Umar merasa sebuah hubungan baru saja dimulai dengan cara yang begitu tragis.

Hari-hari berikutnya terasa sedikit berbeda.

Setiap Umar datang mengantarkan makanan, keduanya mulai saling menyapa.

“Sudah datang, Mas?”

“Sudah. Kamu belum makan?”

“Belum. Kan nungguin Mas,”

Umar tersenyum mendengar celotehan Desy.

Percakapan mereka selalu singkat.

Kadang hanya senyum.

Kadang hanya anggukan kepala.

Tetapi justru karena singkat itulah Umar semakin penasaran.

Umar berpikir, apa perkenalan ini hanya cukup sampai saling sapa?

Pada Sabtu pagi, setelah berpikir cukup lama, Umar akhirnya memberanikan diri mengajak Desy menonton Teater Bintang di Planetarium, Taman Ismail Marzuki di bilangan Menteng.

Desy menerima ajakan itu.

Umar datang menjemput menggunakan sepeda motor metik ke rumahnya di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Sebelum nonton mereka makan siang terlebih dahulu di warung makan Padang.

Tidak ada sesuatu yang luar biasa hari itu.

Mereka kemudian menonton Teater Bintang. Setelahnya mereka duduk di trotoar kawasan Taman Ismail Marzuki sambil menikmati jajanan kaki lima. Mereka berbincang tentang sekolah, pekerjaan, keluarga, dan cita-cita.

Umar bercerita tentang kehidupannya setelah terkena PHK.

Desy pun bercerita tentang rencananya setelah lulus sekolah.

Dari percakapan sederhana itulah keduanya mulai merasa nyaman.

Waktu berjalan cepat.

Tanpa terasa, malam telah tiba.

Sekitar pukul sembilan, Umar mengantar Desy pulang.

Namun, perjalanan malam itu berubah menjadi pengalaman yang tidak pernah mereka bayangkan.

Tiba-tiba motor Umar terasa berat.

Ia menepi.

Ban belakang ternyata kempes.

Umar menarik napas panjang.

“Kenapa motornya mas?”

“Kayaknya ban belakang bocor.”

Desy melihat jam di ponselnya.

“Kamu naik ojek aja ya pulangnya biar nggak kemalaman?”

Umar kemudian memesan ojek daring untuk mengantarkan Desy pulang.

Setelah memastikan Desy mendapatkan kendaraan, Umar mulai mendorong motornya.

Jalanan malam di kawasan Gunung Sahari semakin sepi.

Beberapa menit kemudian, dari arah belakang terdengar suara beberapa sepeda motor mendekat.

Umar menoleh.

Tiga pria berhenti tidak jauh darinya.

Salah seorang turun dan mengancam Umar dengan senjata tajam.

“Serahkan motor dan HP!”

Umar membeku.

Ia tahu dirinya tidak mungkin melawan.

Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan telepon genggam dan kunci motornya.

Para pelaku kemudian membawa kabur sepeda motor tersebut meski dalam kondisi ban belakang bocor.

Umar hanya bisa berdiri di pinggir jalan, menatap lampu kendaraan mereka yang semakin menjauh.

Malam itu, bukan hanya motor dan telepon genggam yang hilang.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Desy, Umar merasa sebuah hubungan baru saja dimulai dengan cara yang begitu tragis.

Dan ia belum tahu bahwa kejadian malam itu akan menjadi ujian pertama bagi kedekatan mereka.

“Kencan pertamaku, berujung tragis. Aku ikhlas jika ini menjadi ujian,”

Baca Juga Bagian 1: https://cerpenkita.id/surat-cinta-di-ompreng-mbg-bagian-1-terpesona-pada-hantaran-pertama/

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: