“Saya lebih takut kalau saya diam, sementara saya sudah tahu apa yang saya inginkan.”
PAGI itu, setelah percakapan panjang dengan Suci, aku masih memikirkan satu hal.
Orangtuanya.
Aku baru mengenal Suci sekitar satu bulan. Rasanya baru kemarin aku melihatnya membawa hidangan dari dapur, tersenyum ketika aku memanggilnya, lalu perlahan-lahan menjadi seseorang yang selalu kutunggu kabarnya.
Sekarang, perempuan itu memintaku bertemu dengan orangtuanya.
Bukan sekadar berkenalan.
Suci ingin aku menyampaikan maksudku secara langsung.
Serius.
Menikahinya.
Aku membaca kembali pesan terakhir darinya.
“Kalau memang serius, datang ke Pemalang.”
Aku tersenyum gugup.
Aku membalas:
“Serius?”
Tidak lama kemudian, jawabannya masuk.
“Serius. Aku ingin Pak Musri kenal sama Bapak dan Ibu.”
Aku menarik napas panjang.
“Sekarang?”
“Kalau Pak Musri berani.”
Aku tertawa kecil.
“Lha kok nantang?”
“Bukan nantang. Aku cuma ingin tahu, Mas serius atau cuma karena sedang takut dijodohkan.”
Aku terdiam.
Kalimat itu tepat mengenai pikiranku.
Memang benar, beberapa hari terakhir aku sedang berada di tengah tekanan keluarga.
Tetapi perasaanku kepada Suci bukan lahir karena tekanan itu.
Aku sudah menyukainya sebelum Ibu menyebut nama calon dari Purwokerto.
Aku mengetik pelan.
“Aku datang.”
Balasan Suci hanya satu kalimat.
“Ditunggu.”
Suci akan berangkat sore nanti ke kampung halamannya.Saat ini aku masih berada di Purwokerto.
Eso paginya aku membuka pesan di ponselku. Tentu saja itu dari Suci.
“Pak, aku sudah sampai.”
“Alhamdulillah.”
“Jadi datang?”
Aku melihat jam.
Perjalanan dari Purwokerto menuju Pemalang bukan sesuatu yang terlalu sulit.
Yang sulit justru keberanianku.
Aku akan duduk di depan dua orang yang belum pernah kukenal sebelumnya.
Ayah dan ibu perempuan yang baru satu bulan mengisi hari-hariku.
Dan aku akan mengatakan kepada mereka bahwa aku ingin menikahi anak mereka.
Aku mengambil napas dalam-dalam.
“Jadi.”
Aku mengirim pesan.
“Aku berangkat sekarang.”
Beberapa detik kemudian.
“Beneran?”
“Iya.”
“Pak Musri…”
“Kenapa?”
“Aku jadi deg-degan.”
Aku tersenyum.
“Aku juga.”
“Kalau begitu kita deg-degan bareng.”
Aku mengambil tas.
Sebelum berangkat, aku sempat berdiri di depan cermin.
Kemeja.
Celana panjang.
Sepatu.
Tidak ada yang istimewa.
Tapi entah mengapa, hari itu aku merasa seperti hendak menghadapi sebuah wawancara kerja paling penting dalam hidupku.
Bedanya, kali ini yang dipertaruhkan bukan pekerjaan.
Melainkan masa depan.
Perjalanan menuju Pemalang terasa lebih panjang dari biasanya. Aku pergi dengan mobil tua milik ayahku. Kijang Doyok begitu mobil itu disebut.
Pikiran ku melayang sepanjang jalan. Entah karena aku terus membayangkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diajukan orangtua Suci.
“Kerja di mana?”
“Sudah berapa lama kenal Suci?”
“Orangtua kamu bagaimana?”
“Kenapa ingin menikahi Suci?”
Pertanyaan terakhir yang paling membuatku gugup.
Apa jawabanku?
Karena aku mencintainya?
Karena aku merasa nyaman bersamanya?
Karena aku yakin?
Semua benar.
Tapi apakah itu cukup bagi orangtua seorang perempuan?
Aku tidak tahu.
Ketika akhirnya sampai di Pemalang, aku menghubungi Suci.
“Sudah sampai mana?”
“Sudah masuk Pemalang.”
“Rumahku gampang dicari.”
“Patokannya?”
Suci mengirim lokasi.
Aku melihat layar ponsel cukup lama.
Semakin dekat, jantungku semakin tidak karuan.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di gang rumah Suci.
Aku memarkirkan mobil di halaman masjid tak jauh dari rumahnya.
Diam.
Tidak langsung turun.
Aku melihat rumah Suci dari balik kaca.
Rumah sederhana dengan halaman yang tak begitu luas.
Di teras tampak seorang perempuan sedang duduk.
Mungkin ibunya.
Di sampingnya seorang laki-laki membaca sesuatu.
Mungkin bapaknya.
Aku menelan ludah.
“Ya Allah…”
Aku seorang lelaki congkak bisa begitu gerogi menghadapi ini.
Aku mengusap wajah.
“Bismillah.”
Aku turun dari kendaraan.
Belum sampai pagar rumahnya, Suci sudah keluar.
Dia tersenyum ketika melihatku.
Namun aku justru semakin gugup.
“Kok pucet?” tanyanya.
“Bukan pucet.”
“Terus?”
“Deg-degan.”
Suci tertawa kecil.
“Mas biasanya kan berani.”
Aku menahan nafas saat Suci memanggilku “Mas.” Biasanya “Pak.”
“Kenapa Mas? Kok diam?”
Suci mendekat.
“Kenapa?”
Aku melihat ke arah ruang tamu.
“Itu Bapak sama Ibu?”
Suci mengangguk.
“Iya.”
Aku menarik napas.
“Ya sudah.”
Suci tersenyum.
“Ayo.”
Kami masuk ke rumah.
Suci memperkenalkanku.
“Pak, Bu, ini Mas Musri.”
Aku menundukkan kepala sedikit.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Bapak Suci memandangku.
Aku membalas pandangannya dengan senyum yang mungkin terlihat terlalu kaku.
“Silakan duduk, Nak.”
“Iya, Pak.”
Aku duduk di samping Suci.
Tanganku terasa dingin.
Ibu Suci tersenyum.
“Jadi ini Musri?”
“Iya, Bu.”
“Kerja di Jakarta?”
“Iya, Bu.”
“Sudah lama kenal Suci?”
Aku terdiam sebentar.
“Kurang lebih satu bulan, Bu.”
Ibu Suci terlihat sedikit terkejut.
“Satu bulan?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Bapak Suci meletakkan gelas tehnya.
“Baru satu bulan sudah datang ke sini?”
Aku tersenyum gugup.
“Iya, Pak.”
“Berarti serius?”
Aku menoleh kepada Suci.
Dia tersenyum kecil.
Kemudian aku kembali menatap Bapaknya.
“Insyaallah, Pak.”
Ruangan mendadak hening.
Aku tahu inilah saatnya.
Aku tidak boleh datang ke rumah ini hanya sebagai seorang laki-laki yang ingin berkenalan.
Aku harus menyampaikan maksudku.
Aku menarik napas.
“Pak, Bu…”
Keduanya menatapku.
“Sebenarnya kedatangan saya ke sini bukan hanya untuk berkenalan.”
Suci menunduk.
Aku melanjutkan.
“Saya ingin menyampaikan sesuatu secara langsung kepada Bapak dan Ibu.”
Bapak Suci mengangguk.
“Silakan.”
Aku menelan ludah.
“Saya memang baru mengenal Suci sekitar satu bulan.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi selama waktu itu, saya merasa semakin yakin dengan dia.”
Ibu Suci mendengarkan dengan serius.
“Saya tidak ingin hubungan ini hanya berhenti sebagai hubungan dekat tanpa tujuan.”
Aku menarik napas.
“Karena itu, saya datang ke sini untuk menyampaikan bahwa saya serius dengan Suci.”
Bapak Suci masih diam.
Aku melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar.
“Kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, saya ingin membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan.”
Suci menatapku.
Aku bisa melihat senyum kecil di wajahnya.
Namun aku masih menunggu jawaban dari kedua orangtuanya.
Bapak Suci akhirnya tersenyum.
“Musri…”
“Iya, Pak?”
“Bapak menghargai keberanianmu datang ke sini.”
Aku mengangguk.
“Tapi Bapak juga perlu bertanya.”
“Silakan, Pak.”
“Kenapa Suci?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan.
Aku memandang Suci.
Kemudian kembali menatap Bapaknya.
“Karena saya merasa menjadi diri saya sendiri ketika bersama Suci.”
Bapak Suci diam.
“Saya tidak bisa menjanjikan hidup kami akan selalu mudah.”
Aku melanjutkan.
“Tapi saya bisa berjanji akan berusaha menjaga dia, menghormatinya, dan bertanggung jawab kalau nanti dia menjadi istri saya.”
Ibu Suci menghela napas pelan.
“Masih muda sekali hubungan kalian.”
“Saya tahu, Bu.”
“Tidak takut terlalu cepat?”
Aku tersenyum.
“Takut, Bu.”
Suci menoleh kepadaku.
Aku melanjutkan.
“Saya lebih takut kalau saya diam, sementara saya sudah tahu apa yang saya inginkan.”
Bapak Suci tersenyum.
“Jawabanmu cukup jujur.”
Aku mengangguk.
“Saya tidak ingin memberikan janji besar yang belum tentu bisa saya tepati. Saya hanya ingin Bapak dan Ibu tahu bahwa saya datang dengan niat baik.”
Suasana yang semula tegang perlahan mencair.
Ibu Suci kemudian tersenyum kepada putrinya.
“Suci, kamu yakin?”
Suci mengangguk.
“Yakin, Bu.”
“Baru satu bulan.”
“Iya.”
“Tidak terlalu cepat?”
Suci tersenyum.
“Kalau soal waktu, mungkin cepat. Tapi soal perasaan, aku sudah yakin.”
Aku menunduk.
Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa hangat.
Percakapan berlangsung cukup lama.
Bapak Suci bertanya tentang pekerjaanku.
Tentang keluargaku.
Tentang orangtuaku di Purwokerto.
Aku menjawab sebisaku.
Tidak ada yang kututupi.
Aku bahkan menceritakan bahwa Ibu sedang menjodohkanku dengan seseorang di Purwokerto.
Suci terkejut.
Bapaknya juga terlihat serius.
“Jadi itu yang membuat kamu datang ke sini?”
Aku menggeleng.
“Bukan, Pak.”
“Lalu?”
“Saya datang karena Suci.”
Aku menatap perempuan di sampingku.
“Masalah keluarga saya hanya membuat saya semakin sadar bahwa saya harus menentukan pilihan.”
Bapak Suci mengangguk pelan.
“Dan pilihanmu Suci?”
Aku tersenyum.
“Iya, Pak.”
Suci menunduk malu.
Ibu Suci tersenyum melihat kami.
“Kalau begitu, jangan main-main.”
Aku mengangguk.
“Insyaallah, Bu.”
Menjelang sore, aku berpamitan. Aku bejanji esok atau lusa akan datang kembali bersama kedua orangtuaku.
Bapak Suci menepuk bahuku pelan.
Aku kemudian menoleh kepada Suci.
Dia berdiri di samping ibunya.
Senyumnya terlihat berbeda.
Ada rasa lega di sana.
Ketika kami sudah berada di luar rumah, aku menghela napas panjang.
Suci tertawa.
“Kenapa?”
“Legaaa.”
“Takut?”
“Banget.”
“Padahal cuma kenalan.”
Aku menatapnya.
“Buat kamu mungkin cuma kenalan.”
“Buat Mas?”
“Buat aku seperti sidang skripsi.”
Suci tertawa.
Aku ikut tertawa.
Kemudian dia berkata pelan.
“Terima kasih sudah datang.”
Aku mengangguk.
“Aku yang harus berterima kasih.”
“Kenapa?”
“Karena kamu sudah memberiku kesempatan untuk datang.”
Suci terdiam.
Aku menatapnya.
“Sekarang aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kalau aku memang ingin memperjuangkanmu, aku harus berani mengetuk pintu rumahmu.”
Suci tersenyum.
“Dan?”
“Dan ternyata pintunya dibuka.”
Dia tertawa kecil.
Kami berdiri beberapa saat di halaman.
Matahari mulai turun.
Aku kemudian bersiap kembali ke Purwokerto.
Namun sebelum berangkat, Suci tiba-tiba berkata.
“Mas.”
“Iya?”
“Kalau nanti orangtua Mas bertanya, bilang apa?”
Aku tersenyum.
“Bilang aku sudah menemukan jawabannya.”
“Jawaban apa?”
Aku menatapnya.
“Purwokerto atau Suci?”
Aku tersenyum.
“Suci.”
Untuk pertama kalinya sejak pulang ke Purwokerto, aku merasa jauh lebih tenang.
Karena kini aku tidak hanya membawa keyakinan dari dalam hati.
Aku sudah mengatakannya di depan orangtua Suci.
Dan perjalanan menuju pernikahan itu baru saja dimulai.
Masih ada satu rumah lagi yang harus kuhadapi.
Rumahku sendiri.
Karena setelah berhasil meyakinkan orangtua Suci, aku harus pulang ke Purwokerto dan menghadapi pertanyaan yang jauh lebih berat.
Apakah Ibu akan menerima pilihanku?
Aku belum tahu.
(Bersambung…)
Witing Tresno Jalaran Soko Kuliner: Bagian IV – Purwokerto atau Suci?
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian III – Cinta Itu Suci
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian II – Selamat Malam Suci
Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian I – Pramusaji Itu Suci







