Kereta terakhir menuju Jakarta selalu berangkat pukul 23.17.

Dimas hafal jadwal itu di luar kepala.

Sudah hampir enam bulan ia menggunakan kereta yang sama setiap Jumat malam. Pekerjaannya membuatnya harus pulang ke kota kecil tempat tinggal istrinya setiap akhir pekan.

Kereta itu tidak pernah benar-benar penuh.

Namun ada satu hal yang selalu membuat Dimas penasaran.

Kursi nomor 17.

Kursi itu selalu kosong.

Anehnya, tiketnya selalu terjual.

Dimas pertama kali menyadarinya pada Jumat malam tiga bulan lalu.

Ia duduk di kursi 16.

Di sebelahnya, kursi 17 kosong.

Seorang pria tua yang duduk di seberang sempat melihat kursi itu lalu menggeser tempat duduknya.

Dimas menganggapnya kebetulan.

Minggu berikutnya, kursi 17 kembali kosong.

Minggu berikutnya lagi juga begitu.

Bahkan ketika kereta penuh sesak karena libur panjang, kursi 17 tetap kosong.

Dimas pernah bertanya kepada kondektur.

“Pak, kursi 17 itu memang tidak dipakai?”

Kondektur yang sedang memeriksa tiket berhenti sebentar.

“Kenapa?”

“Selalu kosong.”

Kondektur melihat kursi itu.

Wajahnya berubah sedikit.

“Jangan duduk di sana.”

Dimas tertawa kecil.

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan.”

“Rusak?”

Kondektur tidak menjawab.

Ia langsung berjalan ke gerbong berikutnya.

Sejak saat itu Dimas semakin penasaran.

Suatu Jumat malam, hujan turun sangat deras.

Kereta hampir kosong.

Dimas naik dari stasiun seperti biasa.

Ia menunjukkan tiket kepada petugas dan masuk ke gerbong nomor tiga.

Seperti biasa, kursi 16 miliknya masih kosong.

Dan kursi 17 juga kosong.

Dimas duduk.

Kereta mulai bergerak.

Suara roda kereta terdengar berulang-ulang.

Gemeretak.

Gemeretak.

Lampu di dalam gerbong berkedip beberapa kali.

Dimas membuka laptop.

Namun baru beberapa menit, seorang perempuan masuk dari ujung gerbong.

Usianya sekitar dua puluh lima tahun.

Rambutnya panjang.

Ia mengenakan gaun putih sederhana dan jaket abu-abu.

Perempuan itu berjalan pelan melewati kursi-kursi kosong.

Kemudian berhenti di depan kursi 17.

Dimas memperhatikannya.

Perempuan itu tidak duduk.

Ia hanya berdiri dan memandang kursi tersebut.

Seolah sedang menunggu seseorang.

Dimas akhirnya bertanya.

“Mbak, itu kursinya?”

Perempuan itu menoleh.

Wajahnya pucat.

“Kursi 17?”

“Iya.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Saya sedang menunggu.”

“Siapa?”

Perempuan itu kembali melihat kursi kosong.

“Suami saya.”

Dimas mengangguk.

“Oh.”

Ia kembali membuka laptop.

Namun perempuan itu tetap berdiri.

Dimas merasa aneh.

“Suaminya di gerbong lain?”

Perempuan itu menggeleng.

“Belum datang.”

“Kereta sudah jalan.”

“Saya tahu.”

Dimas terdiam.

Perempuan itu akhirnya duduk di kursi 18.

Ia terus memandang kursi 17.

“Dia selalu terlambat.”

Dimas tersenyum canggung.

“Semoga cepat datang.”

Perempuan itu menatapnya.

“Dia belum lahir.”

Dimas membeku.

“Apa?”

Perempuan itu tersenyum.

“Suami saya belum lahir.”

Dimas mengira perempuan itu sedang bercanda.

Namun wajahnya terlalu serius.

Ia mencoba kembali bekerja.

Tetapi pikirannya tidak bisa fokus.

Beberapa menit kemudian perempuan itu berkata,

“Namanya Arga.”

Dimas menoleh.

“Siapa?”

“Suami saya.”

“Belum lahir tapi sudah punya nama?”

“Sudah.”

Perempuan itu tersenyum.

“Karena saya sudah bertemu dengannya.”

“Kapan?”

“Di kereta ini.”

Dimas merasakan bulu kuduknya berdiri.

Perempuan itu menunjuk kursi 17.

“Dia duduk di sana.”

“Kapan?”

“Empat puluh tahun yang lalu.”

Dimas menatap kursi itu.

Perempuan tersebut melanjutkan.

“Saya naik kereta ini ketika berumur dua puluh dua tahun.”

“Hujan juga turun malam itu.”

“Saya duduk di kursi 18.”

“Kursi 17 ditempati seorang laki-laki.”

Dimas menelan ludah.

“Namanya Arga.”

“Jadi suami Anda?”

Perempuan itu mengangguk.

“Kami mengobrol sepanjang perjalanan.”

“Ketika kereta sampai di stasiun terakhir, dia memberi saya alamat rumahnya.”

“Katanya dia ingin bertemu lagi.”

Perempuan itu menunduk.

“Tapi saya tidak pernah sampai ke rumah.”

“Kenapa?”

“Kereta mengalami kecelakaan.”

Dimas diam.

Perempuan itu menatap jendela.

“Semua orang meninggal malam itu.”

“Termasuk saya.”

Dimas langsung berdiri.

Perempuan itu tetap tenang.

“Jangan takut.”

“Kamu…”

Dimas tidak mampu menyelesaikan kalimat.

“Sudah empat puluh tahun saya menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Arga.”

“Kenapa dia belum datang?”

Perempuan itu tersenyum sedih.

“Karena dia belum lahir.”

Dimas ingin pergi.

Namun pintu gerbong tidak bisa dibuka.

Ia mencoba tombol darurat.

Tidak berfungsi.

Kereta terus melaju dalam kegelapan.

Di luar jendela tidak ada pemandangan.

Tidak ada lampu kota.

Tidak ada stasiun.

Hanya gelap.

Dimas kembali duduk.

“Ini kereta apa?”

Perempuan itu tidak menjawab.

“Stasiun berikutnya di mana?”

“Stasiun yang tidak pernah kamu datangi.”

“Apa maksudnya?”

Perempuan itu menatapnya.

“Kamu harus tahu sesuatu.”

“Apa?”

“Kenapa kamu bisa melihat saya.”

Dimas terdiam.

“Kenapa?”

“Karena kamu seharusnya tidak berada di kursi 16 malam ini.”

Dimas melihat tiketnya.

Nomor kursi yang tercetak jelas adalah 16A.

Perempuan itu tersenyum.

“Seharusnya kamu duduk di 17.”

Dimas mengerutkan kening.

“Tapi tiket saya 16.”

“Belum.”

“Apa maksudnya?”

Perempuan itu menunjuk ke tangannya.

Dimas melihat tiketnya.

Nomor 16 perlahan berubah.

Angka itu bergerak seperti tinta basah.

Kemudian berubah menjadi 17.

Dimas langsung menjatuhkan tiket.

Kereta tiba-tiba berhenti.

Lampu padam.

Gelap total.

Kemudian terdengar suara seorang anak kecil.

“Dimas…”

Dimas menahan napas.

Suara itu datang dari kursi 17.

“Dimas…”

Ia menyalakan lampu ponsel.

Kursi itu masih kosong.

Namun ada seorang anak laki-laki berdiri di lorong.

Usianya sekitar lima tahun.

Mengenakan seragam sekolah.

Wajahnya pucat.

Anak itu memandang Dimas.

“Ayah.”

Dimas mundur.

“Saya bukan ayahmu.”

Anak itu tersenyum.

“Tapi nanti.”

Perempuan di kursi 18 mulai menangis.

Ia berdiri dan mendekati anak itu.

“Arga…”

Anak itu memeluknya.

Dimas terpaku.

Perempuan itu memandang Dimas.

“Ini dia.”

“Siapa?”

“Orang yang saya tunggu.”

Dimas menggeleng.

“Dia masih anak-anak.”

“Karena dia belum lahir.”

Dimas semakin bingung.

Perempuan itu menunjuk anak tersebut.

“Arga akan lahir empat puluh tahun dari sekarang.”

“Dan kamu…”

Ia menatap Dimas dengan tatapan sedih.

“…adalah orang yang akan menjadi ayahnya.”

Dimas merasa seluruh tubuhnya lemas.

“Tidak mungkin.”

Perempuan itu menggeleng.

“Percayalah.”

“Kenapa saya?”

“Karena kamu akan bertemu seseorang.”

“Namanya siapa?”

Perempuan itu tersenyum.

“Namanya Maya.”

Dimas terdiam.

Nama itu terasa asing.

Tetapi entah kenapa membuat dadanya berdebar.

Perempuan itu melanjutkan.

“Kamu akan menikah dengannya.”

“Dan suatu hari nanti, kalian memiliki seorang anak.”

“Namanya Arga.”

Dimas menatap anak kecil itu.

Anak tersebut tersenyum.

“Ayah…”

Dimas ingin menjawab.

Namun kereta kembali bergerak.

Anak itu perlahan memudar.

Perempuan itu juga mulai menghilang.

“Tunggu!”

Dimas berdiri.

“Kenapa kalian menunjukkan ini kepada saya?”

Perempuan itu menjawab,

“Karena kamu akan segera membuat keputusan yang mengubah semuanya.”

“Keputusan apa?”

“Jangan turun di stasiun berikutnya.”

Dimas terdiam.

“Kenapa?”

Perempuan itu tersenyum.

“Karena jika kamu turun, kamu tidak akan pernah bertemu Maya.”

Tubuh perempuan itu menghilang sepenuhnya.

Gerbong kembali terang.

Dimas berdiri sendirian.

Kursi 17 kosong.

Kereta berjalan seperti biasa.

Pukul 00.43.

Kereta berhenti di sebuah stasiun.

Dimas berdiri.

Pintu terbuka.

Ia hendak turun.

Namun sesuatu membuatnya berhenti.

Seorang perempuan muda berdiri di peron.

Rambut panjang.

Mengenakan jaket merah.

Ia sedang mencari sesuatu di dalam tas.

Ketika melihat Dimas, matanya bertemu dengannya.

Perempuan itu tersenyum.

“Maaf.”

Dimas terdiam.

“Ya?”

“Ini kereta menuju Bandung?”

Dimas mengangguk.

“Iya.”

Perempuan itu melihat tiketnya.

“Saya salah naik kereta.”

Ia tertawa kecil.

Dimas juga tersenyum.

“Kalau mau turun, sekarang.”

Perempuan itu melihat jam.

Kemudian menggeleng.

“Sudahlah. Saya ikut saja sampai stasiun berikutnya.”

Dimas teringat perkataan perempuan di kursi 18.

Namanya Maya.

Ia tidak tahu dari mana keyakinan itu datang.

Tetapi ia bertanya,

“Nama kamu siapa?”

Perempuan itu tersenyum.

“Maya.”

Dimas membeku.

Kereta kembali bergerak.

Maya duduk di kursi 18.

Dimas duduk di kursi 16.

Kursi 17 tetap kosong.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Dimas tidak merasa takut melihatnya.

Empat puluh tahun kemudian.

Kereta terakhir kembali melaju dalam hujan.

Seorang perempuan tua duduk di kursi 18.

Rambutnya sudah putih.

Tangannya menggenggam sebuah foto lama.

Di dalam foto itu terdapat seorang laki-laki, seorang perempuan, dan seorang anak laki-laki.

Di bawah foto tertulis:

Dimas, Maya, dan Arga.

Perempuan tua itu menatap kursi 17.

Seorang lelaki tua duduk di sana.

Ia tersenyum.

“Sudah lama menunggu?”

Perempuan itu menggeleng.

“Empat puluh tahun.”

Lelaki itu tertawa.

“Aku terlambat.”

“Seperti biasa.”

Mereka saling tersenyum.

Kereta terus melaju.

Tidak ada penumpang lain yang memperhatikan mereka.

Tidak ada yang tahu bahwa malam itu, kursi nomor 17 akhirnya terisi.

Dan sejak malam itu pula, kursi nomor 17 tidak pernah lagi terjual.

Karena orang-orang yang membeli tiketnya selalu menerima satu pesan aneh dari petugas kereta:

“Kursi tersebut sudah memiliki penumpang.”

Bagikan:

Tags: