“Sambutlah matahari yang terbit di ufuk timur, oh tenang saja generasi baru telah tiba,” kata The Jeblogs.
Niskala, siswa paling cerdas di salah satu SMA Swasta di Jakarta Barat. Sejak kelas I hingga III SMA, selalu menduduki peringkat 5 besar. Namun, ia tidak pernah benar-benar merasa puas.
Sebab, tekanan dari orang tua untuk selalu sempurna membuatnya selalu gelisah. Cita-cita dia sederhana: ingin menjadi Perawat. Tujuannya pun sangat mulia, ingin selalu merawat orang tuanya di masa tua.
Ujian Akhir Semester (UAS) kali ini adalah penentu bagi Niskala. Apakah ia bisa mendapatkan beasiswa untuk mengejar mimpinya menjadi seorang perawat, atau harus mengubur cita-citanya yang mulia.
Hari itu, aula ujian terasa dingin. Maklum terdapat empat unit AC di ruangan 8×8 meter untuk kapasitas 28 orang siswa. Suasananya pun hening–hanya ada suara gesekan pensil.
Soal fisika kali ini sangat sulit, bahkan untuk orang sekelas Niskala. Tiga soal terakhir membuatnya buntu. Keringat dingin hingga aura kegelisahan terus menyelimuti perempuan yang suka sekali dengan warna hijau toska itu.
Saat ia menghela napas, matanya tak sengaja menangkap gerakan dari bangku depan. Malik–gebetan Niskala, yang juga dikenal sering mendapat nilai pas-pasan, dengan cepat menyembunyikan secarik kertas kecil dibawah mejanya. Niskala tahu itu contekan.
Saat pwngawas ujian, Bu Melly (guru matematika), berbalik ke arah pintu kelas, Malik tak sengaja menjatuhkan kertas ujiannya itu ke lantai. Kertas itu tak sengaja berada di samping sepatu New Balance 530 Beige Ivory-nya itu.
“Wah kesempatan emas nih,” gerutu Niskala dalam hati.
Di kertas itu mungkin ada tiga soal yang memusingkannya. Jantung Niskala berdebar. Jika ia menggunakan kesempatan emas itu, mungkin bakal mendapat nilai sempurna dan beasiswa pasti aman. Di lain sisi, ia menghianati prinsip kejujuran yang dijunjung.
Niskala cemas. Ia menunduk, sambil jemarinya menyentuh kertas punya Malik yang jatuh. Saat akan mersih, tiba-tiba ia teringat pesan dari sang Ibunda.
“Percuma mendapat nilai sempurna kalau caranya curang. Percayalah, Nak, nilai seperti itu tidak akan pernah membuatmu merasa tenang.”
Nsikala buru-buru menarik tangannya. Ia sempat menangkap tatapan Malik yang penuh kecemasan. Kertas kecil itu masih tergeletak tak jauh darinya. Namun, Niskala tidak menyentuhnya.
Dengan ujung sepatunya, ia justru mendorong kertas tersebut hingga meluncur dan berhenti di bawah meja pengawas. Malik tersentak. Wajahnya seketika memucat, tetapi ia tahu apa yang hendak dilakukan Niskala. Tanpa berkata apa-apa, ia kembali mengerjakan ujiannya.
Niskala pun melakukan hal yang sama. Ia menatap lembar jawabannya dan mengembuskan napas pelan. Tiga soal terakhir masih kosong, dan mungkin akan membuat nilainya berkurang.
Kali ini, ia tidak peduli. Niskala lebih memilih pulang dengan nilai yang tidak sempurna daripada membawa nilai tinggi yang diperoleh dengan kecurangan.
Dua pekan berlalu. Hasil UAS akhirnya dibagikan kepada seluruh siswa. Niskala memperoleh nilai 95. Lima poin terpaksa melayang karena tiga soal yang sengaja ia kosongkan. Meski begitu, ia masih bertahan di posisi teratas, walaupun kali ini jaraknya dengan siswa di bawahnya hanya terpaut sedikit.
Setelahnya, Bu Melly memanggil Nsikala untuk menghampirinya.
“Kala, Ibu yakin sebenarnya kamu mampu mengerjakan tiga soal yang kosong itu, kan?” tanyanya dengan nada lembut.
Niskala hanya mengangguk, Bu Melly pun tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya.
“Waktu ujian kemarin, Ibu melihat ada selembar kertas yang jatuh di dekat tempat dudukmu. Ibu juga melihat kamu tidak mengambilnya. Kamu justru menendangnya menjauh dari mejamu,” Bu Melly menatap Niskala bangga.
“Mungkin nilaimu kali ini bukan seratus, tetapi kejujuran yang kamu tunjukkan jauh lebih bernilai daripada nilai sempurna.”
Niskala terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan lima poin bukanlah sesuatu yang perlu ia sesali. Namun, di hari pengumuman itu tiba-tiba perutnya terasa sakit
Rasanya seperti kram menstruasi–pelan, kemudian mengencang di bagian bawah perut hingga membuatnya tanpa sadar memeluk pinggang sendiri. Sesekali nyerinya menjalar ke punggung bawah, membuat tubuhnya ingin berbaring dan beristirahat.
Bu Melly menatap Niskala dengan penuh kasih, namun juga panik karena tiba-tiba Niskala meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Kamu kenapa? Ayo ke UKS ibu antar. Kayanya kamu mau mens deh,” kata Bu Melly.
Di ruang UKS, Niskala bergumam dalam hati. “Rasa kaya gini biasanya pertanda mau menstruasi sih”. Tanpa disadari ia ikut larut dalam rasa sakit itu, Niskala tertidur pulas hingga akhirnya dibangunkan oleh penjaga UKS untuk segera pulang berobat.
“Niskala, bangun, ayo bangun. Ini aku bikinin teh manis hangat. Habiskan ya, abis itu kamu pulang aja gapapa. Izin. Pasti dibolehkan kok,” kata penjaga UKS.
Niskala pun menuruti kata penjaga UKS. Ia meminta surat izin pulang lebih cepat ke wali kelas dan guru piket yang berada di depan tangga kelas. Sambil dibantu teman sekelasnya, ia pulang dengan keadaan muka pucat.
Sesampainya di rumah, Niskala muntah-muntah di toilet kamarnya. Orang tua Niskala belum pulang kerja. Ia sendirian di mahligai kawasan Puri Indah itu. Rasa mual dan sakit terus menyelimuti.
Ia kemudian membereskan bekas muntahannya itu. Kemudian berbaring di atas kasur dengan kondisi lemas. Tiba-tiba Niskala teringat, kejadian ini mungkin akibat dirinya berbagi keintiman dengan Malik beberapa bulan lalu.
Niskala membuka ponselnya. Tanpa disadari sudah banyak notifikasi pesan singkat yang belum sempat terbaca. Ada chat dari Malik hingga orang tuanya yang hanya sekadar menanyakan kondisi.
“Kala, kamu kenapa? Sakit apa?,” pesan Malik.
“Nak, kalau sudah pulang sekolah tolong belikan semprotan nyamuk di toko depan rumah ya,” pesan sang Ayah.
“Kala, kamu jangan lupa makan. Nanti typus mu kambuh kalau telat makan,” pesan Ibunda.
“Bestie, kamu kenapa? Nanti pulang sekolah anak-anak ke rumahmu ya. Mau pada jenguk,” pesan Dinda, teman sebangku Niskala di kelas.
Satu persatu pesan tersebut dibalasnya. Ia menyanggupi permintaan sang ayah dan Ibunda, namun tidak dengan pesan Malik dan Dinda.
“Bubbs, aku boleh minta tolong? Kalau udah pulang beliin tespek ya, kamu jangan bilang anak-anak. Diem-diem aja,” balas Niskala ke Malik.
“Aman kok gapapa. Besok aja ya kalau mau ke rumah, aku mungkin mau istirahat dulu. Perutku masih sakit,” jawab Niskala kepada Dinda.
Melihat balasan pesan dari sang pujaan, Malik terdiam. Mukanya langsung pucat, tangannya gemetar dan pikirannya jauh bertebangan kemana-mana. Bahkan sempat nge-freeze.
Bel pulang sekolah bunyi. Malik bergegas mencari tespek, ia menolak ajakan sejawatnya untuk sekadar ngopi seusai pulang sekolah. Sepeda motor di gas kencang, Malik pun menuju apotek terdekat dan rumah Niskala.
Sesampainya di apotek, Malik kebingungan karena tespek memiliki banyak macamnya. Ia cuma bilang ke apoteker: “Pokoknya yang paling bagus kak. Buat kakak saya itu soalnya,” jawab Malik tergesa.
Akhirnya tespek itu terbeli. Malik menancapkan gas motor sekencang-kencangnya. Buru-buru. Agar Niskala merasa aman, toh Malik juga seorang pria yang memegang prinsip “tanggung jawab”.
“Bubbs, Asalamualaikum,” ucap Malik di depan pintu rumah Niskala.
“Masuk aja. Aku di kamar,” teriak Niskala.
Mereka berdua pun akhirnya mencoba tespek tersebut. Niskala dengan langkah lemasnya menuju kamar mandi, sambil dituntun Malik.
“Aaaaaaa Malik! Yaampun,” jerit Niskala di balik kamar mandi.
“Kenapa bubbs?” tanya Malik.
“Hasilnya garis dua. Aku positif hamil, aaaaaaa,” teriak Niskala.
Malik mencoba bersikap tenang. Tanpa disadari keringat dingin pun megucur dari jidatnya. Malik menghampiri Niskala dengan pancaran wajah yang sudah tak karuan.
“Yaudah tenang dulu, bubbs. Aku pasti tanggung jawab. Ayo coba kita dokter buat mastiin lagi,” kata Malik.
Niskala hanya mengangguk. Sambil sesekali ia membayangkan raut wajah orang tuanya ketika mendengar kabar ini. Mereka berdua langsung bergegas siap-siap menuju klinik terdekat.
Singkatnya, dokter kandungan bilang bahwa Niskala telah mengandung di usia kandungan 5 bulan. Mereka berdua kaget. Niskala menetaskan air mata, sementara Malik hanya terdiam pasrah.
“Kamu harus nikahin aku. Aku udah kasih semuanya ke kamu, kamu harus tanggung jawab bubbs,” ucap Niskala.
“Hmm iyaa. Aku pasti tanggung jawab,” timpal Malik.
Mereka pun meninggalkan klinik tersebut dengan rincian biaya yang cukup besar. Namun tak masalah bagi Malik, ia memang anak bengawan dari Kediri, Jawa Timur–ayahnya merupakan manager bos rokok di kawasan itu.
Bagi Niskala, sekarang semuanya berbeda. Ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Kram ringan yang muncul membuatnya kembali menyadari bahwa tubuhnya sedang bekerja keras menyesuaikan diri dengan kehamilan itu.
Ia mengusap perutnya perlahan. Rasa tidak nyaman itu belum sepenuhnya hilang, tetapi di balik nyerinya terselip perasaan yang sulit dijelaskan–campuran antara lelah, cemas, dan bahagia karena untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan bahwa tubuhnya sedang berubah.
“Sebaik-baiknya Pria, adalah pria yang bertanggung jawab” -Mat Lila.
Cita-cita Niskala menjadi perawat seketika runtuh. Ia menyesali perbuatan itu. Namun, ada secercah harapan di generasi baru yang sebentar lagi akan tiba. Malik bertanggung jawab dan akhirnya mereka berdua menikah.
“Harapan harapan runtuh, nafas sisa separuh, cita-cita boleh saja mati tetapi Rangga punya jalan sendiri”







