“Ah, kau, Puan Kelana, mengapa musti ke sana?Jauh-jauh Puan kembara sedang dunia punya luka yang sama,” -Silampukau.

Sebuah pengeras suara tersiar di Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur. Isinya tentang sebuah pesan yang cukup mengkhawatirkan:

“Penerbangan dibatalkan sementara imbas meningkatnya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.”

Puan gusar. Pesawatnya belum terbang, tetapi ia sudah merasa kehilangan.

Di layar keberangkatan, tulisan CANCELLED menyala merah. Penerbangan menuju Jakarta yang seharusnya membawanya pergi dari Surabaya sore itu batal akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Ia berdiri cukup lama di depan papan informasi, seperti seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa hidup ternyata punya rencana lain.

Di tangannya ada tiket. Di ponselnya ada pesan terakhir dariku: Hati-hati di jalan.

Hanya itu.

Aku mengetiknya beberapa menit setelah ia mengabarkan bahwa penerbangannya dibatalkan.

Tidak ada pertanyaan. Tidak ada, Kamu mau ke mana? Tidak ada, Kapan kembali. Aku bahkan tidak bertanya apakah ia masih ingin pergi.

Mungkin karena sejak awal aku tahu jawabannya: Ia memang ingin pergi.

Pergi meninggalkan Surabaya. Meninggalkan jalan-jalan yang pernah kami lewati berdua. Meninggalkan kofisyop Coste–tempat kami bertengkar hanya karena aku terlambat menjemputnya.

Meninggalkan bangku taman tempat ia pernah mengatakan bahwa perempuan tidak selalu pergi karena sudah tidak sayang.

Kadang-kadang, katanya–perempuan pergi karena terlalu lama menunggu seseorang berubah.

Waktu itu aku tertawa.

Aku pikir ia sedang membicarakan orang lain. Aku memang pandai menyangkal.

Namanya Puan. Bukan Puan Maharani. Tapi Puan Astrajingga. Nama yang cukup menawan bagi seorang anak gedongan yang tinggal di Pakuwon, Surabaya Barat.

Setidaknya, begitu aku memanggilnya, Puan. Aku punya filosofi tersendiri dari nama itu.

Sebab, sejak pertama mengenalnya aku merasa perempuan itu memang seperti seorang puan yang selalu memiliki perjalanan sendiri.

Ia tidak pernah benar-benar betah tinggal di satu tempat. Surabaya hanya persinggahan. Aku pun mungkin begitu. Persinggahan yang terlalu lama merasa dirinya tujuan.

“Kita tak pernah suka air mata, berangkatlah sendiri ke Djuanda. Tiap kali langit meremang jingga, aku’kan merindukanmu,” -Silampukau.

Malam sebelum keberangkatannya, kami bertemu untuk terakhir kali.

Tidak ada adegan menangis. Tidak ada pelukan panjang. Tidak ada janji akan menunggu.

Kami duduk di sebuah kedai kecil di Jalan Tunjungan. Lampu-lampu kota memantul di kaca, sementara orang-orang berjalan seperti biasa.

Seolah tidak ada dua manusia yang sedang mencoba mengakhiri sesuatu yang sebenarnya sudah lama retak.

“Aku berangkat besok,” katanya.

“Aku tahu.”

“Ke Jakarta.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Aku mengangkat bahu.

“Ya, pergi saja.”

Ia menatapku lama.

Barangkali ia menunggu kalimat lain. Barangkali ia berharap aku menahannya.
Aku tidak melakukannya.

Ada kebodohan tertentu yang sering menyamar sebagai keteguhan hati. Aku memilikinya.

Aku pikir dengan membiarkannya pergi, aku sedang menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Padahal aku hanya takut terlihat membutuhkan.

“Jakarta nggak jauh,” kataku.

Ia tersenyum tipis.

“Yang jauh bukan kotanya.”

Aku diam.

“Kadang orang bisa tinggal serumah, tapi rasanya lebih jauh daripada Jakarta.”

Kalimat itu mengendap di meja kami.

Aku tidak menjawab. Aku hanya memandang gelas kopi yang sudah dingin.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku merasa Surabaya terlalu kecil. Bukan karena kotanya. Melainkan karena semua sudutnya mengingatkanku kepadanya.

Paginya, ia berangkat ke bandara.

Aku tidak mengantarnya. Aku bilang sedang sibuk. Mungkina karena kami berdua tahu: “Kita tak pernah suka air mata”.

Padahal sejak pukul tujuh pagi aku sudah berkali-kali membuka ponsel. Aku denial.

Menunggu kabar. Menunggu pesannya. Menunggu sesuatu yang bisa membuatku percaya bahwa ia belum benar-benar pergi.

Lalu berita tentang erupsi Gunung Anak Krakatau muncul. Penerbangan terganggu.
Bandara sibuk. Beberapa penerbangan dibatalkan.

Dan beberapa jam kemudian, namanya muncul di layar ponselku. Penerbangan dibatalkan. Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Aneh. Seharusnya aku lega. Seharusnya aku menganggap alam sedang memberiku kesempatan kedua.

Pesawatnya tidak jadi berangkat. Artinya ia masih di Surabaya. Artinya aku masih punya waktu. Artinya mungkin aku bisa datang.

Tapi kemudian aku sadar sesuatu: “Kalau seseorang benar-benar ingin pergi, pembatalan penerbangan hanya menunda keberangkatan,” -Matlila.

Bukan membatalkan kepergian. Aku tetap datang ke bandara. Entah untuk apa.
Mungkin karena aku masih membutuhkan satu pertemuan terakhir agar bisa percaya bahwa semuanya benar-benar selesai.

Aku menemukannya di ruang tunggu.

Koper hitam di samping kaki. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya tampak lelah. Tetapi ia tidak sedih.

Itulah yang paling menyakitkan.

Aku berdiri beberapa meter darinya. Ia melihatku. Tidak terkejut. Seolah sudah tahu aku akan datang.

“Kamu akhirnya datang,” katanya.

Aku tersenyum.

“Pesawatmu batal.”

“Iya.”

“Jadi?”

“Besok mungkin berangkat lagi.”

Aku mengangguk.

Sejatinya, aku ingin mengatakan banyak hal. Tentang Surabaya. Tentang kami. Tentang betapa aku sebenarnya tidak pernah siap kehilangan dia.

Tentang malam-malam ketika aku pura-pura tidur agar tidak memikirkan ke mana ia akan pergi.

Tapi semua kalimat itu terasa terlambat.

“Aku pikir Jakarta akan membuat semuanya lebih baik,” kataku akhirnya.

Puan tersenyum.

“Memangnya di Surabaya semuanya baik?”

Aku tidak menjawab. Ia kemudian melihat ke arah jendela–di luar, langit tampak kelabu.

“Paris juga sama,” katanya.

Aku menoleh.

“Paris?”

“Jakarta juga.”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa tiba-tiba Paris?”

“Karena kamu pernah bilang, kalau suatu hari aku pergi ke Paris, mungkin aku akan lupa sama Surabaya.”

Aku terdiam. Aku ingat. Aku pernah mengatakannya sambil bercanda.

Ia mengingatnya. Tentu saja ia mengingatnya.

“Aku rasa kota mana pun punya luka yang sama,” katanya. “Paris, Jakarta, Surabaya. Bedanya cuma nama jalan.”

Aku menatap wajahnya. Untuk pertama kalinya aku mengerti. Selama ini aku mengira ia sedang mencari kota yang lebih baik.

Padahal ia sedang mencari dirinya sendiri.
Dan aku sibuk menganggap perjalanan itu sebagai pengkhianatan.

“Kamu bahagia?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab.

“Aku belum tahu.”

“Lalu kenapa pergi?”

Ia menarik napas.

“Karena aku tahu kalau tetap di sini, aku akan terus menjadi perempuan yang sama.”

“Dan aku?”

Ia menatapku.

“Kamu juga harus berhenti menjadi laki-laki yang sama.”

Aku tertawa pelan. Pahit.

“Jadi kita selesai?”

Ia tidak menjawab.

Tiba-tiba, suara pengumuman terdengar dari pengeras suara. Penerbangan lain dipanggil.

Orang-orang berdiri. Koper-koper ditarik.
Bandara kembali sibuk. Dunia ternyata tidak pernah benar-benar peduli pada patah hati seseorang.

Aku melihatnya berdiri. Koper itu ditarik ke belakang tubuhnya. Sebelum pergi, ia menoleh.

“Terima kasih sudah datang.”

“Untuk apa?”

“Untuk memastikan aku benar-benar pergi.”

Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak datang untuk itu. Aku datang cuma untuk menahannya. Pahit bukan?

Tetapi lagi-lagi aku memilih diam. Karena mungkin, selama ini, diam adalah satu-satunya cara yang paling kukenal untuk mencintai seseorang. Dan mungkin itu pula alasan mengapa ia akhirnya pergi.

“Mari Puan Kelana. Jangan tinggalkan hamba, toh hujan sama menakjubkannya, di Paris atau di tiap sudut Surabaya,” -Silampukau.

Penerbangannya kembali dijadwalkan esok pagi.

Aku tidak datang lagi. Aku tidak mengirim pesan. Tidak juga menanyakan apakah pesawatnya jadi berangkat.

Aku hanya duduk di kamar, membuka lagu yang pernah ia kirimkan kepadaku.

Puan Kelana.

Lagu itu mengalun pelan. Aku mendengarkannya sampai selesai. Lalu sekali lagi. Di luar jendela, Surabaya masih seperti biasanya.

Motor-motor melintas. Lampu jalan menyala. Ahmad Yani masih beringas di jam orang-orang pulang.

Tidak ada yang berubah.

Hanya aku. Atau mungkin baru sekarang aku menyadari bahwa aku memang harus berubah.

Puan akhirnya pergi. Entah ke Jakarta. Entah suatu hari ke Paris. Entah ke kota lain yang bahkan belum pernah kudengar namanya.

Aku tidak tahu.

Yang kutahu, pesawatnya memang sempat batal terbang. Tetapi perjalanan itu tidak pernah benar-benar batal.

Ia tetap pergi.

Dan aku akhirnya mengerti: “yang tertunda hanyalah penerbangannya, bukan kepergiannya,” -Matlila.

Barangkali begitulah akhir seorang puan kelana.

Bukan ketika ia meninggalkan sebuah kota. Melainkan ketika seseorang yang ditinggalkannya akhirnya berhenti berharap ia akan kembali.

Ak pun memutuskan untuk menulis sebuah pesan kepada Puan. Tapi pesan itu tak pernah benar-benar aku kirim kepadanya.

Hanya sebagai ingatan memori, bahwa jatuh cinta di Kota Surabaya itu berat. Sebab–jikau rindu, bukan hanya kepada sosoknya. Tapi juga tiap sudut kotanya.

“Mari Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba. Toh anggur sama memabukkannya. Entah merlot, entah cap orang tua,” -Silampukau.

Lanjut Part 2!

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: