“Senyum palsu di depan cermin meyakinkan diri bahwa semua mungkin, walau hari ini aku kalah lagi.” -Biru Baru.
Fuad menatap pantulan wajahnya cukup lama. Ada wajah yang sama seperti kemarin.
Mata yang tampak lebih tua dari usianya, rambut yang berantakan, dan garis lelah yang mulai menetap di sekitar pelipis.
Ia menarik sudut bibirnya. Tersenyum. Lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Setidaknya tiduku cukup malam ini. Besok mungkin lebih baik.”
Kalimat itu sudah terlalu sering diucapkan. Sampai-sampai Fuad tidak lagi tahu apakah ia sedang berharap atau sekadar mengulang kebiasaan.
“Aku selalu mencoba tuk menang dan tak akan pernah memenangkan semua.” – Dongker.
Ia mematikan lampu kamar mandi. Di ruang tengah, sebuah amplop cokelat masih tergeletak di atas meja.
Surat pemutusan hubungan kerja. Tiga minggu lalu. Namun rasanya seperti baru kemarin.
Hari ketika Fuad kehilangan pekerjaannya sebenarnya dimulai seperti hari-hari biasa.
Ia datang pukul delapan kurang sepuluh.
Menyeduh kopi. Menyalakan komputer. Membuka surel. Menyapa beberapa teman. Kemudian atasannya memanggil.
“Fuad, bisa ke ruangan saya sebentar?”
Tidak ada yang aneh dari kalimat itu. Fuad bahkan masih sempat bercanda dengan Reza sebelum masuk.
“Kalau gue nggak keluar lima belas menit, telepon polisi.”
Reza tertawa.
“Paling dimarahin lagi.”
Fuad mengetuk pintu.
“Masuk.”
Ada dua orang di dalam ruangan. Atasannya dan seseorang dari bagian HR. Fuad berhenti tersenyum.
Ia duduk. Beberapa menit pertama diisi dengan kalimat-kalimat yang terdengar seperti bahasa asing.
Efisiensi. Restrukturisasi. Penyesuaian. Kondisi perusahaan.
Fuad menatap kedua orang itu bergantian.
Sampai akhirnya sebuah kalimat jatuh begitu saja.
“Kami terpaksa mengakhiri hubungan kerja dengan beberapa karyawan. Dan nama Anda termasuk di dalamnya.”
Fuad tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk.
“Oh.”
Hanya itu.
“Oh.”
Seolah mereka baru saja memberi tahu bahwa kopi di pantry habis. Atasannya berkata bahwa ini bukan soal kinerja.
Bahwa Fuad adalah salah satu karyawan yang baik. Bahwa perusahaan sangat menghargai kontribusinya.
Kalimat-kalimat yang terdengar indah tetapi tidak bisa membayar listrik. Tidak bisa membayar sewa. Tidak bisa mengembalikan lima tahun hidup yang telah ia berikan.
Ketika keluar dari ruangan itu, Reza masih menunggu.
“Gimana?”
Fuad mengangkat bahu.
“Gue dipecat.”
Reza terdiam.
“Serius?”
Fuad mengangguk.
“Serius.”
Kemudian ia tertawa. Bukan karena lucu.
Hanya karena tidak tahu harus melakukan apa.
Hari itu Fuad membawa pulang satu kardus kecil. Isinya mug, beberapa buku, charger, foto lama, dan sebuah tanaman kecil yang sudah hampir mati.
Lima tahun hidupnya muat dalam satu kardus. Dan kardus itu bahkan tidak berat. Hari-hari setelahnya terasa lebih panjang.
Fuad mulai mencari pekerjaan. Ia memperbarui CV. Mengirim lamaran. Mengisi formulir. Menunggu.
Tidak ada jawaban. Ia mengirim lagi.
Menunggu. Ada yang membalas: “Terima kasih telah mengikuti proses rekrutmen. Setelah mempertimbangkan berbagai kandidat, kami memilih kandidat lain.”
Kandidat lain. Dua kata yang kemudian menjadi sangat akrab bagi Fuad. Ia mengenal kalimat itu lebih baik daripada namanya sendiri.
Kandidat lain.
Kandidat yang lebih berpengalaman. Kandidat yang lebih sesuai. Kandidat yang lebih kami butuhkan. Kandidat lain.
“Mimpi tak pernah berjalan lancar. Bajingan! Keparat!” -Dongker.
Selalu orang lain. Bukan Fuad. Suatu pagi ia dipanggil wawancara di sebuah perusahaan besar.
Fuad memakai kemeja terbaiknya.
Menyisir rambut. Menyemprot parfum yang jarang ia gunakan. Ia duduk di ruang tunggu bersama beberapa pelamar.
Seorang pria di sampingnya tampak santai.
Sepatu mengilap. Jam tangan mahal. Percaya diri. Fuad menunduk melihat sepatunya sendiri.
Ada bekas lecet di bagian depan. Ia menghela napas. Dalam hati ia berkata, “Semoga kali ini aku.” Wawancara berjalan baik.
Setidaknya menurut Fuad. Ia menjawab semua pertanyaan. Menceritakan pengalamannya. Menjelaskan kemampuannya.
Ketika keluar dari ruangan, ia bahkan sempat tersenyum. Mungkin ini jalannya. Mungkin hidup akhirnya memberinya sedikit ruang.
Tiga hari kemudian, telepon datang.
“Selamat siang, Pak Fuad.”
“Siang.”
“Kami ingin menginformasikan bahwa proses seleksi sudah selesai.”
Fuad duduk tegak.
“Baik.”
“Namun kami memutuskan untuk memilih kandidat lain.”
Sunyi. Fuad menutup mata. Lagi.
“Baik. Terima kasih.”
Telepon berakhir. Fuad meletakkan ponsel di atas meja. Di depannya ada secangkir kopi yang sudah dingin. Ia menatapnya. Kemudian tertawa kecil.
“Kandidat lain lagi.”
Keruntuhan berikutnya. Sang kekasih: Nadia. Wanita yang sudah menemaninya kurang lebih hampir 2 tahun, dan usia hubungan mereka kini memasuki perjalanan ke 3 tahun.
Belakangan, Nadia mulai melihat perubahan pada Fuad. Dulu, Fuad adalah laki-laki yang suka mengajaknya makan malam.
Sekarang ia lebih sering menghitung uang di dompet. Dulu, mereka bisa pergi menonton film tanpa memikirkan harga tiket.
Sekarang Fuad akan berkata, “Di rumah aja, yuk.”
Awalnya Nadia mengerti. Ia tahu Fuad sedang kesulitan. Tetapi kesulitan ekonomi ternyata perlahan membawa kesulitan lain.
Fuad menjadi mudah tersinggung. Ketika Nadia bertanya tentang pekerjaan, ia merasa dihakimi. Ketika Nadia menyarankan sesuatu, Fuad merasa dikasihani.
Ketika Nadia ingin pergi, Fuad merasa ia sedang membuang-buang uang.
“Kita jalan kaki aja,” kata Fuad suatu sore.
“Ke mana?”
“Ke taman.”
“Kenapa nggak naik motor?”
“Bensin mahal.”
Nadia terdiam. Kemudian tersenyum kecil.
“Ya sudah.”
Fuad tidak melihat wajah Nadia. Ia sibuk menghitung sisa uang di dompet. Suatu malam Nadia mengajaknya makan.
“Aku traktir.”
Fuad menatapnya.
“Nggak usah.”
“Kenapa?”
“Aku masih punya uang.”
“Fuad.”
“Apa?”
“Kamu nggak harus selalu gengsi.”
“Aku bukan gengsi.”
“Terus?”
Fuad diam. Nadia menghela napas.
“Aku cuma mau makan sama kamu.”
“Aku tahu.”
“Tapi kenapa semuanya jadi susah?”
Fuad menatapnya.
“Karena aku lagi nggak punya apa-apa, Nad.”
Nadia terdiam. Fuad menyesal begitu kalimat itu keluar. Namun ia terlalu gengsi untuk menariknya kembali.
“Aku nggak pernah bilang kamu nggak punya apa-apa.”
“Tapi kamu mikir begitu.”
“Aku cuma khawatir.”
“Aku nggak butuh dikasihani.”
“Aku nggak mengasihani kamu!”
Suara Nadia meninggi. Fuad diam.
Beberapa detik kemudian Nadia berkata, “Aku capek.”
Dua kata itu pernah Fuad dengar dari atasannya. Kini keluar dari mulut perempuan yang paling ia cintai.
Ia mulai menyadari bahwa mungkin hidup sedang mengulang kalimat yang sama dengan wajah berbeda.
Masalah mereka semakin banyak. Fuad tidak lagi romantis. Tidak lagi punya energi untuk membuat kejutan. Tidak lagi punya uang untuk mengajak Nadia ke tempat-tempat yang dulu mereka datangi.
Bahkan untuk membeli bunga pun ia berpikir dua kali. Nadia sebenarnya tidak membutuhkan bunga.
Ia hanya ingin merasa dicintai. Tetapi Fuad terlalu sibuk bertahan hidup untuk menyadari hal itu.
Suatu malam Nadia bertanya, “Kapan terakhir kali kamu nanya aku baik-baik aja?”
Fuad mengerutkan kening.
“Bukannya aku sering nanya?”
“Nggak.”
“Ya kalau kamu ada masalah, cerita.”
“Masalahnya aku capek harus selalu mulai duluan.”
Fuad diam. Nadia menatapnya.
“Kamu berubah.”
“Aku lagi banyak pikiran.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku juga manusia, Fuad.”
“Aku tahu.”
“Kadang aku pengin jadi tempat kamu pulang, bukan orang yang ikut kamu dorong ketika hidupmu lagi berantakan.”
Fuad tidak bisa menjawab. Karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa kesulitannya telah membuatnya lupa bahwa Nadia juga punya hati.
Mereka bertengkar malam itu. Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya bukan masalah. Tentang pesan. Tentang waktu. Tentang perhatian. Tentang uang. Tentang masa depan.
“Hari-hari esok adalah milik siapa? Sayang tampar mukaku berulang kali. Jangan berhenti. Dunia teramat sakit.” -Dongker.
Sampai Nadia akhirnya berkata, “Aku
nggak bisa terus begini.”
Fuad menatapnya.
“Aku sedang berusaha.”
“Aku tahu.”
“Aku cari kerja setiap hari.”
“Aku tahu.”
“Aku juga berusaha memperbaiki semuanya.”
“Aku tahu, Fuad.”
“Terus kamu mau apa?”
Nadia terdiam cukup lama.
“Aku mau kamu berkembang.”
Fuad tertawa getir.
“Berkembang?”
“Iya.”
“Gimana caranya?”
“Jangan selalu menyalahkan keadaan.”
“Aku nggak nyalahin siapa-siapa.”
“Kamu menyalahkan hidup.”
Fuad diam. Nadia melanjutkan, “Kamu terlalu tenggelam dalam kegagalanmu sendiri.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang Fuad kira. Karena mungkin benar. Ia memang terlalu sibuk merasa kalah sampai lupa bahwa orang lain juga sedang berjuang.
“Aku cuma lagi jatuh,” kata Fuad.
Nadia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Masalahnya, aku sudah lama menunggu kamu bangun.”
Seminggu kemudian Nadia pergi. Tidak ada laki-laki lain. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada drama. Hanya dua orang yang akhirnya menyadari bahwa cinta tidak selalu cukup.
Nadia berdiri di depan pintu rumah Fuad.
“Aku sayang sama kamu.”
Fuad menatapnya.
“Tapi aku nggak bahagia.”
Fuad mengangguk.
“Aku juga nggak.”
Nadia tersenyum sedih.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Fuad diam.
“Aku terus berharap suatu hari kamu berubah.”
“Dan sekarang?”
“Aku sadar, mungkin kamu memang seperti ini.”
Fuad menunduk. Nadia melanjutkan, “Dan mungkin masalahnya bukan kamu.”
Fuad menatapnya.
“Bukan?”
“Bukan.”
“Terus?”
Nadia menarik napas.
“Mungkin aku memang mencari seseorang yang berbeda.”
Fuad tersenyum pahit.
“Yang lebih romantis?”
Nadia diam.
“Yang lebih percaya diri?”
Diam.
“Yang lebih menarik?”
Nadia menunduk. Fuad tertawa kecil.
“Tenang. Aku ngerti.”
“Nggak sesederhana itu.”
“Tapi memang begitu, kan?”
Nadia tidak menjawab. Dan diamnya adalah jawaban. Fuad membuka pintu.
“Semoga kamu bahagia, Nad.”
Nadia menangis.
“Aku harap kamu juga.”
Kemudian perempuan itu pergi.
“Jika kau martir, aku lemah yang tak pernah menang.” -Dongker.
Dan untuk kedua kali dalam hidupnya, Fuad melihat sesuatu yang ia cintai berjalan menjauh tanpa bisa ia tahan.
Setelah Nadia pergi, hidup Fuad terasa seperti ruangan yang lampunya dimatikan satu per satu.
Ia tetap mencari pekerjaan. Namun kini tidak ada lagi yang menunggunya pulang.
Tidak ada lagi pesan:
Sudah makan?
Tidak ada lagi suara yang bertanya,
Hari ini gimana?
Tidak ada lagi seseorang yang bisa ia ceritakan ketika mendapat penolakan. Ia semakin sering tidur siang.
Semakin sering bangun tengah malam.
Semakin sering membuka situs lowongan kerja hanya untuk menutupnya lagi.
Sampai suatu hari sebuah perusahaan memanggilnya untuk tahap akhir. Fuad hampir tidak percaya. Ia melewati dua
wawancara.
Satu tes. Satu presentasi. Kemudian seorang HR menghubunginya.
“Kami tertarik dengan pengalaman Bapak.”
Fuad tersenyum.
Malam itu ia bahkan membeli makanan yang agak mahal. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. Ia makan sendirian.
Tetapi ia tidak peduli. Besok mungkin ia bekerja lagi.vBesok mungkin hidupnya berubah.vBesok mungkin ia bisa berdiri.
Namun dua hari kemudian, email masuk. Dengan berat hati kami informasikan bahwa posisi tersebut diberikan kepada kandidat lain.
Fuad membaca email itu dua kali. Tiga kali. Kemudian menutup laptop. Tidak ada air mata. Tidak ada marah. Hanya kosong.
Ia duduk di tepi kasur. Memandangi lantai.
Kemudian berkata, “Lagi.” Satu kata. Pelan. Tetapi cukup untuk menggambarkan seluruh hidupnya.
Beberapa bulan kemudian, Reza datang. Ia membawa dua gelas kopi.
“Gue dapat kerja baru.”
Fuad tersenyum.
“Selamat.”
“Di tempat yang dulu gue ceritain.”
“Bagus.”
Reza duduk.
“Lo gimana?”
Fuad mengangkat bahu.
“Masih cari.”
“Udah berapa?”
“Gue nggak ngitung.”
Reza diam.bKemudian berkata, “Gue bisa bantu.” Fuad menatapnya.
“Bantu apa?”
“Kenalin ke orang.”
Fuad tersenyum.
“Boleh.”
Tidak ada gengsi kali ini. Tidak ada kalimat bahwa ia bisa sendiri. Karena setelah semua kekalahan itu, Fuad akhirnya memahami bahwa menerima bantuan bukan berarti kalah.
Kadang-kadang justru itu satu-satunya cara untuk bertahan.
Malamnya, Fuad berdiri lagi di depan cermin. Sudah berbulan-bulan. Ia melihat wajah yang sama.
Tidak lebih tampan. Tidak lebih sukses. Tidak punya kekasih. Tidak punya pekerjaan. Tidak punya kepastian tentang masa depan.
Ia masih kalah. Bahkan mungkin lebih kalah daripada sebelumnya. Namun kali ini ia tidak memaksakan senyum.
Ia hanya menatap dirinya sendiri.
Kemudian berkata, “Hari ini, aku kalah lagi.”
Ia berhenti. Menghela napas.
“Dan nggak apa-apa.”
Untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa jujur. Fuad tidak tahu kapan hidupnya akan membaik. Ia tidak tahu kapan akan mendapatkan pekerjaan.
Tidak tahu apakah suatu hari akan menemukan seseorang yang mau tinggal. Tidak tahu apakah mimpi-mimpinya masih bisa dikejar.
Tetapi malam itu ia mengerti satu hal. Selama ini ia mengira kekalahan adalah ketika sesuatu pergi darinya.
Pekerjaan. Cinta. Kesempatan. Uang. Masa depan. Padahal mungkin kekalahan terbesar adalah ketika seseorang berhenti mencoba hanya karena terlalu sering gagal.
Fuad mengambil laptop.bMembuka situs lowongan kerja. Menatap daftar pekerjaan yang panjang.
Tangannya sempat berhenti di atas keyboard. Kemudian ia mengetik. Satu lamaran. Kirim.
Lamaran kedua. Kirim. Ketiga. Kirim.
Di luar jendela, hujan mulai turun. Pelan. Seperti seseorang yang sedang belajar mengetuk pintu tanpa berharap pintu itu langsung terbuka.
Fuad menutup laptop. Besok ia mungkin kalah lagi. Mungkin ditolak lagi. Mungkin jatuh lagi. Tetapi setidaknya malam ini ia belum menyerah.
Dan mungkin, untuk seseorang seperti Fuad–itu sudah merupakan kemenangan kecil.
Bukan kemenangan yang membuat namanya dipuji. Bukan kemenangan yang membuat orang-orang bertepuk tangan.
Hanya kemenangan sederhana seorang laki-laki yang berkali-kali kalah, tetapi masih memilih untuk bangun.
Sebab pada akhirnya, hidup tidak selalu bertanya: Berapa kali kamu menang?
Kadang hidup hanya ingin tahu: Setelah berkali-kali kalah, apakah kamu masih mau mencoba?
Fuad mematikan lampu. Tersenyum kecil. Kali ini bukan senyum palsu di depan cermin. Besok ia akan kalah lagi, mungkin. Tetapi besok belum datang.
Dan malam ini–Fuad masih punya dirinya sendiri.
“Hari ini aku kalah. Esok mungkin sama. Dan kalau memang begitu, aku akan tetap bangun.” -Mat Lila.
Baca juga: http://Rinda dan Larik yang Hilang – Cerpenkita.id https://share.google/T9EFe1EeESzPLRYZE







