Takdir memang menggelikan. Aku memang harus merelakan perpisahan dengan Widya, namun di sisi lain, kepindahan mereka adalah takdir manis bagi Widya dan ibunya untuk bersatu kembali secara utuh sebagai keluarga.
HARI demi hari menenun benih-benih kedekatan yang kian erat. Bukan hanya antara aku dan Widya, melainkan juga dengan ibunya.
Dari balik obrolan-obrolan singkat di atas motor, sebuah tabir perlahan terkuak. Widya ternyata hanya tinggal berdua dengan sang ibu di Jakarta. Ayahnya bekerja jauh di Surabaya dan hanya pulang sekali dalam sebulan ke Jakarta.
Rutinitasku mengantar dan menjemput Widya sekolah menciptakan interaksi singkat di teras rumah bersama ibunya.
Sore itu, usai menuntaskan cucian baju, aku meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kamar. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari Widya menyapa layar.
“Nanti sore main ke rumah ya.”
Senyum tipis terukir di bibirku. Ada kehangatan absurd yang mendadak menyeruak.
“Iya,” jawabku singkat.
Selepas azan maghrib berkumandang, aku tiba di kediamannya. Ketukan pintuku disambut oleh senyum hangat ibu Widya.
“Eh, Candra. Masuk dulu, Widya masih di kamar. Nanti tante panggilkan.”
“Makasih tante.”
Aku duduk di kursi teras rumah menunggu Widya. Suara raung sepeda motor di jalan depan rumah Widya memecah kesunyian malam.
Sejujurnya, hubungan kami sudah sedemikian dekat. Antara aku dan dia, tak tahu pasti status apa yang mengikat.
Namun satu hal yang kuingat dan kuyakini: kami saling mencintai, meski tak satu pun kata cinta pernah terucap.
Widya muncul dari balik pintu. Hanya saja, Widya tampak lesu malam ini. Wajahnya ditekuk muram.
“Kamu belum mandi? Kusut banget,” candaku mencoba mencairkan suasana.
Widya cemberut, memanyunkan bibir merah jambunya yang menggemaskan.
“Aku lagi sebel.”
“Kenapa?”
“Males ah ngomonongnya.” katanya dengan nada manja.
“Cerita aja.”
Widya menundukkan kepala. Suasana hening selama beberapa detik. Sepertinya, ada beban berat yang susah dia ceritakan.
“Ayahku.”
“Kenapa ayah kamu?”
“Minta aku kuliah di Surabaya.”
Kalimat itu menghantam dadaku seperti godam. Seketika lidahku kelu. Kaget, kecewa, dan cemas berpadu menjadi satu. Kini giliran aku yang terdiam membisu, menatap kosong ke lantai teras.
“Nah kan, giliran kamu yang diam.”
“Terus kamu mau?”
Kejujuran pahit itu akhirnya terungkap. Widya dan ibunya ternyata akan menetap sepenuhnya di Surabaya.
“Mau gimana lagi. Aku sama Ibu mau tinggal di sana.”
Duniaku serasa runtuh seketika. Aku tidak tahu lagi harus berucap apa. Rasa-rasanya, aku tak akan pernah siap jika harus dipaksa berpisah dengan Widya.
Tak lama kemudian, ibunya keluar dan bergabung duduk bersama kami. Dengan nada lembut yang menenangkan, sang ibu mencoba memberikan pemahaman kepada Widya, seraya menyiratkan tatapan memohon agar aku turut mendukung keputusan ayahnya.
Ternyata, selama ini ibunya bertahan tinggal di Jakarta semata-mata untuk mendampingi Widya hingga lulus sekolah. Sebab dulu Widya menolak keras jika harus pindah sekolah di tengah jalan.
“Kan kamu janji dulu kalau udah lulus sekolah mau pindah ke Surabaya. Kuliah di sana,” kata Ibu Widya sambil mengelus lembut kepala putrinya.
Lagi-lagi, yang mampu kulakukan hanyalah menyunggingkan tersenyum getir. Nyatanya, masih banyak teka-teki tentang Widya dan keluarganya yang belum kuketahui. Widya tak pernah bercerita tentang ini sebelumnya.
Ibu Widya menatap dalam-dalam ke arah mataku. Ia tampaknya membaca dengan jelas kegalauanku jika harus kehilangan putrinya.
“Candra, di sini kamu kuliah yang bener. Cepat lulus, cari kerja. Kalau jodoh nggak ke mana.”
Hati yang tadinya panas mendadak sejuk mendengar perkataan Ibu Widya. Ada lega yang menyusup pelan. Ibu Widya rupanya begitu peka membaca keraguan dan ketakutanku.
Dengan keberanian yang tersisa, aku menanyakan kepastian hari yang paling kutakuti itu.
“Kapan berangkat tante?”
“Paling minggu depan, nunggu ayahnya Widya datang jemput.”
Takdir memang menggelikan. Aku memang harus merelakan perpisahan dengan Widya, namun di sisi lain, kepindahan mereka adalah takdir manis bagi Widya dan ibunya untuk bersatu kembali secara utuh sebagai keluarga.
Aku harus rela melepas Widya terbang ke Surabaya demi masa depan dan kebaikannya.
Aku menanam keyakinan dalam hati: jika kami mampu melewati badai perpisahan ini, kelak tak akan ada lagi hal di dunia ini yang sanggup memisahkan aku dan Widya.
(Bersambung…)
BACA JUGA: Ojek Cinta: Bagian IV – Wangi yang Tertinggal di Jok Belakang







