Di balik studio lukis itu, ada jejak cinta kami berdua di kala dua saliva menyatu. Hangat, mesra, dan berdebar bersama sang seniman, pelukis cinta!

Koper siap! Berkas-berkas siap! Hati yang belum siap!

Drrrt! Drrrt!

“Sampai ketemu besok ya. Keretanya sampai Bandung jam berapa?” tutur Okan tiba-tiba mengirim chat pukul 21.00 sebelum keberangkatanku.

Hanya kurang lebih seminggu hingga 10 hari, Okan begitu semangat ingin bertemu, dia yang berinisiatif melakukan pergerakan duluan. Tak ada lagi chat kami di aplikasi, ia hanya chat lewat WhatsApp.

“Iyaa, besok kereta dari Gambir jam 5 Subuh nih Kang. Kayaknya sampai sana sekitar jam 8 atau 8.30 pagi deh,” ungkapku dengan emoji senyum.

“Ya udah, sarapan di Bandung aja. Ada yang enak di dekat Stasiun. Kamu harus meeting jam berapa?” tanya dia lagi.

“Ya jam 11 siang harus udah sampai lokasi lah. Terus ke hotel,” ucapku.

“Berarti akhirnya menginap ya?” tanya dia lagi.

“Iya semalam. Pulangnya langsung ke kantor, capek banget kan? Hehehe,” jawabku lagi.

“Ya udah, aku siap jadi tourist guide selama kamu di Bandung! Hehehe,” kata dia lagi.

Deg-degan! Tentunya! Hal itu pulang yang aku sampaikan kepada Okan.

“Kamu gimana perasaannya,” tanyaku seraya berbaring di kasur setelah semuanya selesai dikemas.

“Gimana apanya,” tanya dia dengan emoji genit.

“Yaa, kita kan mau ketemu pertama kali. Gimana gitu? Jujur aku grogi, hehe,” sahutku lagi.

“Hehehe! Ya jujur aku semangat sih, sekaligus deg-degan juga. Tapi kapan lagi ketemu cewek manis dan cerdas kayak kamu. Mandiri,” katanya lagi.

“Ah berlebihan. Kamu kan belum kenal aja aku gimana. Aku galak lho,” ungkapku lagi.

“Hahaha! Justru aku suka cewek galak yang susah ditaklukkan, uhuy,” jawabnya bercanda.

HAHAHA!

Aku tak bisa tidur malam ini menanti hari esok. Gugup, grogi, semangat, antusias. Semua jadi satu.

Kuliah kembali foto profilnya seperti aktor Ibnu Jamil, tampan dengan flanel khasnya.

TUUUTT …. TUUUUTT!

Kereta sudah mulai berangkat dari Gambir. Bolak-balik pramusaji lewat alias melintas menawarkan makanan atau sarapan, tak nafsu sedikitpun. Bukannya tak suka atau belum lapar, tetapi rasa grogi dan deg-degan ini menutupi semuanya.

Drrrt! Drrrt!

“Kabari kalau udah mau dekat ya. Aku lagi siap-siap,” tulis Okan mengirim chat lebih dulu.

Pukul 08.00 pagi. Kereta sudah mulai memasuki zona Jawa Barat. Terlihat dari perkebunan hijau dan pemandangan gunung yang menyambut kami.

“Kayaknya udah tinggal deket sih. Mungkin sekitar 20 menit lagi Kang,” ungkapku dengan jempol sedikit gemetar.

“Hehehe, oke. Aku pakai flanel hijau kotak-kotak hitam ya. Dalaman kausnya abu-abu. Aku tunggu di depan ruang tunggu penumpang,” kata Okan lagi.

“Hehe, kayak mau naik ojol aja nih. Ya udah deh, aku pakai dress cokelat dengan inner dalam putih ya. Kerudungnya hitam,” ucapku lagi.

“Hahaha! Oke deh, aku mandi dulu,” ucap Okan.

Perasaan ini campur aduk, takut, gugup.

Hingga akhirnya plang Stasiun Bandung menyapaku di kota kembang.

“Ahhh sampai juga!” gumamku dalam hati.

Satu koper kecil kupegang, lalu tangan kiri meraih ponsel. Baru juga aku mau mengirim chat, ada telepon masuk berdering.

Kriiing! Kriiing!

“Halo, udah sampai ya? Kereta dari Jakarta aku lihat sudah tiba tuh,” ujarnya di ujung sana dengan suara yang bikin hati ini semakin berdebar.

“Hei, iya Kang. Aku lagi jalan habis turun kereta,” ungkapku sambil clingak clinguk ke arah bangku penumpang.

Menuruni anak tangga pelan-pelan, aku hampir saja tersandung. Tangan kanan seseorang langsung membantuku.

“Sini Neng, abdi bantu,” kata seorang pria.

DEG!

Pria tampan seperti Ibnu Jamil itu tersenyum. Rupanya, lebih tampan aslinya dibanding di foto. Astaga, aku benar-benar tidak bermimpi. Wujud Okan memang nyata.

“YA AMPUN! KANG OKAN!” tuturku dengan raut wajah memerah.

Rasanya mau pingsan, seperti bertemu artis. Langsung saja aku tersenyum simpul.

Tangannya sudah menggenggam gagang koper ini. Aku sudah berjalan di sampingnya seiring bersamanya.

“Capek ya, belum sarapan kan? Yuk kita sarapan,” katanya tersenyum.

“Ah iya,” jawabku gugup sesekali menunduk.

“Soalnya kelihatan, wajahnya sedikit pucat. Pasti bukan karena lapar sih ini …”

Ia menggodaku sambil menyenggol sikunya ke siku aku.

“Ih sok tahu, ya emang aku belum full makeup aja,” jawabku malu malu tersipu.

“Hahaha! Pucat karena grogi mau ketemu aku kayaknya,” kata dia lagi menggodaku.

“Ihhh udah ah! Maluuuu,” ucapku sambil tersenyum semringah lalu Okan mengarahkan langkahku ke parkiran.

Motor standar, Honda Vario warna hitam terparkir dengan dua helm di atasnya. Helm hitam dan putih. Dia sudah menyiapkan semuanya.

“Maaf ya, motornya biasa aja. Maklum, seniman. Hehehe,” kata dia merendah.

“Ahhhh, kamu mah begituuu,” ucapku manyun.

“IHHHH! GEMES” katanya manja sambil memencet hidungku dan memakaikan helmnya ke kepalaku.

“Duhhh ihh kamu ah,” tuturku manja begitu romantis.

Seolah semuanya hanya penonton, dan kontrak di dunia ini. Hanya ada kemesraan kami berdua.

“NAHHHH! Kita ke Braga aja ya, bubur ayam Braga mantep banget,” kata dia sedikit berteriak di motor.

“AHHH, BOLEH,” ucapku agak teriak dari belakang.

WUEENGG!

“Pegangan dong! Nanti jatuh,” katanya modus.

Koperku ditaruh di depan motornya. Tanganku lantas langsung memeluk pinggangnya.

“Peluk lagi dong yang erat,” kata dia lagi.

Aku tersenyum di balik helm, sampai akhirnya merapatkan tubuhku ke punggungnya.

“Nah gitu dong,” katanya sambil bernyanyi kecil.

Ah bahagia banget hati ini! Tak menyangka akhirnya bisa bertemu dengannya hari ini.
Tak lama kemudian, kami tiba di kawasan Braga.

Suasana pagi mulai ramai. Orang-orang berjalan santai, beberapa pengunjung sibuk mengabadikan bangunan-bangunan tua yang menjadi ciri khas kawasan itu.

Okan mengajakku ke sebuah tempat makan sederhana.

“Ini dia. Bubur ayam Braga yang aku ceritain.”

Aku melihat semangkuk bubur yang baru saja disajikan di hadapanku.

“Wah, kelihatannya enak.”

“Bukan cuma kelihatannya. Coba dulu.”

Aku mengambil satu sendok.

“Hmmmm!”

“Enak?”

Aku mengangguk cepat.

“Enak banget!”

Okan tersenyum puas.

“Berarti tourist guide-nya berhasil.”

“Baru bubur doang.”

“Ya nanti ada paket lengkapnya.”

Aku menaikkan alis.

“Paket lengkap?”

“Iya. Bubur, jalan-jalan, studio lukis, terus…”

Ia sengaja menghentikan kalimatnya.

“Terus?”

“Rahasia.”

“Ih!”

Aku memukul lengannya pelan.

Okan tertawa.

Kami sarapan sambil mengobrol tentang banyak hal. Anehnya, percakapan yang sempat terasa canggung di awal justru mengalir begitu saja.

Tentang pekerjaanku. Tentang lukisannya. Tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana ia bisa sampai menyukai dunia seni.

Sesekali aku memperhatikannya ketika dia sedang bercerita.

Ada sesuatu dari caranya berbicara yang membuatku nyaman. Mungkin karena selama ini aku hanya mengenal Okan melalui tulisan. Kini aku bisa melihat ekspresinya secara langsung.

Melihat matanya ketika dia tertawa. Melihat senyumnya ketika sedang menggodaku.
Dan ternyata…Foto profilnya tidak berbohong. Okan memang tampan. Bahkan jauh lebih tampan ketika dilihat dari jarak sedekat ini.

“Neng?”

Aku tersentak.

“Hah?”

“Kok bengong?”

“Enggak.”

“Kamu lagi lihat aku, ya?”

“Pede banget!”

“Berarti benar.”

Aku langsung sibuk mengaduk bubur.

“Udah, makan aja.”

“Hahaha. Malu, ya?”

“Ihhh!”

Okan hanya tertawa.
Dan pagi itu, aku sadar satu hal.

Pertemuan pertama kami ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang kubayangkan.
Jam menunjukkan pukul 09.30.

Aku mulai gelisah.

“Kang, aku harus meeting jam sebelas.”

“Iya, aku ingat.”

“Hotel juga belum.”

“Tenang.”

Okan bangkit dari kursinya.

“Kita mampir ke studio sebentar.”

Aku mengerutkan dahi.

“Studio?”

“Iya. Dekat dari sini.”

“Boleh?”

“Harus boleh.”

Ia tersenyum.

“Biar kamu tahu tempat aku menghabiskan sebagian besar waktuku.”
Aku akhirnya mengangguk.

“Ya udah.”

Studio Lukis Okan

Beberapa menit kemudian, kami berhenti di depan sebuah bangunan sederhana yang tampak tenang dari luar.

Begitu pintu dibuka, aroma khas cat minyak langsung menyambutku. Aku melangkah masuk. Mataku langsung tertuju pada berbagai lukisan yang memenuhi dinding.

Ada pemandangan. Ada wajah manusia. Ada bunga.

Ada beberapa lukisan abstrak dengan sapuan warna yang berani.

“Wow…”

Aku berjalan perlahan.

“Ini semuanya kamu yang lukis?”

“Ada beberapa lukisan seniman lain, ini kebetulan masih pagi, biasanya ramai kalau malam,” ucapnya.

Aku mendekati salah satu lukisan.

“Bagus banget.”

“Yang mana?”

“Yang ini.”

Okan berdiri di sampingku.

“Kenapa suka?”

“Entahlah. Warnanya terasa hidup.”

Ia tersenyum tipis.

“Kalau kamu?”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Kalau kamu dilukis, kira-kira warnanya apa?”

Aku tertawa.

“Pertanyaan macam apa itu?”

“Jawab aja.”

“Merah mungkin.”

“Kenapa?”

“Karena aku gampang malu.”

Okan tertawa kecil.

“Kalau aku yang lukis, mungkin warnanya merah juga.”
Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena sejak ketemu kamu, jantungku nggak normal.”

DEG!

Kali ini aku benar-benar tidak mampu menjawab.
Aku memilih berjalan menjauh.

“Udah ah. Aku mau lihat-lihat dulu.”

Okan hanya tersenyum.

Aku berjalan melewati beberapa kanvas yang bersandar di sudut ruangan.
Sampai akhirnya…

“Eh!”

Kakiku tersandung sesuatu.
Tubuhku kehilangan keseimbangan.

Refleks, Okan langsung meraih pinggangku.

“Pelan-pelan!”

Aku membeku.

Tangannya masih berada di pinggangku.
Wajah kami hanya berjarak beberapa senti.

Aku bisa merasakan napasnya.
Begitu pula sebaliknya.

Hening.
Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada suara orang lain.
Hanya suara detak jantungku sendiri yang terasa begitu keras.
Okan menatap mataku.

Aku menatapnya.

“Kamu nggak apa-apa?”

Aku menggeleng pelan.

“Nggak.”

Tapi kami tetap tidak bergerak.

Entah siapa yang lebih dulu mendekat.
Yang kuingat hanya…

Jarak di antara kami semakin tipis.
Dan di balik sebuah lukisan besar yang bersandar di dinding studio itu…
Bibir kami bertemu.

Singkat. Lembut. Namun cukup untuk membuat seluruh tubuhku seperti kehilangan tenaga.
Okan segera menarik wajahnya. Kami saling menatap.

Sama-sama gugup. Sama-sama tidak tahu harus berkata apa.
Aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

“Cha…”

Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. Aku menelan ludah.

“Iya?”
“Maaf…”

Aku menggeleng cepat.

“Jangan minta maaf.”

Ia terdiam.

Aku pun begitu.

Wajah kami sama-sama memerah.

Lucu. Okan tersenyum malu.

Okan terdiam sebentar. Lalu tersenyum nakal.

“Kalau aku tahu reaksimu begini…”

“Apa?” “Aku bakal nyium kamu dari tadi.”

“Ihhh!”

Aku memukul lengannya sambil tertawa malu. Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang baru saja berubah.

Hubungan kami bukan lagi sekadar percakapan di layar.

Bukan lagi sekadar foto profil, chat tengah malam, atau panggilan suara sebelum tidur.

Pagi itu di Bandung… Okan dan aku akhirnya punya kenangan pertama yang benar-benar milik kami. Sebuah ciuman.

Di balik lukisan. Dan sejak saat itu, aku tahu…kisah cinta kami baru saja dimulai.

Gairah Pelukis Cinta: BAB I – Kayaknya Kita Setipe! – Cerpenkita.id

Gairah Pelukis Cinta: BAB II – Setiabudi, Sulanjana, dan Desir Mimpi Tentangmu – Cerpenkita.id

Miss Vee

Sosok penulis yang tertantang menuangkan ide dan pikiran lewat karya literasi. Cerita fiksi itu berujung novel adult romance sebagai andalannya

Bagikan:

Tags: