“Yang sebaiknya kau jaga adalah diri sendiri.” -Kunto Aji

RIMA tak bisa jalan sendirian untuk membuat sekumpulan puisi. Harus diiisi kata dan larik-larik yang tersusun rapi.

Satu kata bertemu kata lain, membentuk sebuah kalimat. Satu larik bertemu larik berikutnya–melahirkan seutas makna.

Begitu pula Rinda.

Gadis asal Pemalang–Jawa Tengah itu pernah percaya bahwa hidup juga harus memiliki pasangan kata. Ada aku dan kamu. Ada pergi, ada pulang. Ada rindu, ada temu.

Dan bagi Rinda, dunia hanya punya satu kata yang paling penting: dia. Cowok itu.
Namanya Trisno.

Entah sejak kapan Trisno menjadi pusat semesta Rinda. Bangun tidur, hal pertama yang diperiksanya bukan matahari–bukan pula jemuran yang di cuci sejak malam.

MELAINKAN notif ponsel.

“Halooo sayang selamat pagi.”

“Sudah bangun, sayang?”

Jika pesan itu belum muncul, pagi Rinda terasa seperti halaman buku yang tak ada diksi. Kosong. Sunyi adalah harga mahal yang harus dibayar Rinda.

Kalau Trisno bilang, “Pakai baju yang warna cokelat, ya.”

Rinda akan memakai cokelat. Kalau Trisno bilang, “Aku suka kamu kalau rambutnya diurai.” Rinda akan membiarkan rambutnya tergerai.

Bahkan ketika hendak membeli makanan, pertanyaan pertama Rinda bukan lagi, “Aku mau makan apa?”

Tapi, “Trisno suka apa ya?”

Teman-temannya sudah berkali-kali mengingatkan. “Kamu itu pacaran atau sedang mengurus anak?”

Rinda tertawa.

“Namanya juga cinta.”

“Cinta kok hidupmu isinya dia semua?”

“Ya memang.”

Jawaban Rinda sederhana. Terlalu sederhana, sampai ia tak pernah menyadari bahwa dalam setiap jawabannya–kata AKU perlahan menghilang.

Dua tahun Rinda dan Trisno berjalan seperti puisi yang tak pernah selesai. Ada pertengkaran kecil. Ada saling memaafkan.

Ada malam-malam panjang ketika mereka berbicara lewat telepon sampai salah satu tertidur. Ada foto berdua. Ada janji-janji tentang masa depan.

Layaknya lagu Pamungkas yang berjudul “Berapa Kali Kita Akan Saling Memaafkan”. Mereka selalu begitu–selalu memaafkan satu sama lain jika ada hal yang tak sepandang. Romantis!

“Oh oh oh berapa kali kita
Akan saling memaafkan
Atas nama janji-janji
Tuk saling mengerti.” -Pamungkas

Pada masa itu, Rinda benar-benar percaya bahwa cinta yang baik adalah cinta yang berlangsung selamanya.

Ia tidak tahu, sebagian besar hal yang kita sebut selamanya ternyata hanya memiliki umur yang tidak kita ketahui.

Sampai suatu malam, Trisno mengirim pesan.

“Kita ketemu besok ya, ada yang mau aku omongin”.

Hanya satu kalimat. Namun entah kenapa, pesan tersebut malah bikin Rinda tidak bisa tidur. Cemas. Gusar. Beku. “Ah, sialan,” gumamnya dalam hati.

Akhirnya, Rinda memutuskan membalas pesan Trisno untuk bertemu di tempat biasa mereka memesan segelas americano dan matcha. Ya, di kofisyop. Di bilangan Senayan, Jakarta Pusat. Sepakat!

Trisno datang lebih dulu. Tak ada senyum. Tidak ada pelukan. Tidak ada tangan yang biasanya menggenggam jemari Rinda di bawah meja.

Hanya ada dua gelas: satunya kopi dan matcha yang perlahan mulai mencair menjadi sebuah layer putih.

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Rinda hanya mengangguk.

“Aku rasa kita cukup sampai di sini.”

Kalimta itu mungkin terdengwr sederhana.
Tidak ada petir. Tidak ada hujan. Tidak ada musik sedih seperti di film-film. Hanya satu kalimat yang membuat dunia Rinda mendadak kehilangan suara.

“Kenapa?”

Trisno menunduk.

“Aku sudah nggak bisaa.”

“Karena ada orang lain? Cwe baru itu lebih cantik dari aku?.”

“Enggak.”

“Aku salah apa?”

“Enggak ada.”

“Terus?”

Trisno diam cukup lama.

“Aku ngerasa hubungan ini stuck.”

“Kadang dua orang bisa saling sayang, tapi tetap nggak bisa terus bersama,” lanjut Trisno.

Rinda tersenyum kecil. Wajahnya tampak getir–berusaha menahan agar terlihat baik-baik saja: senyumnya pun dipaksakan.

“Jangan bercanda kamu,” kata Rinda.

“Aku serius.”

“Nggak lucu,” jawab Rinda ketus.

“Aku tahu.”

Rinda menatap laki-laki di hadapannya.
Pria yang selama dua tahun terakhir menjadi tempatnya pulang. Lalu ia tiba-tiba sadar sesuatu. Kalau Trisno bukan lagi rumahnya, ia harus pulang ke mana?

“Sejauh mana pun kalian berjalan jangan lupa tempat pulang (rumah sesungguhnya).” -Mat Lila

Hari-hari setelah itu, Rinda berjalan seperti orang yang kehilangan arah. Kehilangan kompas. Kehilangan kiblat. Berantakan!

Tapi, Rinda tetap bangun pagi. Tetap mandi. Tetap kerja. Hanya saja sekarang jarang makan dan kumpul bersama teman-teman.

Di fase itu, ponsel menjadi benda paling menyakitkan sekaligus paling sering disentuhnya. Ia membuka ruang obrolan mereka. Membaca pesan-pesan lama.

“Jangan lupa makan.”

“Aku sayang kamu.”

“Kangen.”

“Gudnite sayang. Bobo yaa, besok kerja.”

Rinda membaca buble teks itu seperti membaca batu nisan.

Kadang kala, ia mengetik pesan: “Aku kangennn.” Lalu menghapusnya. Mengetik lagi, “Kamu yakin?”. Hapus. “Bisa kita perbaiki lagi hubungan ini?”. Hapus.

Pada akhirnya, hanya satu kalimat yang tersisa di layar. “Kamu baik-baik saja?”
Namun pesan itu tidak pernah dikirim.

Rinda meletakkan ponsel. Menangis.
Bukan karena Trisno tidak menjawab.
Tetapi karena ia sadar–bahkan setelah lelaki itu pergi, hidupnya masih berputar mengelilingi seseorang yang sudah tidak menjadikannya pusat apa-apa.

Sebulan berlalu. Rinda memutuskan untuk resain dari pekerjaannya. Ia memilih pulang ke kampung halamannya di Pemalang, Jawa Tengah.

Di kala itu, Rinda mulai jarang keluar kamar. Ibunya lebih sering mengetuk pintu kamarnya untuk sekedar memastikan bahwa sang anak “baik-baik saja”.

“Makan nduk.”

“Nanti,” teriak Rinda dari dalam tanpa membuka pintu kamarnya.

“Kamu kenapa?”

“Gapapa bu.”

“Nggak usah dipikirin terus. Ibu tau kamu lagi gak baik-baik aja.”

Rinda diam.

Ia bergumam dalam hati, “Bagaimana mungkin seseorang tidak memikirkan kehilangan ketika seluruh hidupnya dibangun di atas sesuatu yang telah hilang?”

Suatu malam, Rinda membuka lemari.
Di sana masih tergantung baju biru yang dulu dibelinya karena Trisno bilang warna itu cocok untuknya.

Ia mengambil baju itu. Menatapnya lama. Lalu tertawa. Bukan karena lucu. Tapi karena baru menyadari betapa banyak keputusan dalam hidupnya yang ternyata bukan miliknya.

Baju ini dipilih karena Trisno. Kofisyop itu karena Trisno. Potongan rambut itu karena Trisno. Film itu karena Trisno. Bahkan cita-cita menikah dan punya rumah kecil di pinggir kota pun selalu dibayangkan bersama Trisno.

Lalu sekarang Trisno pergi. Dan Rinda bertanya pada dirinya sendiri: “Kalau semua tentang dia sudah hilang, aku ini siapa?”

“Apakah aku hanya sebatang tebu? yang cuma diambil manisnya, dibuang ampasnya, diambil gulanya?”.

Rinda galau! pertanyaan itu membuat dadanya sesak. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak menangis. Rinda hanya duduk di lantai kamar. Diam. Lama. Sampai akhirnya ia menjawab sendiri.

“Aku Rinda Kunaeni”.

Hanya itu. Tiga kata. Tapi malam itu, tiga kata tersebut terasa seperti awal dari kehidupan baru.

Hari berikutnya Rinda keluar rumah sendirian. Ia pergi ke kedai kopi di sudut Pemalag, Jawa Tengah. Memesan minuman yang ia suka. Bukan minuman kesukaan Trisno.

Kemudian ia pergi ke toko buku. Membeli novel yang sejak lama ingin dibacanya. Bukan buku yang pernah direkomendasikan Trisno.

Ia memotong rambut. Bukan karena Trisno menyukai rambut panjang. Bukan pula karena ingin terlihat cantik di depan lelaki lain.

Ia hanya ingin.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rinda melakukan sesuatu hanya karena ia menginginkannya. Rasanya aneh. Namun menyenangkan. Seperti menemukan kamar yang selama ini terkunci di dalam rumah sendiri.

Beberapa bulan kemudian, Rinda menemukan sebuah buku catatan lama. Di halaman pertamanya tertulis: “Untuk kamu, yang selalu menjadi alasan aku menulis.”

Rinda tersenyum. Ia mengambil pena.
Mencoret kalimat itu. Kemudian menggantinya.

“Untuk aku, yang akhirnya belajar menulis hidupku sendiri.”

Malam itu Rinda menulis puisi. Tentang kehilangan. Tentang perempuan yang pernah terlalu mencintai seseorang. Tentang rumah yang ternyata bukan berupa seseorang.

Tentang patah hati. Dan tentang bagaimana seorang perempuan akhirnya berdiri lagi setelah berkali-kali jatuh. Ia menulis satu larik. Lalu larik berikutnya. Tidak semuanya indah.

Tidak semuanya memiliki rima. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak peduli. Sebab ia mengerti. Hidup tidak selalu harus tersusun rapi seperti puisi.

Ada kata yang salah. Ada larik yang patah. Ada halaman yang terpaksa disobek. Dan ada nama yang harus dihapus agar sebuah cerita bisa dilanjutkan.

Rinda menutup buku.

Menatap langit dari jendela kamar. Dulu ia mengira kehilangan Trisno berarti kehilangan separuh hidupnya. Ternyata tidak. Ia hanya kehilangan seseorang. Sedangkan dirinya masih ada. Masih bernapas.

Masih bisa tertawa. Masih bisa mencintai.
Dan yang paling penting, masih bisa memilih ke mana hidupnya akan berjalan. Rinda akhirnya mengerti bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi pelengkap hidup orang lain.

Ia bukan rima yang menunggu sebuah kata agar terdengar indah. Ia bukan larik yang membutuhkan larik lain agar memiliki makna. Ia adalah puisi itu sendiri. Utuh.

Bahkan ketika ada beberapa larik yang hilang. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Rinda menulis namanya sendiri di halaman terakhir.

Rinda.

Tanpa Trisno. Tanpa siapa-siapa. Hanya Rinda. Dan ternyata, itu sudah cukup. Sudah cukup BAHAGIA.

“Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah. Segera mulailah syukurmu yang pasti indah, berbahagialah.” -Farid Stevy.

https://cerpenkita.id/aroma-kebahagiaan-di-ruang-tiga-kali-empat/

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: