Dua kali kau hapus air mataku
Dua kali kau hapus mimpi-mimpiku
Sapu tangan merah itu masih lusuh

Entah karena tangisku
atau belum sempat dicuci sejak tahun tujuh puluh tujuh.

Kau bilang, “Tenang, aku di sini.”
Aku percaya sepenuh hati.
Ternyata kau cuma kasihan,
sapu tanganmu juga kebetulan
nggak punya siapa-siapa.

Kini setiap kali aku menangis,
sapu tangan itu selalu datang.
Bukan untuk menghapus air mata,
tapi menagih jasa laundry
sebesar lima ribu rupiah.

Sapu tangan merah,
kau saksi kisah yang indah.
Dua kali kau hapus air mataku,
tiga kali kau jatuh ke got,
dan entah berapa kali
kau dipakai membungkus gorengan.

Kalau suatu hari kita berpisah,
jangan bawa kenangan kita.
Bawa saja sapu tangan merah itu.

Sebab aku sudah lelah menangis,
dan dia sudah lelah
jadi korban ingus.

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: