Untuk pertama kalinya, aku mulai membayangkan bagaimana rasanya menghabiskan malam bersama Suci.
Hari ini aku datang ke kantor agak siang dari biasanya. Semalam aku habis rapat sampai larut. Untung saja, direktur mengizinkan karyawan yang ikut rapat untuk datang terlambat.
Pagi itu, jalanan belum terlalu ramai ketika mobilku melintas di depan sebuah rumah makan yang baru hendak buka. Dari balik kaca mobil, pandanganku tiba-tiba tertuju pada sosok yang sudah kukenal.
Suci.
Dia sedang sibuk merapikan deretan meja makan. Tangannya cekatan memindahkan kursi dan memastikan meja-meja itu tertata rapi.
Entah mengapa, melihatnya membuatku spontan menekan klakson.
“Tin-tin!”
Suci yang sedang sibuk langsung menoleh. Wajahnya sempat terlihat kaget. Namun, beberapa detik kemudian, senyum kecil mengembang di bibirnya.
Senyum itu seperti sebuah isyarat. Seolah-olah dia ingin mengatakan agar aku datang lagi nanti saat jam makan siang.
Kubalas senyumnya sambil menganggukkan kepala.
Ternyata aku benar-benar datang saat jam makan siang.
Begitu duduk di tempat biasa, Suci menghampiriku sambil membawa kertas pesanan. Namun, kali ini aku tidak langsung menuliskan makanan yang ingin kupesan.
Aku justru mengambil pulpen dan menuliskan nomor ponselku.
“Aku pesan seperti biasa.”
Suci melihat tulisan di kertas itu. Senyumnya kembali merekah.
“Baik Pak.”
Lima belas menit kemudian, Suci datang mengantar pesananku. Setelah meletakkan hidangan di atas meja, dia mengambil selembar tisu makan dan meletakkannya di hadapanku.
Aku mengira tisu itu sekadar pelengkap.
Namun, ketika kulihat lebih teliti, ternyata ada tulisan di atasnya.
Sebuah nomor ponsel.
Aku menatap Suci.
Dia hanya tersenyum kecil sebelum berkata pelan,
“Bapak aja yang hubungi aku duluan.”
Aku mengangguk.
Malamnya, setelah sampai di rumah, aku memberanikan diri mengirim pesan melalui WhatsApp.
Jujur saja, pesanku terasa sangat kaku. Aku memang tak terlalu pandai berbasa-basi dengan perempuan, apalagi dengan perempuan yang baru saja memberikan nomor ponselnya.
“Selamat malam Suci. Ini aku Musri.”
Pesan terkirim.
Namun, hanya centang satu.
Aku menunggu.
Beberapa menit.
Setengah jam.
Tetap saja centang satu.
Nomornya tak aktif.
Sekira pukul sebelas malam, ponselku akhirnya berbunyi.
Suci membalas pesan WhatsApp-ku.
“Mbb. Mlm Pak… ku baru smp rmh nich,” begitu tulisan pesan balasan Suci.
Aku mengernyitkan dahi.
Ada satu kata yang membuatku benar-benar berhenti membaca.
“Mbb?”
Apa maksudnya?
Aku memang sudah cukup lama tidak mengikuti gaya bahasa anak muda di WhatsApp. Karena penasaran, akhirnya kucari tahu.
Ternyata, Mbb adalah singkatan dari “Maaf Baru Balas.”
Aku tersenyum sendiri.
Aku memang sekuno itu.
Rasanya aku masih hidup di tahun 2005, ketika pesan singkat masih ditulis dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Aku tak tahu harus membalas apa. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku hanya menulis,
“Selamat istirahat Suci.”
Tak lama kemudian, balasannya masuk.
“Mksh Pak, met istrht jg.. ;).” jawabnya.
Aku kembali menatap layar ponsel.
Entah kenapa, aku merasa percakapan lewat pesan seperti ini cukup menguras pikiran.
Sebaiknya lain waktu aku telepon saja.
Mungkin akan lebih nyambung komunikasinya. Setidaknya, tak ada kata singkatan yang membuatku harus mencari tahu artinya terlebih dahulu.
Sejak malam itu, perlahan aku mulai dekat dengan Suci. Komunikasi melalui udara berjalan lancar. Hampir setiap hari ada saja yang kami bicarakan.
Awalnya hanya obrolan ringan.
Lalu mulai bertukar cerita.
Sampai akhirnya, aku mulai memberanikan diri mengajaknya makan malam.
Suatu malam, sebelum tidur, aku menghubunginya melalui telepon WhatsApp.
Obrolan kami singkat.
“Suci. Malam Minggu sibuk gak?” tanyaku terbata-bata.
“Nggak kok. Aku kebetulan libur,” jawabnya manja.
Aku terdiam sejenak.
Suci tampaknya sudah mengerti maksudku menanyakan hal itu.
“Emangnya mau ngajak jalan ke mana?” ucap Suci menggodaku.
Aku tersenyum gugup meski dia tak bisa melihatnya.
“Enaknya ke mana?” jawabku bingung.
“Nonton aja yuk, habis itu aku ajak kulineran deh. Ada tempat makan yang enak. Viral.”
“Oke, kamu atur aja.”
“Kok aku yang atur. Kamu dong laki-laki yang ngatur,” ujar Suci sambil terkekeh.
Aku ikut tertawa.
Malam itu, setelah telepon berakhir, aku masih memandangi layar ponsel beberapa saat.
Untuk pertama kalinya, aku mulai membayangkan bagaimana rasanya menghabiskan malam bersama Suci.
Mungkin saja, pertemuan itu akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih panjang.
(Bersambung)







