“Ya tuhan mengapa, dia cantik sekali. Aku hanyalah manusia biasa yang sering keluar masuk penjara.” -Mat Lila
BRAM, pria yang baru saja keluar dari Lapas Cipinang, Jakarta Timur. Memulai kembali roda kehidupannya dengan bekerja di Warung Mie Ayam milik pamannya.

Ia masuk bui karena pasal 111. Bram dipenjara kurang lebih hampir 4 tahun. Di dalam sana–Bram selalu menyesali perbuatannya. Berjanji akan mengubah nasib baiknya setelah keluar dari penjara.
Jauh sebelum terkena pasal 111, Bram juga pernah terseret kasus 378. Ia hampir menghabiskan masa mudanya di ruang tahanan. Sekarang usianya sudah 32 tahun.
Bram berjanji dan berkomitmen kepada diri sendiri untuk memulai segala hal baru dengan satu porsi kebaikan. Entah apa pun itu. Ia sungguh menyesal akan perbuatan kelamnya.
Sehari setelah keluar dari jeruji besi, Bram selalu percaya bahwa hidupnya akan baik-baik saja selama ia tidak menjatuhkan mangkuk mie ayam.
Itu prinsip sederhana yang ia pegang semenjak bekerja di kedai milik pamannya. Sebuah warung kecil bernama Mie Ayam Dua Putra, yang berdiri di ujung gang dekat kampus.
Bram bukan koki, bukan juga pemilik warung. Pekerjaannya sederhana: mencatat pesanan, mengantar makanan, membersihkan meja, lalu sesekali membantu mencuci mangkuk.
Hari itu, prinsip hidup Bram runtuh. Bukan karena cinta. Bukan karena utang. Bukan karena ulah kasar. Bukan pula karena dimarahi Pak Darto–pamannya.
Melainkan karena satu seporsi mie ayam.
“Bang, mie ayam satu, ya.”
Bram menoleh.
Perempuan itu duduk sendirian di meja pojok. Rambutnya sebahu, mengenakan kemeja putih dengan celana jeans. Di depannya ada sebuah buku yang terbuka, meski sejak tadi tidak pernah benar-benar dibaca.
“Pakai pangsit?”
“Boleh.”
“Bakso?”
“Boleh juga.”
“Ceker?”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Bang, saya pesan mie ayam, bukan nikahan.”
Bram ikut tertawa.
“Maaf, Mbak. Saya cuma memastikan.”
Namanya Salsa. Setidaknya, Bram tahu namanya lima belas menit kemudian. Ia membawa semangkuk mie ayam dengan hati-hati. Langkahnya pelan.
Mangkuk diletakkan di atas nampan. Kuahnya masih mengepul. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Lalu–BRUK!
Bram tersandung kaki kursi. Nampan terangkat. Mangkuk melayang. Mie ayam berputar di udara seperti adegan film romantis yang salah sutradara.
Dan sebelum Bram sempat berteriak, semangkuk mie ayam itu jatuh tepat ke tangan Salsa.
Hening. Salsa menatap tangannya. Bram menatap Salsa. Salsa menatap mie ayam yang menempel di tangannya.
Bram menatap mie ayam itu.
“Panas?” tanya Bram gugup.
Salsa mengangguk.
“Panas.”
Bram langsung panik.
“Pak! Es batu!”
“Buat apa?” teriak Pak Darto dari dapur.
“Ini darurat!”
“Darurat apaan?”
“Masa depan saya kena mie ayam!”
Seketika warung hening. Salsa melotot. Bram membeku. Pak Darto keluar dari dapur sambil membawa lap.
“Masa depan?”
“Bukan, Pak.”
Salsa menyela.
“Belum tentu.”
Bram menatapnya. Salsa menatap balik.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Bram merasa sebuah kecelakaan mie ayam mungkin saja merupakan campur tangan semesta.
Untungnya, tangan Salsa hanya memerah dan tidak mengalami luka serius. Bram bersikeras mengantarnya ke klinik.
“Enggak usah, Bang. Saya bisa sendiri.”
“Enggak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena tangan Mbak kena mie ayam gara-gara saya.”
“Ya terus?”
“Kalau nanti kenapa-kenapa, saya takut masuk berita. Takut masuk penjara lagi.”
Salsa tertawa.
“Masuk berita, masuk penjara?.”
“Iya.”
“Judulnya apa?”
Bram berpikir sebentar.
“Mie Ayam Maut, Seorang Gadis Jadi Korban Cinta.”
Salsa tertawa lebih keras. Sejak kejadian itu, Bram dan Salsa mulai sering bertemu.
Awalnya karena Bram merasa harus bertanggung jawab. Ia mengantar obat. Membawakan makanan.
Bahkan suatu sore, ia datang ke rumah Salsa membawa semangkuk mie ayam.
Salsa menatap mangkuk itu dengan curiga.
“Mas.”
“Iya?”
“Kamu serius?”
“Serius apa?”
“Kamu bawa mie ayam ke rumah orang yang baru saja kamu siram mie ayam?”
Bram mengangguk.
“Saya ingin menyembuhkan trauma.”
“Dengan mie ayam?”
“Terapi.”
Salsa menggeleng. Namun ia tetap menerima mangkuk itu. Malam itu mereka makan bersama di teras rumah Salsa.
Mie ayam yang dulu menjadi awal kekacauan justru menjadi alasan keduanya saling mengenal.
Salsa ternyata mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi. Ia tinggal bersama ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal.
Sementara Bram bukan sekadar penjaga warung. Ia sebenarnya pernah kuliah, tetapi berhenti karena terkena kasus hingga menjebloskannya ke penjara.
Di dalam sel tahanan, Bram punya cita-cita membuka kedai sendiri. Salsa punya cita-cita menjadi guru.
Dua manusia dengan mimpi sederhana itu perlahan saling menemukan tempat di antara percakapan-percakapan kecil.
“Bram.”
“Hm?”
“Kalau nanti kamu punya kedai sendiri, jangan jual mie ayam.”
“Kenapa?”
“Trauma.”
“Kalau aku jual kopi?”
“Boleh.”
“Kalau aku jual bakso?”
“Boleh.”
“Kalau aku jual hati?”
Salsa terdiam. Bram ikut terdiam.
“Gombal,” kata Salsa akhirnya.
“Berhasil?”
“Enggak.”
Tapi Salsa tersenyum.
Masalah datang ketika Salsa mendapat kabar bahwa ia diterima bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta setelah lulus.
“Ah, kau, Puan Kelana, mengapa mesti ke sana? Jauh-jauh puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama.” -Silampukau
Ia harus pergi. Jauh dari rumah. Jauh dari warung Pak Darto. Dan tentu saja jauh dari Bram. Bram berusaha terlihat biasa.
“Oh, bagus.”
“Cuma itu?”
“Mau bilang apa?”
“Entahlah.”
Bram tersenyum.
“Kamu harus pergi.”
Salsa menunduk.
“Kalau aku pergi, kamu enggak apa-apa?”
“Enggak.”
Salsa terkejut.
“Enggak apa-apa atau enggak apa-apa?”
“Enggak apa-apa.”
Salsa tertawa hambar.
“Bram, kamu itu kadang menyebalkan.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku juga tahu kamu bakal kangen.”
Salsa memukul lengannya.
“Percaya diri sekali.”
Bram tersenyum.
Padahal malam itu, setelah Salsa pulang, Bram duduk sendirian di depan warung.
Untuk pertama kalinya, ia merasa semangkuk mie ayam tidak cukup untuk membuat seseorang tinggal.
Tiga hari sebelum Salsa berangkat, Bram memutuskan melakukan sesuatu. Ia menabung dari hasil bekerja selama berbulan-bulan.
Ia membeli sebuah gerobak kecil.
Papan namanya sederhana: MIE AYAM BRAM
Di bawahnya terdapat tulisan:
Jangan takut jatuh. Mie ayam saja pernah jatuh ke tanganmu.
Salsa membaca tulisan itu sambil tertawa.
“Bram, ini apaan?”
“Kedai kita.”
“Kita?”
“Iya.”
“Kapan aku setuju?”
“Belum.”
“Terus kenapa namanya kita?”
“Biar kamu punya alasan pulang.”
Senyum Salsa perlahan menghilang.
Bram menatapnya.
“Aku enggak bisa janji bisa kasih kamu banyak hal, Sal.”
Ia menarik napas.
“Tapi aku bisa janji, kalau kamu pulang, selalu ada semangkuk mie ayam buat kamu.”
Salsa terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Bram.”
“Iya?”
“Kalau nanti aku pulang dan mie ayamnya jatuh lagi?”
Bram tersenyum.
“Kali ini aku enggak akan jatuhkan.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah belajar.”
Salsa tersenyum.
“Belajar apa?”
Bram menatapnya lama.
“Kalau sesuatu yang berharga sudah jatuh ke tangan kita, jangan sampai terlepas lagi.”
Salsa tidak menjawab. Ia hanya memeluk Bram. Dan untuk pertama kalinya, Bram tidak menjatuhkan apa pun.
Setahun kemudian, sebuah kedai mie ayam berdiri di sudut jalan dekat kampus.
Namanya masih sama. MIE AYAM BRAM.
Di dindingnya terdapat foto seorang perempuan dengan tangan belepotan mie ayam.
Di bawah foto itu tertulis: Pelanggan pertama yang pernah menerima mie ayam bukan di mangkuk, melainkan di tangan.
Salsa kini bekerja di Jakarta. Namun setiap akhir pekan, ia pulang. Bram selalu menyiapkan semangkuk mie ayam untuknya.
Dan setiap kali Salsa duduk di meja pojok, Bram selalu mengantarkan pesanannya dengan dua tangan. Hati-hati. Sangat hati-hati.
Sampai suatu sore Salsa bertanya,
“Bram.”
“Iya?”
“Kamu masih takut menjatuhkan mie ayam?”
Bram menggeleng.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu.”
“Apa?”
Bram meletakkan mangkuk di depannya.
“Kadang-kadang, mie ayam memang harus jatuh ke tangan yang tepat.”
Salsa tersenyum. Lalu mengambil sumpit.
“Gombal.”
“Berhasil?”
“Sedikit.”
Bram tertawa. Di luar, hujan turun. Di dalam kedai, dua orang yang dipertemukan oleh sebuah kecelakaan mie ayam akhirnya duduk berdampingan.
Dan sejak hari itu, Bram tidak pernah lagi percaya bahwa hidup berjalan tanpa alasan. Sebab kadang-kadang, sesuatu yang jatuh bukan untuk hancur.
Melainkan untuk menemukan tempatnya. Termasuk seporsi mie ayam.
Dan mungkin, seorang perempuan bernama Salsa.
“Tugas kita hanyalah berjalan. Mungkin sampai, mungkin saja tidak. Dan biarlah harapan menemukan jalannya sendiri.” -Mat Lila.







