Apakah aku jatuh cinta padanya? Tentu saja tidak! Ini mungkin hanya rasa kagum atas kejujuran yang langka di kota besar ini.
Namaku Musri. Pria tiga puluh lima tahun yang begitu betah memeluk kesendirian. Di Jakarta, karierku sedang melaju kencang. Bahkan sebelum genap tujuh tahun belerja di perusahaan yang sekarang, posisi kepala bagian sudah berhasil kurengkuh.
Status lanjangku sering kali memancing bawahan di kantor untuk bertindak jadi makcomblang. Di kampung halaman pun sama saja; Ibu tak pernah absen menagih calon menantu setiap kali kami berhubungan telepon.
“Kapan kowe mbojo, Nak? Biyung wis kepengin momong putu.”
Suara Ibu yang sarat harapan itu biasanya hanya masuk ke telinga kanan dan keluar di telinga kiri. Aku sudah terlalu jenuh mendengarnya, hingga selalu membalas dengan kalimat templat yang sama.
“Doain aja.”
Fokus hidupku saat ini amat sederhana: bekerja keras, menumpuk uang sebanyak-banyaknya, dan menikmati hidup yang membahagiakan.
Menurutku:
Cinta tak lebih dari sekadar aktivitas membuang-buang waktu, menguras dompet, dan menyedot energi yang hanya akan memangkas produktivitas.
Prinsipku:
Cinta sering kali didewakan secara berlebihan, membuat seseorang kehilangan akal sehat demi memuaskan ilusi kebahagiaan.
Ketukan di pintu ruang kerja seketika membuyarkan lamunanku.
Tok… Tok… Kreeeeekkk…
Pintu kayu itu terdorong terbuka.
“Makan siang di mana Bos?” tanya Candra, salah satu bawahanku, sembari menyengir dari balik pintu.
“Aku sudah pesen online,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan.
“Ayolah Bos, makan keluar bareng-bareng kita,” bujuk Candra pantang menyerah.
“Kalian duluan aja. Nanti lain waktu ya. Masih banyak yang harus dikerjakan,” jawabku, mengukir senyum tipis sekadar basa-basi.
Kendati dikenal kaku dan serius dalam urusan pekerjaan, aku tak pernah memaksakan ritme kerjaku kepada tim. Aku hanya menuntut mereka bekerja dengan rapi agar meminimalisasi kesalahan.
Namun, ajakan makan siang itu terus berulang hampir setiap hari.
Lama-lama, rasa tidak enak hati menyergapku. Aku akhirnya menyerah dan mengekor ajakan mereka. Berenam, kami melangkah menuju sebuah rumah makan ikan bakar yang letaknya tak jauh dari area perkantoran.
Aku memesan ikan kambing-kambing bakar bersanding sambal kecap dan es kelapa muda kesukaanku. Lidahku memang kurang bersahabat dengan rasa pedas.
Berbeda dengan yang lain, mereka justru menantang maut dengan memesan gurame bakar berselimut sambal level tertinggi.
Tak berapa lama, pesanan diantar oleh seorang pramusaji muda. Dari perawakannya, kutebak usianya belum menginjak dua puluh lima tahun.
“Selamat menikmati,” ucapnya halus. Matanya menatapku hangat, terukir senyum tipis di bibirnya.
“Terimakasih,” jawabku singkat, lantas mengalihkan pandangan.
Awalnya segalanya terasa biasa saja. Namun, aku sempat memanggil pramusaji itu kembali untuk menanyakan pesanan minukanku yang belum tampak.
Ia datang terburu-buru sambil berulang kali menyampaikan permohonan maaf.
Di balik kesibukannya, ada hal yang menarik perhatianku. Ia tampak sangat menikmati pekerjaannya. Meski lantai restoran penuh sesak oleh pengunjung yang lalu lalang, senyum tulus tak pernah lepas dari wajahnya saat melayani pelanggan.
Dalam hati, aku mengaguminya.
Usai menyantap hidangan, kami berjalan kaki kembali ke gedung kantor. Tanpa menunda waktu, aku langsung mengurung diri di ruangan untuk melanjutkan tumpukan tugas.
Saat jemariku merogoh saku celana, rasa panik mendadak menyerang. “Astaga, dimana handphone ku!”
Gawai itu pasti tertinggal di atas meja makan tadi.
Saat aku hendak beranjak keluar kantor untuk mencarinya, langkahku terhenti di lobi. Pramusaji tadi sudah berdiri di sana.
“Maaf Pak, ini hape punya bapak?” sapa pramusaji itu ramah, menyodorkan sebuah Samsung Galaxy Z Fold7.
“Iya benar. Kok kamu tahu kantor ku di sini?” tanyaku terkejut sembari menerima ponsel tersebut dari tangannya.
“Tahu lah Pak, kan temen-temen bapak sudah langganan makan di situ,” jawabnya santai dengan senyum tipis yang khas. “Tadi aku lihat juga di wallpaper-nya foto Bapak?”
Rasa lega dan gelombang terima kasih membuncah dalam diriku. Tanpa berpikir panjang, aku merogoh dompet, menarik tiga lembar uang seratus ribuan, lalu menyodorkan sebagai imbalan atas kebaikannya.
“Tidak usah Pak,” tolaknya halus sambil membungkukkan badan sedikit, lalu berbalik pergi meninggalkan lobi.
Aku bahkan belum sempat mengutarakan rasa terima kasih yang layak. Kejujurannya yang polos membentur dada, membuat benteng keangkuhan yang kubangun bertahun-tahun perlahan retak.
Keesokan harinya, aku sengaja kembali ke rumah makan ikan bakar itu. Paling tidak, aku ingin bertatap muka sejenak dengan gadis pramusaji kemarin demi mengutarakan rasa terima kasih yang tertunda.
Namun, sosoknya tak tampak di mana pun.
Aku berniat menanyakan keberadaannya pada pramusaji lain, tetapi aku menyadari satu hal: aku bahkan tidak tahu namanya.
Merasa sia-sia, aku memutuskan kembali ke kantor tanpa memesan makanan apa pun.
Pukul tujuh malam, saat jam pulang kerja tiba, aku sengaja menurunkan kaca jendela mobil ketika melintasi area rumah makan tersebut.
Mataku menangkap bayangannya di dalam. Tanpa ragu, aku menepikan kendaraan di bahu jalan.
Benar saja, itu dia.
Ada dorongan untuk mampir, tetapi suasana warung yang masih riuh oleh pengunjung membuatku ragu. Ia tampak begitu kewalahan mengurus pesanan.
Sudahlah, besok saja, batinku pasrah.
Tepat saat aku hendak menancap gas, pandangannya secara tak sengaja bergulir ke arah mobilku.
Ia tersenyum. Dan tanpa sadar, aku membalas senyumnya.
Apakah aku jatuh cinta padanya? Tentu saja tidak! Ini mungkin hanya rasa kagum atas kejujuran yang langka di kota besar ini.
Tiba-tiba, gadis itu berjalan menghampiri mobilku. Ia mengulurkan tangan melalui jendela yang terbuka sambil menyebutkan namanya.
“Suci!”
Aku menyambut uluran tangannya dengan hangat. “Musri. Terima kasih ya.”
Aku memacu mobil perlahan membelah malam. Sepanjang jalan menuju rumah, senyum tak kunjung surut dari wajahku. Ada getaran aneh, seolah ada ketukan lembut di pintu kalbuku yang paling dalam. Ketukan yang membuatku ingin membukanya lebar-lebar. Tapi ah, sudahlah!
Hari-hari berikutnya, keberadaanku di rumah makan ikan bakar itu menjadi pemandangan yang lumrah. Percakapan-percakapan kecil mulai mencairkan kekakuanku dengannya.
“Cieee… ada apa nich jadi sering makan siang di luar?” goda Candra suatu hari di kantor, memergokiku yang siap-siap melangkah keluar.
“Nggak usah ngegosip. Udah beres belum pekerjaannya?” tembakku datar tanpa ekspresi.
Candra pun tersentak sambil pura-pura sibuk kembali menatap layar komputernya.
(Bersambung…)







