Kadang-kadang, rasa suka memang tidak datang dengan suara keras. Ia tumbuh perlahan. Dari sebuah senyuman.

Sabtu akhirnya tiba.

Entah mengapa sejak pagi aku sudah merasa sedikit berbeda. Padahal, tidak ada rapat, tidak ada pekerjaan kantor yang harus kupikirkan, dan tidak ada urusan penting lainnya.

Tapi malam ini aku akan bertemu Suci.

Ini bukan lagi sekadar makan siang di rumah makan tempatnya bekerja. Bukan pula obrolan singkat melalui WhatsApp atau telepon.

Ini kencan!

Setidaknya, begitulah yang ada di pikiranku.

Aku bahkan sempat berdiri cukup lama di depan lemari. Memilih pakaian untuk pergi bersamanya terasa jauh lebih sulit daripada memilih pakaian untuk menghadiri rapat dengan direktur.

Akhirnya aku memilih kemeja sederhana dan celana panjang. Tidak terlalu formal, tapi juga tidak terlalu santai.

Sebelum berangkat, aku sempat bercermin.

“Jangan sampai kelihatan seperti mau presentasi ke klien,” gumamku sendiri.

Pukul tujuh malam aku tiba di depan rumah Suci.

Aku mengirim pesan.

“Sudah siap?”

Tak lama kemudian balasannya masuk.

“Bentar Pak. Lima menit.”

Lima menit.

Aku tersenyum.

Entah kenapa, lima menit dari Suci terasa jauh lebih lama daripada lima menit menunggu lampu merah.

Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.

Suci keluar.

Malam itu dia mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya dibiarkan terurai, dengan senyum yang membuatku seketika lupa dengan kalimat yang sudah kupersiapkan sejak tadi.

“Lama nunggu, Pak?”

“Nggak.”

“Serius?”

“Serius.”

“Padahal aku hampir dua puluh menit.”

Aku tertawa kecil.

“Berarti jam kita yang berbeda.”

Suci ikut tertawa sebelum masuk ke mobil.

“Jadi kita mau nonton apa?”

“Film yang kamu pilih.”

“Lho, kok aku lagi?”

“Katanya kamu yang tahu film bagus.”

“Hmm… ternyata nurut juga.”

Aku hanya tersenyum.

Sepanjang perjalanan menuju bioskop, kami mengobrol tentang banyak hal. Tentang pekerjaan, makanan, keluarga, sampai kebiasaan masing-masing.

Aku baru tahu kalau Suci ternyata sangat menyukai film drama.

Sementara aku lebih sering menonton film yang ringan.

“Berarti selera kita beda,” katanya.

“Kalau soal film mungkin.”

“Kalau soal apa?”

Aku menoleh sebentar.

“Soal makanan juga kayaknya.”

Suci tertawa.

“Yang penting jangan beda soal jalan pulangnya.”

Aku terdiam beberapa detik.

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat suasana di dalam mobil terasa berbeda.

Sesampainya di mal, kami membeli tiket lalu masuk ke studio.

Film dimulai.

Lampu perlahan dipadamkan.

Namun, selama beberapa menit pertama aku justru lebih sering memperhatikan Suci daripada layar di depan.

Sesekali dia tersenyum melihat adegan lucu.

Sesekali tangannya mengambil popcorn.

Aku berusaha fokus pada film.

Tapi malam itu, ternyata film bukan satu-satunya hal yang menarik perhatianku.

Setelah film selesai, kami berjalan keluar dari studio.

“Gimana?” tanyanya.

“Bagus.”

“Beneran nonton?”

Aku tertawa.

“Ya nontonlah.”

“Terus ceritanya tentang apa?”

Aku terdiam.

Suci langsung tertawa.

“Ketahuan!”

Aku ikut tertawa.

“Ya sudah. Sekarang kita kulineran.”

Kami kemudian menuju sebuah tempat makan yang cukup ramai.

Suci tampak bersemangat ketika melihat antrean panjang di depan restoran.

“Nah, ini tempatnya.”

“Kamu yakin?”

“Yakin. Viral, lho.”

Aku melihat antrean.

“Kalau viral begini, kita makannya tengah malam.”

Suci tertawa.

“Ya sudah, kita cari tempat lain.”

Akhirnya kami memilih sebuah rumah makan yang tidak terlalu ramai di sekitar kawasan itu.

Kami duduk berhadapan.

Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada suara mesin mobil, tidak ada layar bioskop, dan tidak ada kesibukan rumah makan tempat Suci bekerja.

Hanya ada kami berdua.

Suci membuka menu.

“Pesan apa?”

“Terserah kamu.”

“Pak Musri ini kalau ditanya selalu jawab terserah.”

“Karena aku percaya pilihanmu.”

Suci mengangkat wajahnya.

“Bisa aja.”

Aku tersenyum.

Makanan datang beberapa menit kemudian.

Kami makan sambil terus bercerita.

Lalu, di tengah obrolan, Suci tiba-tiba bertanya.

“Pak Musri sebenarnya kenapa sih sering datang ke tempatku?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi jawabannya tidak.

“Karena makanannya enak.”

Suci langsung menggeleng.

“Bukan itu.”

Aku tertawa kecil.

“Terus?”

“Karena aku kerja di sana?”

Aku menatapnya.

“Awalnya mungkin karena makanannya.”

“Kalau sekarang?”

Aku menarik napas pelan.

“Sekarang karena ada kamu.”

Suci terdiam.

Untuk beberapa detik, kami sama-sama tidak bicara.

Lalu senyum kecil muncul di wajahnya.

“Jadi dari awal Bapak sudah suka sama aku?”

Aku menunduk sebentar.

“Kayaknya begitu.”

“Kayaknya?”

“Ya… mungkin lebih dari kayaknya.”

Suci tertawa kecil.

Malam semakin larut.

Setelah selesai makan, kami kembali menuju mobil.

Di perjalanan pulang, suasana terasa lebih tenang daripada saat berangkat.

Namun kali ini bukan karena kehabisan bahan pembicaraan.

Justru karena kami sama-sama sedang menikmati suasana.

Ketika mobil berhenti di depan rumahnya, Suci tidak langsung turun.

“Pak.”

“Iya?”

“Terima kasih ya.”

“Untuk apa?”

“Untuk malam ini.”

Aku tersenyum.

“Sama-sama.”

Suci membuka pintu mobil, tetapi sebelum turun dia kembali menoleh.

“Besok jangan lupa makan.”

Aku tertawa.

“Kalau kamu yang masak, aku pasti datang.”

“Jangan bercanda.”

“Aku serius.”

Suci tersenyum.

“Selamat malam, Pak Musri.”

“Selamat malam, Suci.”

Pintu mobil tertutup.

Aku menunggu sampai Suci masuk ke rumah sebelum menjalankan mobil.

Malam itu, sepanjang perjalanan pulang, aku tersenyum sendiri.

Aku tidak tahu apakah Suci merasakan hal yang sama.

Tapi satu hal mulai kusadari.

Kadang-kadang, rasa suka memang tidak datang dengan suara keras.

Ia tumbuh perlahan.

Dari sebuah senyuman.

Dari sebuah klakson.

Dari selembar tisu yang berisi nomor ponsel.

Dan malam itu, mungkin satu langkah kecil telah kami buat.

Bukan lagi sekadar pelanggan dan pramusaji.

Melainkan dua orang yang mulai belajar saling mengenal.

(Bersambung..)

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: