IA berjalan begitu bengis. Wajahnya mendongak ke atas dengan ekspresi datar. Langkahnya cepat seolah jalanan hanya miliknya.
Persetan orang di sekitarnya. Jika tidak ada yang menyapa ia cuek saja. Ia hanya akan berjalan mengikuti pikirannya.
Ia tak akan tersenyum jika tidak disenyumi.
Bicaranya begitu mahal.
Ia terlihat sadis untuk ukuran seorang Hawa.
Itulah yang membuatnya berbeda.
Aku meliriknya agar mencari tatapannya.
Aku tersenyum untuk menemukan lengkung bibirnya.
Aku menyapa untuk mendengar suaranya.
Itulah dia. Perempuan yang ku anggap sebagai “sarang dosa”.
Bagaimana tidak!
Jika Mabuk Itu Berdosa?
Berarti dialah Sarang Dosa!
Kenapa?
Karena tatapannya saja.
Senyumnya Saja.
Bicaranya saja.
Sudah membuatku mabuk.
Apalagi yang Lainnya!
Cukuplah aku mengenalnya. Aku tidak akan sanggup menanggung api neraka.
Jika melihatnya saja membuatku berdosa, apalagi memilikinya?







