Minggu pagi kami berkeliling menikmati suasana Jogja. Setelah dari Alun-Alun Kidul, menjelang pukul setengah dua belas, kami naik motor menuju Malioboro untuk makan gudeg.
Kami memilih sebuah warung gudeg yang sedang viral di TikTok. Siang itu warung tersebut justru sepi. Hanya kami berdua yang menjadi pelanggan.
Wajar saja, warung gudeg itu memang lebih ramai pada pagi hari.
Setelah memesan gudeg, ibu penjual berteriak memanggil anaknya untuk menyiapkan minuman.
“Ndhuk, gawekno wedang”
“Nggih, bu,”
Suara perempuan dari ruang belakang terdengar lembut.
Tak lama kemudian, seorang gadis perempuan seusiaku dengan rambut panjang yang terikat muncul dari balik tirai.
Langkahnya pelan. Gerak-geriknya terlihat begitu sopan.
Nada gemalen seolah mengiringi kehadirannya.
Dengan suara lembut, gadis itu menanyakan minuman yang kami pesan.
Aku memesan es teh tawar, sementara Ryo memesan es jeruk.
“Ditunggu yo mas,”
Aku terdiam.
Entah mengapa, saat itu aku merasa sangat terpesona kepadanya.
Dia begitu cantik dan lembut.
Aku seperti melihat seorang perempuan dari dimensi lain.
Selesai makan, aku mencatat nomor ponsel yang tertulis di spanduk warung untuk pemesanan.
Malam harinya, aku mencoba menghubungi nomor tersebut.
“Selamat malam ini dengan warung gudeg yang di Malioboro?,” tulisku di pesan WhatsApp.
“Iya, selamat malam, ada yang mau dipesan?” jawabnya.
Dengan polos, aku menanyakan aku sedang berbicara dengan siapa.
“Aku Ranti, anaknya penjual gudeg. Ada yang bisa dibantu,”
Benar saja. Nomor itu ternyata milik gadis yang tadi siang membuatku terpaku.
Aku tersenyum kegirangan.
Aku bahkan tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Esok paginya, aku mengajak Ryo makan ke warung gudeg itu lagi.
“Nggak bosen lu?” kata Ryo.
“Enggak dong kan gudegnya gurih, manis,” jawabku.
Sayangnya, Ryo menolak ajakanku karena sudah memiliki janji bertemu dengan keluarga besarnya.
“Aku besok siang mau ke Bantul, mau main ke rumah tante sama nenek,”
“Oh yaudah, aku gak ikut ya,”
Aku pun nekat pergi ke warung gudeg itu seorang diri.
Setelah memesan makanan, aku duduk sambil menunggu Ranti datang.
Siang itu warung kembali terasa sepi. Hanya ada aku dan seorang pelanggan lain.
Tak lama kemudian, Ranti datang menawarkan minuman.
“Es teh tawar,”
“Nggih, mas,”
Ranti datang membawa minuman pesananku.
“Ranti, aku yang tadi malam WhatsApp,” ucapku memberanikan diri menyapa.
“Iya mas, aku tau,”
“Lho, tau dari mana?”
“Dari foto profil WhatsApp,”
Aku malu mendengar jawabannya.
Ranti kemudian duduk di kursi yang berhadapan denganku.
Jantungku berdetak kencang. Aku tak mampu menyembunyikan kegugupanku di depannya.
“Mas lagi liburan ya dari Jakarta,” tanya Ranti sambil menatap mataku.
“Iya, jangan panggil Mas lah, panggil Rendi aja. Kita kayaknya seumuran,” jawabku tak kuasa menatap matanya terlalu lama.
“Oh ya, kamu kelas berapa?”
“Kelas sebelas,”
“Sama dong,”
“Enaknya bisa liburan. Aku libur semester malah bantuin Ibu jualan,”
“Nanti sore Ranti ke mana? Boleh gak aku main ke sini lagi?” tanyaku masih gugup.
“Mau ngapain di sini, makan gudeg lagi?” jawab Ranti sambil tersenyum.
“Aku nanti sore ndhak kemana-mana kok. Kalau mau kita nongkrong aja di depan situ Malioboro atau Makan di angkringan yang deket Stasiun,” kata Ranti lagi.
Aku pulang dengan hati berbunga-bunga. Bahkan perjalanan naik becak terasa seperti melayang di atas awan.
Pukul tiga sore, aku bersiap pergi ke rumah Ranti yang ternyata berada di sekitar warung gudeg tempat keluarganya berjualan.
Aku menjemputnya dengan menaiki becak.
Aku mengirim pesan WhatsApp kepadanya.
“Aku sudah sampai. Aku tunggu depan gang warung,”
“Ok,” jawabnya singkat.
Tak lama kemudian, Ranti datang.
Sial!
Dia terlihat jauh lebih cantik.
Rambutnya diurai. Kali ini ia memakai kacamata dan berjalan dengan langkah yang cukup pelan, anggun, dan tenang.
“Denting gamelan kembali terdengar sayup, mengiringi setiap langkahnya.”
Aku gemetar. Aku berusaha menyembunyikan kekagumanku.
Menjelang pukul setengah lima sore, kami nongkrong di sebuah kedai minuman yang tak jauh dari tempat kami bertemu.
Di situlah obrolan kami dimulai.
Ranti mengaku ingin sekali kuliah di Jakarta selepas lulus SMA.
“Ngapain di Jakarta, sumpek,”
“Aku malah mau kuliah di Jogja. Pengen di UGM, tapi kayaknya susah ya?”
“Kamu gak usah ke Jakarta, biar aku yang ke Jogja,”
“Cieee…” sahur Ranti sambil tertawa mengejek.
Aku ikut tertawa.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah angkringan. Obrolan kami semakin mendalam. Kami bercerita tentang keseharian, sekolah, hingga keluarga masing-masing.
Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Kami pun menyudahi pertemuan.
Hari-hari berikutnya terasa berbeda.
Aku dan Ranti rutin bertemu. Kami berjalan-jalan, mengobrol, dan menikmati sore-sore sederhana di Jogja.
Malamnya, sebelum tidur, kami selalu menyempatkan diri untuk menelepon.
Entah bagaimana, dalam waktu yang begitu singkat, Ranti terasa seperti seseorang yang sudah lama kukenal.
Waktu ternyata berjalan begitu cepat.
Sehari sebelum aku pulang ke Jakarta, kami berjanji bertemu di sebuah kafe dekat Alun-Alun Kidul.
Aku tahu, setelah malam itu, kami harus berpisah.
“Aku besok pagi balik ke Jakarta,”
Ranti tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Kapan balik ke Jogja lagi?” tanyanya berbisik.
“Aku janji, setiap libur semester datang ke sini,”
Ranti tersenyum, seolah tidak percaya dengan perkataanku.
“Aku janji,”
Dia kembali tersenyum.
Kurang dari seminggu aku mengenalnya. Namun, entah mengapa, perasaan ini sudah begitu dalam.
Aku sangat berat berpisah dengan Ranti.
Air mataku tiba-tiba menetes. Aku sangat sedih harus meninggalkan cinta pertamaku.
Melihat air mataku, Ranti mengatakan jika dirinya percaya kepadaku.
Bahkan sebelum kata cinta terucap, kami sudah saling mengerti tentang perasaan masing-masing.
“Kamu tidak perlu ke Jakarta, biar aku yang datang ke Jogja,”
Ranti kembali menyandarkan kepalanya ke pundakku. Tangannya memegang tanganku.
“Nggih, Mas,”
Mendengar itu, kami berdua tertawa.
Suasana yang sempat haru kembali mencair.
“Udah jam sembilan, aku antar kamu pulang ya,”
Malam itu, perpisahan baru saja dimulai.
Dalam perjalanan menaiki becak, dia beberapa kali menatapku. Sesampainya di depan rumahnya, aku memandang wajahnya untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Jakarta.
Tanpa sadar, aku mengecup keningnya sambil berkata.
“Aku pasti tepati janji,”
Setelah sampai di rumahnya, aku berpesan agar Ranti tidak perlu mengantarku ke stasiun. Aku takut perpisahan itu akan terasa semakin berat.
Esok paginya, aku berangkat ke Jakarta.
Kereta perlahan meninggalkan Jogja.
Dari balik jendela, aku menatap kota yang baru saja memberiku sebuah cerita.
Di kota itu, aku meninggalkan banyak kenangan.
Dan sebuah janji.
Janji kepada seorang gadis bernama Ranti.
Janji yang sederhana, tetapi terasa begitu besar bagiku.
Aku akan kembali ke Jogja setiap liburan semester.







