“Sanggupkah aku hidup bersama denganmu, mungkinkah aku hidup tanpa ada dirimu?” – Andy Liany

BIRU tidak pernah menyangka bahwa sebuah kofisyop di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, bisa menyimpan seseorang dari masa lalu.

Bukan dalam bentuk foto. Bukan dalam bentuk surat yang terselip di antara tumpukan buku. Bukan pula dari quotes romantis. MELAINKAN dalam bentuk suara.

Suara perempuan yang dulu pernah membuatnya percaya bahwa hidup akan baik-baik saja.

Sore itu, lantunan syahdu bersahaja–hujan pun baru berhenti ketika biru mendorong pintu kofisyop di sudut jalan.

Lonceng di atas pintu berbunyi pelan: “ting”.

Sudah bertahun-tahun, sejak Biru merantau ke Surabaya, ia tidak datang ke tempat itu. Bahkan, ia sendiri lupa kenapa langkah kakinya berhenti membawa dirinya kesana.

Mungkin karena hujan. Mungkin karena sedang gusar. Atau mungkin karena ada bagian kecil dalam dirinya yang diam-diam masih mencari sesuatu yang sebenarnya sudah lama hilang.

“Manusia memang suka berpura-pura. Pose fotonya saja yang sok gagah, tetapi diam–diam masih berusaha mencari.”

Di kofisyop itu, aroma biji kopi dan pengharum ruangan bernuansa manis terus melayang-layang di udara seiring berhembusnya pendingin ruangan.

Setelah memesan kopi, Biru lantas berjalan menuju ruang outdoor–untuk sekadar menikmati suasana hingga menghisap berbatang-batang rokok kreteknya.

Ia memilih tempat duduk di sisi kanan, meski tempat itu belum sepenuhnya kering. Biru cuek. Sampai kemudian sebuah lagu terdengar dari pengeras suara kecil di pojok ruangan.

Biru terdiam. Dadanya seperti dipukul sesuatu yang tidak terlihat. 

“Akhh sial… lagu itu,” gumamnya.

Lagu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah berani ia putar. Kali ini, alm. Andy Liany seperti hidup kembali mengisi ruang ingatan Biru yang sudah lama terpendam

“Sanggupkah….”

Biru tidak sanggup melanjutkan lirik itu. Tangannya yang semula hendak mengambil sebatang rokok mendadak menggantung di udara. Ia tahu persis lagu itu membawa “siapa”.

Ya, seorang perempuan bernama Asa.

Nama yang sudah bertahun-tahun ia coba letakkan di tempat paling jauh dalam ingatannya. Nama yang pernah begitu dekat, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang hanya berani ia sebut dalam hati.

Biru tersenyum kecil.

“Masih ingat?”

Tiba-tiba ada suara datang dari belakang. Biru nge-freeze. Ada beberapa detik sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk menoleh.

WAH, Asa berdiri di sana. Kerudungnya sedikit basah. Di tangannya ada payung yang baru saja dilipat.

Wajahnya masih sama, pun aroma parfum manisnya. 

“Sa?”

Asa tersenyum.

“Hai, Biru.”

Dua kata sederhana. Tetapi bagi Biru, dua kata itu seperti membuka pintu yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat-rapat.

Mereka akhirnya duduk bersama di Kofisyop itu. 

Tidak ada yang tahu harus memulai percakapann dari mana. Mereka pernah saling mengenal sampai ke hal-hal kecil.

“Aku bertemu orang asing. Tapi anehnya aku tahu hari ulang tahunnya, rumahnya, makanan kesukaan hingga hal-hal kecil yang membuatnya tertawa.” -Mat Lila

Asa tahu Biru tidak suka kopi terlalu manis. Biru pun tahu Asa selalu menyisakan makanan di piringnya.

Asa tahu Biru akan diam ketika marah. Lagi-lagi, Biru pun tahu Asa akan tertawa lebih keras ketika sedang gugup.

Dulu mereka hafal satu sama lain. Tetapi sekarang–mereka duduk berhadapan seoerti dua orang yang baru kenalan.

“Kerja di mana sekarang?” tanya Asa.

“Masih di tempat yang sama.” jawab Biru.

“Serius?”

Biru hanya mengangguk.

“Katanya kamu mau pindah ke kantor yang di Surabaya?”

“Iya, dulu”.

“Kenapa nggak jadi?”

Biru agak salah tingkah. Ia hanya memainkan sendok kecil di dalam cangkirnya.

“Banyak pertimbangan”.

Asa mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh.

Padahal Biru inginn sekali berkata bahwa salah salah satu alasannya adalah karena dulu orang tua Asa berpesan, “Kamu kalau kerja jangan jauh-jauh. Di daerahmu saja”.

Perkataan itu cukup menyakitkan bagi Biru. Seolah menjadi pertanda bahwa Ibunda Asa tidak setuju anaknya memiliki hubungan khusus dengan Biru.

Tapi itu sudah terlalu lama. Dan beberapa kalimat memang sebaiknya mati bersama masa lalu.

“Sekarang kamu gimana?’ tanya Biru.

“Baik”.

Jawaban paling aman untuk pertanyaan yang mungkin berbahaya.

“Benar-benar baik?”

Asa tersenyum.

“Memangnya kelihatan nggak baik?”

“Kelihatan baik”.

“Ya berarti aku baik”.

Biru hanya mesam-mesem. Mereka pun tertawa kecil.

Aneh. Dulu mereka bisa tertawa hanya karena melihat satu sama lain. Sekarang, mereka tertawa karena tidak tahu harus melakukan apa.

Mentari mulai terbenam, setelah hampir satu jam berbicara tentang pekerjaan, teman lama, tempat-tempat yang pernah disinggahi dan orang-orang yang sudah tidak lagi mereka kenal.

Asa akhirnya mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak kecil. Ia meletakkannya di atas meja.

“Ini buat kamu.”

Biru menatap benda itu.

“Apa?”

“Buka aja”.

Biru membuka kotak tersebut. Di dalamnya ada sebuah kalung. Kalung sepuhan yang pernah ia kasih ke Asa ketika mereka masih menjalin sebuah hubungan.

Biru terdiam.

“Kamu masih simpan?” tanya Biru.

“Masih”.

“Kenapa dikembalikan?”

Asa menatapnya cukup lama.

“Karena sekarang sudah waktunya”.

Biru menelan ludah.

“Waktunya apa?”

“Waktunya aku mengembalikan semua yang pernah kamu kasih”.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi, rasanya lebih tajam daripada disayat sembilu, daripada perpisahan mereka dulu.

Biru menutup kotak itu.

“Saa…” ucap Biru terbata-bata.

“Aku mau menikah.”

Biru syok. Ia tidak langsung menjawab. Suara kendaraan dari jalan raya pun terdengar samar.

Orang-orang di kofisyop itu masih berbicara. Mesin kopi berdesis. Tetapi dunia tetap berjalan seperti biasa. Hanya Biru yang rasanya berhenti.

“Selamat”.

Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutnya. Asa tersenyum.

“Terima kasih” jawab Asa pelan.

“Dia orang baik?”

“Baik.”

“Sayang sama kamu?”

Asa mengangguk.

“Banget.” jawab Asa optimis.

Biru ikut mengangguk.

“Bagus”.

Ada senyum di wajahnya. Senyum yang menurutnya cukup meyakinkan–setidaknya untuk Asa.

Mereka berdiri di depan kofisyop. Hujan kembali membasahi Jalan Kembangan Raya. Asa kembali membuka payung.

“Biru…”

“Hmm?”

“Selama ini….”

Asa berhenti. Seolah sedang mencari kalimat yang paling tidak menyakitkan.

“Aku pernah mikir, kamu masih marah sama aku.”

Biru hanya menggeleng.

“Nggak.”

“Benci?”

“Nggak juga.”

“Terus?”

Biru tersenyum.

“Aku cuma belajar nggak mencari kamu lagi.”

Asa menunduk. Mungkin untuk menyembunyikan matanya. Mungkin juga karena kalimat itu terlalu berat untuk dijawab.

“Maaf,” kata Asa.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”

Biru menggeleng lagi.

“Jangan minta maaf.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu minta maaf, aku jadi harus mengakui kalau pernah ada sesuatu yang salah.”

Asa menatapnya.

“Memangnya nggak ada?”

Biru tersenyum tipis.

“Ada.”

“Lalu?”

“Kita.”

Asa terdiam.

Hujan semakin rapat. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang.

Dua orang yang pernah saling mencintai, Dua orang yang pernah yakin akan menghabiskan hidup bersama. Dan pada akhirnya, mereka belajar bahwa tidak semua yang kita perjuangkan akan menjadi milik kita.

“Aku pulang dulu ya,” tutur Asa.

Biru mengangguk

“Hati-hati.”

Asa berjalan beberapa langkah. Kemudian berhenti. Ia menoleh

“Biru.”

“Iya?”

“Sanggupkah kamu melupakanku?”

Biru tidak menjawab. Asa tersenyum kecil lalu pergi.

Setelah pertemuan tanpa sengaja itu, malamnya Biru sendirian di kamarnya sambil mencari tahu siapa pria yang akan meminang Asa.

Ketemu!

Ternyata, pria tersebut adalah anak dari seorang ‘Gus’ ternama di Jawa Timur. Biru hanya tersenyum dan kemudian merapalkan hal baik untuk mereka berdua.

Tanpa disangka, kotak kecil pemberian Asa masih berada di atas meja kamarnya. 

Ia menyalakan kotak musik box.

Entah kebetulan atau memang hidup sedang senang mempermainkannya, lagu yang sama kembali terdengar: Andy Liany – Sanggupkah. Maklum, Spotify Biru tidak premium–jadi lagu acak pun terputar dengan sendirinya.

Lagu yang tadi ia dengar di kofisyop. Lagu yang membawa Asa kembali.

Biru bersandar di kursi. Matanya menengadah ke langit-langit. Ia memikirkan pertanyaan Asa.

“Sanggupkah kamu melupakanku”

Bertahun-bertahun ia kira jawabannya adalah iya.

Ia kira melupakan seseorang berarti tidak lagi mencari kabarnya. Tidak lagi menyebut namanya. Tidak lagi membuka foto-foto lama. Tidak lagi menunggu pesan yang tidak pernah datang.

Ternyata ia salah. Melupakan bukan tentang menghapus seseorang dari ingatan. Melupakan bukan hanya tentang menghapus seseorang dari ingatan.

Melupakan mungkin hanya tentang menerima bahwa seseorang pernah menjadi bagian paling indah dalam hidup kita, lalu memilih untuk tidak menerimanya kembali.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya tidak terasa dipaksakan.

“Kalau melupakanmu berarti harus berhenti mencintaimu…,” gumamnya dalam hati.

Biru menghela napas.

“Sepertinya aku belum sanggup.”

Ia diam sebentar. Lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.

“Tapi kalau melupakanmu berarti membiarkanmu bahagia….”

Biru memandang jendela. Air tuhan turun telah berhenti.

“Kurasa tak sanggup.”

Dan malam itu, biru akhirnya mengerti. Ada orang-orang yang tidak ditakdirkan untuk tinggal.

Mereka datang hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya mencintai. Lalu pergi untuk mengajarkan bagaimana rasanya melepaskan.

Asa adalah keduanya.

Harapan yang pernah ia miliki. Dan harapan yang akhirnya harus ia relakan. 

Sampai lanjut usia, Sa!

 

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: