Hari itu, Arman sedang membersihkan gudang rumah ayahnya.

Rumah itu sudah lama tidak ditempati.

Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, Arman hanya datang sesekali untuk membersihkan debu dan memeriksa barang-barang lama.

Usianya sudah tiga puluh tahun.

Ia punya pekerjaan tetap, apartemen kecil di tengah kota, mobil yang masih dicicil, dan kehidupan yang dari luar terlihat baik-baik saja.

Namun ia sendiri tahu, hidupnya tidak seperti yang pernah ia bayangkan ketika masih kecil.

Di sudut gudang, Arman menemukan sebuah kotak kayu.

Kotak itu kecil dan penuh debu.

Ia membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa mainan lama, kartu ulang tahun, foto keluarga, dan sebuah amplop berwarna kuning.

Tulisan di depannya membuat Arman terdiam.

“Untuk Arman.”

Di bawahnya tertulis:

“Buka saat umur 30 tahun.”

Arman tertawa kecil.

Ia langsung mengenali tulisan itu.

Tulisan tangannya sendiri.

Ia duduk di lantai.

Dengan hati-hati, ia membuka amplop tersebut.

Di dalamnya ada selembar kertas yang sudah menguning.

Tulisan anak-anak memenuhi halaman.

“Untuk aku yang umur 30 tahun.”

Arman tersenyum.

Ia mulai membaca.

“Halo, Man.”

“Kalau kamu membaca surat ini berarti kamu sudah tua.”

Arman tertawa.

“Tiga puluh tahun itu tua banget.”

Ia menggeleng.

Anak kecil itu ternyata tidak tahu bahwa tiga puluh tahun ternyata terasa sangat cepat.

Ia melanjutkan membaca.

“Semoga kamu sudah jadi orang hebat.”

“Semoga kamu punya rumah besar.”

“Semoga kamu punya mobil.”

“Semoga kamu punya pekerjaan yang bagus.”

“Semoga kamu bisa membelikan Ibu rumah.”

“Semoga Ayah masih sehat.”

Arman berhenti.

Matanya tertuju pada kalimat terakhir.

“Semoga Ayah masih sehat.”

Tangannya perlahan turun.

Ia menatap lantai.

Ayahnya sudah meninggal.

Ia kembali membaca.

“Kalau Ayah masih ada, jangan bikin Ayah sedih.”

“Kalau Ibu masih ada, jangan bikin Ibu menangis.”

“Jangan terlalu sering marah.”

“Jangan jadi orang pelit.”

“Kalau punya uang, bantu orang.”

“Kalau punya waktu, main sama keluarga.”

Arman tersenyum.

Beberapa nasihat terdengar lucu.

Beberapa terasa terlalu sederhana.

Tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya mulai terasa berat.

Di bawah daftar itu terdapat tulisan yang lebih panjang.

“Aku punya beberapa impian.”

“Pertama, aku mau jadi orang kaya.”

“Kedua, aku mau punya rumah dengan halaman besar.”

“Ketiga, aku mau punya keluarga yang bahagia.”

“Keempat, aku mau membawa Ayah dan Ibu jalan-jalan.”

“Kelima, aku mau punya banyak waktu.”

Arman membaca kalimat terakhir dua kali.

Punya banyak waktu.

Ia melihat sekeliling gudang.

Rumah itu sunyi.

Dindingnya masih menyimpan foto-foto lama.

Ada foto dirinya bersama ayahnya ketika berumur tujuh tahun.

Ada foto ketika ia menerima sepeda pertamanya.

Ada foto saat ia lulus sekolah.

Dan ada satu foto yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Dirinya yang masih kecil duduk di pundak ayahnya.

Keduanya tertawa.

Arman menundukkan kepala.

Ia baru sadar sesuatu.

Hampir semua impian dalam surat itu sudah ia lupakan.

Ia mengejar pekerjaan.

Mengejar uang.

Mengejar jabatan.

Mengejar apartemen.

Mengejar kehidupan yang menurutnya akan membuatnya bahagia.

Tetapi ia tidak pernah benar-benar punya waktu.

Ia jarang pulang.

Jarang menelepon orang tua.

Bahkan pada tahun terakhir ayahnya sakit, Arman hanya datang beberapa kali.

Setiap kali ayahnya mengajaknya berbicara, Arman selalu menjawab hal yang sama.

“Nanti, Yah. Aku lagi sibuk.”

Sampai akhirnya tidak ada lagi kata “nanti.”

Arman kembali melihat surat itu.

Masih ada satu bagian yang belum dibaca.

Di bagian paling bawah terdapat tulisan yang lebih kecil.

Ia membacanya perlahan.

“Kalau kamu sudah membaca ini, berarti kamu gagal melakukan satu hal yang paling penting.”

Arman terdiam.

Ia membalik kertas itu.

Tidak ada tulisan lain.

Ia kembali melihat bagian bawah.

Kalimat itu memang berhenti di sana.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada petunjuk.

Tidak ada jawaban.

Hanya satu kalimat.

Arman merasa penasaran.

Apa yang gagal ia lakukan?

Menjadi kaya?

Tidak.

Ia punya cukup uang.

Punya rumah?

Tidak juga.

Ia memang belum punya rumah besar, tetapi hidupnya cukup.

Menjadi orang hebat?

Mungkin.

Tetapi rasanya bukan itu.

Ia membaca surat itu lagi dari awal.

“Semoga Ayah masih sehat.”

“Semoga kamu punya keluarga yang bahagia.”

“Semoga kamu punya banyak waktu.”

Arman mulai memahami sesuatu.

Anak berusia sepuluh tahun itu tidak pernah meminta dirinya menjadi sempurna.

Ia hanya ingin dirinya memiliki waktu untuk orang-orang yang dicintainya.

Arman menutup mata.

Ia teringat telepon terakhir dari ayahnya.

Saat itu Arman sedang berada di kantor.

Ayahnya menelepon.

“Man, kapan pulang?”

“Minggu depan, Yah.”

“Jangan terlalu sibuk.”

“Iya.”

Ada jeda panjang.

Kemudian ayahnya berkata,

“Kalau sempat, pulanglah.”

Arman menjawab,

“Iya, Yah.”

Ia tidak pernah pulang minggu berikutnya.

Ayahnya meninggal tiga hari kemudian.

Arman membuka mata.

Air mata jatuh di pipinya.

Sekarang ia mengerti.

Hal paling penting yang gagal ia lakukan bukan menjadi kaya.

Bukan memiliki rumah.

Bukan mencapai kesuksesan.

Ia gagal meluangkan waktu.

Waktu untuk ayahnya.

Waktu untuk ibunya.

Waktu untuk dirinya sendiri.

Dan yang paling menyakitkan, ia baru menyadarinya setelah waktunya tidak bisa dikembalikan.

Arman memegang surat itu erat-erat.

“Kenapa kamu nggak tulis jawabannya?” gumamnya.

Seolah anak kecil di dalam surat itu sedang menertawakannya.

Kemudian ia melihat bagian belakang kertas.

Ada satu kalimat yang sebelumnya tertutup lipatan.

Arman membukanya.

Tulisan itu berbunyi:

“Tapi kalau kamu gagal, jangan pura-pura tidak tahu.”

Arman menangis.

Ia tertawa kecil di antara air matanya.

“Anak kecil macam apa kamu?”

Tidak ada yang menjawab.

Hanya suara angin dari jendela gudang.

Malam itu Arman membawa surat tersebut ke kamarnya.

Ia meletakkannya di atas meja.

Kemudian ia mengambil selembar kertas baru.

Ia mulai menulis.

“Untuk Arman, 50 tahun.”

Tangannya berhenti.

Ia berpikir cukup lama.

Lalu menulis:

“Kalau kamu membaca ini, semoga kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

“Jangan terlalu sibuk.”

“Jangan menunggu punya banyak uang untuk bahagia.”

“Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa pentingnya mereka.”

“Dan kalau masih ada orang yang kamu cintai, telepon mereka.”

Arman berhenti menulis.

Ia mengambil ponsel.

Ada satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi.

Ibu.

Ia menekan tombol panggil.

Telepon berdering beberapa kali.

Kemudian terdengar suara dari seberang.

“Halo?”

Arman diam.

Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus berkata apa.

Lalu ia tersenyum sambil menangis.

“Bu.”

“Iya, Man?”

“Besok aku pulang.”

Ibunya terdiam.

Kemudian terdengar suara tertawa kecil.

“Kenapa tiba-tiba?”

Arman melihat surat yang ditulisnya ketika berumur sepuluh tahun.

“Enggak kenapa-kenapa.”

Ia menarik napas.

“Aku cuma kangen.”

Malam itu, Arman memasukkan surat masa kecilnya ke dalam kotak kayu.

Di sampingnya ia letakkan surat baru.

Ia menutup kotak tersebut.

Kemudian menulis tanggal di bagian atasnya.

“Untuk Arman, 20 tahun kemudian.”

Kali ini ia tidak menulis daftar impian.

Ia hanya menulis satu kalimat.

“Kalau kamu membaca ini, semoga orang-orang yang kamu cintai masih bisa kamu peluk.”

Karena akhirnya Arman mengerti.

Anak kecil berusia sepuluh tahun itu ternyata tidak pernah benar-benar meminta masa depan yang hebat.

Ia hanya meminta satu hal sederhana.

Jangan sampai hidupmu terlalu sibuk sampai lupa menjalaninya.

Bagikan:

Tags: