Mencintai seseorang ternyata jauh lebih mudah daripada memperjuangkan seseorang untuk menjadi istri.
SEJAK malam itu, hubungan kami berubah.
Tidak ada pernyataan resmi.
Tidak ada kata-kata yang terlalu berlebihan.
Namun, ada sesuatu yang tumbuh di antara aku dan Suci.
Kami semakin sering berkomunikasi. Kadang pagi, kadang siang, bahkan sesekali sampai larut malam.
Pertanyaan sederhana seperti “Sudah makan?” perlahan menjadi kebiasaan.
Begitu juga pesan dariku yang hampir selalu sama.
“Besok kerja?”
Dan entah kenapa, aku selalu menunggu jawabannya.
Aku mulai mengenal Suci lebih jauh. Tentang keluarganya, impiannya, makanan kesukaannya, sampai kebiasaan kecil yang sebelumnya tidak pernah kuketahui.
Aku pun mulai merasa yakin.
Mungkin Suci bukan sekadar seseorang yang kebetulan kutemui di sebuah rumah makan.
Mungkin dia memang seseorang yang selama ini sedang kucari.
Namun, ketika hati sedang mulai menemukan tujuan, ternyata hidup punya cara sendiri untuk menguji keyakinan.
Suatu Minggu pagi, ketika aku sedang menikmati kopi di rumah, ponselku bergetar.
“Drrrrrr.. drrrrr… drrrr.”
Ibu menelepon.
“Musri, kapan mulih meng Purwokerto?”
Aku tersenyum.
“Ngapa, Biyung?”
“Ya pulang sik. Biyung arep ngomong.”
“Nggak ada apa-apa, kan?”
“Muluh sik.”
Nada suara Ibu membuatku sedikit curiga.
Aku terdiam.
“Soal apa?”
“Jodoh.”
Aku hampir tersedak kopi.
“Jodoh?”
“Iya.”
“Bu…”
“Ibu sama Bapak sudah punya calon.”
Aku menghela napas panjang.
Ternyata ini masalahnya.
“Musri sudah punya pilihan sendiri.”
“Sopo?”
Aku terdiam beberapa saat.
“Suci.”
Ibu tidak langsung menjawab.
“Suci sopo?”
“Kanca.”
“Teman?”
“Iya.”
“Teman dekat?”
Aku tersenyum kecil.
“Bisa dibilang begitu.”
“Sudah serius?”
Aku memandang meja di depanku.
“Serius.”
“Kalau serius, bawa ke rumah.”
Aku terdiam.
“Memangnya kenapa?”
“Karena Ibu juga punya pilihan.”
“Pilihan siapa?”
“Anaknya teman Ibu di Purwokerto.”
Aku mengusap wajah.
“Bu, Musri nggak mau dijodohkan.”
“Belum tentu kamu nggak cocok.”
“Bukan soal cocok atau tidak. Musri sudah yakin dengan Suci.”
Suara Ibu terdengar lebih tegas.
“Kalau begitu, buktikan.”
Aku tidak menjawab.
“Musri,” lanjut Ibu, “Ibu ini sudah tua. Ibu ingin melihat kamu menikah.”
Aku terdiam.
“Dan kalau bisa,” katanya lagi, “Ibu ingin cepat punya cucu.”
Aku tertawa kecil, meski sebenarnya gugup.
“Bu, kok ujung-ujungnya cucu?”
“Memangnya Ibu minta apa?”
“Ya jangan buru-buru.”
“Buru-buru bagaimana? Umurmu juga bukan anak-anak lagi. Wis telu pitu.”
Aku menarik napas.
Percakapan itu berakhir dengan satu permintaan dari Ibu.
Aku harus pulang ke Purwokerto.
Beberapa hari kemudian, aku benar-benar pulang. Aku lekas memesan tiket kereta api untuk perjalan besok pagi.
Aku menghubungi atasanku di kantor, meminta izin bekerja dari rumah untuk tiga hari.
Esoknya jam dua siang aku sampai Purwokerto. Kota yang tenang, dan penuh kenangan. Sudah sekitar satu tahun aku tak pulang kampung.
Rumah orangtuaku masih sama.
Halaman depan dengan pohon mangga yang sejak kecil selalu menjadi tempatku bermain. Kursi kayu di teras. Bahkan aroma masakan Ibu pun seperti tidak pernah berubah.
Namun, kali ini aku pulang dengan perasaan berbeda.
Aku tahu ada sesuatu yang sedang menungguku.
Malam harinya, setelah makan malam, Bapak membuka pembicaraan.
“Dadi kepriwe?”
“Kepriwe apa, Pak?”
“Soal yang dibicarakan Ibu.”
Aku tersenyum kaku.
“Musri sudah bilang. Musri nggak mau dijodohkan.”
Bapak menatapku cukup lama.
“Kenapa?”
“Karena Musri sudah punya seseorang.”
“Serius?”
“Serius.”
“Arane sapa?”
“Suci.”
Ibu yang duduk di sebelah Bapak langsung menyela.
“Kalau memang serius, kapan menikah?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya tidak mudah.
“Belum tahu, Bu.”
“Nah.”
Ibu menunjukku.
“Itu masalahnya.”
“Maksud Ibu?”
“Kalau kamu sudah yakin, jangan terlalu lama.”
Aku menunduk.
Ibu kemudian menghela napas.
“Ibu tidak memaksa kamu menikah dengan pilihan Ibu.”
Aku mengangkat wajah.
“Tapi?”
“Tapi Ibu memberi batas waktu.”
“Batas waktu?”
“Tahun ini.”
Aku terdiam.
“Kalau kamu memang yakin dengan Suci, nikahi dia paling lambat tahun ini.”
Aku menatap Ibu.
“Kalau tidak?”
Ibu menjawab dengan tenang.
“Perjodohan di Purwokerto akan Ibu lanjutkan.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bapak hanya tersenyum kecil.
“Bukan berarti kami memaksa,” katanya. “Kami hanya ingin kamu menentukan pilihan.”
“Kamu sudah mapan, cepatlah menikah dan punya momongan.”
Aku mengangguk pelan.
Malam itu aku masuk kamar dan langsung mengambil ponsel.
Nama Suci ada di layar.
Aku mengetik pesan.
“Suci, kamu masih bangun?”
Tidak lama kemudian balasan masuk.
“Masih. Kenapa, Pak?”
Aku mengetik lagi.
“Aku mau ngomong sesuatu.”
Tiga titik muncul.
Lalu pesan berikutnya.
“Serius amat. Ada apa?”
Aku menatap layar cukup lama.
Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa keluargaku baru saja memberiku pilihan yang terasa seperti sebuah ultimatum?
Akhirnya aku mengetik.
“Aku ingin hubungan kita lebih serius.”
Pesan terkirim.
Tidak ada balasan selama beberapa menit.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Kemudian ponselku bergetar.
“Maksudnya?”
Aku menarik napas.
“Aku ingin menikah dengan kamu.”
Kali ini tidak ada balasan.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Aku mulai gelisah.
Kemudian ponselku berdering.
Suci menelepon.
Aku mengangkatnya.
“Halo?”
“Pak Musri…”
“Iya?”
“Bapak serius?”
Aku tersenyum kecil.
“Serius.”
“Kenapa tiba-tiba?”
“Bukan tiba-tiba.”
Aku menatap langit-langit kamar.
“Aku sudah memikirkan ini sejak kita mulai dekat.”
Suci terdiam.
“Aku memang belum tahu kapan. Tapi aku tahu dengan siapa.”
“Dengan siapa?”
“Kamu.”
Suara Suci terdengar lebih pelan.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku juga harus bicara dengan orangtuaku.”
Aku tersenyum.
“Kalau begitu kita bicara sama-sama.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, kami tidak membicarakan film.
Tidak membicarakan makanan.
Tidak pula membicarakan rumah makan tempat kami pertama kali bertemu.
Kami membicarakan masa depan.
Tentang keluarga.
Tentang pernikahan.
Tentang keberanian mengambil keputusan.
Dan tentang sebuah cinta yang ternyata tidak cukup hanya diyakini oleh dua orang.
Karena ketika cinta mulai menuju pernikahan, ada orangtua yang harus diyakinkan.
Ada keluarga yang harus dipertemukan.
Dan ada waktu yang mulai berjalan.
Aku mematikan telepon setelah percakapan kami selesai.
Di layar ponsel, nama Suci masih terlihat.
Aku tersenyum.
Ibu memang memberiku pilihan.
Purwokerto atau Suci?
Namun bagiku, pilihan itu sebenarnya tidak pernah ada.
Aku sudah menentukan jawabannya.
Suci.
Sekarang tinggal satu pertanyaan yang belum terjawab.
Apakah kami bisa mewujudkannya sebelum tahun ini berakhir?
Karena untuk pertama kalinya, aku sadar…
Mencintai seseorang ternyata jauh lebih mudah daripada memperjuangkan seseorang untuk menjadi istri.
(Bersambung…)
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian III – Cinta Itu Suci
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian II – Selamat Malam Suci







