Aku cuma pecundang yang sibuk mencurigai wanita yang belum tentu mau padaku.
HARI-hari berlalu tanpa Widya yang kini menetap di Surabaya. Perlahan, aku dipaksa terbiasa dengan ruang kosong yang ditinggalkannya.
Saling kirim pesan dan menelepon jadi ritual harian. Cuma itu peganganku.
Meski mulai terbiasa, cemas tak pernah benar-benar pergi. Pikiran buruk terus menghantuiku: bagaimana kalau ada cowok lain di kampusnya yang mendekat?
Bagaimana kalau suasana baru di sana bikin dia pelan-pelan melupakanku?
Semoga itu cuma ketakutan konyolku.
Aku makin bertekad lulus tepat waktu. Tak ada kata menunda. Aku harus cepat kerja agar bisa mengajak Widya ke hubungan yang lebih serius, persis seperti pesan ibunya.
Sabtu ini terasa benar-benar kelabu.
Aku meliburkan diri dari kuliah dan ngojek, berniat istirahat seharian di kontrakan. Tapi kenyataannya jauh dari kata tenang.
Jam sepuluh siang, belum ada satu pun kabar dari Widya. Pesan ucapan selamat pagi yang kukirim jam delapan bahkan belum dibaca.
Dia masih tidur, sibuk, atau… sedang jalan dengan cowok lain?
Aku mengacak rambut. “Jangan mikir aneh-aneh!” batinku.
Namun, prasangka itu terlanjur liar. Seharian aku cuma menatap layar ponsel. Malam berganti pagi, kabar yang ditunggu tak kunjung datang. Kepanikan mulai mencekikku.
Ada apa sebenarnya?
Otakku makin kacau. Terbersit ide nekat: apa aku harus berangkat ke Surabaya sekarang juga cuma buat memastikan keadaannya?
Ponselnya aktif, tapi panggilanku tak pernah diangkat. Lebih dari sepuluh kali aku mencoba, hasilnya tetap nihil.
Baru pada Minggu sore ponselku bergetar. Pesan dari Widya masuk, penuh permintaan maaf.
Dia mengaku ponselnya tertinggal di rumah sejak Sabtu pagi karena terburu-buru diajak orang tuanya liburan dua hari ke Bromo.
Aku tak langsung membalas. Dada ini masih dibelit ragu. Ini alasan jujur atau cuma karangan?
Aku langsung membuka story Instagram ibunya. Benar saja, ada foto mereka berlatar Gunung Bromo. Seketika napas lega berembus dari dadaku. Beban berat itu terangkat.
Aku memberanikan diri menelponnya. Tapi, panggilan itu langsung ditolak.
Sebuah pesan singkat masuk: Maaf ya, aku lagi ngobrol sama Ayah.
“Okelah,” bisikku pelan. Aku menahan diri, tak ingin mengganggu waktunya bersama keluarga. Biar dia istirahat.
Dalam heningnya kamar kontrakan, aku terduduk lemas. Merenungi betapa konyolnya diriku.
Kenapa aku harus secemas ini? Kenapa aku terus meracuni pikiran dengan prasangka buruk, padahal menyatakan cinta saja aku belum pernah?
Aku menatap pantulan diriku yang menyedihkan. Seorang penakut yang bahkan tak punya keberanian untuk jujur soal perasaan.
Aku cuma pecundang yang sibuk mencurigai wanita yang belum tentu mau padaku.
Prasangka ini benar-benar bikin aku gila!(Bersambung)
BACA JUGA: Ojek Cinta: Bagian VI – Merana Serana-rananya







