“Bagaimana kalau perempuan yang dijodohkan itu ternyata lebih cantik dari Suci?”
PERJALANAN dari Pemalang menuju Purwokerto terasa lebih ringan dibandingkan saat aku berangkat tadi pagi.
Mungkin karena satu beban sudah berhasil kulepaskan.
Aku sudah bertemu dengan orangtua Suci.
Aku sudah menyampaikan niatku.
Dan yang paling penting, mereka tahu bahwa aku datang bukan untuk bermain-main.
Namun begitu mobil tua milik ayahku memasuki halaman rumah, perasaan lega itu perlahan berubah menjadi gugup lagi.
Aku mematikan mesin.
Diam beberapa saat di balik kemudi.
“Sekarang giliran menghadapi rumah sendiri,” gumamku.
Aku turun dari mobil dan membawa tas masuk ke rumah.
Ibu sedang duduk di ruang tengah.
Begitu melihatku, beliau langsung bertanya.
“Sudah dari mana?”
“Pemalang, Bu.”
Ibu mengangkat alis.
“Pemalang?”
Aku mengangguk.
“Ketemu orangtuanya Suci.”
Ibu terdiam.
Aku tahu, pembicaraan ini belum selesai.
Namun sebelum Ibu bertanya lebih jauh, ponselku berdering.
Nama Suci muncul di layar.
Aku tersenyum kecil.
“Permisi, Bu.”
Aku berjalan ke kamar dan mengangkat telepon.
“Halo.”
“Sudah sampai, Mas?”
“Sudah.”
“Capek?”
“Lumayan.”
“Terus… gimana?”
Aku tertawa kecil.
“Gimana apanya?”
“Perjalanannya?”
Aku menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur.
“Lancar.”
“Bener?”
“Bener.”
Suci terdiam beberapa detik.
Kemudian suaranya terdengar lebih pelan.
“Mas…”
“Iya?”
“Mas aku mau tanya, Mas sudah bertemu sama perempuan yang dijodohkan orangtua Mas?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Aku menatap langit-langit kamar.
Ternyata inilah yang sejak tadi ada di pikirannya.
“Belum.”
“Belum?”
“Iya.”
Suci menghela napas.
“Berarti nanti tetap akan ketemu?”
Aku mengusap wajah.
“Sepertinya begitu.”
Kembali hening.
Aku bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
“Suci.”
“Iya?”
“Kamu kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau enggak apa-apa, biasanya suara kamu enggak seperti itu.”
Suci tertawa kecil, tetapi terdengar hambar.
“Mas tahu enggak…”
“Apa?”
“Aku takut.”
Aku langsung duduk.
“Takut apa?”
“Takut Mas berubah pikiran.”
Aku terdiam.
Suci melanjutkan.
“Bagaimana kalau perempuan yang dijodohkan itu ternyata lebih cantik dari aku?”
Aku belum sempat menjawab.
“Lebih baik?”
Aku masih diam.
“Lebih mapan?”
Suaranya semakin pelan.
“Lebih cocok dengan keluarga Mas?”
Aku menarik napas panjang.
“Suci…”
“Bagaimana kalau ternyata dia jauh lebih baik daripada aku?”
Aku tersenyum.
“Memangnya kamu sedang ikut perlombaan?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Aku cuma takut kehilangan Mas.”
Kalimat itu membuatku diam cukup lama.
Ada ketakutan yang selama ini mungkin disimpan Suci sendiri.
Aku kemudian berkata pelan.
“Dengar.”
“Iya.”
“Aku tidak sedang mencari perempuan yang paling cantik.”
Suci tidak menjawab.
“Aku juga tidak sedang mencari perempuan yang paling kaya, paling mapan, atau paling sempurna.”
“Terus?”
“Aku mencari seseorang yang ingin aku ajak menjalani hidup.”
Suci terdiam.
“Dan orang itu kamu.”
“Mas…”
“Kalau nanti aku bertemu perempuan itu, aku akan menghormatinya sebagai orang yang dikenalkan orangtuaku.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi itu tidak berarti aku harus memilihnya.”
“Kalau ternyata dia lebih cantik?”
“Aku tetap memilih kamu.”
“Kalau dia lebih mapan?”
“Aku tetap memilih kamu.”
“Kalau orangtuamu lebih menyukainya?”
Aku menarik napas.
“Pilihan hidup tetap ada di tanganku.”
Suci tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan.
“Aku sudah datang ke rumahmu, Suci.”
“Iya.”
“Aku sudah duduk di depan Bapak dan Ibumu.”
“Iya.”
“Aku sudah bilang kepada mereka kalau aku serius dengan kamu.”
Suaranya mulai bergetar.
“Mas…”
“Aku tidak melakukan semua itu karena terpaksa.”
Aku tersenyum.
“Aku melakukan itu karena aku yakin.”
“Yakin sama aku?”
“Yakin sama kamu.”
Suci terdiam.
Aku bisa membayangkan dia sedang menunduk seperti tadi ketika aku berbicara di depan orangtuanya.
“Jadi jangan bandingkan dirimu dengan perempuan lain.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak sedang memilih berdasarkan daftar kelebihan.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau begitu, nanti aku bisa bingung sendiri.”
Suci ikut tertawa.
“Kenapa?”
“Karena kalau pakai daftar, pasti panjang.”
“Daftar apa?”
“Daftar alasan kenapa aku memilih kamu.”
Suci terdiam sesaat.
“Memangnya ada?”
“Ada.”
“Berapa?”
“Banyak.”
“Contohnya?”
Aku tersenyum.
“Kamu membuat aku nyaman.”
“Hm.”
“Kamu membuat aku ingin pulang.”
Suci terdiam.
“Kamu juga membuat aku berani melakukan sesuatu yang sebelumnya belum tentu berani kulakukan.”
“Apa?”
“Datang ke rumahmu.”
Suci tertawa kecil.
“Cuma itu?”
“Bukan.”
“Terus?”
Aku memandang kosong ke arah jendela kamar.
“Kamu membuat aku yakin bahwa umur tiga puluh lima tahun bukan alasan untuk takut mengambil keputusan.”
Suci terdiam cukup lama.
Kemudian berkata,
“Mas…”
“Iya?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Sudah memilih aku.”
Aku tersenyum.
“Belum menikah saja sudah bilang memilih.”
“Kan Mas sudah bilang.”
“Iya.”
“Jadi jangan berubah.”
Aku menjawab tanpa berpikir panjang.
“Tidak akan.”
Setelah telepon dengan Suci berakhir, aku kembali ke ruang tengah.
Ibu masih di sana.
Beliau menatapku.
“Dari Suci?”
Aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
Ibu diam sebentar.
“Tadi kamu bilang sudah bertemu orangtuanya?”
“Iya.”
“Terus?”
Aku duduk di hadapan Ibu.
“Saya menyampaikan niat saya.”
Ibu menatapku.
“Niat apa?”
Aku menarik napas.
“Saya ingin menikahi Suci.”
Ibu tidak langsung menjawab.
Wajahnya datar.
“Sudah yakin?”
“Sudah.”
“Baru kenal satu bulan.”
“Saya tahu.”
“Dan kamu sudah bertemu orangtuanya?”
“Sudah.”
“Terus mereka bagaimana?”
“Mereka menerima kedatangan saya dengan baik.”
Ibu mengangguk pelan.
Aku kemudian memberanikan diri mengatakan sesuatu yang sejak tadi ingin kusampaikan.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau memang Ibu ingin saya segera menikah…”
Ibu menatapku.
“Datanglah ke Pemalang.”
Ibu mengernyitkan dahi.
“Maksudmu?”
“Datang bersama Bapak.”
Aku menelan ludah.
“Temui orangtua Suci.”
Ibu diam.
“Kita bicarakan baik-baik.”
Aku menatap mata Ibu.
“Kalau memang Ibu ingin saya menikah tahun ini, saya sudah menemukan perempuan yang ingin saya nikahi.”
Ruang tengah mendadak sunyi.
Ayah yang sejak tadi berada di ruang belakang akhirnya ikut keluar.
“Ada apa?”
Ibu menjawab singkat.
“Musri mau menikah.”
Ayah menatapku.
“Sama Suci?”
Aku mengangguk.
“Iya, Pak.”
Ayah duduk di samping Ibu.
“Sudah bicara dengan orangtuanya?”
“Sudah.”
“Bagaimana?”
“Baik.”
Ayah mengangguk.
Aku kemudian berkata,
“Saya ingin Bapak dan Ibu datang ke Pemalang.”
“Untuk?”
“Melamar Suci.”
Ibu menatapku beberapa detik.
Aku menunggu.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada penolakan.
Hanya wajah datar seperti biasanya.
Akhirnya Ibu berkata,
“Kalau itu pilihanmu, ya sudah.”
Aku sedikit terkejut.
“Serius, Bu?”
Ibu mengangguk.
“Serius.”
Ayah bahkan hanya tersenyum tipis.
“Yang penting kamu menikah.”
Aku tertawa kecil.
“Bapak enggak tanya macam-macam?”
“Umurmu sudah tiga puluh lima.”
Ayah menggeleng.
“Bapak justru heran kenapa kamu belum menikah sampai sekarang.”
Ibu menyambung,
“Daripada setiap kali pulang cuma ditanya kapan menikah, lebih baik sekarang sekalian.”
Aku tertawa.
“Berarti Bapak sama Ibu setuju?”
Ibu menjawab datar.
“Kalau kamu yakin, kami ikut.”
Aku terdiam.
Ternyata selama ini yang kukira akan menjadi perdebatan panjang justru berakhir sederhana.
Aku menghela napas lega.
“Terima kasih, Bu.”
Ibu berdiri.
“Besok kita cari waktu.”
“Untuk apa?”
“Untuk ke Pemalang.”
Aku tersenyum.
“Secepat itu?”
Ibu menatapku.
“Kamu sendiri yang bilang ingin menikah.”
Aku tertawa.
“Iya juga.”
Ayah ikut berdiri.
“Jangan terlalu lama.”
“Kenapa, Pak?”
“Kalau sudah ada yang cocok, segera diselesaikan.”
Aku mengangguk.
“Insyaallah.”
Malam itu aku kembali ke kamar.
Aku mengambil ponsel.
Ada satu pesan dari Suci.
“Mas sudah bicara sama orangtua?”
Aku tersenyum.
Jari-jariku mengetik.
“Sudah.”
Beberapa detik kemudian balasannya muncul.
“Bagaimana?”
Aku sengaja tidak langsung menjawab.
Aku mengetik:
“Bapak dan Ibu mau datang ke Pemalang.”
Pesan berikutnya langsung masuk.
“Serius?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
Aku tersenyum.
“Untuk menemui Bapak dan Ibumu.”
Lama tidak ada balasan.
Kemudian muncul satu pesan.
“Mas…”
“Iya?”
“Aku deg-degan.”
Aku tertawa.
“Aku juga.”
“Kalau benar-benar datang gimana?”
“Ya kita sambut.”
“Terus?”
Aku mengetik pelan.
“Terus kita lanjutkan langkah yang sudah kita mulai.”
Suci membalas dengan satu kata.
“Bismillah.”
Aku memandangi layar ponsel.
“Bismillah.”
Malam semakin larut.
Namun untuk pertama kalinya, aku tidak lagi bertanya kepada diriku sendiri tentang siapa jodohku.
Pertanyaan itu sudah memiliki jawaban.
Bukan karena aku tahu siapa perempuan yang akan diperkenalkan orangtuaku.
Bukan pula karena aku tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuan kedua keluarga.
Aku hanya tahu satu hal.
Ketika hati sudah menemukan tempatnya, terkadang pilihan hidup tidak lagi membutuhkan banyak perbandingan.
Dan tempat itu, bagiku, adalah Suci.
Namun aku sadar, perjalanan ini belum selesai.
Justru setelah kedua orangtuaku bersedia datang ke Pemalang, semuanya akan menjadi lebih nyata.
Bukan lagi sekadar aku dan Suci.
Bukan lagi sekadar dua orang yang baru sebulan saling mengenal.
Kini ada dua keluarga yang akan dipertemukan.
Dan mungkin, sebentar lagi, pertanyaan yang selama ini selalu menghantuiku akan berubah menjadi pertanyaan lain.
Bukan lagi:
“Yang mana jodohku?”
Melainkan:
“Kapan kita menikah?”
(Bersambung..)
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian V – Antara Purwokerto dan Pemalang
Witing Tresno Jalaran Soko Kuliner: Bagian IV – Purwokerto atau Suci?
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian III – Cinta Itu Suci
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian II – Selamat Malam Suci
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian I – Pramusaji Itu Suci







