Karena tanpa sepengetahuan siapa pun, takdir sudah lebih dahulu menyatukan nama mereka.

PUKUL sepuluh malam.

Rumah keluarga Musri di Purwokerto mulai sunyi. Suara televisi dari ruang tengah sudah dikecilkan. Ayah Musri duduk santai sambil membaca koran, sementara Ibu Musri masih membereskan beberapa barang di meja.

Musri sendiri sudah masuk ke kamar.

Perjalanan dari Pemalang membuat tubuhnya cukup lelah. Namun rasa lelah itu tidak mampu mengalahkan kebahagiaannya.

Hari itu ia sudah melakukan sesuatu yang selama ini hanya berani ia bayangkan.

Datang ke rumah Suci.

Bertemu orangtuanya.

Dan menyampaikan niat untuk serius.

Ibu Musri baru saja hendak beranjak ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

Suara lantunan ayat Al Quran terdengar sebagai nada dering.

Ia melihat layar.

Sebuah nama yang sudah lama dikenalnya muncul di sana.

Rosmiati.

Ibu Suci. 

Ibu Musri mengernyitkan dahi.

“Jam segini telepon ada apa?”

Ia kemudian mengangkat telepon.

“Halo?”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Suara di seberang terdengar akrab.

“Maaf mengganggu malam-malam.”

“Enggak apa-apa. Ada apa?”

Ibu Suci tertawa kecil.

“Saya sebenarnya mau cerita sesuatu.”

“Cerita apa?”

“Tadi siang ada laki-laki datang ke rumah.”

Ibu Musri langsung tersenyum.

“Oh, tamu?”

“Iya.”

“Siapa?”

“Nah, itu yang bikin saya bingung.”

Ibu Musri mulai memperhatikan.

“Kenapa bingung?”

“Dia datang mengenalkan diri sebagai pacarnya Suci.”

Ibu Musri terdiam.

“Pacarnya Suci?”

“Iya.”

“Lho, bukannya Suci belum pernah bilang kalau punya pacar?”

“Makanya saya juga kaget.”

Ibu Suci kemudian melanjutkan.

“Dia datang baik-baik. Sopan. Duduk dengan Bapak. Ngobrol. Katanya serius sama Suci.”

Jantung Ibu Musri tiba-tiba berdegup lebih cepat.

Entah mengapa ada sesuatu yang terasa janggal.

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Suci sendiri belum tahu kalau kami sebenarnya mau dijodohkan dengan anak ku?” tanya Ibu Musri sambil mengernyit.

“Memangnya siapa laki-laki itu?”

Ibu Suci terdengar seperti sedang mengingat sesuatu.

“Namanya…”

Ia berhenti sebentar.

“Musri.”

Ibu Musri langsung membeku.

Musri.

Nama itu seakan menghentikan seluruh suara di rumah.

Ia menatap kosong ke depan.

“Musri?”

“Iya.”

Ibu Musri tidak langsung menjawab.

“Kenapa?”

“Enggak…”

Suaranya bergetar.

“Coba ulangi namanya.”

“Musri.”

Ibu Musri menutup mulut dengan tangan.

Matanya membesar.

Jangan-jangan…

Jangan-jangan laki-laki yang datang ke rumah keluarga Suci tadi siang adalah anaknya sendiri.

Ia menoleh ke arah kamar Musri.

Pintu kamar masih tertutup.

Anaknya sedang berada di dalam.

Baru beberapa jam lalu pulang dari Pemalang.

Dan tadi, sebelum masuk kamar, Musri memang bercerita bahwa ia baru saja bertemu dengan orangtua Suci.

Ibu Musri menahan tawa.

“Musri. Katanya umur tiga puluh lima tahun,” jelas ibu Suci.

Ibu Musri hampir tertawa.

Itu benar-benar anaknya.

Anaknya sendiri.

Laki-laki yang sejak beberapa waktu lalu terus ia pikirkan untuk dijodohkan dengan Suci.

Ternyata tanpa mereka ketahui, keduanya sudah saling bertemu di Jakarta.

Bahkan sudah menjadi pasangan.

Lebih mengejutkan lagi, Musri ternyata sudah datang sendiri ke rumah Suci untuk menyampaikan keseriusannya.

Ibu Musri memejamkan mata.

Dalam hati ia mengucap syukur.

“Ya Allah…”

Ibu Suci terdengar bingung.

“Kenapa?”

“Musri itu anakku!” kata Ibu Musri sambil tertawa pelan.

“Oalahhh…” sahut ibu Suci.

“Terus gimana ini?”

“Biarkan saja.”

“Maksudnya?”

Ibu Suci diam.

“Kalau memang anak-anak kita sudah saling menemukan, mungkin memang itu jalan yang terbaik.”

Ibu Suci tertawa kecil.

“Saya juga sebenarnya berpikir begitu.”

Ibu Musri mengangguk meski lawan bicaranya tidak dapat melihat.

“Berarti kita tidak perlu ikut campur terlalu jauh.”

“Tapi Suci belum tahu soal rencana kita.”

“Begitu juga Musri.”

“Kalau mereka tahu bagaimana?”

Ibu Musri tersenyum.

“Jangan diberi tahu dulu.”

“Kenapa?”

“Biarkan mereka menjalani hubungan itu secara alami.”

Ia menatap pintu kamar Musri.

“Kalau memang benar mereka berjodoh, pada akhirnya mereka akan tahu sendiri.”

Ibu Suci terdiam beberapa saat.

“Jadi kita rahasiakan?”

“Iya.”

“Dari Musri?”

“Dari Musri.”

“Dari Suci?”

“Dari Suci juga.”

Keduanya kemudian tertawa kecil.

Malam itu, dua orang ibu yang sebelumnya hanya mengetahui rencana perjodohan, kini justru menemukan kenyataan yang jauh lebih menarik.

Rencana mereka ternyata tidak perlu dilakukan.

Karena tanpa mereka sadari, anak-anak mereka sudah lebih dahulu saling menemukan.

“Berarti kita sekarang cuma bisa menunggu,” kata Ibu Suci.

“Betul.”

“Menunggu mereka tahu sendiri.”

“Dan jangan sampai kita yang membocorkannya.”

Ibu Suci tertawa.

“Setuju.”

Ibu Musri tersenyum.

“Kalau nanti mereka tahu, mungkin mereka akan kaget.”

“Bukan mungkin lagi.”

Keduanya kembali tertawa.

“Ya sudah,” kata Ibu Suci. “Saya tutup dulu.”

“Iya.”

“Jangan bilang soal pembicaraan kita.”

“Tenang.”

“Rahasia.”

“Rahasia.”

Telepon pun berakhir.

Ibu Musri menurunkan ponselnya perlahan.

Ia masih tersenyum.

Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.

Selama ini ia khawatir Musri akan menolak perjodohan.

Ia juga khawatir Suci akan merasa tidak nyaman jika mengetahui ada rencana dari kedua keluarga.

Namun ternyata Tuhan memiliki cara yang jauh lebih sederhana.

Tidak perlu dipaksa.

Tidak perlu diatur.

Tidak perlu didorong.

Musri dan Suci justru menemukan satu sama lain dengan cara mereka sendiri.

Ibu Musri berdiri.

Ia hendak menuju kamar.

Namun sebelum melangkah, ia kembali tersenyum.

“Anak itu…”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak tahu kalau perempuan yang dia cintai ternyata memang perempuan yang sejak awal ingin Ibu kenalkan.”

Ia kemudian mematikan lampu ruang tengah.

Tanpa mengetahui bahwa beberapa meter dari tempatnya berdiri, seseorang sedang terpaku di balik pintu.

Suci.

Kala itu ia hendak menuju kamar mandi.

Namun ketika melewati kamar ibunya, langkahnya terhenti.

Pintu kamar tidak tertutup rapat.

Dari dalam terdengar suara ibunya.

Suci awalnya tidak berniat mendengarkan.

Ia hanya berhenti karena mendengar namanya disebut.

Kemudian terdengar satu nama yang membuat tubuhnya kaku.

“Musri.”

Suci menahan napas.

Ia tidak sengaja mendengar percakapan ibunya dengan seseorang melalui telepon.

Awalnya ia tidak mengerti.

Namun semakin lama, potongan-potongan pembicaraan itu mulai tersusun.

Tentang seorang laki-laki yang datang siang tadi.

Tentang dirinya.

Tentang perjodohan.

Tentang Musri.

Dan tentang sebuah rahasia yang ternyata sudah lama disimpan kedua keluarga.

Suci berdiri diam.

Ia bahkan lupa tujuan awalnya menuju kamar mandi.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

“Jadi…”

Suci menutup mulutnya.

“Mas Musri…”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Anak teman Ibu?”

Ia tidak bergerak.

Percakapan itu terus berlangsung sampai akhirnya telepon ditutup.

Suci kemudian mundur perlahan dari depan kamar ibunya.

Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan.

Pikirannya penuh.

Ternyata laki-laki yang selama ini ia cintai bukan sekadar laki-laki yang kebetulan datang ke kehidupannya. Ada sebuah cerita lain yang tidak pernah ia ketahui.

Sebuah cerita yang ternyata sudah dimulai jauh sebelum dirinya mengenal Musri.

Suci duduk di tepi tempat tidur.

Ia mengambil ponsel.

Nama Musri masih berada di daftar percakapan terakhir.

Tangannya ingin mengetik.

Namun ia berhenti.

Apa yang harus ia katakan?

Haruskah ia bertanya?

Haruskah ia langsung mengatakan bahwa ia sudah mengetahui semuanya?

Atau lebih baik diam?

Suci menarik napas panjang.

Kemudian tersenyum kecil.

Mungkin untuk pertama kalinya malam itu ia mengerti sesuatu.

Pertemuan dirinya dengan Musri mungkin bukan kebetulan.

Dan perjodohan yang selama ini ia tidak ketahui ternyata bukan sesuatu yang harus ia takuti.

Karena tanpa sepengetahuan siapa pun, takdir sudah lebih dahulu mempertemukan mereka.

Suci mematikan layar ponsel.

“Mas Musri…”

Ia tersenyum.

“Kalau begitu, ternyata kita memang sudah dipertemukan sejak awal.”

Namun satu pertanyaan masih menggantung di kepalanya.

Apakah Musri juga akan bahagia ketika mengetahui semua ini?

Dan yang lebih penting…

Kapan rahasia kedua keluarga itu akhirnya terbongkar?

(Bersambung…)

Witing Tresno Jalaran Soko KULINER: Bagian VI – Yang Mana Jodohku?

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: