Apakah ini seperti gayung bersambut? Apakah ini saatnya aku bertemu Okan di Bandung? Lalu, apakah aku melawan kodrat yang kusebut sebelumnya, bahwa perempuan jangan duluan datang menyusul pria.

Makan malam selama tiga hari ini jauh lebih lezat karena selalu ditemani oleh pelukis dan desainer hati jajaka Bandung.

Sampai Mama heran, mengapa aku selalu senyum-senyum sendiri setiap kali melihat HP.

“Gak Ma. Biasa deh, ini di grup lucu,” ujarku selalu beralasan.

Tak berselang lama, setelah makan malam, piyama biru muda ini sudah siap mengantarku tidur. Rebahan di ranjang sambil melihat ponsel, tentu saja sudah ada notifikasi dari di.

“Haiii … udah pulang kantor?” tanya Okan di ujung sana, di aplikasi pencari kencan.

“Udahhh nih …” jawabku tersenyum simpul dengan memeluk guling.

“Hemm, kamu punya dongkrak gak?” tanya dia tiba-tiba.

“Dongkrak? Buat apa coba? Gak ada dong,” jawabku heran.

“Hemm, ya udah kalau dongkrak gak ada. Kalau, nomor HP ada? Hehe. Maklum, biar chatnya lebih cepat dibales daripada chat di aplikasi,” ucapnya dengan melempar emoji senyum.

ARGGGH!

Gombalan yang semakin membuatku tersenyum merekah malam ini.

“Ohhh, bilang aja mau minta nomor HP, pake nanya dongkrak segala. Hehehe,” tuturku manja-manja kesal.

“Hahaha! Iya sih. Boleh? Lanjut di WA jadinya,” kata dia lagi.

“O813XXXXXXXXX” ungkapku.

Drrrt! Drrt!

Benar saja, tak lama berselang, notifikasi WA berbunyi.

“Halo malam, assalamualaikum, dari Polsek Bandung Barat nih,” kata dia dengan emoji senyum.

Cuma bercanda receh begini aja kok aku bisa senyum terus ya? Ini cowok emang beda, virtual tapi bisa membuat hati ini bergetar.

“Hahahaha! Kok baru kepikiran sih, udah 3 hari kenalan di aplikasi, kenapa baru sekarang sih chat di WA,” tanyaku gemas.

“Yaa grogi sih,” kata dia lagi.

‘Kok grogi sih,” balasku.

“Ya grogi, mau minta nomor cewek manis,” kata dia gombal.

“:-P,” tulisku hanya membalas dengan emoji.

“Hahaha! PP-nya cantik. Lagi di mana itu,” tanya dia memerhatikan profile picture.

“Ah itu, lagi di Garden By The Bay Singapura. Waktu itu lagi ada tugas ke sana. Kalau kamu, itu PPnya keren. Lukisannya apa itu gayanya?” tanyaku memerhatikan corat-coret lukisannya.

“Ah itu lagi iseng aja,” kata dia dengan emoji tersenyum.

Drrrt! Drrrt!

Masuk lagi notifikasi lain di WA. Notifikasi grup kantor.

“Icha, lusa ke Bandung ya. Ada klien kita di sana, hijab store di area Setiabudi mau kerja sama dengan kita. Kalian perlu technical meeting dulu. Tadinya mau zoom, tapi ternyata sekalian lihat venue di sana. Jadi kamu harus datang, nanti ditemani tim yang udah duluan berangkat ke Bandung. Kamu pesan tiket ya, mau bus atau kereta, atau travel, nanti reimburs,” kata atasanku.

DEGGG!

Astaga! Bandung?

Apakah ini seperti gayung bersambut? Apakah ini saatnya aku bertemu Okan? Lalu, apakah aku melawan kodrat yang kusebut sebelumnya, bahwa perempuan jangan duluan datang menyusul pria.

FORWARD!

Pesan dari bos itu, langsung aku teruskan ke Okan.

“Wahhh! Nanti aku jemput. Naik apa?”

JEMPUT?

Astaga, baru juga kenal beberapa hari, dia langsung menawarkan untuk jemput. Apakah ini saatnya?

“Jadi kita bakal kopdar? Hahaha, kopdar gak tuh,” sahutku menahan girang.

‘Hehehe! Iya dong. Kalau kamu naik kereta, nanti aku jemput di Stasiun Bandung ya. Aku antar ke tempat tujuan,” kata Okan lagi.

“Hemmm … nanti aku ngerepotin lagi,” jawabku basa-basi.

“Kok ngerepotin sih? Kan aku emang pengen ketemu, cuma gak nyangka aja secepat ini,” ucap Okan lagi.

“Sama, iya, gak nyangka,” jawabku lagi.

“Jadi ke Setiabudi?” tanya dia lagi.

“Ini baru dibahas lagi sama si bos nih. Jadi aku juga harus ke Sulanjana. Kayaknya gak cukup sehari sih, atau mungkin sampai malam banget kali ya,” jawabku lagi.

“Ya udah, nanti kabarin aja gimana rundownnya. Kebetulan lusa lagi gak ada project atau kegiatan apa-apa. Jadi aku lebih banyak di studio aja,” ujarnya.

“Jujur, aku kurang paham Sulanjana sama Setiabudi sih,” jawabku lagi.

“Weits teteh gak usah khawatir atuh! Abdi teh siap antar jemput jadi tourist guide seharian,” katanya dengan emoji senyum.

“Hehehehe,” sahutku membalas dengan emoji peluk manja.

Entah mengapa aku jadi berdebar begini. Meskipun baru lusa, tapi ini akan menjadi momen penting antara aku dan Okan.

Malam itu berakhir indah dengan saling mengirimkan ucapan selamat tidur.

Justru setelah chat berakhir, aku yang tak bisa tidur. Aku jadi memikirkan bagaimana nanti jika benar ada Okan di depan wajahku.

Apalagi, dia akan jemput di Stasiun Bandung, untuk kali pertama kami bertemu. Tentu itu akan menjadi pertemuan yang mendebarkan.

WOOOYY!

Keesokan paginya, aku malah tertegun sambil bertopang dagu di depan layar laptop dengan melihat peta Bandung di layar. Sulanjana dan Setiabudi menjadi daerah pantauan. Aku memantau jaraknya dari Stasiun Bandung hingga ke wilayah itu.

Sahabat satu tim, Astri, mengejutkanku dari belakang.

“Ihhh bikin kaget aja,” ucapku manyun.

“Ya lagian! Pagi-pagi udah bengong! Ke Bandung gimana? Besok ada tim kita yang di Bandung juga bakal ketemu langsung di sana,” kata Astri.

“Kita? Elu juga ikut ya? Gue gak ngeh,” sahutku bingung.

“Lahh! Di grup kan jelas-jelas yang dimention nama kita berdua! Gimana sih? Kok gak fokus,” kata Astri.

Ya gak fokus, fokusku malah ke Okan saat chat.

“Ohhh gitu ya, lupa lupa. Terus?”

“Ya gak ada terus-terus. Nih gue lagi pesan travel, elo mau yang mana? Biar sekalian,” kata Astri.

“OHHHH ENGGAK! Hemm gue mau naik kereta aja, mau ke Stasiun Bandung,” ucapku lagi tanpa bercerita soal Okan.

“Lha, tumben. Biasanya kalau ke Bandung naik travel. Ya udah, gue pesen tiket kereta, Parahyangan,” tutur Astri.

“Ahhh! Jangan jangan. Elu naik travel aja, kita pisah aja gak apa-apa,” jawabku bingung.

Aku belum mau cerita tentang hubunganku. Jujur, agak sedikit malu atau gengsi karena aku ikut aplikasi pencari pasangan dan akan kopi darat.

“Lho kok gitu sih,” ucap Astri bingung.

“Oh begini lho, jadi karena lusa ke Bandung, Mama gue nitip bawain barang gitu ke rumah saudara Opa gue. Jadi gue gak langsung ke venue, mau ke rumah saudara dulu di sana, di daerah Pasir Kaliki. Jadi kayaknya mau berangkat Subuh Subuh,” ujarku beralasan.

“Ohhh gitu, yahh gue sendiri dong,” kata Astri.

“Nanti pulangnya aja kita bareng ya, naik kereta boleh,” sahutku lagi.

“Oh gitu, ya udah kalau tiket pulang nanti aja deh dibelinya. Gimana nanti aja. Oh ya, kayaknya kita ditawarin nginap semalam deh. Jadi hijab storenya kasih kita satu free kamar hotel. Kita berdua kan? Elu gak di rumah saudara kan?” tanya Astri lagi.

“Nginep? Jadi 2 hari semalam di sana?” tanyaku makin tidak fokus.

“Iya katanya si bos sih gitu. Nah tapi pulangnya wajib ke kantor tuh kasih laporan. Lumayan capek sih dari Bandung ke kantor,” kata dia.

Gak apa-apa, gak akan lelah. Karena Bandung akan menjadi kota perwakilan suara hati dan desir mimpi pertemuan pertamaku dengan Okan. Ahhh, apalagi 2 hari satu malam, maka pertemuanku dengan Okan akan terasa lebih lama. Tunggu aku wahai pelukis cinta!

BAB I – Kayaknya Kita Setipe!

Miss Vee

Sosok penulis yang tertantang menuangkan ide dan pikiran lewat karya literasi. Cerita fiksi itu berujung novel adult romance sebagai andalannya

Bagikan:

Tags: