Ketika Umar berjalan membawa tumpukan ompreng, seorang siswi berparas cantik yang sedang berdiri di dekat koridor menatapnya sambil tersenyum.
Sejak kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta, Umar sempat merasa hidupnya berjalan tanpa arah.
Usianya baru 21 tahun. Ijazah SMA yang dimilikinya belum cukup untuk membuat banyak pintu pekerjaan terbuka. Setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan, akhirnya sebuah kesempatan datang.
Umar diterima bekerja di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat yang belum lama berdiri.
Tugasnya sederhana, setiap pagi ia mengemudikan mobil boks mengantarkan makanan bergizi gratis ke sejumlah sekolah.
“Mar, tugas pertama nih antar MBG nih, hati-hati ya, jangan ngebut,” pesan Manajer SPPG.
“Siap, Pak,” jawab Umar penuh semangat.
Setibanya di sekolah yang dituju, Umar menurunkan beberapa ompreng makanan dari mobil. Suasana sekolah tepatnya di SMA Negeri, saat itu sudah ramai. Para siswa berdiri berkelompok sambil menunggu pembagian makanan.
Ketika Umar berjalan membawa tumpukan ompreng, seorang siswi berparas cantik yang sedang berdiri di dekat koridor menatapnya.
Umar sempat salah tingkah.
Siswi itu tersenyum.
Bukan senyum yang berlebihan. Hanya sekilas, tetapi cukup membuat langkah Umar terasa sedikit berbeda.
Ia berusaha tidak memikirkannya.
Namun, keesokan harinya, gadis itu kembali tersenyum ketika mereka berpapasan.
Begitu pula hari berikutnya.
Namanya belum diketahui Umar. Tetapi wajah itu mulai dikenalnya.
Sore hari, ketika Umar kembali ke sekolah untuk mengambil ompreng bekas, ia menemukan sesuatu yang tidak biasa.
Di salah satu ompreng bekas MBG, terdapat secarik kertas kecil yang terlipat.
Umar membukanya.
Di sana tertulis sebuah nama dan nomor telepon.
Desy.
Umar terdiam beberapa saat.
Apakah kertas itu memang untuknya?
Ia tidak yakin.
Tetapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguannya.
Malam itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Umar mengirim sebuah pesan singkat.
“Halo. Saya Umar, yang biasa mengantar MBG ke sekolah. Apakah ini Desy?”
Pesan itu terkirim.
Umar menunggu.
Beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala.
“Iya. Ini Desy.”
Sebuah percakapan sederhana pun dimulai.
Tidak ada kata-kata istimewa. Tidak ada janji apa pun.
Hanya dua orang yang mulai saling mengenal dari sebuah pertemuan singkat di antara tumpukan ompreng makanan.
Namun bagi Umar, senyum di koridor sekolah itu kini memiliki sebuah nama. Hatinya berbunga, tidur pun tersenyum.
“Desy,”
Dan tanpa disadarinya, kisah kecil itu baru saja dimulai.
Bersambung….







