Selama hampir tiga tahun tinggal di rumah kontrakan itu, Raka hanya mengenal tetangganya dari sebuah pintu.

Pintu cokelat tua di sebelah kamarnya.

Tidak ada yang istimewa dari pintu itu. Catnya mengelupas di beberapa bagian. Gagangnya sedikit berkarat. Di atasnya tergantung lampu kecil yang hampir selalu menyala, bahkan pada siang hari.

Yang aneh adalah tidak pernah ada seorang pun yang keluar dari sana.

Raka pertama kali menyadarinya ketika masih menjadi mahasiswa baru.

Setiap pagi, ia berangkat kuliah pukul tujuh. Setiap malam, ia pulang sekitar pukul sembilan.

Pintu itu selalu tertutup.

Tidak pernah terbuka.

Tidak pernah terdengar suara orang berbicara dari dalam.

Tidak pernah ada suara televisi, musik, atau bahkan suara langkah kaki.

Namun setiap beberapa hari sekali, Raka melihat sesuatu yang membuatnya yakin bahwa rumah itu tidak kosong.

Makanan.

Kadang sebuah kotak nasi kosong muncul di depan pintu.

Kadang bungkus mi instan.

Kadang botol air mineral.

Semuanya selalu diletakkan rapi di dekat keset.

Raka pernah bertanya kepada ibu pemilik kontrakan.

“Bu, tetangga sebelah itu siapa?”

Ibu pemilik kontrakan berhenti menyapu halaman.

“Sebelah mana?”

Raka menunjuk pintu cokelat itu.

“Oh.”

Perempuan tua itu diam sebentar.

“Laki-laki. Namanya Pak Darma.”

“Sudah lama tinggal di situ?”

“Sebelum kamu datang.”

“Orangnya nggak pernah keluar?”

Ibu itu menggeleng.

“Sejak saya kenal dia, belum pernah.”

“Belum pernah?”

“Entahlah.”

Jawaban itu membuat Raka semakin penasaran.

Suatu malam, ia berdiri di depan pintu Pak Darma.

Ia mengetuk dua kali.

Tok.

Tok.

Tidak ada jawaban.

“Pak?”

Sunyi.

Raka mengetuk lagi.

“Pak Darma?”

Tetap tidak ada jawaban.

Ia hampir pergi ketika tiba-tiba terdengar suara sangat pelan dari dalam.

“Jangan.”

Raka membeku.

“Jangan apa, Pak?”

“Jangan mengetuk lagi.”

Suaranya serak. Tua. Seperti orang yang sudah lama tidak berbicara.

Raka mengangguk meskipun tahu lelaki itu tidak bisa melihatnya.

“Maaf, Pak.”

Sejak malam itu, rasa penasaran Raka berubah menjadi kebiasaan.

Ia mulai memperhatikan pintu tersebut.

Ia mencatat kapan makanan datang.

Kapan lampu menyala.

Kapan suara dari dalam terdengar.

Tidak pernah ada pola yang jelas.

Tetapi satu hal pasti.

Pak Darma masih hidup.

Setidaknya begitu yang Raka pikirkan.

Suatu malam hujan turun deras.

Raka baru pulang dari kampus ketika melihat sebuah kotak makanan tergeletak di depan pintu Pak Darma.

Kotak itu masih utuh.

Raka mengambilnya.

Mungkin orang di dalam belum makan.

Ia membeli nasi goreng di warung dekat gang dan menaruhnya di depan pintu.

Besok paginya, makanan itu sudah tidak ada.

Sejak saat itu, Raka mulai rutin meninggalkan makanan.

Tidak setiap hari.

Kadang nasi goreng.

Kadang bubur.

Kadang roti.

Ia tidak pernah mengetuk.

Tidak pernah meminta balasan.

Ia hanya meletakkannya di depan pintu.

Anehnya, makanan itu selalu menghilang.

Raka merasa senang.

Setidaknya ada seseorang di balik pintu itu yang masih menunggu.

Bulan berganti bulan.

Tahun berganti tahun.

Raka menyelesaikan kuliahnya.

Ia mulai bekerja.

Namun kebiasaan itu tetap berlanjut.

Setiap kali pulang terlambat, ia masih menyempatkan membeli makanan untuk tetangganya.

Kadang ia berbicara sendiri sambil meletakkan makanan.

“Pak, hari ini saya beli ayam.”

Atau,

“Pak, saya dapat kerja.”

Atau,

“Pak, saya akhirnya lulus.”

Tidak pernah ada jawaban.

Tetapi Raka tetap bercerita.

Sampai suatu malam, sesuatu yang berbeda terjadi.

Raka baru saja meletakkan sebungkus nasi di depan pintu ketika ia melihat sebuah amplop putih di atas keset.

Namanya tertulis di sana.

RAKA.

Tangannya mendadak dingin.

Ia mengambil amplop itu.

Di dalamnya hanya ada secarik kertas.

Tulisan tangan yang gemetar memenuhi bagian tengahnya.

“Terima kasih sudah berpura-pura aku masih hidup.”

Raka membaca kalimat itu berkali-kali.

Dadanya terasa sesak.

Ia langsung mengetuk pintu.

“Pak Darma?”

Tidak ada jawaban.

“Pak?”

Sunyi.

Raka mencoba memutar gagang pintu.

Tidak terkunci.

Pintu terbuka perlahan.

Udara pengap menyambutnya.

Ruangan itu gelap.

Tidak ada televisi.

Tidak ada meja makan.

Tidak ada suara manusia.

Hanya sebuah kursi tua di dekat jendela.

Di atas kursi itu terdapat sebuah radio yang sudah mati.

Raka melangkah masuk.

“Pak Darma?”

Tidak ada siapa-siapa.

Di dinding terdapat puluhan kalender lama.

Semuanya berhenti pada tahun yang berbeda.

Di sebuah meja kecil terdapat banyak kotak makanan.

Kotak-kotak yang pernah Raka berikan.

Sebagian sudah mengering.

Sebagian masih memiliki tulisan tangannya.

“Untuk Pak Darma.”

Raka menelan ludah.

Lalu ia melihat sebuah foto.

Foto seorang lelaki tua duduk di kursi yang sama.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda.

Di belakang foto tertulis tanggal.

12 Januari 2017.

Raka memperhatikan wajah lelaki itu.

Ia mengenalinya.

Itu Pak Darma.

Tetapi ada sesuatu yang membuat Raka mundur selangkah.

Foto tersebut memiliki lapisan debu tebal.

Dan di bawah foto itu terdapat sebuah koran lama.

Judul besarnya membuat napas Raka berhenti.

“KEBAKARAN RUMAH MENELAN TIGA KORBAN.”

Tanggalnya adalah 2017.

Raka membaca lebih lanjut.

Salah satu korban bernama Darma Wijaya.

Meninggal bersama istri dan anaknya.

Tujuh tahun lalu.

Raka menjatuhkan koran itu.

Jantungnya berdegup keras.

Ia berlari keluar rumah.

Malam itu juga ia mencari ibu pemilik kontrakan.

Perempuan tua itu sedang duduk di ruang depan.

Ketika melihat wajah Raka, ia langsung tahu.

“Kamu sudah masuk ke rumah itu?”

Raka mengangguk.

“Pak Darma…”

Ibu itu menghela napas panjang.

“Sudah meninggal tujuh tahun lalu.”

“Kenapa rumahnya masih ada?”

“Rumahnya memang tidak pernah dibongkar.”

“Terus selama ini siapa yang mengambil makanan saya?”

Ibu itu tidak menjawab.

Raka merasa tengkuknya merinding.

“Bu?”

Perempuan tua itu menatapnya.

“Saya tidak pernah melihat siapa pun keluar dari rumah itu.”

Raka terdiam.

“Jadi selama ini…”

Ibu itu menggeleng.

“Saya tidak tahu.”

Malam itu Raka tidak bisa tidur.

Pikirannya terus kembali pada satu kalimat.

Terima kasih sudah berpura-pura aku masih hidup.

Keesokan paginya, Raka kembali ke rumah itu.

Pintunya sudah tertutup.

Ia mengetuk.

Tok.

Tok.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

“Pak Darma?”

Sunyi.

Lalu terdengar suara dari dalam.

Suara yang sama seperti tiga tahun lalu.

Serak.

Pelan.

“Terima kasih.”

Raka tidak bergerak.

“Untuk apa, Pak?”

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian terdengar suara lain.

Lebih kecil.

Suara perempuan.

“Sudah lama kami menunggu.”

Raka mundur.

Tangannya gemetar.

Dari celah bawah pintu, sebuah benda perlahan didorong keluar.

Sebuah foto.

Raka mengambilnya.

Di dalam foto itu terlihat seorang lelaki tua, seorang perempuan, dan seorang anak kecil.

Mereka berdiri di depan rumah.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Di belakang mereka, berdiri seorang laki-laki muda.

Raka.

Wajahnya pucat.

Ia mengenakan pakaian yang sama seperti yang dipakainya kemarin.

Raka membalik foto itu.

Ada tulisan di belakangnya.

“Jangan berhenti membawa makanan.”

“Karena selama masih ada yang mengingat kami, kami belum benar-benar pergi.”

Raka menatap pintu itu lama sekali.

Sejak hari itu, ia tetap meninggalkan makanan.

Bukan karena penasaran.

Bukan karena takut.

Tetapi karena ia mengerti sesuatu.

Kadang orang yang telah pergi tidak membutuhkan kita untuk mengembalikan mereka.

Mereka hanya ingin memastikan bahwa pernah ada seseorang yang mengingat bahwa mereka pernah hidup.

Dan setiap malam, ketika Raka meletakkan makanan di depan pintu, ia selalu mendengar tiga suara dari balik pintu.

Suara seorang lelaki tua.

Suara seorang perempuan.

Dan suara seorang anak kecil.

Mereka selalu mengucapkan hal yang sama.

“Terima kasih sudah mengingat kami.”

Bagikan:

Tags: