TAK seperti biasanya, siang itu Sapri lebih dulu tiba di Warteg Putra Bahari. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
Sopir angkot kawakan itu langsung memesan lauk andalannya: dadar telur dan kentang balado. Paket hemat yang cukup untuk mengisi perut buncitnya.
Maklum saja, hasil narik dari subuh hingga siang tak sesuai harapan. Persaingan semakin berat. Mikrotrans JakLingko kini hampir menjangkau setiap sudut kota.
“Yuk, biasa paket hemat.”
Setelah memesan makanan, Sapri mengambil tempat duduk tepat di depan etalase warteg. Ia meletakkan kedua tangan di atas meja, lalu sesekali memandangi jalan di depan warteg yang mulai ramai oleh kendaraan.
“Tumben sendiri, Bang Sapri. Nggak bareng Beno?” tanya Yu Sawinah sambil menyedok lauk pesanan Sapri.
“Nggak tahu nih. Beno di-WA belum bales. Lagi narik mungkin,” jawab Sapri sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Ia memeriksa layar ponsel sekali lagi. Tak ada pesan baru dari Beno.
Belum sempat ponsel itu disimpan kembali, suara knalpot motor pabrikan 2004 terdengar berhenti di depan warteg.
Suaranya begitu khas. Ditambah aroma asap knalpot yang sudah akrab di hidung. Bahkan Sapri tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik motor tersebut.
“Nah, tuh, dia nongol, Yu.”
Beno turun dari motornya dengan langkah berat. Wajahnya tampak lelah. Pakaiannya kusut, sementara aroma matahari yang menyengat seolah ikut menempel di tubuhnya setelah berjam-jam berada di jalan.
“Hadeuhh… hari ini panase polll.”
Beno kemudian duduk di sebelah Sapri. Ia mengelap keringat di wajahnya dengan tisu Warteg.
“Yu, es teh manis.”
“Ora mangan?”
“Mengko disitlah. Esih kesel tas narik adoh.”
Beno memilih menenangkan tubuhnya terlebih dahulu dengan segelas es teh manis. Tangannya menggenggam gelas yang mulai dipenuhi embun, sementara Sapri melanjutkan makan siangnya.
Di tengah suapan demi suapan, Sapri tiba-tiba teringat sesuatu.
Ia menoleh ke arah Beno.
Belakangan ini, obrolan soal kondisi ekonomi masyarakat memang sedang ramai. Dari televisi, media sosial, sampai grup WhatsApp, orang-orang membicarakan satu istilah yang terdengar semakin sering, tetapi semakin sulit dipahami: desil.
Sapri baru saja mengetahui adanya pembaruan data Desil Ekonomi Nasional oleh BPS. Namun, ada satu hal yang membuatnya bingung.
Namanya tercatat sebagai masyarakat desil 10.
Padahal, sepanjang ingatannya, tak pernah ada petugas BPS yang datang melakukan survei kepadanya.
Yang lebih membuatnya heran, pekerjaan sehari-harinya hanyalah sebagai sopir angkot.
“Gue heran, Ben. Kok gue masuk desil 10, ya? Padahal gue kan orang pas-pasan.”
Beno yang masih menikmati es teh manisnya menoleh.
“Lah, periksa di mana kalau mau lihat desil, Pri?”
“Ini di DTSEN. Gue tahu juga dari grup WhatsApp. Makanya gue cek.”
Beno langsung tertawa. Ia seperti menemukan bahan baru untuk menggoda sahabatnya.
“Lah, desil 10 mah kelasnya Raffi Ahmad tuh,” kelakar Beno sambil terkekeh.
Sapri hanya melirik. Ia tidak ikut tertawa. Baginya, persoalan desil bukan sekadar bahan bercanda.
Beno kemudian mencoba mencari alasan mengapa Sapri bisa masuk kategori tersebut.
Ia teringat pada satu hal: warisan tanah milik Sapri yang cukup luas di Depok.
“Lu kan punya warisan tanah luas dari engkong lu, Pri. Mungkin itu masuk hitungan.”
Sapri segera menggelengkan kepala.
“Ngawur. Warisan tanah sih luas. Tapi dibagi sepuluh orang cucunya. Masing-masing paling dapat seemprit.”
Sapri kembali menyendok nasi dan lauk ke mulutnya. Namun, pikirannya justru semakin ramai.
Ia teringat sebuah berita yang belum lama dibacanya. Pemerintah disebut akan membatasi pembelian bensin Pertalite bagi masyarakat yang masuk desil 9 dan 10.
Sapri mendadak berhenti makan.
Ia menatap Beno dengan wajah cemas.
“Kalau gini, gue nggak bisa isi bensin Pertalite dong.”
Beno menurunkan gelas es tehnya. Wajahnya masih menyimpan sisa tawa.
“Syukurin aja, Ben. Berarti lu masuk kaum elite di Indonesia. Alias ekonomi sulit,” katanya sambil terkekeh.
“Basi lu, Ben.”
“Wis… wis, Mas Beno arep mangan belih kie? Aja ngedabrus terus,” tegur Yu Sawinah dari balik etalase.
Beno mengangkat tangan.
“Mangan lah, Yu. Biasa pake hemat.”
Yu Sawinah segera mengambil piring.
Di warteg itu, desil boleh saja menempatkan Sapri di urutan paling atas. Namun, untuk urusan lauk, ia tetap setia pada paket hemat.







