“Karena mungkin sejak awal Tuhan sudah menulis namamu di jalan hidupku. Kita hanya belum tahu bahwa setiap langkah yang membawa kita bertemu, setiap kebetulan yang mempertemukan kita, bahkan rencana orangtua kita yang tidak pernah kita ketahui… ternyata sedang diarahkan menuju satu tempat yang sama.”

PAGI itu, rumah Musri kembali diisi oleh aktivitas kecil setelah malam yang penuh kejutan.

Matahari mulai meninggi. Suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan depan rumah. Ibu Musri sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati teh hangat ketika ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan WhatsApp masuk.

Dari Rosmiati.

Ibu Suci.

Ibu Musri membuka pesan itu.

“Bu, kalau tidak ada kesibukan, saya berharap Ibu dan keluarga bisa datang ke Pemalang sore ini. Ada yang ingin kami bicarakan bersama keluarga.”

Ibu Musri membaca pesan itu dua kali.

Kemudian tersenyum.

Seolah sudah mengetahui sesuatu yang akan terjadi.

Ia segera membalas.

“Insyaallah. Kami akan berangkat siang setelah Zuhur.”

Belum sempat meletakkan ponsel, Ibu Musri sudah terbayang wajah anaknya.

Musri.

Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar.

“Mus!”

Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka.

“Ya, Bu?”

“Kamu nanti habis Zuhur ada acara?”

Musri menggeleng.

“Enggak ada, Bu. Kenapa?”

“Ibu mau ke Pemalang.”

Musri mengernyit.

“Pemalang?”

“Iya.”

“Ngapain?”

Ibu Musri tersenyum.

“Ke rumah Suci.”

Musri langsung terdiam.

“Ke rumah Suci?”

“Iya. Ibu sama Bapak mau ikut kamu.”

Musri terlihat benar-benar terkejut.

“Serius, Bu?”

“Serius.”

Musri tersenyum lebar.

“Wah… saya kira Ibu belum mau kenal sama keluarga Suci.”

“Justru Ibu ingin kenal lebih dekat.”

Ada sesuatu dalam cara Ibu Musri menjawab yang membuat Musri merasa bahagia.

Selama ini ia memang berharap keluarganya bisa segera mengenal Suci.

Namun ia tidak pernah menyangka ibunya justru begitu antusias.

“Kalau begitu saya siap, Bu.”

“Berangkat habis Zuhur.”

“Siap.”

Musri kemudian kembali ke kamar dan mengambil ponselnya.

Nama Suci langsung dicarinya.

Ia mengetik pesan.

“Suci, siang ini aku sama keluarga mau ke Pemalang.”

Tak lama kemudian pesan itu dibaca.

Suci tersenyum.

“Serius, Mas?”

“Serius. Berangkat habis Zuhur. Mungkin sekitar jam tiga sore sudah sampai.”

Suci menatap layar dengan perasaan bahagia.

“Aku tunggu.”

Kemudian ia bergegas menemui ibunya.

“Bu…”

Rosmiati menoleh.

“Kenapa?”

“Keluarga Mas Musri jadi datang sore ini.”

Ibu Suci tersenyum.

“Alhamdulillah.”

Suci memperhatikan ibunya.

Senyum itu terasa sedikit berbeda.

“Memangnya Ibu sudah tahu mereka akan datang?”

Ibu Suci pura-pura sibuk merapikan sesuatu.

“Ya… kemarin kan sudah bicara.”

Suci mengangguk.

Suci masih menyimpan rahasia yang didengarnya semalam.

Ia tahu bahwa keluarganya dan keluarga Musri ternyata pernah merencanakan perjodohan mereka.

Namun Suci memilih diam.

Ia ingin melihat sendiri bagaimana semuanya akan berakhir.

Ibu Suci kemudian mendekati putrinya.

“Ci…”

“Iya, Bu?”

“Kalau keluarga Musri datang, sekalian saja kita buat acara lamaran.”

Suci terdiam.

“Lamaran?”

“Iya.”

Pipi Suci seketika memerah.

Ibu Suci tersenyum.

“Musri datang bersama orangtuanya. Masa cuma datang bertamu?”

Suci menunduk.

“Terus bagaimana?”

“Suruh dia beli cincin.”

Suci membelalakkan mata.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Suci tertawa kecil.

“Mas Musri bisa kaget.”

“Biar.”

Ibu Suci ikut tertawa.

“Namanya juga laki-laki. Harus siap.”

Suci kemudian mengambil ponsel.

Ia membuka percakapannya dengan Musri.

“Mas..”

Balasan datang beberapa detik kemudian.

“Iya, Ci?”

Suci menarik napas.

Kemudian mengetik.

“Kalau nanti datang, jangan lupa bawa sesuatu.

“Apa?”

“Cincin.”

Musri membaca pesan itu cukup lama.

“Cincin?”

“Iya.”

“Ukuran berapa?”

Suci tersenyum.

Ia kemudian mengirim ukuran jari manisnya.

“Ini ukurannya.”

Musri membalas.

“Baik. Aku cari nanti.”

“Jangan salah ukuran.”

“Insyaallah.”

Suci tersenyum.

Ia meletakkan ponsel di dada.

Entah mengapa hari itu terasa berbeda.

Seperti ada sesuatu yang sedang menunggu mereka.

Selepas Zuhur, keluarga Musri berangkat menuju Pemalang.

Musri duduk di dalam mobil bersama ayah dan ibunya.

Sepanjang perjalanan, ia tidak henti-hentinya tersenyum.

Sesekali ia memeriksa ponsel.

Ada pesan dari Suci.

“Hati-hati di jalan.”

Musri membalas singkat.

“Iya. Doakan lancar.”

Sementara itu, sebuah kotak kecil berisi cincin tersimpan aman di dalam saku bajunya.

Ia belum tahu seperti apa acara sore nanti.

Namun hatinya sudah penuh dengan keyakinan.

Sekitar pukul tiga sore, mobil yang membawa keluarga Musri akhirnya memasuki halaman rumah Suci.

Musri turun dari mobil.

Namun baru beberapa langkah, ia langsung terdiam.

Rumah Suci ternyata sudah dipenuhi banyak orang.

Keluarga besar Suci berkumpul.

Di ruang depan telah tersaji berbagai hidangan.

Ada makanan, minuman, buah-buahan, dan berbagai sajian yang membuat suasana rumah terlihat seperti sedang mempersiapkan sebuah acara besar.

Musri menoleh kepada ibunya.

“Bu…”

“Iya?”

“Ini sebenarnya ada acara apa?”

Ibu Musri hanya tersenyum.

“Nanti juga kamu tahu.”

Musri semakin bingung.

Dari dalam rumah, Rosmiati dan suaminya keluar menyambut.

Ibu Musri langsung menghampiri mereka.

Keduanya bersalaman.

Kemudian berpelukan.

Begitu juga ayah Musri.

Mereka terlihat begitu akrab.

Seperti dua keluarga yang sudah lama saling mengenal.

Musri kembali terheran-heran.

Ia berbisik kepada ibunya.

“Ibu kenal sama orangtuanya Suci?”

Ibu Musri tersenyum.

“Nanti Ibu cerita.”

Musri semakin penasaran.

Suci kemudian keluar.

Mengenakan kebaya dan terluhat sangat anggun.

Ketika melihat Musri, ia tersenyum.

Musri membalas senyum itu.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Suci seperti menyimpan sebuah rahasia.

Mereka kemudian duduk bersama.

Suasana perlahan menjadi lebih serius.

Ibu Musri memandang keluarga Suci.

Kemudian menarik napas.

“Sepertinya sudah waktunya kita bicara terus terang.”

Musri menoleh.

Suci juga memperhatikan.

Ibu Musri melanjutkan.

“Musri, sebenarnya keluarga kita dengan keluarga Suci sudah saling mengenal cukup lama.”

Musri mengerutkan dahi.

“Sudah lama?”

“Iya.”

Ayah Suci mengangguk.

“Bahkan jauh sebelum kamu datang ke rumah kami beberapa waktu lalu.”

Musri semakin bingung.

Ibu Musri tersenyum.

“Dulu kami pernah membicarakan satu hal.”

“Apa, Bu?”

“Menjodohkan kamu dengan Suci.”

Musri membeku.

Matanya membesar.

“Apa?”

Suci menunduk sambil menahan senyum.

Musri menoleh kepadanya.

“Suci…”

Suci hanya tersenyum.

Ibu Musri tertawa kecil.

“Lucunya, sebelum rencana itu benar-benar kami jalankan, ternyata kalian sudah saling mengenal.”

Rosmiati menyambung.

“Bukan cuma kenal.”

Musri semakin salah tingkah.

“Pacaran.”

Suasana seketika dipenuhi tawa keluarga.

Musri mengusap wajahnya.

“Jadi selama ini…”

Ibu Musri mengangguk.

“Perempuan yang ingin Ibu kenalkan kepadamu ternyata sudah lebih dulu kamu cintai.”

Musri terdiam.

Ia menatap Suci.

Suci akhirnya mengangkat wajah.

“Berarti…”

Musri tersenyum.

“Berarti kita memang sudah direncanakan dari awal.”

Suci mengangguk.

“Tapi bukan oleh orangtua kita.”

Musri menggenggam tangannya.

“Oleh Tuhan.”

Senyum keduanya pecah.

Hari itu, sesuatu yang selama ini hanya menjadi rahasia kecil di antara kedua keluarga akhirnya terbuka.

Dan justru setelah rahasia itu terbongkar, semuanya terasa semakin indah.

Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Tidak ada lagi perjodohan yang harus dipaksakan.

Karena ternyata hati mereka telah lebih dahulu disatukan.

Prosesi lamaran kemudian dimulai.

Kedua keluarga duduk bersama.

Pembicaraan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Tidak ada ketegangan.

Tidak ada keraguan.

Semua seolah sudah menemukan tempatnya masing-masing.

Hingga akhirnya tiba saat yang paling dinantikan.

Musri membuka kotak kecil yang sejak tadi disimpannya.

Sebuah cincin.

Ia mengambil tangan Suci.

Suci tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Dengan perlahan, Musri memasangkan cincin itu ke jari manis Suci.

Tepuk tangan keluarga memenuhi ruangan.

Ibu Musri mengusap sudut matanya.

Rosmiati tersenyum bahagia.

Ayah kedua keluarga saling berjabat tangan.

Hari itu, hubungan Musri dan Suci bukan lagi sekadar hubungan dua orang yang sedang jatuh cinta.

Mereka telah mendapatkan restu dari dua keluarga.

Setelah melalui pembicaraan bersama, kedua keluarga akhirnya menyepakati bahwa pernikahan Musri dan Suci akan dilaksanakan setelah bulan haji tahun itu.

Suci menatap cincin di jarinya.

Kemudian menatap Musri.

“Mas…”

“Iya?”

“Jadi benar-benar sampai sini?”

Musri tersenyum.

“Bukan sampai sini.”

“Lalu?”

“Justru mulai dari sini.”

Suci tersenyum.

Menjelang sore, suasana rumah Suci masih dipenuhi kebahagiaan.

Musri berdiri di halaman bersama Suci.

Langit Pemalang perlahan berubah warna.

Musri menatap perempuan di sampingnya.

Kemudian berkata pelan.

“Ci…”

“Iya?”

“Aku dulu berpikir pertemuan kita di Jakarta cuma kebetulan. Aku makan di rumah makan tempat kamu kerja lalu ketinggalan handphone. Dan kamu yang menemukan.”

Suci tersenyum.

“Aku juga.”

“Ternyata kita salah.”

Suci menatapnya.

Musri menggenggam tangan Suci yang kini telah mengenakan cincin.

“Karena mungkin sejak awal Tuhan sudah menulis namamu di jalan hidupku. Kita hanya belum tahu bahwa setiap langkah yang membawa kita bertemu, setiap kebetulan yang mempertemukan kita, bahkan rencana orangtua kita yang tidak pernah kita ketahui… ternyata sedang diarahkan menuju satu tempat yang sama.”

Suci terdiam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Musri tersenyum.

“Kalau hari ini kita akhirnya dipertemukan dalam sebuah ikatan, aku tidak ingin menyebutnya sekadar perjodohan. Bagiku, ini adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa ketika dua hati memang ditakdirkan untuk bersama, manusia boleh membuat rencana, boleh mencari jalan, tetapi Tuhanlah yang diam-diam menyusun pertemuannya. Dan ternyata, jauh sebelum aku memilihmu, Tuhan sudah lebih dahulu memilihkanmu untukku.”

Suci tersenyum sambil menahan air mata.

Musri kemudian menatap cincin di jari manisnya.

“Terima kasih sudah datang ke hidupku.”

Suci menjawab lirih.

“Terima kasih juga sudah datang mencariku.”

Keduanya tersenyum.

Di dalam rumah, suara tawa keluarga masih terdengar.

Sementara di luar, matahari perlahan tenggelam.

Perjalanan panjang yang bermula dari sebuah warung makan, dari pertemuan sederhana antara seorang lelaki dan seorang perempuan, akhirnya sampai pada sebuah ikatan yang tidak pernah mereka rencanakan.

Mereka pernah mengira cinta hanya tentang menemukan seseorang.

Namun hari itu mereka belajar bahwa cinta juga tentang menemukan seseorang pada waktu yang tepat.

Dan terkadang, manusia merasa dirinya sedang mencari jalan menuju jodoh.

Padahal sebenarnya…

Tuhanlah yang sedang menuntun langkahnya.

Saat keduanya masih terlarut dalam kebahagiaan, tiba-tiba Ibu Musri datang sambil berkata.

“Kalau sudah nikah, cepet kasih Ibu cucu ya.”

Tamat.

Baca Sebelumnya: 

Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian VII – Ada Campur Tangan Tuhan di Perjodohan Ini

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: