Hujan selalu membuat Naya mengingat ibunya.

Bukan karena ibunya menyukai hujan.

Justru sebaliknya.

Setiap kali hujan turun, ibunya selalu menutup semua jendela rumah dan berkata, “Jangan terlalu lama melihat hujan, Nak. Ada hal-hal yang lebih baik tetap berada di balik tirai.”

Naya tidak pernah mengerti maksudnya.

Sampai ibunya meninggal.

Sudah tiga tahun berlalu sejak hari itu.

Kini Naya tinggal sendirian di sebuah kamar kos kecil di ujung kota. Ia bekerja sebagai penjaga toko pada siang hari dan menghabiskan malam dengan membaca buku atau menonton video di ponselnya.

Hidupnya sederhana.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Setiap kali hujan turun deras, ia selalu teringat pada ibunya.

Malam itu hujan turun lebih deras dari biasanya.

Naya baru saja pulang kerja ketika hujan tiba-tiba mengguyur jalan.

Ia mempercepat langkah sambil menutupi kepala dengan tas.

Saat melewati sebuah gang yang jarang ia gunakan, ia melihat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Sebuah toko kecil.

Lampunya kuning hangat.

Pintunya terbuat dari kayu tua.

Di atasnya tergantung papan nama:

TOKO KENANGAN

Naya berhenti.

Ia yakin toko itu tidak pernah ada sebelumnya.

Gang itu biasanya kosong.

Hanya tembok tua dan beberapa pohon liar.

Tetapi malam itu, toko tersebut berdiri dengan tenang seolah sudah berada di sana selama puluhan tahun.

Naya mendekati jendela.

Di dalamnya terdapat berbagai benda aneh.

Sebuah jam tangan.

Boneka.

Foto keluarga.

Kotak musik.

Sepasang sepatu anak-anak.

Dan benda-benda lain yang terlihat biasa, tetapi entah kenapa membuat dada Naya terasa sesak.

Pintu toko terbuka sendiri.

Kriiiit…

Naya mundur.

Seorang lelaki tua muncul dari balik meja.

Rambutnya putih seluruhnya.

“Masuklah,” katanya.

Naya menunjuk papan nama.

“Toko ini jual apa?”

Lelaki tua itu tersenyum.

“Hal-hal yang hilang.”

“Maksudnya?”

“Kenangan. Kesempatan. Waktu. Kadang-kadang… seseorang.”

Naya mengira lelaki itu bercanda.

Namun entah mengapa, kakinya tetap melangkah masuk.

Begitu masuk, aroma aneh memenuhi hidungnya.

Aroma rumah.

Aroma buku lama.

Aroma masakan.

Aroma yang sangat dikenalnya.

Naya melihat sekeliling.

“Kenapa toko ini tidak pernah saya lihat?”

“Karena toko ini hanya buka saat hujan.”

“Kenapa?”

Lelaki tua itu mengangkat bahu.

“Orang hanya mencari masa lalu ketika langit sedang menangis.”

Naya terdiam.

Ia berjalan di antara rak-rak.

Kemudian matanya tertuju pada sebuah benda kecil.

Sebuah jepit rambut berwarna merah.

Napasnya tertahan.

Itu milik ibunya.

Naya mengenalinya.

Ibunya selalu memakai jepit rambut itu ketika memasak.

“Berapa harganya?”

Lelaki tua itu memandang benda tersebut.

“Sepuluh ribu.”

Naya mengeluarkan dompet.

Ia membayar.

Ketika jepit rambut itu menyentuh tangannya, dunia tiba-tiba berubah.

Ia kembali menjadi anak berusia delapan tahun.

Ia berada di dapur.

Ibunya sedang memasak.

“Jangan masuk dapur, Naya. Panas.”

“Tapi aku lapar.”

Ibunya tertawa.

“Sebentar lagi matang.”

Naya kecil memeluk ibunya dari belakang.

“Ibu.”

“Ya?”

“Kalau Naya besar nanti, Ibu masih masak buat Naya?”

Ibunya terdiam.

Kemudian tersenyum.

“Selama Ibu masih ada.”

Adegan itu menghilang.

Naya kembali berdiri di toko.

Air matanya mengalir.

“Ibu…”

Lelaki tua itu hanya diam.

Naya menggenggam jepit rambut tersebut erat-erat.

“Kenapa kenangan itu masih ada?”

“Karena manusia sering mengira kenangan akan hilang bersama orangnya.”

“Memangnya tidak?”

“Tidak.”

Lelaki tua itu menunjuk dadanya.

“Kenangan hanya pindah tempat.”


Sejak malam itu, Naya mulai sering mengunjungi toko tersebut.

Setiap kali hujan turun, toko itu muncul di gang yang sama.

Ia membeli berbagai benda kecil.

Sebuah cangkir.

Sapu tangan.

Buku resep.

Satu per satu benda itu membawa kembali kenangan tentang ibunya.

Naya mulai merasa bahagia.

Ia bahkan bisa mengingat suara tawa ibunya dengan jelas.

Namun suatu malam, lelaki tua itu berkata:

“Kamu sudah terlalu sering datang.”

Naya mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena toko ini bukan tempat tinggal.”

“Saya cuma ingin mengingat Ibu.”

“Kenangan bukan masalahnya.”

“Jadi?”

Lelaki tua itu menunjuk sebuah rak di bagian belakang.

“Ada sesuatu yang kamu cari.”

Naya melihat ke arah rak tersebut.

Di sana terdapat sebuah kotak kaca.

Di dalamnya ada sebuah benda yang membuat seluruh tubuh Naya membeku.

Sebuah tiket kereta.

Tanggalnya adalah tiga tahun lalu.

Tanggal ketika ibunya meninggal.

Naya menatap lelaki tua itu.

“Berapa harganya?”

“Berapa banyak yang ingin kamu korbankan?”

Naya terdiam.

“Uang?”

“Bukan.”

“Kenangan?”

Lelaki tua itu menggeleng.

“Lebih mahal.”

“Apa?”

Lelaki tua itu menjawab pelan.

“Satu hari dalam hidupmu.”

Naya memandang tiket itu.

“Apa yang akan terjadi kalau saya membelinya?”

“Kamu bisa kembali ke hari itu.”

Naya hampir tidak percaya.

“Kembali… ke hari Ibu meninggal?”

“Ya.”

“Dan saya bisa menyelamatkannya?”

Lelaki tua itu tidak langsung menjawab.

“Belum tentu.”

Naya menggigit bibir.

“Kalau begitu, untuk apa saya kembali?”

“Untuk mengatakan hal yang belum sempat kamu katakan.”

Naya menatap tiket itu lama sekali.

Selama tiga tahun, ada satu kalimat yang selalu menghantuinya.

Hari terakhir ibunya di rumah sakit, mereka bertengkar.

Naya marah karena ibunya menolak menjalani pengobatan.

Ia keluar dari kamar rumah sakit sambil berkata:

“Aku capek punya Ibu seperti ini.”

Itulah kalimat terakhir yang pernah ia ucapkan kepada ibunya.

Ia tidak pernah sempat meminta maaf.

Naya menatap lelaki tua itu.

“Saya mau.”

Lelaki tua itu mengeluarkan tiket dari kotak kaca.

“Kalau kamu kembali, jangan mencoba mengubah kematian.”

“Kenapa?”

“Karena kematian bukan pintu yang bisa dibuka sesuka hati.”

Ia menyerahkan tiket itu.

“Pergilah untuk mengatakan apa yang belum sempat kamu katakan.”


Naya membuka mata.

Ia berada di rumah sakit.

Suara mesin terdengar di samping tempat tidur.

Ibunya masih hidup.

Masih tersenyum.

Masih memiliki rambut yang sama.

Masih memakai jepit rambut merah.

Naya menangis.

“Ibu…”

Ibunya menatapnya.

“Kamu kenapa?”

Naya memeluknya erat.

“Maaf.”

Ibunya terdiam.

“Maaf karena waktu itu aku marah.”

“Naya…”

“Aku nggak bermaksud begitu.”

Ibunya mengusap rambutnya.

“Ibu tahu.”

“Tapi aku nggak pernah bilang.”

“Kamu tidak perlu bilang.”

Naya menangis semakin keras.

Ibunya tersenyum.

“Anak Ibu sudah besar.”

“Aku masih takut kehilangan Ibu.”

“Semua orang takut kehilangan.”

Naya melepaskan pelukannya.

“Ibu takut?”

Ibunya mengangguk.

“Tentu.”

“Lalu kenapa Ibu kelihatan tenang?”

Ibunya melihat ke jendela.

Hujan turun di luar.

“Karena hidup bukan tentang berapa lama kita tinggal.”

Ia menatap Naya.

“Tapi tentang berapa banyak cinta yang kita tinggalkan.”

Naya memejamkan mata.

Ia ingin waktu berhenti.

Namun suara mesin rumah sakit perlahan menjauh.

Semuanya menjadi putih.


Naya kembali terbangun di dalam toko.

Hujan masih turun.

Lelaki tua itu berdiri di depannya.

“Kamu sudah selesai?”

Naya mengangguk.

Air mata masih membasahi wajahnya.

“Terima kasih.”

Lelaki tua itu tersenyum.

“Kamu tidak perlu berterima kasih.”

Naya hendak pergi.

Namun ia berhenti.

“Kenapa toko ini membantu orang?”

Lelaki tua itu menatap rak-rak penuh kenangan.

“Karena manusia sering baru tahu arti sesuatu setelah kehilangannya.”

“Dan Anda?”

Lelaki tua itu tersenyum tipis.

“Saya juga pernah kehilangan seseorang.”

Naya hendak bertanya siapa.

Namun lelaki tua itu sudah membalikkan badan.

“Toko akan segera tutup.”

Naya keluar.

Hujan mulai berhenti.

Ia berjalan pulang tanpa membawa satu pun benda dari toko.

Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Naya merasa tidak perlu membeli kenangan.

Ia sudah memiliki cukup banyak.


Keesokan harinya, Naya kembali ke gang itu.

Toko tersebut sudah tidak ada.

Tidak ada pintu kayu.

Tidak ada lampu kuning.

Tidak ada papan nama.

Hanya tembok tua dan jalan yang basah.

Naya tersenyum.

Ia mengira semua itu mungkin hanya mimpi.

Sampai ia memasukkan tangan ke saku jaket.

Di dalamnya terdapat sesuatu.

Sebuah jepit rambut merah.

Naya menggenggamnya.

Kemudian ponselnya berbunyi.

Sebuah notifikasi dari aplikasi cuaca muncul:

Hujan diperkirakan turun malam ini.

Naya menatap langit.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedih ketika melihat awan hitam.

Ia tersenyum.

Karena kini ia tahu.

Tidak semua yang pergi benar-benar hilang.

Ada yang tetap tinggal.

Dalam suara.

Dalam aroma masakan.

Dalam sebuah benda kecil.

Dan terutama…

Dalam hati seseorang yang pernah mencintainya.

Bagikan:

Tags: