Tangis dan air mata di balik gemerlap panggung membuat semuanya terasa menyakitkan.

Namanya Lucky. Mirip seperti kisah Lucky di dalam single Britney Spears berjudul Lucky. Sosok gadis paling terkenal di zamannya. Cantik, terkenal, kaya raya, berbakat, semua orang ingin memilikinya.

Tiada kurangnya. Lucky selalu bersinar setiap malam. Semua orang selalu melihatnya sebagai perempuan yang mirip berlian. Punya kemilau dan bercahaya.

Tak ada yang tahu sisi lain dan kepribadiannya. Yang terlihat di publik, dia bahagia dan memiliki kehidupan yang mewah. Senyum bahagia merekah, tampil sempurna di panggung.

Suaranya indah, gayanya memesona, dan punya segudang prestasi.

Namun, suatu ketika, seorang penggemar melihatnya keluar dari ruang psikiater di sebuah rumah sakit. Lucky keluar dengan menggenggam tisu lalu mengusap air matanya di pipi.

“Itu kan Lucky? Kenapa dia menangis? Bukankah dia selalu bahagia?” tanya salah satu penggemarnya sambil merekam video.

Hingga dengan kekuatan media sosial yang begitu cepat saat ini, berita itu menyebar luas. Hembusannya seperti tiupan angin di tepi pantai menuju laut. Begitu viral dan membuat penggemar bertanya-tanya.

Hingga suatu ketika, di tengah konser, Lucky mengumumkan lagu barunya. Dengan latar belakang mawar hitam, Lucky juga membawa setangkai mawar di tangannya.

“Semua panggung adalah sandiwara. Apa yang terlihat megah dan bahagia di luar, belum tentu seindah kenyataannya. Itulah hidup. Setidaknya, itu jawaban saya saat ini di tengah gosip tentang saya yang tengah menyebar luas. Ini lagu baru saya, Kesunyian,” ucapnya kepada para penggemar.

“HUUUUUU!”

“PROK! PROK! PROK!”

“Semangat, Lucky! We still love you!” teriak para fans.

Dan benar saja, air mata bercucuran membasahi pipi Lucky.

Lagu barunya begitu emosional. Lucky menjiwai setiap liriknya, sehingga suara yang keluar dari bibirnya terasa begitu menusuk hati.

“Jika tidak ada apa-apa, mengapa air mata ini membunuhku setiap malam?”

Itulah sepenggal lirik yang membuat stadion mendadak hening.

Beberapa saat kemudian, Lucky mengumumkan hiatus melalui akun media sosial resminya.

Rupanya, lagu barunya itu menjadi pengobat kerinduan menjelang keputusannya untuk berhenti sejenak.

Ya, mungkin Lucky butuh waktu.

Butuh rehat dari hingar-bingar dunia musik dan panggung gemerlap.

Kolom komentar tentunya banjir ucapan dukungan dan pertanyaan dari fans. Mereka mempertanyakan apakah Lucky baik-baik saja.

Hingga suatu ketika, seminggu setelah ia mengumumkan hiatus, sebuah rekaman wawancara eksklusif antara Lucky dan salah satu media hiburan ternama menjawab semua pertanyaan para penggemar.

Lucky yang berusia 27 tahun itu begitu cantik dengan rambut ikal dan dress putih menyapa para fans.

“Lalu apa yang membuatmu memutuskan untuk hiatus? Apakah ini ada kaitannya dengan gosip yang beredar selama ini? Bahwa kamu Lucky yang unlucky? Bahwa ada banyak masalah atau masa lalu yang membuatmu kelelahan dengan situasi saat ini?” tanya jurnalis.

Lucky menarik napas dalam-dalam sambil tersenyum.

Sinar matanya mulai redup, kini berganti dengan rembesan air mata yang sengaja ditahan.

“Ada kisah cinta yang tak selesai di masa lalu. Saya harus menyelesaikannya,” kata Lucky tersenyum.

“Kisah cinta?” tanya jurnalis.

“Hubungan saya dengan orang tua saya di kampung halaman tidak baik-baik saja. Jujur, saya kesepian meski saya sekarang seorang superstar. Saya merasa tidak beruntung. Harta ini untuk siapa lagi jika saya tidak bahagia?”

“Oh ya? Mengapa? Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan hubungan Anda dan keluarga tidak baik-baik saja?”

“Hemm… tentu ini ada kaitannya dengan kisah cinta. Saya menolak perjodohan yang dipilihkan oleh orang tua saya karena saya ingin mengejar karier. Saya rasa orang pilihan itu tidak pantas untuk saya. Saya punya segalanya.”

Lucky terdiam.

“Tapi saat ini saya merasa terlalu angkuh dan sombong. Kesuksesan ini menutup mata batin saya.”

Air matanya akhirnya jatuh.

“Saya meninggalkan seseorang yang mungkin sebenarnya paling tulus mencintai saya.”

Studio mendadak hening.

“Siapa orang itu?” tanya sang jurnalis perlahan.

Lucky tersenyum getir.

“Namanya Arga.”

Nama itu membuat Lucky terdiam cukup lama.

“Dia bukan orang kaya. Bukan selebritas. Bukan siapa-siapa di mata dunia. Dia hanya anak seorang petani di kampung saya.”

Lucky mengusap air matanya.

“Dulu, ketika orang tua saya menjodohkan kami, saya marah. Saya merasa hidup saya akan hancur kalau menikah dengannya. Saya bahkan mengatakan kepadanya bahwa saya tidak membutuhkan laki-laki miskin yang hanya akan menghambat karier saya.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Dia pergi.”

Lucky menundukkan kepala.

“Tidak pernah mengejar saya. Tidak pernah menghubungi saya. Tidak pernah meminta saya kembali.”

“Dan Anda menyesal?”

Lucky mengangguk.

“Bukan karena saya kehilangan calon suami. Saya menyesal karena baru menyadari… dia satu-satunya orang yang mencintai Lucky ketika Lucky belum menjadi siapa-siapa.”

Tangis Lucky pecah.

“Ketika semua orang mencintai saya karena nama saya, uang saya, wajah saya, atau lagu saya, Arga adalah satu-satunya orang yang dulu mencintai saya bahkan ketika saya masih gadis kampung yang tidak punya apa-apa.”

Wawancara itu berakhir tanpa banyak pertanyaan lagi.

Namun, keesokan harinya, internet kembali gempar. Lucky pulang ke kampung halamannya.

Tanpa pengawal. Tanpa mobil mewah. Tanpa kamera.

Hanya sebuah koper kecil dan jaket hitam. Ia berdiri di depan rumah orang tuanya. Ibunya langsung memeluknya sambil menangis.

“Maafkan Ibu, Nak.”

Lucky menggeleng.

“Justru Lucky yang harus minta maaf.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Lucky makan malam bersama keluarganya. Tidak ada lampu panggung. Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada tepuk tangan.

Hanya meja sederhana, nasi hangat, sayur bening, dan suara tawa yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Keesokan paginya, Lucky meminta alamat Arga. Namun ibunya hanya menghela napas.

“Arga sudah pergi dari sini bertahun-tahun lalu.”

Jantung Lucky seolah berhenti.

“Ke mana?”

“Entahlah.”

Lucky mencari. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah kecil di pinggir kota. Pintu itu diketuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Seorang laki-laki keluar. Rambutnya sedikit beruban. Wajahnya tidak lagi seperti yang Lucky ingat. Namun mata itu…

Lucky mengenalinya.

“Arga?”

Laki-laki itu terdiam. Kemudian tersenyum.

“Lucky?”

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Tidak ada pelukan. Tidak ada adegan romantis. Hanya dua manusia yang pernah saling mencintai, lalu dipisahkan oleh kesombongan dan waktu.

“Aku pulang,” kata Lucky.

Arga mengangguk.

“Selamat pulang.”

Lucky menangis.

“Aku terlambat, ya?”

Arga tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Mereka tertawa kecil. Lucky kemudian menyerahkan setangkai mawar hitam yang dibawanya.

“Aku menulis lagu tentangmu.”

“Sudah kuduga.”

“Judulnya Kesunyian.”

Arga memandangi mawar itu.

“Kenapa mawar hitam?”

“Karena dulu aku mengira cinta itu harus sempurna. Sekarang aku tahu, cinta hanya perlu tulus.”

Arga tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah.”

Lucky melangkah masuk. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang memasuki sebuah panggung. Tidak ada penonton. Tidak ada sorotan. Tidak ada tepuk tangan.

Namun anehnya, untuk pertama kalinya pula, Lucky merasa benar-benar bahagia.

Beberapa bulan kemudian, Lucky kembali ke panggung. Stadion penuh.

Ribuan orang meneriakkan namanya. Lampu menyala. Musik mengalun. Namun kali ini, Lucky tidak mengenakan gaun mewah. Ia hanya mengenakan dress putih sederhana. Di tangannya ada setangkai mawar merah.

“Lagu ini bukan tentang seorang superstar,” katanya.

“Lagu ini tentang seorang perempuan yang terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa pulang.”

Musik dimulai. Dan Lucky bernyanyi. Bukan untuk menjadi terkenal. Bukan untuk mendapatkan tepuk tangan. Melainkan untuk dirinya sendiri. Di antara ribuan penonton, seseorang berdiri di barisan paling belakang.

Arga.

Lucky melihatnya. Tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, air mata yang jatuh di pipinya bukan karena kesepian. Melainkan karena akhirnya ia mengerti arti keberuntungan.

Lucky ternyata bukan perempuan yang paling beruntung karena memiliki segalanya. Lucky adalah perempuan yang akhirnya beruntung karena menemukan jalan pulang.

Miss Vee

Sosok penulis yang tertantang menuangkan ide dan pikiran lewat karya literasi. Cerita fiksi itu berujung novel adult romance sebagai andalannya

Bagikan:

Tags: