Ibarat pameran Flona ini, aku hanya Fauna yang sedang jatuh hati dengan Flora.

HARI Jumat pukul delapan pagi, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselku. Ya! Pesan itu berasal dari atasanku yang memberikan tugas liputan hari ini.

Pesannya singkat.

“Nanti jam dua kamu liputan acara pameran Flona (Flora dan Fauna) di Lapangan Banteng ya.”

“Siap,” balasku.

Setelah melakukan liputan rutin, pukul satu siang aku bergegas menuju Lapangan Banteng, di bilangan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Aku sengaja datang lebih awal agar bisa melihat-lihat setiap sudut pameran Flona. Tujuannya, tentu saja, untuk memperdalam bahan tulisan.

Saat berhenti di depan stan tanaman hias, mataku menangkap sosok wanita yang menyejukkan mata.

Penampilannya terlihat cukup dewasa. Rambutnya terurai sebahu, sementara kacamata model lama bertengger di wajahnya.

Aku mencuri pandang. Namun, seketika mata kami bertemu, aku langsung memalingkan wajah karena malu.

Ia berjalan menuju stan tanaman hias tempatku berdiri. Aku mulai salah tingkah. Seketika, tanganku merapikan rambut yang berantakan.

“Harus kah aku menghindar?”

Aku masih terpaku. Saat melintasiku, ia melemparkan senyum tipis. Aku pun membalasnya.

Ia kemudian menghampiri penjaga stan tanaman hias dan menanyakan jenis tanaman serta harganya.

Suaranya terdengar lembut dan santun. Ia menunjuk salah satu tanaman hias.

“Kalau ini namanya Aglonema.” terang penunggu stan.

Setelah beberapa perbincangan tentang berbagai jenis tanaman, perempuan yang belum kukenal itu berlalu.

Aku masih terpaku.

Aku kembali berjalan menyusuri setiap sudut pameran. Kali ini, aku menuju stan fauna.

Di sana dipamerkan berbagai macam satwa. Ada iguana, ular, burung hantu, hamster, dan banyak lainnya.

Aku mampir ke salah satu stan. Namun, dari kejauhan, aku kembali melihatnya.

Dia berjalan seorang diri dengan langkah tenang.

“Anggun sekali.” ucapku dalam hati.

Ingin rasanya aku mendekat dan menyapanya. Tapi sudahlah. Ibarat pameran Flona ini, aku hanya Fauna yang sedang jatuh hati dengan Flora.

Aku minder!

Aku sampai lupa jika aku berada di sini untuk liputan. Ya, aku seorang wartawan di salah satu media berita online.

Biar saja rasa kagum itu aku pendam. Tak tahu sampai kapan.

Semoga di lain waktu aku dan dia kembali dipertemukan.

“Di pelaminan.” harapku.

Ia menghilang dari pandanganku. Aku menengok ke kanan dan kiri, tetapi tak ada lagi sosoknya.

Setelah melakukan wawancara dengan penjaga stan fauna, aku bergeser ke lokasi utama acara. Aku berdiri di antara teman-teman media lainnya yang sedang meliput acara.

Aku menengok ke kanan.

Aku menemukannya kembali.

Ia duduk di kursi undangan. Di sebelahnya ada seorang pria.

Mereka tampak akrab.

Mungkin dia pacarnya. Atau suaminya?

Entahlah!

Aku hanya Fauna yang sedang jatuh hati pada Flora. Aku mundurkan langkah. Tak mau menatapnya lagi.

Sudahlah! Jatuh hati tak selalu berakhir indah.

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: