“Allahuakbar nang omahku ana setane. Allahuakbar aku jadi setan.” -Tabrak Lari

AKU tidak pernah percaya wewe gombel. Paling hanya mendengar dari kisah ‘orang dulu’ yang sering bilang kalau ada setan suka menculik anak kecil di waktu malam.

Sampai malam itu. Aku melihat jam, waktu menunjukan pukul sebelas lewat tiga belas menit. Suasana di sekitar cukup mencekam. Bahkan, bulu kudukku sampai merinding.

Aku melihat seseorang sedang berdiri dibawah pohon beringin. Perempuan. Sendirian. Rambutnya panjang sebahu. Bajunya panjang warna putih. Wajahnya pucat terkena cahaya bulan.

Dan yang paling mencurigakan, dadanya besar sekali. Aku semakin merinding. Bukan karena takut. Tapi karena bingung. Sebab, perempuan itu seolah menggodaku.

“Hai ganteng, sini mampir,” kata perempuan itu.

“Mbakyu… manusia?”

Perempuan itu menoleh.

“Menurutmu?”

Suaranya pelan.

Aku menelan ludah.

Dalam cerita-cerita yang pernah kudengar dari nenek, wewe gombel memang perempuan yang suka menculik anak-anak.

Biasanya muncul malam hari. Rambutnya panjang. Suka tinggal di pohon besar. Tapi tidak pernah ada yang menjelaskan kalau wewe gombel bisa secantik ini.

Aku mundur satu langkah. Dia maju satu langkah. Aku mundur lagi. Dia maju lagi.

“Jangan takut,” ucap perempuan itu lirih.

“Nggak, nggak takut kok.”

“Terus kenapa mundur?”

“Refleks.”

Dia tersenyum. Sial. Lesung pipinya malah membuatku semakin takut. Bukan takut mati. Tapi–takut jatuh hati.

“Anggur merah, yang s’lalu memabukkan diriku kuanggap belum seberapa dahsyatnya bila dibandingkan dengan senyumanmu.” -Meggy Z

Namanya Rara. Ternyata dia bukan wewe gombel. Dia manusia. Setidaknya menurut kartu identitas.

Rara berdiri di bawah pohon beringin bukan karena sedang semedi. Ternyata dia sedang “bekerja”. Setidaknya paras dia cukup menawan untuk ‘menggoda’ pria berusia 30-40 tahun ke atas.

Kami berkenalan malam itu gara-gara aku salah mengira dia makhluk gaib. Sejak saat itu kami sering bertemu.

Dan semakin sering bertemu–semakin kuat keyakinanku bahwa Rara memang memiliki ilmu hitam.

Buktinya sederhana. Setiap melihat dia, aku kehilangan kemampuan berpikir normal.

Aku yang biasanya tidur pukul sebelas, bisa terjaga sampai pukul dua hanya karena menunggu balasan pesannya.

Aku yang biasanya hemat, mendadak punya alasan untuk mentraktir. Aku yang biasanya tidak suka jalan-jalan, tiba-tiba bersedia mengantar dia ke mana saja.

Bahkan ketika Rara bilang, “Aku lapar.”
Aku langsung bertanya, “Mau makan apa?” Ini jelas bukan aku. Ini ilmu hitam. Sihir!

Sampai suatu malam, Rara mengajakku pergi.

“Kita ke bukit, yuk.”

“Sekarang?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Mau lihat bulan.”

Aku curiga. Tapi tetap berangkat. Kami naik motor menyusuri jalan yang semakin sepi. Pohon-pohon berdiri di kiri kanan seperti sedang mengawasi. Kabut turun perlahan.

Suasana berubah menyeramkan. Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang ‘mengganjal’.

“Ra.”

“Hm?”

“Kalau nanti kita ketemu wewe gombel gimana?”

Rara tertawa.

“Lari.”

“Kalau enggak bisa?”

“Peluk.”

Aku terdiam.

“Siapa yang dipeluk?”

“Ya siapa saja yang dekat.”

Aku langsung mempercepat motor. Bukan karena takut hantu. Karena takut salah paham.

Kami sampai di atas bukit. Bulan terlihat ‘besar sekali’. Aku duduk di samping Rara. Angin malam bertiup pelan, sampai menyapu celana rok yang dikenakan Rara.

“Indah ya,” katanya.

Aku mengangguk.

“Bulannya.”

Rara menoleh.

“Kukira aku.”

Aku tersenyum.

“Kamu juga.”

“Jangan gombal.”

“Aku serius.”

“Lebih gombal lagi.”

Aku tertawa. Lalu tiba-tiba Rara menyandarkan kepalanya ke bahuku. Dan saat itulah sesuatu terjadi. Aku merasa tubuhku ringan.

Sangat ringan. Kakiku tidak lagi menyentuh tanah. Aku panik.

“Ra!”

“Hm?”

“Kita terbang!”

Rara membuka mata.

“Apaan?”

“Kita terbang!”

Dia melihat ke bawah. Aku juga. Benar. Tanah semakin jauh. Pohon-pohon mengecil. Lampu kota berubah seperti kunang-kunang. Aku menjerit. Rara malah tertawa.

“Kamu takut?”

“TAKUT!”

“Pegangan.”

Aku memegang tangannya. Kami terus naik. Rara pun menggeyol’kan pinggulnya. Seolah sedang mengencangkan ‘sabuk pengaman’.

Kami terus naik. ‘Menanjak’. Melewati awan. Melewati burung. Melewati sesuatu yang sepertinya satelit. Aku tidak tahu lagi.

Aku hanya tahu tangan Rara masih berada di tanganku. Di GENGGAMAN. Mencengkram ‘kencang’. Dan anehnya, di tengah kepanikan itu aku merasa bahagia.

Sangat bahagia. Aku menatapnya dengan penuh perasaan. Lembut. Wajahnya berbinar ‘kegirangan’. Dia pun menatapku sambil bibir bawahnya ditekuk menggigit gigi di atasnya. Mata Rara ke atas.

“Ra.”

“Apa?” jawabnya ngos-ngosan.

“Kalau kita mati?”

“Ya mati.”

“Enggak romantis.”

“Terus?”

Aku menarik napas.

“Kalau boleh milih, aku mau mati di sini.”

Rara tertawa.

“Baper.”

Kami semakin ‘tinggi’. Sampai akhirnya bulan terlihat begitu dekat. Aku mengulurkan tangan.

“Sebentar lagi sampai.”

“Ke mana?”

“Bulan.”

Rara tertawa semakin keras. Aku juga tertawa, tapi sedikit lemas karena sampai di ‘bulan’. Tidak menyangka. Di tengah langit. Di antara awan. Di bawah cahaya bulan.

Saat itu aku yakin: Aku benar-benar sedang dibawa ‘wewe gombel’ Hanya saja wewe gombelnya cantik. Dadanya besar.
Senyumnya manis. Dan kalau sedang marah–lebih menyeramkan daripada kuntilanak.

Pagi harinya aku terbangun di kamar.
Sendirian. Tidak ada bukit. Tidak ada bulan. Tidak ada Rara.

Aku langsung memeriksa ponsel. Ada satu pesan darinya.

“Bangun. Semalam kamu ketiduran di bahuku.”

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Jadi…

Aku tidak terbang? Tidak sampai bulan Tidak diculik wewe gombel?

Aku menatap langit-langit kamar. Lalu tertawa sendiri. Ternyata semalam aku memang tidak terbang.

Aku cuma terlalu baper. Rara tidak membawaku ke bulan. Aku sendiri yang mengirim diriku ke sana. Dan sejak malam itu aku punya kesimpulan baru tentang wewe gombel.

Wewe gombel tidak selalu tinggal di pohon.
Tidak selalu menculik anak kecil. Kadang dia memakai parfum. Naik motor. Suka ngopi. Bisa mengirim emoji hati.

Dan yang paling berbahaya–dia bisa membuat laki-laki dewasa kehilangan akal sehat hanya karena disandari sebentar.

Namanya Rara.

Tapi dalam pikiranku, sampai sekarang, dia tetap wewe gombel. Sebab sejak mengenalnya, aku memang tidak pernah benar-benar pulang.

Aku masih terbang. Entah sampai bulan.
Entah sampai besok. Yang jelas, kalau Rara bilang, “Temenin aku sebentar.”
Aku tahu. Aku akan terbang lagi.

“Mungkin di sana masih ada cinta. Mungkin di sini masih ada cinta. Sisa-sisa cinta dalam di dada, bila ku menatapmu, hatiku tak menentu.” -Ona Sutra

 

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: