Mendengar pernyataan Ridwan soal Laras sebelumnya, aku memang tidak terlalu memusingkan. Namun, aku denial di jam penghujung malam. Diam-diam gadis yang aroma parfumnya itu mirip wangi lavender–terus menghantui kepalaku.

Entah kenapa, aku rasanya seperti di mabuk kepayang. “Laras.. Laras, seandainya kamu belum punya pacar ya,” gumamku dalam hati.

Maklum, setiap malam–mahasiswa seumuranku memang suka overthink. Kadang memikirkan soal masa depan dan juga tentang keluarga di kampung halaman, tapi.. belakangan ini tentang Laras.

“Arghhhhh, Laras anggun banget”.

Malam itu, aku memutuskan untuk keluar dari kamar kost yang berukuran 3×4, tujuannya hanya satu: berhenti memikirkan Laras. Atau paling tidak–dengan sebatang rokok dan secangkir kopi hitam bisa membantu menyegarkan pikiran.

Jalanan di Kota Bandung seakan tak pernah tidur, meski waktu telah menunjukan pukul 23.00 WIB. Suasana malamnya masih ramai–ditambah geberan knalpot brong dari para ngabers, menghadirkan kontras antara riuhnya kehidupan malam dan tenangnya langit di atas kota.

Aku memutuskan memesan ojek online untuk menuju salah satu kofisyop di Jalan Malabar. Sebab, rumah kopi itu buka 24 jam setelah aku cek di google maps.

“Atas nama Tyo ya? tanya pengemudi ojol.

“Iya a”.

Selama di perjalanan menuju kofisyop itu, pengemudi ojek online yang aku tumpangi seperti over sharing. Dia tiba-tiba bercerita soal anaknya hingga rumah tangganya yang sudah diujung tanduk.

“Aa saya lihat masih kuliah ya? Kalau masih muda mah cari jodoh yang se-frekuensi,” kata pengemudi ojol itu.

“Jangan kaya saya. Nyesel deh nanti pas masa tua,” tambahnya lagi.

“Hmm iya a,” jawabku cuek.

Pengemudi ojek online itu terus nyerocos walaupun aku hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat. Dia tampaknya kepo dengan kehidupanku selama di Bandung.

“Aa emang mau cari cewe yang kaya gimana, masa cowok keren kaya aa nggak punya inceran?” tanyanya lagi.

“Tapi ya balik lagi. Jangan buru-buru nikah, kalau udah punya anak nanti repot bagi waktunya”.

Aku pun mulai geram dan menjawabnya dengan nada agak ketus. Ya, bagaimana lagi–Laras sudah dipikat oleh dambaan hatinya, sementara aku masih berkutat dengan hidup yang terus berputar di Bandung, tanpa tahu akan berlabuh ke mana.

“Lagi nggak cari siapa-siapa, a. Kalau memang nanti ketemu ya ketemu. Kalau enggak, ya sudah,” jawabku ketus.

“Wah, berarti belum ada yang cocok?”

“Belum. Lagian, saya lagi nggak kepikiran ke sana,” kataku.

“Wah, yaudah jangan dipikirin a. Nanti juga ketemu sendiri,” katanya.

Aku cuma mengangguk. Tak lama kemudian, kami sampai di Kofisyop bilangan Jalan Malabar.

“Berapa, Aa?” tanyaku sambil membuka aplikasi.

Setelah membayar, aku mengucapkan terima kasih dan turun dari motor. Obrolan receh sepanjang perjalanan itu pun berakhir begitu saja. Setidaknya untuk dia. Entah kenapa, buatku, tidak sesederhana itu.

Sialnya, di kofisyop itu aku melihat seseorang yang perawakannya mirip sekali dengan Aziz. Tapi kali ini ia tak sendirian–seperti sedang berbicara dengan seorang perempuan.

Aku menghampiri pria yang mirip Aziz itu dengan langkah yang pelan, dari belakang: rambut dan gayanya sangat persis dengan sosok aslinya. DAN ya! Benar saja–dia adalah Aziz, ternyata sedang berdiskusi dengan sang pujaan.

“Woy Tyo! Ya Ampun tumben jam segini keluar. Kenalin nih, cwe gua namanya Shinta,” kata Aziz antusias.

“Halo Shinta. Cwe barunya Aziz?” tanyaku disertai gelak tawa.

“Enak aja! Cwe aing cuma satu. Satu di Braga, satu di Cihampelas,” timpal Aziz.

“Oh jadi pacar kamu banyak ya?” kata Shinta dengan nada sedikit jutek.

“Nggak lah. Kalau aku sama Tyo emang suka begitu bercandanya,” jawab Aziz.

“Udah duduk disini aja. Gabung sama kita, santai kok,” kata Aziz kepadaku.

Aku pun memesan segelas ice americano. Tapi request ke sang barista agar racikan kopi pahitnya itu ditambah 3 shot espresso. Sengaja. Setidaknya agar aku terbiasa dengan hal-hal pahit, supaya sedikit lupa tentang Laras.

“Gilaaa, ini serius pesen 3 shot americano? Yang bener aja Tyo! Lagi banyak masalah ya?” kata Aziz.

“Nggak ah, biasa aja,” jawabku cuek.

“Alah gamungkin! Pasti lagi galau kan? Gara-gara sj Laras udah punya cowo,” seloroh Aziz.

“Nih, tanya ke pacar aing, cowonya Laras gimana. Soalnya dia kenal,” kata Aziz lagi.

Shinta terdengar kaget. Ia seperti tidak menyangka jika aku ‘Pemuja Rahasia’ gadis asal Cimahi, Jawa Barat itu. Pacar Aziz pun mulai memantik obrolan.

“Beneran kamu suka Laras, Tyo?” kata Shinta.

Aku tidak menjawab pertanyaan itu, hanya memainkan ekspresi mesam-mesem. Mungkin dari situlah, Shinta membaca gerak gerik ‘salting’ pria Brebes ini.

“Ah bilang aja kalau emang suka. Mukanya gausah merah gitu,” lanjut Shinta.

“Kalau orang salting (salah tingkah, RED) tuh emang keliatan ya by (panggilan kasih sayang)” tutur Shinta kepada Aziz.

“Tyo tuh gengsi anaknya. Perawakan doang kaya anak punk, tapi aslinya Hello Kitty,” timpal Aziz.

Aku pun terbahak-bahak. Sepertinya Aziz sudah mulai paham gelagat orang sedang berbunga–tetapi bertepuk sebelah tangan.

“Laras sama si cowonya ini emang udah lama pacaran. Tapi ya gitu, kadang suka putus nyambung ga jelas,” kata Shinta.

“Cowonya ini pinter. Tapi ya namanya orang pintar pasti ada aja hal yang dikejar.”

“Jadi seolah-olah Laras nggak mendapatkan waktu. Ibaratnya bukan cemburu ke perempuan lain, tapi cemburu waktu,”
tambah Shinta.

Tyo mulai penasaran dengan Laras. Ia mencoba mengulik lebih jauh tentang Laras dengan memantik obrolan ke Shinta.

“Emang cowonya Laras siapa, Shin?” tanyaku.

Shinta menatap Aziz sebentar. Seperti meminta izin apakah obrolan ini boleh diteruskan.

“Namanya Rifki,” jawabnya.

“Rifki?”

“Iya. Anak hukum kalau nggak salah. Aku lupa jurusannya apa. Pokoknya orangnya pinter banget. Pernah ikut beberapa kompetisi juga.”

Ryo mengangguk pelan.

Entah kenapa nama itu langsung terasa menyebalkan di telinga.

Rifki.

Nama yang bahkan belum pernah kutemui orangnya, tetapi sudah berhasil membuatku merasa kalah.

“Terus Laras sama dia masih pacaran sekarang?” tanyaku.

“Nah, itu dia.”

Shinta tiba-tiba mengaduk minumannya. Tatapannya berubah.

“Katanya sih masih.”

“Katanya?”

“Iya. Aku juga nggak tahu pasti.”

Aziz yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.

“Gue juga pernah denger mereka lagi nggak baik-baik aja.”

Aku langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Katanya Rifki sibuk. Laras pernah kesel karena beberapa kali janjian batal.”

“Cuma gara-gara itu?”

“Ya bukan cuma itu mungkin.”

Shinta menghela napas.

“Laras itu sebenarnya nggak banyak menuntut. Dia cuma pengin diperhatikan. Sesederhana ditanya sudah makan atau belum. Dikasih kabar. Ditemani kalau lagi ada masalah.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa seperti sedang menjelaskan seseorang yang perlahan-lahan kukenal.
Laras.

Gadis yang selama ini hanya kukenal dari beberapa obrolan singkat, tawa kecil, dan aroma parfum lavender yang selalu tertinggal setiap kali ia lewat.

“Terus kenapa nggak putus aja?” tanyaku.
Shinta tersenyum tipis.

“Namanya juga sayang, Tyo.”

Jawaban itu membuatku kembali diam.

Benar juga.

Kalau perasaan bisa diselesaikan hanya dengan logika, mungkin tidak akan ada orang yang bertahan dalam hubungan yang membuatnya lelah.

Aku meneguk americano yang sedari tadi hanya kuminum sedikit.

Pahit. Sangat pahit. Namun, malam itu aku sadar, ternyata kopi bukan satu-satunya hal pahit yang sedang kuminum.

“Tapi gue heran sama Laras,” kata Shinta tiba-tiba.

“Apa?”

“Dia tuh sebenarnya pernah cerita ke aku kalau ada seseorang yang bikin dia nyaman.”

Tanganku berhenti mengaduk es batu.

“Siapa?”

Shinta menatapku.

“Katanya, seseorang yang sering ada di sekitarnya.”

Aku mencoba tertawa untuk menutupi rasa penasaran yang mulai menyeruak.

“Terus?”

“Dia nggak pernah nyebut nama.”

“Ciri-cirinya?”

Shinta tersenyum kecil.

“Katanya cowok itu kelihatan cuek. Kadang nyebelin. Tapi kalau sudah peduli, diam-diam perhatian.”

Aku dan Aziz saling pandang.

“Kayaknya bukan gue,” kataku cepat.

“Kenapa?”

“Ya… nggak mungkin aja.”

Shinta terkekeh.

“Belum tentu.”

Aku kembali menyeruput kopi. Untuk pertama kalinya malam itu, rasa pahit di lidahku seperti tidak terasa.

Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, ponsel Shinta tiba-tiba bergetar di atas meja.

Ia melihat layar. Ekspresinya berubah.

“Kenapa?” tanya Aziz.

Shinta tidak langsung menjawab. Ia justru menatapku.

“Tyo…”

“Kenapa, Shin?”

“Ini Laras.”

Jantungku mendadak berdegup lebih cepat.

“Kenapa dia?”

Shinta memutar layar ponselnya ke arah kami. Sebuah pesan baru saja masuk.

Laras: Shin, aku boleh cerita sesuatu nggak? Aku kayaknya udah capek sama Rifki.

Aku membeku. Aziz pun terdiam. Shinta belum selesai membaca. Pesan berikutnya masuk beberapa detik kemudian.

Laras: Aku bingung harus cerita ke siapa.
Aku menatap layar ponsel itu lebih lama dari seharusnya.

Malam yang tadinya ingin kugunakan untuk melupakan Laras, justru berakhir dengan satu kenyataan baru.

Barangkali, patah hati memang tidak selalu datang setelah memiliki seseorang.
Kadang, ia datang bahkan ketika kita belum sempat memilikinya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku mulai takut pada satu kemungkinan:

“Bagaimana jika suatu hari Laras benar-benar datang kepadaku?”

http://Jodoh di Jam 5 Sore: BAB II – Pertemuan – Cerpenkita.id https://share.google/Q8ijICVYxSfmiuu12

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: