Arga selalu percaya bahwa kamera tidak pernah berbohong.

Manusia bisa salah melihat.

Ingatan bisa berubah.

Mata bisa tertipu oleh cahaya.

Tetapi kamera, menurutnya, hanya menangkap apa yang benar-benar ada di depan lensa.

Itulah alasan Arga menjadi fotografer.

Ia menyukai kenyataan bahwa setiap jepretan meninggalkan bukti.

Pada suatu pagi di bulan Oktober, Arga berangkat sendirian melakukan perjalanan keliling Jawa.

Ia ingin memotret tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang.

Stasiun kecil.

Desa tua.

Jalanan kosong.

Bangunan yang hampir ditinggalkan.

Perjalanan itu awalnya berjalan biasa.

Hari pertama ia tiba di sebuah kota kecil di lereng gunung.

Menjelang sore, ia mengambil beberapa foto jalan utama.

Salah satunya memperlihatkan seorang anak sedang berlari mengejar layangan.

Arga tidak memperhatikan apa pun saat mengambil gambar.

Malamnya, ia memindahkan foto ke laptop.

Ia memperbesar gambar itu.

Lalu berhenti.

Di ujung jalan, berdiri seorang perempuan.

Rambutnya panjang.

Ia mengenakan pakaian putih sederhana.

Wajahnya tidak terlihat karena membelakangi kamera.

Arga mengernyit.

Ia yakin tidak ada siapa pun di sana ketika mengambil foto.

Ia bahkan masih mengingat lokasi tersebut.

Jalan itu kosong.

Mungkin seseorang memang lewat dan ia tidak memperhatikan.

Arga tidak terlalu memikirkannya.

Sampai keesokan harinya.

Ia pergi ke sebuah stasiun tua.

Kereta terakhir baru saja berangkat ketika Arga mengambil beberapa foto peron.

Di salah satu foto, perempuan yang sama muncul.

Kali ini berdiri di ujung peron.

Arga memperbesar foto.

Perempuan itu masih membelakanginya.

Jaraknya kira-kira lima puluh meter.

Arga mulai merasa tidak nyaman.

Ia menoleh ke arah peron.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia mengambil kamera.

Melihat melalui jendela bidik.

Kosong.

Ia menurunkan kamera.

Tetap kosong.

Arga mencoba mengambil foto lagi.

Klik.

Ia melihat hasilnya.

Perempuan itu ada di sana.

Berdiri di ujung peron.

Arga langsung pergi.

Malam itu ia tidak bisa tidur.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Mungkin kamera mengalami gangguan.

Mungkin ada pantulan.

Mungkin ia terlalu lelah.

Tetapi pada hari berikutnya, hal itu terjadi lagi.

Dan lagi.

Perempuan itu muncul di setiap foto.

Di pasar tradisional.

Di depan hotel.

Di sebuah jembatan.

Di jalan pegunungan.

Selalu sama.

Rambut panjang.

Pakaian putih.

Wajah tidak terlihat.

Dan yang paling aneh, ia selalu berada lebih dekat.

Pada foto pertama, jaraknya sekitar seratus meter.

Kemudian lima puluh meter.

Lalu tiga puluh.

Kemudian sepuluh.

Arga mulai berhenti mengambil foto.

Ia hanya menggunakan kamera ponselnya untuk memastikan.

Namun perempuan itu tetap muncul.

Tidak terlihat oleh mata.

Hanya muncul dalam hasil foto.

Pada malam kelima, Arga duduk di kamar hotel sambil membuka seluruh foto.

Ia mengurutkannya berdasarkan waktu.

Foto pertama.

Perempuan itu jauh.

Foto kedua.

Lebih dekat.

Foto ketiga.

Lebih dekat lagi.

Arga memperbesar foto terakhir.

Jantungnya berdegup keras.

Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat sedikit wajah perempuan itu.

Kulitnya pucat.

Matanya tertutup.

Bibirnya sedikit terbuka.

Seperti sedang berbisik.

Arga memperbesar lagi.

Di belakang perempuan itu ada sesuatu yang membuat tubuhnya kaku.

Sebuah papan nama hotel.

Hotel tempat ia sedang menginap.

Arga langsung berdiri.

Ia menatap pintu kamar.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia kembali melihat foto.

Perempuan itu berdiri di depan hotel.

Padahal foto tersebut baru ia ambil sepuluh menit sebelumnya.

Dari dalam kamar.

Arga menelan ludah.

Ia mengambil kamera dan mengarahkannya ke pintu.

Klik.

Ia melihat hasilnya.

Perempuan itu berdiri di lorong.

Tepat di depan kamar Arga.

Arga menjatuhkan kamera.

Ia tidak berani membuka pintu.

Malam itu ia duduk di sudut kamar sampai pagi.

Ketika matahari terbit, ia keluar.

Lorong kosong.

Tidak ada perempuan.

Tidak ada apa-apa.

Arga memutuskan pulang.

Ia tidak peduli lagi dengan perjalanan itu.

Ia memasukkan semua barang ke mobil dan meninggalkan hotel.

Namun di tengah perjalanan, ia berhenti di sebuah pom bensin.

Ia ingin memastikan semua foto di kameranya sudah terhapus.

Ia membuka galeri.

Satu foto baru muncul.

Arga mengerutkan kening.

Ia tidak ingat mengambilnya.

Foto itu memperlihatkan dirinya sendiri sedang tidur di kamar hotel.

Diambil dari sudut ruangan.

Arga menatap layar.

Tangannya gemetar.

Ia memperbesar foto.

Di belakang dirinya, berdiri perempuan itu.

Sangat dekat.

Hanya beberapa langkah dari tempat tidurnya.

Wajahnya kali ini terlihat jelas.

Arga membeku.

Ia mengenali wajah itu.

Bukan karena pernah bertemu.

Tetapi karena wajah itu terlihat sangat mirip dengannya.

Bukan perempuan itu yang berubah.

Wajah Arga di foto yang berubah.

Perempuan itu memiliki wajah Arga.

Versi yang lebih pucat.

Dengan mata tertutup.

Arga mematikan kamera.

Ia keluar dari mobil.

Udara terasa berat.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri.

“Siapa kamu?”

Tidak ada jawaban.

Ia kembali ke mobil.

Kamera tiba-tiba berbunyi.

Klik.

Arga terkejut.

Ia melihat layar.

Sebuah foto baru saja diambil.

Padahal kamera berada di kursi penumpang.

Foto itu memperlihatkan Arga sedang berdiri di samping mobil.

Ia memandang layar dengan napas tertahan.

Di belakangnya tidak ada siapa-siapa.

Arga hampir merasa lega.

Kemudian ia memperbesar foto.

Di pantulan kaca mobil, perempuan itu terlihat.

Berdiri tepat di belakang Arga.

Kali ini wajahnya menghadap kamera.

Mulutnya terbuka.

Seolah sedang mengatakan sesuatu.

Arga memperbesar bagian bibir.

Hanya ada tiga kata.

“Jangan lihat belakang.”

Arga membeku.

Ia tidak berani menoleh.

Tangannya perlahan meraih kamera.

Ia membuka kamera depan.

Layar menampilkan wajahnya sendiri.

Kosong.

Tidak ada perempuan.

Arga mengembuskan napas.

Kemudian ia menyadari sesuatu.

Di layar kamera, ada bayangan hitam tepat di belakang kepalanya.

Bukan perempuan.

Sebuah tangan.

Tangan pucat yang perlahan menyentuh bahunya.

Arga menjatuhkan kamera.

Ia berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya jalan raya.

Mobil.

Pom bensin.

Dan langit yang mulai mendung.

Arga mengambil kamera itu lagi.

Layar kameranya retak.

Namun masih menyala.

Ada satu foto terakhir.

Foto yang baru saja diambil.

Arga membukanya.

Foto itu memperlihatkan jalan dari belakang.

Mobilnya terlihat di kejauhan.

Tetapi Arga tidak ada di dalamnya.

Di tengah jalan berdiri perempuan itu.

Ia tidak lagi jauh.

Ia berdiri tepat di depan lensa.

Wajahnya kini terlihat jelas.

Dan untuk pertama kalinya, perempuan itu tersenyum.

Di sudut foto terdapat tanggal.

Tanggal hari itu.

Namun ada sesuatu yang lebih mengerikan.

Waktu pengambilan foto tertulis:

23.59.

Arga melihat jam tangannya.

Pukul 15.17.

Ia menatap layar kamera lagi.

Waktu pada foto berubah.

23.59.

23.58.

23.57.

Angka itu terus mundur.

Arga mencoba mematikan kamera.

Tidak bisa.

Layar berkedip.

Sebuah foto baru muncul.

Perempuan itu semakin dekat.

23.56.

Foto berikutnya.

Lebih dekat.

23.55.

Arga mulai berlari.

Ia tidak tahu ke mana.

Yang ia tahu, setiap kali kamera berbunyi, sosok perempuan itu semakin dekat.

Klik.

23.54.

Klik.

23.53.

Klik.

23.52.

Arga terus berlari sampai napasnya habis.

Namun suara kamera tetap terdengar dari dalam tasnya.

Klik.

Klik.

Klik.

Sampai akhirnya ia berhenti.

Di depannya ada sebuah toko kecil.

Kaca depannya memantulkan tubuhnya.

Arga menatap pantulan itu.

Sendirian.

Ia menghela napas lega.

Kemudian kamera di dalam tas berbunyi untuk terakhir kalinya.

Klik.

Arga perlahan mengeluarkan kamera.

Ia melihat foto tersebut.

Foto itu memperlihatkan dirinya berdiri di depan toko.

Tetapi di pantulan kaca, tidak ada Arga.

Hanya seorang perempuan berpakaian putih.

Berdiri di tempat ia seharusnya berada.

Perempuan itu tersenyum.

Dan di bawah foto terdapat tulisan yang tidak pernah ia buat:

“Terima kasih sudah mengambil fotoku.”

Sejak hari itu, Arga tidak pernah ditemukan.

Mobilnya ditemukan terparkir di sebuah jalan kecil dua hari kemudian.

Kameranya masih berada di dalam.

Polisi memeriksa seluruh isinya.

Tidak ada foto kecelakaan.

Tidak ada foto terakhir Arga.

Tidak ada foto dirinya menghilang.

Hanya ada ratusan foto perjalanan.

Stasiun.

Jalan.

Hotel.

Gunung.

Dan seorang perempuan yang tidak pernah ada.

Foto terakhir membuat polisi bingung.

Seorang anggota polisi memperbesar gambar itu.

Perempuan tersebut berdiri sangat dekat dengan kamera.

Wajahnya jelas.

Namun ketika foto diperbesar lagi, terlihat sesuatu di belakang perempuan itu.

Seorang laki-laki sedang berdiri.

Seolah bersembunyi di balik bahunya.

Laki-laki itu adalah Arga.

Tetapi foto tersebut diberi tanggal satu tahun setelah Arga dinyatakan hilang.

Dan sejak kamera itu disimpan di ruang barang bukti, beberapa petugas mengaku mendengar suara shutter berbunyi sendiri setiap malam.

Klik.

Klik.

Klik.

Tidak ada yang berani membuka kameranya lagi.

Sebab pada suatu pagi, layar kamera tiba-tiba menyala.

Menampilkan satu foto baru.

Foto ruang barang bukti.

Foto itu diambil dari dalam lemari.

Di depan lemari berdiri dua orang.

Seorang laki-laki.

Dan seorang perempuan berpakaian putih.

Keduanya menatap kamera.

Keduanya tersenyum.

Dan di antara mereka, berdiri seorang petugas polisi yang sedang tidur.

Padahal saat foto itu diambil, petugas tersebut sedang duduk sendirian di luar ruangan.

Setidaknya begitu yang tercatat dalam laporan.

Sejak saat itu, kamera Arga tidak pernah digunakan lagi.

Namun foto-foto baru tetap muncul.

Satu setiap malam.

Dan perempuan itu selalu semakin dekat.

Sampai suatu hari, tidak ada lagi perempuan di dalam foto.

Hanya ada wajah orang yang melihatnya.

Wajah orang yang sedang memegang kamera.

Wajahmu.

Bagikan:

Tags: