Pagi pukul 09.00 WIB, mimpi buruk ku terputus oleh bunyi alarm dari handphone yang aku selipkan di bawah bantal. Sial aku kesiangan lagi berangkat kuliah. Padahal alarm sudah aku setel di pukul 08.00 WIB. Ya itu memang sudah jadi kelaziman buatku yang tinggal seorang diri di rumah kost pria.
Aku kuliah di salah satu universitas negeri di Bandung jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Sekarang aku sudah semester 4. Bisa dibilang saat ini sedang masa transisi dari mata kuliah umum ke mata kuliah inti.
Setiap harinya, aku bergegas mandi untuk pergi ke kampus hanya dengan 5 siraman gayung. Ya, maklumlah cuaca Bandung lumayan dingin berbanding terbalik dengan asal kelahiranku: Brebes, Jawa Tengah.
Sebagai mahasiswa ‘kusut’ pada umumnya, aku berjalan kaki dari rumah kos menuju kampus. Letak kos ku memang tak jauh dari kampus.
Terkadang bertemu dengan mahasiswa lain saat berjalan menuju kampus, sering juga hanya basa basi jika berpapasan dengan mahasiswi yang berjalan searah.
“Tyo! Bengong aja kalau jalan, nanti ketabrak lho,” seloroh mahasiswi yang menegurku di jalan.
“Hmm iya,” sahutku.
Basa basi seperti itu yang kerap kali dilontarkan seorang mahasiswi jika bertemu dengan ku di jalan. Namun aku terus mengabaikan celotehan itu sambil terus berjalan dengan tatapan kosong dan muram.
Mungkin mereka menegur karena perawakan ku yang berandalan. Rambut gondrong dengan poni yang menutupi mata, kaos hitam dan celana jeans robek. Selalu menjadi pusat perhatian orang ketika berjalan di hamparan trotoar Kota Bandung.
Di gang samping kampus, kawan sejawat dan senior-senior sudah menunggu di bangku warung kopi.
“Woi Tyo! Sini ngopi dulu. Halah, jam mata kuliah udah lewat,” kata Adam salah satu teman kelas ku.
Nongkrong, ngopi dan berdiskusi di warkop, menjadi kelaziman dari semester awal hingga sekarang. Hal-hal itulah yang menjadikan ku sering mengulang mata kuliah. Begitu pula dengan mereka. Sama-sama malas dengan bangku perkuliahan.
Saat aku memesan sebatang rokok ke penjaga warung, aku mencium aroma minyak wangi yang tak biasa.
Seorang perempuan melintas di hadapanku. Sambil mendekap buku dia berjalan dengan langkah slowmotion. Mataku terbelalak, mulutku mengangak. Gila susuk apa yang dia pakai, sampai pria sekeras batu sepertiku jadi lumer kayak keju mozzarella.
“Biasa aja tuh mata,” kata Ridwan senior ku,
“Baru liat awewe geulis lu?” Timpal Adam.
“Baru liat tuh cewek? Anak fakultas mana tuh?” Tanya ku.
“Itu si Laras anak Akuntansi. Kenapa, naksir lu?” Jawab Adam.
“Ach, enggak biasa aja,” sahut ku.
“Oh iya gue lupa, lu kan gak seneng sama cewek ya,” celetuk Ridwan, disambut gelak tawa.
“Garing lu!” Timpalku.






